"Aku butuh seorang istri. Hanya selama satu tahun."
Nadira Pramesti tak pernah membayangkan akan menerima tawaran seaneh itu. Namun, demi menyelamatkan toko buku peninggalan ayahnya, ia menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga Wijaya, pewaris Wijaya Group yang harus menikah untuk memenuhi syarat dalam surat wasiat keluarganya. Mereka sepakat untuk tidak saling mencintai dan berencana berpisah setelah kontrak berakhir.
Ketika sebuah buku catatan peninggalan ayah Nadira justru membuka jalan menuju rahasia lama yang selama dua puluh lima tahun disembunyikan keluarga Wijaya. Di tengah ancaman, kebohongan, dan seseorang yang rela melakukan apa saja demi menutup kebenaran, Arga dan Nadira mulai mempertanyakan satu hal: apakah hati mereka masih sanggup berpegang pada isi kontrak ketika cinta datang lebih dulu?
Karena terkadang, yang paling sulit bukanlah menikah dengan orang asing, melainkan berpisah dengan seseorang yang telah menjadi rumah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosealyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Nama Yang Terhapus
Malam itu rumah terasa lebih sunyi dari biasanya.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Nadira tidak langsung beristirahat. Map tua yang ia temukan di gudang Toko Buku Senja sejak tadi terus memenuhi pikirannya. Akhirnya ia membawa map itu ke kamar, lalu meletakkannya di atas meja dekat jendela.
Lampu belajar dinyalakan. Cahaya kekuningan menerangi lembaran-lembaran dokumen yang mulai menguning dimakan usia.
Nadira menarik napas pelan sebelum membuka halaman pertama.
Surat pengangkatan kerja atas nama Hendra Pramesti kembali menarik perhatiannya.
Di sana tertulis jelas jabatan ayahnya.
Auditor Internal – Kantor Pusat Wijaya Group.
Nadira mengernyit.
Selama ini ia selalu mengira ayahnya hanya bekerja sebagai auditor di salah satu cabang perusahaan. Bahkan setiap kali ditanya semasa kecil, Hendra hanya menjawab singkat bahwa pekerjaannya mengharuskannya sering memeriksa laporan keuangan dari berbagai daerah.
Tidak pernah sekali pun ayahnya mengatakan bahwa ia menangani audit di kantor pusat.
Artinya, posisi ayahnya jauh lebih penting dari yang selama ini ia bayangkan. Ia membuka lembar berikutnya.
Beberapa dokumen berisi hasil audit internal, laporan pengeluaran proyek, hingga catatan mengenai evaluasi divisi konstruksi. Hampir semua menggunakan istilah teknis yang sulit dipahami. Nadira tidak terlalu mengetahui bidang itu.
Namun ada satu nama yang terus muncul berulang kali.
Proyek Aurora.
Di setiap halaman yang memuat nama itu, ayahnya selalu memberi tanda menggunakan tinta merah.
Kadang hanya berupa lingkaran kecil. Kadang garis bawah yang ditebalkan berkali-kali. Seolah proyek itu adalah sesuatu yang tidak boleh dilewatkan.
Nadira kemudian membuka buku catatan hitam yang terselip di dalam map. Berbeda dengan dokumen resmi, buku itu dipenuhi tulisan tangan Hendra, ayahnya.
Tulisan-tulisannya rapi, tetapi banyak menggunakan singkatan.
"AUR – biaya berubah."
"Periksa ulang material."
"Data tidak sesuai laporan lapangan."
"Jangan tandatangani sebelum audit selesai."
Nadira membaca perlahan, mencoba memahami maksud setiap kalimat. Semakin lama membaca, semakin jelas bahwa ayahnya sedang menyelidiki sesuatu.
Sebagai auditor internal, tugas Hendra bukan sekadar memeriksa laporan keuangan. Ia juga memastikan setiap proyek perusahaan berjalan sesuai prosedur, mulai dari penggunaan anggaran, pengadaan material, hingga laporan pertanggungjawaban seluruh divisi.
Jika ditemukan penyimpangan, ia berhak menghentikan proses audit dan meminta investigasi lanjutan.
Nadira menelan ludah. Berarti ayahnya bukan orang biasa di perusahaan itu. Ia berada di posisi yang bisa mengetahui hampir semua rahasia keuangan Wijaya Group.
Tangannya berhenti ketika membalik halaman berikutnya. Keningnya langsung berkerut. Nomor halaman setelah angka empat belas berubah menjadi delapan belas.
Ia membalik lagi. Lalu kembali menghitung dari awal.
Benar saja. Beberapa halaman hilang. Bukan terlepas karena usia. Bekas sobekannya masih terlihat jelas di bagian jilid buku.
Seseorang pernah merobeknya dengan sengaja.
"Siapa yang ngelakuin ini...?" Jantung Nadira berdetak lebih cepat.
Kalau halaman itu memang sengaja diambil, berarti isinya pasti sesuatu yang penting. Mungkin justru bagian yang menjelaskan apa sebenarnya Proyek Aurora. Atau siapa orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Tanpa sadar Nadira menggigit ujung ibu jarinya, kebiasaan kecil yang selalu muncul setiap kali ia sedang berpikir keras.
Ia kembali membuka halaman-halaman terakhir.
Di sana hanya ada satu kalimat pendek yang ditulis dengan tekanan tinta jauh lebih kuat dibanding halaman lain.
"Kalau catatan ini ditemukan, berarti semuanya sudah terlambat."
Bulu kuduk Nadira meremang. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menyusun semua potongan informasi yang baru diketahuinya.
Ayahnya pernah bekerja di kantor pusat Wijaya Group. Menjadi auditor internal dengan akses terhadap proyek-proyek besar perusahaan. Lalu menyimpan catatan rahasia mengenai Proyek Aurora. Dan sekarang beberapa halaman penting justru hilang.
Suara ketukan pelan di pintu membuat Nadira tersentak. Ia buru-buru menutup buku itu.
"Masuk."
Pintu terbuka perlahan.
Arga berdiri di ambang pintu sambil masih mengenakan kemeja kerjanya. "Aku lihat kamar ini masih nyala.”
Tatapannya kemudian jatuh ke arah map tua yang belum sempat seluruhnya disembunyikan Nadira.
"Kamu lagi baca apa?"
Refleks Nadira menutup map itu dengan kedua tangannya. "Bukan apa-apa,” Jawabnya yang terlalu cepat.
Arga tidak bertanya lagi. Namun, sorot matanya sempat berhenti beberapa detik pada map tua di atas meja.
Ada sesuatu yang sedang disembunyikan Nadira. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Arga mulai menyadari perubahan kecil pada sikap istrinya itu.
Arga berdiri beberapa saat di ambang pintu sebelum akhirnya melangkah masuk. Ia tidak langsung melihat map yang buru-buru ditutup Nadira. Perhatiannya justru tertuju pada wajah perempuan itu.
"Kamu akhir-akhir ini sering melamun."
Nadira mengangkat kepala. "Hah?"
"Dari tadi malam." Arga menarik kursi di hadapan Nadira lalu duduk. "Waktu makan malam, di mobil, sampai sekarang."
Nadira tersenyum tipis, berusaha terlihat biasa. "Aku cuma capek."
"Capek biasanya bikin orang mengantuk." Arga menatapnya tenang. "Kamu justru kelihatan banyak pikiran."
Kalimat itu membuat Nadira terdiam. Selama beberapa minggu tinggal serumah, rupanya Arga memperhatikan hal-hal kecil tentang dirinya.
"Aku boleh tanya sesuatu?"
"Tanya apa?"
"Ada yang kamu sembunyikan dariku?"
Nadira refleks menggenggam ujung map di pangkuannya. Bibirnya terbuka, tetapi tidak ada kata yang keluar.
Haruskah ia menceritakan semuanya?
Tentang surat pengangkatan kerja ayahnya.
Tentang buku catatan.
Tentang Proyek Aurora.
Namun semuanya masih berupa dugaan. Ia sendiri belum benar-benar memahami apa yang sedang ditemukannya.
"Aku..." Nadira menarik napas pelan. "Belum yakin."
"Belum yakin tentang apa?"
Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat, Nadira hampir mengatakan semuanya. Hampir. Tetapi akhirnya ia menggeleng pelan.
"Nggak apa-apa."
Arga tidak memaksanya. Ia hanya mengangguk pelan, lalu berdiri.
"Kalau suatu saat kamu siap cerita aku akan dengerin." Arga memangkas jarak mereka. “Aku mau lanjut kerja di ruangan sebelah, mau lembur.”
Kalimat sederhana itu justru membuat hati Nadira terasa semakin berat. Setelah Arga keluar dari kamar, Nadira kembali membuka buku catatan di hadapannya.
Tatapannya jatuh pada halaman yang sobek. Bekas robekannya masih terlihat jelas. Ia mengusap bagian itu perlahan.
"Halaman apa yang sengaja diambil...?"
Pertanyaan itu menggantung di dalam kamar yang sunyi. Sementara itu, di balik pintu yang sudah tertutup, Arga tidak langsung pergi. Ia sempat berhenti beberapa detik.
Entah mengapa, firasatnya mengatakan bahwa apa pun yang sedang disembunyikan Nadira ada kaitannya dengan sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan.