NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Awakener Terkuat Di Akhir Zaman

Kebangkitan Sang Awakener Terkuat Di Akhir Zaman

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Zombie / Misteri / Horor
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: novelisnewbie

Arga mati di tangan zombie Tier 7 setelah 10 tahun bertahan di kiamat. Namun, dia terbangun kembali ke 30 hari sebelum wabah Necrovirus Sapiens melanda dunia. Di tubuhnya yang masih muda dan lemah, dia membawa pengetahuan 10 tahun: lokasi kejadian penting, resep ramuan awakener, cara membuat senjata tier tinggi, dan nama-nama pengkhianat yang akan menghancurkan umat manusia.

Akankah Arga mampu mewujudkan impiannya? Ataukah Arga akan gagal kembali? Ikuti terus perkembangan ceritanya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novelisnewbie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12: Melepaskan Masa Lalu, Membangun Benteng Masa Depan

Ponsel itu terus berdering, seolah memanggil seseorang yang sesungguhnya telah "mati" beberapa hari lalu. Arga menatap layar yang bergetar di atas meja dengan sorot mata datar, sementara sinar matahari pagi perlahan merayap masuk melalui jendela kamar kosnya, menerangi ruangan sederhana yang kini menyimpan rahasia terbesar umat manusia. Di layar, nama atasannya terus berkedip tanpa henti.

Bzzzt...

Bzzzt...

Dalam kehidupan sebelumnya, panggilan seperti itu pernah membuat jantungnya berdegup kencang karena takut kehilangan pekerjaan. Kini, setelah menyaksikan sepuluh tahun peradaban runtuh dan jutaan manusia berubah menjadi monster, suara dering itu terdengar tidak lebih penting daripada dengung seekor lalat. Baginya, ancaman pemecatan telah kehilangan makna ketika ia mengetahui bahwa dunia hanya tinggal menghitung hari sebelum semuanya lenyap.

Arga baru mengangkat telepon setelah bunyi kelima. Begitu sambungan tersambung, suara pria di seberang langsung meledak tanpa memberinya kesempatan berbicara. "Arga! Kamu akhirnya angkat juga!" bentaknya. "Kamu sadar sudah hampir seminggu menghilang? Proyek berantakan gara-gara kamu! Kalau hari ini kamu tidak datang ke kantor, anggap saja kamu mengundurkan diri!"

Arga hanya terdiam beberapa saat sambil melirik kalender yang tergantung di dinding. Tanggal yang tertera menunjukkan 20 Juni 2026, hari yang baginya bukan sekadar angka, melainkan pengingat bahwa hanya tersisa dua puluh empat hari sebelum kiamat dimulai. Dengan nada setenang permukaan danau, ia akhirnya menjawab, "Baik, Pak."

Jawaban sesingkat itu justru membuat atasannya terdiam sesaat sebelum kembali berbicara dengan suara yang jauh lebih dingin. "Datang sekarang. Kita selesaikan semuanya hari ini."

Tut...

Sambungan telepon pun terputus. Arga perlahan meletakkan ponselnya tanpa sedikit pun perubahan ekspresi. Dalam kehidupan lamanya, kantor adalah tempat ia menghabiskan hampir seluruh waktunya demi mengejar kenaikan gaji dan promosi jabatan. Kini, tempat itu tak lebih dari panggung sandiwara yang sebentar lagi akan ditelan kobaran api kiamat.

Ia membuka lemari dan mengambil satu-satunya kemeja formal yang masih tersisa. Pakaiannya memang masih sama seperti dulu, rapi dan sederhana, tetapi tubuh yang mengenakannya telah berubah sepenuhnya. Di balik kain biasa itu kini tersembunyi kekuatan seorang Awakener Tier 1, sesuatu yang bahkan tidak akan mampu dibeli oleh seluruh aset perusahaan tempatnya bekerja.

Sebelum meninggalkan kamar, Arga lebih dahulu menyimpan parang, beberapa kristal, serta seluruh perlengkapan penting ke dalam Ruang Dimensi. Dunia luar hanya akan melihat seorang pegawai yang akhirnya kembali bekerja setelah mangkir selama beberapa hari. Tak seorang pun akan menyangka bahwa pria sederhana itu baru saja menjadi manusia pertama yang berevolusi sebelum kiamat dimulai.

Perjalanan menuju kantor terasa jauh lebih asing daripada yang pernah ia bayangkan. Bus kota masih dipenuhi pekerja yang sibuk menatap layar ponsel, mengeluhkan kemacetan, atau membicarakan target akhir bulan. Tawa dan obrolan ringan memenuhi kabin, menciptakan suasana yang tampak begitu hidup, sementara Arga memandangi mereka satu per satu seolah sedang melihat potongan-potongan masa lalu yang tak akan pernah kembali.

Seorang ibu muda tampak menyuapi anaknya sepotong roti dengan senyum hangat. Dua mahasiswa tertawa keras membahas pertandingan sepak bola semalam, sementara seorang pria paruh baya tertidur pulas sambil memeluk tas kerjanya. Tidak seorang pun di dalam bus itu menyadari bahwa kehidupan normal yang mereka jalani tinggal menghitung hari sebelum berubah menjadi mimpi yang mustahil diraih kembali.

Bus akhirnya berhenti di depan gedung perkantoran.

Ciiit...

Arga turun perlahan lalu mendongakkan kepala menatap bangunan kaca yang menjulang tinggi. Gedung itu masih tampak megah, memantulkan langit biru Jakarta yang bersih tanpa sedikit pun pertanda bencana. Namun di dalam ingatannya, bangunan yang sama pernah berubah menjadi lautan darah, ketika setiap lantainya dipenuhi zombie, lift menjelma peti mati raksasa, dan ruang rapat bergema oleh jeritan manusia yang saling menginjak demi bertahan hidup.

Arga mengembuskan napas pelan. Tatapannya tetap tertuju pada gedung itu beberapa saat sebelum akhirnya bergumam lirih, "Itu tidak akan terulang pada keluargaku." Dengan langkah mantap ia berjalan memasuki lobi, sementara pintu kaca otomatis terbuka menyambut kedatangannya.

Sssht...

Beberapa pasang mata langsung mengarah kepadanya begitu ia memasuki area kerja. Bisikan demi bisikan segera terdengar di antara deretan meja kantor. "Itu Arga, kan?" bisik seseorang. "Berani juga dia muncul." Yang lain menambahkan, "Kudengar bakal langsung dipecat."

Arga tetap berjalan tanpa mempercepat ataupun memperlambat langkahnya. Wajah-wajah yang dulu begitu akrab kini terasa asing, bahkan sebagian besar namanya sudah tak lagi mampu ia ingat. Baginya, mereka hanyalah orang-orang yang sebentar lagi akan menghadapi nasib kejam tanpa pernah mengetahui apa yang sedang menunggu di depan.

Belum sempat ia duduk, suara keras memanggil dari ruang manajer.

"Arga! Masuk!"

Ia membuka pintu tanpa tergesa.

Kreeek...

Manajernya langsung berdiri dari kursi dan menghantam meja dengan keras.

Buk!

"Apa kamu pikir perusahaan ini taman bermain?" bentaknya penuh amarah. "Kamu menghilang hampir seminggu! Tidak ada kabar! Tidak ada izin! Seluruh tim harus membereskan pekerjaanmu! Sekarang jelaskan alasanmu!"

Ruangan mendadak sunyi. Dari balik dinding kaca, beberapa karyawan diam-diam mengintip, menunggu Arga meminta maaf atau memohon agar tetap dipertahankan. Namun yang terjadi justru di luar dugaan mereka. Arga membuka tas kecil yang dibawanya, mengeluarkan sebuah amplop putih, lalu meletakkannya perlahan di atas meja.

"Saya datang untuk menyerahkan ini."

Manajernya mengernyit bingung. "Apa ini?"

"Surat pengunduran diri."

Ucapan itu jatuh seperti batu ke permukaan air yang tenang. Tidak ada seorang pun yang langsung bereaksi. Bahkan sang manajer tampak membutuhkan beberapa detik sebelum akhirnya membuka amplop tersebut dan membaca isinya dengan wajah yang perlahan berubah.

"Kamu serius?" tanyanya pelan.

Arga mengangguk tanpa ragu. "Sangat serius."

"Kamu tahu mencari pekerjaan sekarang tidak mudah?"

"Tahu."

"Kalau keluar sekarang, kamu mungkin menyesal."

Arga hanya tersenyum tipis. "Percayalah, Pak." Tatapannya tetap tenang ketika melanjutkan, "Sebentar lagi... semua orang akan memiliki penyesalan yang jauh lebih besar daripada kehilangan pekerjaan."

Manajernya mengira kalimat itu hanyalah ungkapan frustrasi dari seorang pegawai yang menyerah pada keadaan. Ia hanya menggeleng pelan sebelum meletakkan surat tersebut kembali ke atas meja. "Kalau itu keputusanmu, saya tidak akan menahan."

"Tidak perlu."

Arga membungkukkan badan singkat sebagai bentuk penghormatan. "Terima kasih atas semuanya."

Tanpa menunggu balasan, ia berbalik meninggalkan ruangan. Ketika melewati area kerja, bisikan kembali bermunculan. "Gila..." gumam seseorang. "Dia benar-benar resign." Rekan lain menimpali, "Pasti sudah dapat perusahaan lain."

Arga berhenti sejenak di dekat jendela besar yang menghadap ke arah kota. Dari balik kaca, ribuan kendaraan memenuhi jalan raya seperti aliran darah yang menghidupi Jakarta. Klakson bersahutan tanpa henti.

Tin!

Tin!

Orang-orang berlarian mengejar waktu, pedagang kaki lima sibuk melayani pembeli, dan seluruh kota tampak berdenyut dalam ritme kehidupan yang begitu normal. Padahal, sebagian besar wajah yang baru saja ia lihat kemungkinan besar tidak akan berhasil melewati bulan berikutnya. Bukan karena mereka lemah, melainkan karena mereka tidak pernah diberi kesempatan untuk bersiap menghadapi bencana yang akan datang.

Arga memejamkan mata sesaat. Di dalam hati, ia mengucapkan salam perpisahan kepada kehidupan yang pernah ia kejar mati-matian. Setelah itu, ia melangkah keluar gedung tanpa pernah menoleh lagi, seolah baru saja menutup satu babak panjang dalam hidupnya.

Begitu menginjak trotoar, beban yang selama ini tak pernah ia sadari seakan terangkat dari bahunya. Untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, tidak ada lagi jadwal rapat, target bulanan, ataupun kewajiban yang mengikat langkahnya. Kini ia hanya memiliki satu pekerjaan, yaitu bertahan hidup dan memastikan orang-orang yang dicintainya tetap hidup bersamanya.

Dalam perjalanan pulang, pikirannya kembali bekerja jauh lebih cepat dibanding sebelumnya. Sensor Dimensi yang telah berevolusi sesekali menangkap denyut kristal samar dari berbagai penjuru kota, tetapi perhatian Arga justru tertuju pada sesuatu yang lebih mendasar. Selama ini ia terlalu fokus memburu kristal, padahal kristal hanyalah salah satu bagian dari fondasi kekuatan yang akan dibutuhkan untuk menghadapi kiamat.

Ia teringat bagaimana uang miliaran rupiah berubah menjadi kertas tak berguna ketika distribusi pangan berhenti total. Orang-orang rela membunuh hanya demi sebotol air minum, sementara emas batangan ditukar dengan beberapa bungkus mi instan. Sistem hukum runtuh, bank berhenti beroperasi, gudang logistik dipenuhi mayat, dan rumah sakit berubah menjadi sarang zombie. Dalam dunia seperti itu, siapa yang bergerak lebih dahulu akan menguasai segalanya.

Arga berhenti di sebuah taman kota, lalu mengeluarkan buku catatannya. Pulpen bergerak cepat memenuhi halaman demi halaman dengan daftar lokasi yang harus segera ia kuasai sebelum semuanya terlambat. Gudang makanan, distributor air minum, apotek besar, toko perlengkapan outdoor, gudang perkakas industri, generator listrik, panel surya, tangki solar, hingga dealer kendaraan memenuhi lembar-lembar kertas itu. Bagi orang lain, catatan tersebut mungkin tampak seperti daftar belanja yang aneh, tetapi bagi Arga, setiap nama adalah fondasi sebuah peradaban kecil yang harus dibangun sebelum dunia lama benar-benar runtuh.

Senyum tipis kembali muncul di sudut bibirnya. Dengan Ruang Dimensi yang mampu menyimpan benda tanpa batas sekaligus menghentikan waktu di dalamnya, tidak ada kemampuan lain yang lebih sempurna untuk mengumpulkan sumber daya dalam jumlah sebesar mungkin. Ia tahu bahwa keunggulan itu adalah senjata terbesarnya sebelum manusia lain menyadari nilai sebenarnya dari kemampuan tersebut.

Malam harinya, Arga kembali ke kamar kos dan langsung membuka laptopnya.

Klik...

Sambungan internet masih berjalan normal. Ia membuka peta satelit Jakarta dan wilayah sekitarnya, memperbesar satu demi satu kawasan yang pernah menjadi markas penyintas pada kehidupan sebelumnya. Setelah beberapa saat mencari, jari telunjuknya akhirnya berhenti di sebuah kawasan perbukitan di pinggiran kota.

Lokasi itu tampak tidak mencolok. Hanya ada beberapa vila pribadi yang tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan. Namun Arga mengenali tempat tersebut dengan sangat baik. Dalam kehidupan sebelumnya, kawasan itu mampu bertahan hampir empat bulan lebih lama dibanding wilayah lain karena hanya memiliki satu akses masuk, memiliki sumber air pegunungan, serta berada di dataran tinggi yang mudah dipertahankan dari gelombang zombie.

Perhatiannya kemudian tertuju pada sebuah iklan kecil yang muncul di layar. Sebuah vila sedang dijual murah karena pemiliknya bangkrut. Arga membuka detailnya dan membaca setiap informasi dengan saksama. Bangunan dua lantai itu memiliki halaman luas, gudang bawah tanah, sumur alami, serta lahan kosong yang cukup untuk ditanami bahan pangan.

Sudut bibirnya perlahan terangkat.

"Itu dia..."

Seluruh tabungan yang masih dimilikinya, ditambah uang hasil menjual aset dan sumber daya yang akan segera ia kumpulkan, cukup untuk membeli tempat tersebut sebelum kiamat dimulai. Dalam benaknya, vila yang kini tampak kosong perlahan berubah menjadi sebuah benteng lengkap dengan pagar baja, menara pengawas, panel surya, gudang logistik, dan tempat berlindung yang aman bagi orang-orang paling berharga dalam hidupnya.

Ia membayangkan kedua orang tuanya duduk tenang di teras tanpa lagi dihantui rasa takut. Ia juga membayangkan Sari tertawa lepas, tanpa harus berlari menghindari gerombolan zombie seperti yang pernah terjadi di kehidupan sebelumnya. Untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, masa depan yang ingin ia ciptakan terasa begitu nyata hingga hampir bisa disentuh.

Arga menutup laptop perlahan.

Klik...

Tatapannya tetap tertuju pada layar yang mulai menghitam, seolah melihat bayangan dunia baru yang sedang ia bangun sedikit demi sedikit. Dengan suara lirih, tetapi dipenuhi keyakinan yang tak tergoyahkan, ia akhirnya berkata, "Sebelum menyelamatkan dunia... aku harus membangun tempat yang bisa melindungi keluargaku terlebih dahulu."

1
arya_v2
lanjutkan terus ceritanya💪🏻
Rene
kalo dia mau jadi Awakener seharusnya gak terlalu butuh obat"an biasa kan?
Rene
ada cctv🤭
Rene
harusnya dikutil aja dikit dikit🤭 kan punya ruang dimensi
novelisnewbie: sikap macam apa itu, nanti kena pelanggaran kalo ngutil barang umum, tapi kalo ngutil punya villain gpp sih🤣
total 1 replies
Rene
kalo ngomong paling dibilang orang gila🤣
Rene
buat top up🤭
Rene
jelas lah bjir, cuma sebulan, bisa apa🤭 apalagi posisinya kismin
Rene
nah, mending bantai aja mereka dulu, mumpung masih jadi cunguk🤭
Rene
ya gak papa mau nagis lagi juga🤭
Rene
subrek, mungkin aku bakal ngikutin seri ini, soalnya lagi nulis genre kiamat juga🤭 semangat thor
Rene: siap💪
total 2 replies
Rene
mampir dulu🤭
Blueria
mantap, latar Indonesia 💪
novelisnewbie: iyaa karena saya udah muak sama pemerintah jadi saya buat aja genre kiamat biar kalang kabut tuh pemerintahnya wkwk, btw terimakasih banyak semoga betah👍
total 1 replies
adib
bagus..
novelisnewbie: terimakasih banyak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!