"Tolong hentikan, tolong!" teriak Zena.
Saat ini gadis dalam ketakutan itu hanya pasrah, tidak bisa berbuat apa-apa, pria yang sudah pasti dipengaruhi alkohol itu melecehkannya dengan menyobek pakaian Zena.
Tidak ada satupun yang menolong gadis malang itu.
"Tolong jangan lakukan itu!"
"Tolong..."
"Tolong...."
Zena menghindar dengan memukul-mukul dada pria tersebut.
"Aaaaaaaaaa!" Zena seketika berteriak menahan rasa sakit disaat tubuhnya digagahi tanpa ampunan.
Zena pada akhirnya pasrah dengan air matanya menetes, dengan penuh hawa nafsu pria di atas tubuhnya terus mencari kenikmatan.
Zena tampak setengah sadar dengan mata yang terbuka, namun pasrah, sosok pria di atas tubuhnya benar-benar tidak terlihat dan hanya kalung yang tampak bergoyang dan perlahan mata Zena tertutup.
Siapakah sosok pria misterius tersebut dan apakah Zena mampu menjalani kehidupannya setelah kejadian kelam?
Jangan lupa untuk membaca dari bab 1 sampai akhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6 Harus LDR
Tidak pada malam pertama, suasana malam bahkan sudah berubah menjadi pagi yang begitu cerah dengan sinar matahari yang masuk dari celah-celah jendela.
Kamar mungkin sedikit berantakan karena sepasang suami istri itu tidur di ranjang yang sama dalam kegugupan, tetapi tidak terjadi apa-apa dalam hubungan mereka, hanya beristirahat karena sama-sama lelah.
Zena saat ini membantu Samudra memasukkan pakaian ke dalam koper. Zena tidak menggunakan cadarnya karena berada di dalam kamar yang sama bersama dengan suaminya.
"Biar saya saja!" Samudra tidak ingin istrinya terlalu repot membantunya.
"Maafkan saya Zena, kamu mungkin akan marah karena saya harus pergi atas panggilan tugas, seperti apa yang saya katakan kepada kamu saat selesai shalat subuh tadi, untuk menjalankan tugasnya, jadi saya harus menggantikan rekan saya untuk melanjutkan tugas beliau," ucap Samudra.
"Tidak apa-apa. Kak, Zena sudah paham dan mengerti masalah itu yang terpenting bagaimana Kakak menjalankan tugas ini dengan baik, karena bagaimanapun ini amanah yang sangat besar," ucap Zena benar-benar memberi pengertian kepada Samudra.
Samudra tersenyum, merasa bersyukur dan bangga kepada istrinya itu.
"Makasih. Ya, saya janji akan pulang lebih cepat, kamu tunggu saya, ya!" ucap Samudra.
"Pasti Kak," sahut Zena.
Samudra perlahan mencium lembut kening Zena, ternyata mereka harus ldr karena pekerjaan Samudra yang memang mengharuskan keluar negeri.
"Kamu hati-hati di rumah. Ya, kamu tunggu saya dan pasti akan kembali," ucap Samudra.
"Iya. Kak," jawab Zena.
Samudra menarik nafas panjang dan membuang perlahan ke depan. Dengan berat hati pada akhirnya Samudra harus meninggalkan istrinya.
"Ya Allah engkau lindungi suami hamba, semoga tugas yang diberikan kepadanya dapat dilaksanakan dengan baik dengan amanah yang sudah dia pegang, sesungguhnya hamba menyerahkan semua kepadanya," batin Zena.
******
Memang sudah menjadi nasib sebagai istri yang bertugas untuk negara. Baru saja menikah dan Zena harus ditinggal tugas oleh suaminya, tetapi Zena menjalani semuanya dengan penuh keikhlasan.
Zena melewati hari-harinya dengan berbagai aktivitas, Zena benar-benar mendapat kesempatan untuk melanjutkan karirnya, di usianya yang masih sangat muda Zena, memiliki kesempatan untuk berkecimpung dalam dunia desain perhiasan.
Banyak waktu yang dia miliki untuk mengembangkan karirnya, sudah pasti sebelum itu dia meminta izin terlebih dahulu dengan Samudra, meski keduanya tidak sering berkomunikasi tetapi paling tidak ada komunikasi sedikit diantara mereka.
Zena juga tidak ingin terlalu mengganggu suaminya dan untuk kedua orang tua suaminya yang benar-benar memberikan dukungan besar kepada mereka.
Zena bahagia menjalani hari-harinya, benar-benar mendapat kesempatan dan seperti apa yang dikatakan Amelia bahwa pernikahan tidak akan membuat karirnya terhambat dan akan terus mendapat kesempatan untuk mengembangkan karirnya.
Tidak terasa ternyata semua sudah berjalan 3 bulan, hari ini Zena baru saja bertemu dengan salah satu desainer terkenal seorang wanita yang mana keduanya bertemu di salah satu Restoran.
Setelah menyelesaikan meeting dengan wanita tersebut. Zena kembali ke rumah dengan buru-buru. Zena turun dari mobilnya dan melihat mobil berwarna hitam terparkir di depan rumahnya membuat senyum Zena mereka.
"Kak Samudra," ucapnya menyadari bahwa mobil tersebut tak lain adalah milik suaminya.
Langkahnya semakin tidak sabaran ingin memasuki rumah yang berlari pelan.
"Assalamualaikum!" sapa Zena berjalan menghampiri ruang tamu dan sesuai dugaannya Samudra benar sudah kembali tampak gagah duduk bersama kedua orang tuanya, dengan memakai seragam putih khas angkatan laut.
Ini sudah hampir 2 bulan mereka tidak bertemu setelah pernikahan keduanya.
"Walaikum salam," sahut semua orang yang ada di ruang tamu.
"Kamu sudah kembali Zena?" tanya Amelia.
Zena menganggukkan kepala dan kemudian melangkah menghampiri ruang tamu dengan mencium punggung tangan kedua orang tua angkatnya.
Jantung Zena berdebar kencang saat menghampiri Samudra.
"Kak...."lirih Zena dengan senyum merekah di pipinya.
"Kamu apa kabar Zena?" tanya Samudra.
"Alhamdulillah Zena baik-baik saja, bagaimana dengan Kakak? Kakak kabarnya bagaimana apakah baik-baik saja dan bagaimana tugasnya apakah berjalan dengan lancar?" tanya Zena.
"Alhamdulillah Zena, tugas yang diberikan berjalan dengan lancar," jawab Samudra.
"Hmmm, kalian berdua baru saja menikah dan sudah harus dipisahkan dengan pekerjaan, jadi sebaiknya gunakan waktu dengan baik, Samudra, Mama tahu kamu lelah, tetapi bagaimanapun kamu memiliki tanggung jawab sebagai suami, kamu ajaklah Zena jalan-jalan," ucap Amelia memberi saran kepada putranya itu.
"Iya. Ma, itu sudah pasti," sahut Samudra.
Zena dan Samudra saling melihat satu sama lain dari tatapan mata Zena yang terlihat malu-malu di balik cadarnya, mungkin ada kerinduan besar di dalam diri mereka tetapi kerinduan itu tidak bisa diucapkan.
*****
Untuk kembali membangunkan chemistry diantara mereka membuat Samudra mengajak istrinya jalan-jalan keluar. Mereka memilih makan malam romantis di salah satu Restaurant mewah di pusat kota.
Suasana di dalam ruangan itu tampak tenang, posisi meja dan bangku yang berada tepat di samping dinding yang dilapisi dengan kaca yang bisa melihat dari ketinggian bagaimana kota Jakarta penuh dengan lampu-lampu.
Ruangan itu sepertinya sengaja khusus dipesan oleh Samudera hanya untuk mereka berdua, sehingga tanpa ketenangan dan keheningan dalam acara makan malam yang sudah mulai dinikmati pasangan suami istri itu.
"Zena tidak ada siapa-siapa di sini, kamu boleh melepas cadar agar makannya merasa nyaman," ucap Samudra.
"Memang tidak ada orang di dalam ruangan ini, tetapi ada tatapan dari cctv, lagi pula selama ini Zena sudah terbiasa makan dengan cara seperti ini dan tidak pernah merasa terganggu atau tidak nyaman," ucap Zena.
"Astagfirullah maafkan saya Zena, entah apa yang ada di pikiran saya tiba-tiba menyuruh kamu untuk melepas cadar, saya seharusnya bahagia sebagai suami dan merasa beruntung, istri saya tidak ingin mengumbar kecantikan wajahnya untuk orang lain," ucap Samudera.
Zena tersenyum di balik cadarnya, tampak begitu malu mendapatkan pujian dari Samudra
"Bagaimana makanan yang di Restoran ini?" tanya Samudra tidak ingin menghentikan topik diantara mereka agar pasangan itu terus saja berbicara.
"Makannya sangat enak kak," jawab Zena
"Oh iya Zena, waktu itu kamu minta izin kepada saya untuk memulai bisnis desain dan setelah itu kamu tidak mengabari saya bagaimana perkembangan bisnis kamu, apa perkembangan bisnis kamu lancar?" tanya Dikta.
"Alhamdulillah, sampai saat ini semuanya berjalan dengan lancar dan Alhamdulillah banyak yang mencoba untuk bekerja sama dengan Zena, Zena masih pemula dan sudah pasti belum sesempurna orang lain, Zena juga masih berusaha untuk memasarkan produk yang Zena desain," jawab Zena.
"Semua itu butuh proses dan jika kamu tekun dan bener-bener sungguh-sungguh ingin mengembangkan usaha kamu, maka saya yakin semua akan berjalan dengan lancar," sahut Samudra.
"Terima kasih kak, atas doanya," sahut Zena.
"Lalu desain apa yang pertama kali kamu buat?" tanya Samudra
"Zena hanya membuat desain perhiasan dalam bentuk cincin, ya masih yang dasarnya dulu, Zena belum berani untuk membuat suatu hal yang wow karena takutnya nanti tidak sesuai dengan pasaran dan justru mengalami kerugian," jawab Zena.
"Kamu tidak boleh ragu untuk mencoba apapun itu, besar kecilnya semua itu tergantung bagaimana kamu dan saya yakin usaha kamu akan berjalan dengan lancar, karena kamu memiliki kemampuan yang luar biasa," Samudra sejak tadi tidak pernah berhenti memberi dukungan dan semangat kepada istrinya.
Bersambung.....
cepet terungkaplah kasusnya..
klo bener samudra ayahnya..jangan biarkan dia mengetahuinya..biar menyesal seumur hidupnya..