NovelToon NovelToon
Mertua Dan Menantu

Mertua Dan Menantu

Status: tamat
Genre:Konflik etika / Cinta Terlarang / Romansa / Tamat
Popularitas:399.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: LaQuin

Lyra mencoba untuk bertahan meski ia terluka oleh kenyataan pahit yang baru saja ia ketahui setelah 6 bulan lamanya. Suami tercinta tega menduakan cintanya dan bermain api dengan Ibunya sendiri.

Rumah Tangga seumur jagung bagai neraka untuk Lyra. Lantas bagaimana ia harus menghadapi situasi ini?

Baca kisahnya yuk readers...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. Canggung

Bab 22. Canggung

(POV Author)

Pohon-pohon dan bangunan tampak berlari-larian ketika Lyra melamun menatap keluar jendela mobil. Suasana langsung hening ketika Mita sudah diantarkan ke rumahnya.

Sedari tadi Lyra terus diamati dari spion tengah mobil. Namun wanita itu tidak menyadari karena begitu terlena menatap keluar jendela.

"Cil...."

Lyra melirik Teguh ketika merasa di panggil. Teguh pun membalas menatap Lyra dari spion tengah mobil.

"Pindah depan napa Cil, masak Gue jadi kayak sopir pribadi ini." Ujar Teguh.

Lyra seakan tersadar ke dunia nyata. Ia pun bergerak pindah ke kursi depan melewati tengah dari dalam mobil.

"Astagfirullah...." Ucap Teguh yang tidak menduga Lyra akan berpindah duduk dengan cara demikian tanpa menghentikan mobil dulu.

"Maaf Bang, Gue lupa Abang bukan sopir." Ujar Lyra dengan mengedipkan mata nista seperti anak kecil yang siap dimarahi Ibunya.

Teguh menatap gemas wajah Lyra yang dengan polosnya minta maaf seperti itu setelah melakukan.

Pengen Gue gigit jadinya, eh.... Batin Teguh.

"Laper nggak? Kita makan dulu atau gimana?"

Cacing di perut Lyra langsung bersorak sorai keruyukan ketika mendengar Teguh mengajaknya makan.

"Boleh Bang."

Tanpa sungkan Lyra pun menerima ajakkan Teguh.

Mereka pun mencari resto terdekat untuk menghemat waktu. Namun begitu tiba di tempat, Lyra merasa enggan untuk turun melihat resto yang sepertinya harga segelas mineral sama seharga 10 galon isi ulang.

"Yok!" Ajak Teguh ketika Lyra masih melongo.

"Bang, bisa nggak kita makan rumah padang aja kalau ada? Pengen rendang Bang..." Pinta Lyra seakan mencoba berkilah.

Lyra cukup malu meminta hal yang demikian. Tapi ia merasa lebih malu dan tidak nyaman bila di traktir makan di tempat yang cukup mewah baginya.

Nggak tahu diri banget Gue. Udah di tolong malah makan ditempat yang seperti ini. Batin Lyra.

"Hehehe selera sejuta umat ya Cil. Oke, ayok kita cari nasi padang." Ajak Teguh yang kembali memasuki mobilnya.

Senyum Lyra terbit. Ia merasa beruntung kabur di hari itu.

"Tahu nggak Bang, rasanya Gue beruntung banget kabur di hari itu. Jadinya bisa ketemu Abang yang baik budiman ini."

"Tolong Cil, jangan puji Abang begitu."

"Lah, bener kok."

"Harusnya Abang ganteng yang baik budiman. Pas itu nggak kurang nggak lebih."

"Elah Abang." Sungut Lyra. "Iya sih ganteng." Gumamnya pelan.

"Apa Cil? Nggak kedengaran." Goda Teguh kepada Lyra.

Lyra yang malu menolehkan wajahnya melihat ke luar jendela. Lyra tidak ingin jika wajahnya terlihat merona dihadapanTeguh.

Setelah itu suasana menjadi sepi dan canggung. Lima belas menit kemudian mereka tiba di sebuah Rumah Makan Padang Sederhana. Lyra turun dari mobil mengikuti langkah Teguh. Mereka pun mencari tempat yang pas untuk menikmati makan siang di hari itu.

Pesanan mereka datang tidak lama kemudian beserta minuman dingin. Keduanya pun mulai makan dengan mengucapkan Bismillah.

"Nggak suka menu ala-ala barat ya?" Teguh memulai pembicaraan sambil makan.

"Suka kok. Tapi lebih suka makanan yang seperti ini." Jawab Lyra.

"Oh aman berarti ya. Next kapan-kapan kita makan di restoran tadi."

"Ya kalau sesekali sih bolehlah."

"Oh ya Cil. Hape Lo ntar Gue yang pegang ya. Lo nanti Gue beliin hape yang baru."

"Kenapa begitu Bang? Masih bagus kok."

"Bukan begitu Cil. Abang ingin mengumpulkan informasi dan bukti-bukti dari percakapan mereka nantinya. Biar nanti kamu lebih fokus ke kuliah mu aja. Kalian lagi nyusun skripsikan? Abang merencanakan menyewa informan untuk melengkapi bukti-bukti yang Abang perlukan."

Ada perasaan menggelitik di hati Lyra ketika mendengar perubahan bahasa Teguh. Apalagi Teguh menyebut dirinya Abang, membuat degub jantung Lyra menjadi tak karuan. Wanita itu pun berusaha menutupi senyumnya agar tidak ketara dilihat oleh Teguh.

"Oh gitu, Abang atur ajalah. aku manut aja..." Jawab Lyra yang ikut merubah etika bahasanya berbicara dengan Teguh.

"Ehem!!"

Sepertinya Teguh menyadari perubahan bahasa Lyra padanya. Pria karakter wajah orang Timur Tengah itu menoleh ke samping menutupi rasa kikuknya.

"Yuk habiskan makanannya! Setelah ini kita akan ke galeri handphone, lalu ke supermarket untuk mengisi persediaan di Apartemen." Ujar Teguh.

Lyra mengikuti ucapan Teguh. Ia pun kembali menikmati makan siangnya dengan menu rendang yang ia inginkan.

Sesekali tatapan mereka bertemu ketika mereka tanpa sengaja mencuri pandang satu sama lain. Dan hal itu menjadikan suasana berubah canggung bagi keduanya.

Jika orang yang tidak mengenal mereka, melihat mereka yang seperti itu pasti akan mengira mereka pasangan yang baru jadian.

Tidak ada lagi percakapan setelah makan siang selesai. Mereka lalu melanjutkan rencana untuk membelikan Lyra handphone. Begitu mendapatkan handphone yang cocok, mereka lanjut ke supermarket membeli bahan-bahan persediaan dapur.

Tiga kantong besar belanjaan di bawa oleh Teguh. Di tangan kanannya menyeret koper Lyra dan di tangan kirinya kantong belanjaan. Mereka melewati lorong menuju unit Apartemen. Begitu juga Lyra yang membawa satu kantong di tangan kiri dan kanannya.

Begitu masuk ke dalam Apartemen, Lyra langsung menghempas bobot tubuhnya di sofa. Sedangkan Teguh menyusun barang-barang yang ia beli ke tempatnya.

"Mau minum?"

"Ntar aku ambil sendiri Bang." Ujar Lyra.

Namun Teguh tidak mengindahkan ucapan Lyra. Lelaki itu membawa dua gelas orange jus menuju sofa.

"Cil..." Panggil Teguh sambil menyodorkan minuman segar pada Lyra.

"Padahal aku bisa sendiri Bang."

"Udah minum aja."

"Makasih ya Bang. Abang baik banget."

"Sini hape mu. Mumpung lagi santai."

Tanpa banyak tanya Lyra percaya saja memberikan handphonenya kepada orang yang telah banyak menolongnya.

Teguh menerima handphone itu. Lalu ia memasukkan kontak-kontak penting Lyra ke dalam handphone baru wanita itu beserta data-data di dalam galeri yang bentuknya sangat privasi. Semua ia pindahkan ke handphone yang baru.

"Ini tinggal kamu masukin akun mu. Untuk sementara kalau suamimu atau ibumu yang mengirim pesan, biar Abang yang menjawabnya. Kontak mereka tetap Abang masukkan ke handphone baru mu. Hanya saja Abang berharap kamu tidak menghubungi mereka lebih dulu. Jika kamu ingin bertindak sesuatu, konsultasi dulu sama Abang ya Cil."

"Siap Bang."

Lyra menurut saja apa kata peran dia percaya lelaki itu sedang mengusahakan yang terbaik untuk dirinya.

"Semua persediaan makanan udah Abang simpan ya Cil kamu tinggal buka-buka lemari saja dan kulkas kalau pengen makan apa kalau kamu mau delivery entar Abang transfer uang buat kamu."

"Duh Abang Jangan gitu lah Bang. Aku jadi ngerepotin Abang banget kalau begini. Aku ditampung di sini aja aku udah bersyukur loh Bang. Aku makan apapun Bang, aku nggak milih. Abang tinggalin uang waktu itu saja masih banyak. Paling aku pakai buat transportasi ke kampus aja nanti."

"Abang harus bertanggung jawab nampung kamu di sini Cil. Kalau kamu kenapa-kenapa ntar Abang masuk penjara kan Umi nangis-nangis jadinya."

"Umi itu Mama Abang ya?" Tanya Lyra merasa tidak nyaman. Ia takut salah sangka jika selama ia kenal Teguh ternyata Umi yang sering di sebut-sebut itu adalah pacar sang penolongnya.

"Umi itu cinta pertama Abang, Cil. Galak banget. Tapi Abang sayang."

Hati Lyra sedikit berdenyut mendengar bahwa wanita itu cinta pertama lelaki yang mulai ia kagumi itu. Eh...

Sebenarnya Umi ity nama atau panggilan Ibu ya? Batin Lyra bertanya-tanya.

Lyra tampak sedikit melemah.

"Nanti sewaktu-waktu Umi kesini. Ntar Abang kenalin." Ujar Teguh yang tampak senang.

Lyra lupa kalau Teguh pernah menyebut Umi sebagai orang tuanya. Pikiran wanita yang di kerumuni masalah itu tidak ingat siapa sang Umi.

Bersambung...

1
Ulfayanty Syamsu Rajalia
tolol nangis aj trus sampai kiamat bego banget si knp gk manggil warga bego
Deuis Hilmatussa'dah
Kecewa
Deuis Hilmatussa'dah
Buruk
74 Jameela
manusia berhati iblis tuuh andi😠
74 Jameela
lyra...cemungut yooooo..
hempaskn para bunga bangkai itu
74 Jameela
kyok jallang dech jd ny si clara..
maksain diri amiiiittttt
74 Jameela
waduh..gaswat..
salah sangka..tiwas berbunga hati tryt berbunga bangkai
74 Jameela
Luar biasa
74 Jameela
kaget aq
Vindy swecut
uuwwooowww/Gosh//Gosh//Gosh/
Vindy swecut
sumpah ngakak banget...lucu banget si onta timur ini...gemes deh/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ristieriswanharti
terbangun haus air minum lewat depan kamar mamah dapur suara desahan miling 😂
Sivia
/Facepalm/
Akbar Razaq
Rasain di culik bener bener ya gak bs di bilangin di cemasin orang gak bs jaga diri juga tapi ngeyel sukurin.
Akbar Razaq
mendadak minta di kawinin gatal ya...urusan aja lo gak bs apa apa klo gak ada temem sama teguh.duh lemot amat ya Si Lyra gemes deh
Akbar Razaq
untung ketemu orang baik klo enggak habis lo.agak kesal sih sama Lyra yg agak.bodoh juga.
Akbar Razaq
Nah kenapa gak sekalian.lo undang orang orang buat lihat secara life kelakuan mereka.li bodoh juga sih
Akbar Razaq
Bodoh.mereka jadi hati hatikan??
harus nya selidiki diam diam saat mereka mengira kamu gak curiga klo gini kan mereka waspada dasar. Polos apa goblok. gregeten akunya 😄
Akbar Razaq
Beneran Lyra mmg terlalu polos harusnya di selidiki mana ada maling yg ngaku.dodol?
Akbar Razaq
Ya ampun ternyata othor belum kasih jalan smua ini blum terkuak.😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!