NovelToon NovelToon
The Doctor’S Darkest Obsession

The Doctor’S Darkest Obsession

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Gangster / Dokter / Tamat
Popularitas:14.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Satu malam tragis mengubah seluruh hidup Liana. Niat hati ingin menolong seorang pria yang tak berdaya tetapi lelaki itu menutup matanya dan mengambil kesucian liana sebagai satu-satunya jalan keluar. Trauma dan kalut, ia melarikan diri dan berharap takdir tidak akan pernah mempertemukan mereka lagi.
Namun, takdir punya rencana lain. Beberapa bulan kemudian, Liana melangkah ke rumah sakit dengan hati hancur untuk mengakhiri kehamilan yang tak diinginkannya. Di sana, Kenzo melihat wanita yang akan menolongnya malam itu.
Liana tidak tahu bahwa di balik jas putihnya, Kenzo adalah pemimpin geng motor yang disegani dan tak kenal ampun dan lelaki yang telah melakukannya dengannya. Mengetahui Liana mengandung darah dagingnya, Kenzo tidak akan membiarkan wanita itu pergi.
Perburuan pun dimulai—bukan hanya untuk mengklaim anaknya, tapi juga untuk memiliki Liana seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Keesokan harinya, semburat cahaya pagi perlahan menerobos masuk melalui celah gorden ruang perawatan, menerangi ruangan yang tenang itu.

Liana perlahan membuka matanya. Rasa kantuk yang berat mulai berkurang, digantikan oleh kesadaran yang perlahan pulih sepenuhnya.

Hal pertama yang ia lihat saat menoleh ke samping adalah sosok suaminya.

Kenzo masih tertidur sangat pulas di kursi samping brankar, dengan posisi kepala yang bersandar di tepi tempat tidur dan tangannya yang masih setia menggenggam erat jemari Liana.

Wajah pria itu tampak begitu lelah; lingkaran hitam samar di bawah matanya memperlihatkan bahwa Kenzo tidak tidur semalaman demi menjaganya tanpa henti.

Liana menatap wajah suaminya dengan tatapan sendu penuh rasa cinta.

Tak lama kemudian, pintu kamar rawat terbuka secara perlahan dengan bunyi ceklek yang sangat pelan.

Seorang perawat masuk dengan langkah berhati-hati agar tidak mengganggu, sambil membawa sebuah nampan berisi makanan hangat dan obat-obatan.

Perawat itu tersenyum ramah saat melihat Liana sudah terbangun.

Ia melangkah mendekat untuk memeriksa kantung cairan infus dan tensi darah Liana.

"Selamat pagi, Ibu Liana. Bagaimana kondisinya hari ini? Apa yang dirasakan?" tanya perawat itu dengan suara lembut dan berbisik.

Liana mencoba menggerakkan bibirnya sedikit, menahan ringisan pelan.

"Masih pusing, Sus... Terus pipi dan rahang saya masih terasa sakit buat digerakkan," jawab Liana lirih, mengingat luka memar akibat hantaman helm tempo hari.

Perawat itu mengangguk maklum dengan penuh simpati.

Ia menaruh nampan makanan di atas meja dorong, lalu mengaturnya agar mudah dijangkau.

"Itu hal yang wajar pasca-trauma, Ibu. Tapi ketahanan tubuh Ibu sudah sangat baik. Sekarang, Ibu harus makan terlebih dahulu ya, dihabiskan makanannya meskipun sedikit agar ada tenaga."

"Setelah makan, kami akan memasukkan obat anti-nyeri dan penguat kandungan ke dalam cairan infus Ibu," lanjut perawat itu lagi dengan profesional.

Gerakan perawat dan suara obrolan kecil itu rupanya perlahan mengusik tidur lelap Kenzo.

Pria itu melenguh pelan, lalu perlahan membuka kelopak matanya yang terasa sangat berat akibat kelelahan yang luar biasa.

Begitu kesadarannya terkumpul sepenuhnya, netra tajam Kenzo langsung tertuju pada Liana yang baru saja selesai diperiksa oleh perawat.

Melihat sang istri sudah sadar dan bisa berbicara, binar keaktifan dan rasa lega seketika terpancar kembali dari sepasang mata Kenzo yang memerah.

Kenzo langsung menegakkan tubuhnya yang kaku.

Ia mengusap wajahnya sejenak untuk mengusir sisa kantuk, lalu memajukan kursinya agar bisa lebih dekat dengan Liana.

Tatapan matanya yang tajam kini dipenuhi rasa khawatir dan bersalah yang teramat dalam saat melihat perawat melangkah mundur setelah selesai memeriksa.

"Apa yang sakit, Sayang? Bagian mana yang paling terasa nyeri?" tanya Kenzo, suaranya serak khas orang baru bangun tidur namun sarat akan nada cemas.

Ia meraih jemari Liana, mengecupnya berkali-kali. "Maafkan aku. Maaf aku datang terlambat. Andai saja aku tidak meninggalkanmu sendirian di markas..."

Liana tersenyum sangat tipis, mencoba menggerakkan tangannya yang bebas dari infus untuk mengusap punggung tangan suaminya.

"Kenzo, ini bukan salah kamu. Jangan minta maaf."

Kenzo menunduk, menempelkan dahi istrinya ke dahinya sendiri.

Napasnya terasa berat. "Jangan menakutiku lagi, Liana. Aku sungguh tidak siap kehilanganmu. Lebih baik aku mati daripada kamu meninggalkan aku sendirian di dunia ini."

Air mata Liana mengalir pelan di sudut matanya, terharu mendengar ketulusan pria posesif di hadapannya.

"Aku mencintaimu, Kenzo.."

"Aku juga sangat mencintaimu, Sayang. Tolong, jangan pergi lagi," balas Kenzo lirih, mengecup kelopak mata Liana yang basah.

Kenzo kemudian menegakkan tubuhnya, melirik ke arah nampan makanan yang dibawa perawat tadi.

Sisi dokternya kini mengambil alih untuk memastikan pemulihan sang istri.

"Sekarang waktunya kamu makan. Dan... ada satu hal penting yang harus kamu patuhi. Dokter Sinta melarangmu turun dari tempat tidur sampai tiga bulan ke depan. Kamu harus total bed rest."

Raut wajah Kenzo berubah sangat serius saat ia mengusap perut Liana di balik selimut.

"Hantaman kemarin membuat kondisi anak kita sangat lemah, Sayang. Kita harus menjaga jaringan rahimmu agar tidak kontraksi lagi."

Liana tertegun mendengar penjelasan suaminya. Dahinya berkerut bingung dan sedikit panik memikirkan bagaimana ia harus bertahan di atas kasur selama itu.

"Lalu, bagaimana kalau aku mau mandi? Terus kalau aku mau buang air kecil dan besar bagaimana, Ken?" tanya Liana dengan polos dan cemas.

Kenzo tersenyum lembut, sebuah senyuman menenangkan yang langsung menghapus kepanikan di wajah istrinya.

Sebagai dokter spesialis kandungan, ia sudah sangat terbiasa dengan prosedur ini.

"Dengarkan aku, Sayang. Sebagai doktermu dan suamimu, aku yang akan mengurus semuanya," ucap Kenzo dengan suara baritonnya yang menenangkan.

"Selama tiga bulan ini, kamu tidak boleh ke kamar mandi sama sekali. Untuk mandi, tubuhmu hanya akan dilap dengan waslap basah dan sabun antiseptik khusus di atas kasur. Aku sendiri yang akan memandikanmu setiap pagi dan sore."

Kenzo mengusap pipi Liana yang masih memar dengan ibu jarinya secara perlahan.

"Lalu untuk buang air kecil dan besar, kita akan menggunakan bedpan atau pispot medis khusus yang diselipkan di bawah pinggulmu, atau jika diperlukan, perawat akan memasang kateter urine untuk sementara waktu agar kamu tidak perlu mengubah posisi tubuh secara drastis. Semua kotoran akan langsung dibersihkan di atas tempat tidur tanpa kamu harus menggerakkan kaki atau turun dari ranjang."

Kenzo mengecup kening Liana sekilas, meyakinkan istrinya.

"Kamu tidak perlu merasa sungkan atau malu. Ada aku dan perawat yang akan menjaga kebersihanmu 24 jam penuh. Tugasmu sekarang hanya berbaring, makan, minum obat, dan tetap bahagia demi jagoan kita di dalam sini. Mengerti, Sayang?"

Liana menganggukkan kepalanya pelan, mencoba mencerna semua penjelasan medis dari suaminya.

Namun, rona merah samar perlahan muncul di pipinya yang pucat.

Rasa sungkan dan malu mendadak menyeruak di hatinya.

Bagaimanapun juga, membayangkan suaminya harus mengurus semua urusan sanitasi pribadinya di atas kasur terdengar sangat canggung.

"Tapi Kenzo, apakah kamu benar-benar tidak akan merasa jijik?" tanya Liana lirih, menatap Kenzo dengan pandangan ragu dan tidak enak hati.

Kenzo langsung terkekeh pelan, sebuah tawa hangat yang menenangkan.

Ia menggenggam erat kedua tangan Liana, lalu menatap lurus ke dalam netra istrinya dengan tatapan yang teramat dalam dan penuh kesungguhan.

"Liana, dengarkan aku. Aku ini dokter, dan bagi seorang dokter, tidak ada kata jijik untuk kesembuhan pasiennya," ucap Kenzo dengan nada baritonnya yang mantap.

Ia memajukan wajahnya, mengecup hidung Liana dengan gemas.

"Apalagi kamu ini bukan cuma pasienku, tapi kamu istriku, belahan jiwaku, dan wanita yang sedang mengandung anakku. Menjaga dan merawatmu dalam kondisi apa pun adalah tugasku yang paling mulia. Jadi, buang jauh-jauh pikiran itu, hm? Tidak ada kata jijik sedikit pun di kamusku kalau itu menyangkut dirimu."

Kenzo bangkit dari duduknya, meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku setelah semalaman terjaga di samping brankar.

Ia melangkah menuju kamar mandi di dalam ruang rawat untuk mencuci muka, membasuh sisa-sisa kelelahan agar tampak segar di depan sang istri.

Beberapa menit kemudian, Kenzo kembali dengan wajah yang lebih segar.

Ia mengambil mangkuk bubur hangat dari nampan yang dibawakan perawat tadi, lalu duduk kembali di sisi tempat tidur.

Dengan penuh telaten dan kasih sayang, Kenzo mulai menyuapi Liana sendok demi sendok, memastikan istrinya menelan makanan itu dengan perlahan agar tidak memicu mual.

Tok... tok... tok...

Suara ketukan pintu memecah keheningan kamar rawat.

Kenzo menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu menoleh ke arah pintu.

"Masuk," ucap Kenzo dengan suara baritonnya yang tenang.

Pintu terbuka, dan sesosok wanita langsung menghambur masuk dengan wajah yang dipenuhi kecemasan luar biasa.

"Rista...." gumam Liana pelan begitu mengenali sahabatnya.

"Ya Allah, Liana! Kamu...." Rista membekap mulutnya sendiri, air matanya seketika menetes melihat kondisi Liana yang terbaring lemah dengan selang oksigen dan memar yang masih kentara di wajah cantiknya.

Liana mencoba tersenyum, meski sudut bibirnya masih terasa sedikit perih.

"Aku tidak apa-apa, Ris. Maaf ya... semalam tidak jadi makan malam besarnya."

Mendengar ucapan Liana, Rista langsung mendekat ke sisi ranjang dan memegang tangan sahabatnya dengan gemas sekaligus sedih.

"Liana! Kamu ini masih sakit sekaligus kritis begini, jangan malah membahas tentang makan malam semalam! Yang penting itu kondisi kamu dan kandunganmu!"

Tepat setelah Rista masuk, Mario menyusul di belakang dan perlahan menutup pintu kamar rawat rapat-rapat, memberikan privasi bagi mereka di dalam.

Mario melirik ke arah Kenzo yang mengangguk pelan, lalu menatap Liana.

"Semalam dia terus mencarimu di markas dan Subuh tadi ia menghubungiku, Ibu Liana," ujar Mario menjelaskan kedatangan Rista yang tiba-tiba.

"Karena situasinya sudah aman dan terkendali, akhirnya tadi pagi aku memberi tahu Rista kalau Ibu sedang dirawat di rumah sakit ini."

1
Muft Smoker
wah udh tamat aja kak ,, kirain nunggu little cobra gede dulu ,,
tp ttap makasih kak buat cerita ny ,, meski singkat Dan tdk bertele2 ,, tp suka ma alur ny ,, dtggu next ceritany yx kak ,,

sehat2 selalu kak ,,
Muft Smoker
astagaaaa ,, org lgi pda sibuk nangis ,, si bumil malah asik berenang😂😂😂😂😂
Bunga Andthea
huhuhu cepet bgt tamat nya kak,
my name is pho: 🥰🥰
Nantikan novel yang lainnya ya kak
terima kasih
total 1 replies
Bunga Andthea
huwaa kakak ny baik bgt hari ini triple up
Muft Smoker
lanjuuut kak
Arumi
psikopat 😭
Muft Smoker
duuuh deg2an iikh ,,
semoga kenzoo cepat sampai dan menyelamatkan Liana ,,
Bunga Andthea
dobel up kak
Muft Smoker
semoga ad keajaiban ,, sebelum bnr2 jauuun Liana bisa di selamatkan ,,
Bunga Andthea
up lgi kak
Bunga Andthea
dobel up dong kak
Muft Smoker
nah kan Rista akhirnya km menemukan sosok yg baik ,, meski ia salah satu anggota geng motor ,,
Muft Smoker
udh Rista jgn iri dg Liana Krn punya suami kyak kenzoo ,,
mario juga kyaknya gx kalah keren koq ,,
🍒WINA🍒
Kenzo dalam keadaan kena obat perangsang telah menodai liana, kasian nasibnya liana ingin menolong org yg terluka apes diperkosa...

liana sampai kehilangan kehormatannya sangat dijaganya, hancur hidup liana yg memperkosa tidak bertanggungjawab langsung kabur aja🤣🤣🤭
Bunga Andthea
lagi kak dobel up kak
Bunga Andthea
sedih bgt liat keadaan Liana,
sumpah kak Lo bikin deg degan
Muft Smoker
yaaa kak ,, masa pemeran utama meninggoy ,, 😱😱😱😱😱😱
Inarairlan 0811
Kania or Rista ka
my name is pho: Kania kak.
terima kasih koreksinya
total 1 replies
Bunga Andthea
ehh ehh tor jngan main" ya ini kenapa jdi gini liana nya
sri hastuti
lah kok spt itu thor, selamatkan liana thor, kl tdk bisa jd monster itu kenzo ,bisa diterjang semuanya , kenapa baru bahagia sebentar sdh spt ini 😡😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!