Namanya Felicia. Hidupnya biasa-biasa saja — sampai dia terbangun di tubuh orang lain, di sebuah mansion yang lebih besar dari kampusnya, dengan cincin pernikahan di jari manisnya.
Suaminya? Kevin Surya — pewaris nomor tiga Surya Group, salah satu konglomerat terbesar di Indonesia. Wajah tampan yang tersembunyi di balik bekas luka. Tatapan sedingin freezer. Mulut yang tidak pernah mengucapkan lebih dari dua kalimat sekaligus.
Pernikahan mereka adalah kontrak. Tiga tahun. Tidak ada cinta, tidak ada harapan, tidak ada masa depan.
Tapi Felicia punya senjata rahasia — Sistem Kepo, AI misterius yang bersarang di otaknya dan memberinya informasi, obat-obatan ajaib, dan misi-misi gila.
Misi utama: Bantu Kevin Surya merebut kendali Surya Group. Deadline: 3 tahun. Gagal = konsekuensi fatal.
Dan Kevin? Dia punya rahasia sendiri.
Dia bisa membaca pikiran Felicia. Setiap. Kata. Yang. Dia. Pikirkan.
Termasuk saat Felicia berpikir:
"Abs-nya... ada berapa ya? Satu, dua, tiga— YA TUHAN DIA LIHAT AKU MENGHITUNG"
"Pasti gay. Pasti. Tidak mungkin cowok setampan ini straight."
"Kalau aku lempar Bola ke dia, dia bakal teriak kayak cewek tidak ya?"
"Kenapa... pelukan cowok ini sehangat ini..."
Di antara intrik mertua jahat (Madam Liem yang ingin menyingkirkan Kevin), adik tiri bermuka dua (Stella yang ingin mencuri segalanya), dan musuh dari luar negeri yang mengincar kehancuran keluarga Surya — Felicia harus bertahan, melawan, dan... jatuh cinta?
Padahal ini cuma kontrak. Kan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4: Wajah Asli yang Mempesona
Dan cowok es batu itu ternyata jauh lebih retak daripada yang ia bayangkan.
Kalimat itu terus menempel di kepala Felicia sampai siang, bahkan ketika ia berdiri di depan cermin kamar mandi utama dengan kapas pembersih di tangan.
Pantulan di cermin menunjukkan wajah pengantin baru yang tidak masuk akal. Foundation terlalu tebal, alis digambar terlalu hitam, blush on seperti habis lari lima kilometer, dan lipstik merah tua yang membuatnya terlihat lebih seperti tante sosialita galak daripada perempuan dua puluh dua tahun.
Felicia menatap dirinya sendiri, lalu menatap botol cleansing oil di wastafel.
"Si Kepo."
***"Hadir, Host. Mau tutorial skincare atau tutorial balas dendam?"***
"Dua-duanya nanti. Sekarang, kenapa wajah ini... begini?"
***"Makeup pertahanan diri."***
Felicia mengerjap. "Maaf?"
Panel kecil muncul di samping cermin. Isinya potongan ingatan yang bukan miliknya. Seorang gadis muda berdiri di kamar Santoso, memegang bedak murah dengan tangan gemetar. Di belakangnya, suara Linda Liem-Santoso terdengar lembut tapi menusuk.
"Felicia, perempuan terlalu cantik itu mengundang masalah. Kamu anak baik, kan? Jangan membuat Papa malu."
Ingatan berganti. Stella remaja menatapnya di meja rias dengan senyum manis.
"Kak Cia cocok pakai makeup tebal begini. Lebih... aman. Kalau Kakak tampil terlalu cantik, nanti orang kira Kakak genit."
Felicia meletakkan kapas perlahan.
*Jadi ini bukan selera buruk. Ini hasil gaslight bertahun-tahun.*
Di ruang kerja lantai tiga, Kevin yang sedang membaca laporan Phoenix Intel kembali berhenti.
Gaslight. Linda. Stella.
Ia menyimpan nama itu dalam kepalanya.
Di kamar mandi, Felicia menuang cleansing oil ke telapak tangan dan mulai memijat wajahnya. Lapisan makeup luruh sedikit demi sedikit. Foundation cokelat kekuningan turun bersama air. Alis palsu menghilang. Lipstik merah meninggalkan jejak seperti darah di kapas.
Semakin wajah itu bersih, semakin Felicia terdiam.
Kulit di cermin ternyata putih bersih dengan rona sehat. Bentuk wajahnya kecil, dagu halus, hidung mancung, bibir alami berwarna merah muda. Mata yang tadi tenggelam di balik eyeliner tebal kini terlihat jernih dan panjang, dengan bulu mata lentik yang tidak perlu maskara berlapis-lapis.
Ia menyeka sisa makeup di sudut mata.
Seorang perempuan asing menatap balik.
Cantik.
Bukan cantik biasa.
Cantik yang bisa membuat orang di ballroom lupa kalimat berikutnya.
Felicia menelan ludah.
*Ya ampun. Ini wajah disembunyikan bertahun-tahun? Linda dan Stella bukan cuma jahat. Mereka takut saingan.*
***"Analisis tepat, Host. Pemilik tubuh lama tumbuh percaya bahwa kecantikannya adalah sumber masalah. Dia sengaja memakai makeup buruk, baju norak, dan sikap bodoh agar tidak mengancam Stella."***
"Dan tetap dijodohkan dengan Kevin."
***"Karena keluarga Santoso butuh kontrak Surya. Mereka pikir Kevin yang terluka dan terpinggirkan cukup aman untuk dijadikan tempat membuang Felicia."***
Felicia mematikan keran.
"Membuang," ulangnya pelan.
Kata itu pahit.
Ia bukan pemilik tubuh lama, tapi dada ini tetap terasa sesak. Mungkin karena sisa perasaan Felicia lama masih tinggal di sana, berlapis takut, malu, dan keinginan kecil untuk dipilih oleh ayah sendiri.
Felicia mengganti gaun rumah yang disiapkan di lemari. Kali ini ia memilih blouse putih sederhana dan celana kain krem, bukan dress bermotif besar yang ada di koper lamanya. Rambut panjangnya ia keringkan, lalu dibiarkan jatuh di punggung tanpa jepit heboh.
Ketika ia keluar dari kamar mandi, kamar utama terasa lebih terang.
Kevin sedang berdiri di dekat meja, memegang sebuah map hitam. Ia mungkin baru masuk beberapa detik lalu, tetapi langkahnya berhenti begitu melihat Felicia.
Benar-benar berhenti.
Felicia juga berhenti.
"Mas Kevin?"
Kevin tidak menjawab.
Selama beberapa detik, matanya menatap wajah Felicia tanpa berkedip. Poni panjang menutupi separuh ekspresinya, tapi rahang yang biasanya kaku kini seperti lupa mengeras.
Felicia menyentuh pipinya sendiri. "Ada yang aneh?"
*Jangan bilang masih ada sisa eyeliner. Kalau ada, aku lompat dari balkon. Eh, jangan. Mahal kalau kaca rusak.*
Kevin mendengar, tapi tidak langsung bereaksi.
Aneh?
Tidak.
Wajah di hadapannya berbeda jauh dari pengantin perempuan semalam. Tanpa lapisan makeup buruk, Felicia Santoso terlihat seperti orang lain. Lebih muda, lebih tajam, dan terlalu hidup untuk rumah yang selama ini dingin.
"Kamu..." Kevin berhenti.
Felicia menunggu.
"Cuci muka."
Felicia menatapnya datar.
*Komentar abad ini. Pria ini melihat transformasi dari badut mahal ke manusia normal, lalu kesimpulannya cuci muka.*
Kevin berdeham pelan. "Map kontrak tambahan."
"Oh." Felicia mengambil map itu. "Apa isinya?"
"Akses rumah, kartu kendaraan, batas penggunaan rekening, jadwal keluarga Surya."
"Saya punya rekening?"
"Mulai hari ini."
Felicia membuka map. Di dalamnya ada kartu debit hitam, daftar akses pintu, dan dokumen dengan banyak angka. Ia melihat limit bulanan yang tertera, lalu matanya melebar.
"Mas Kevin, ini kebanyakan."
"Untuk kebutuhanmu."
"Kebutuhan saya bukan beli pulau."
"Kalau kurang, bilang."
Felicia memandangnya seperti ia baru berbicara dalam bahasa alien.
*Orang kaya memang beda server. Limit bulanannya bisa buat modal franchise bakmi.*
Kevin menahan dorongan untuk bertanya franchise bakmi apa.
"Saya tidak mau bergantung pada uangmu," kata Felicia, kali ini lebih serius.
Kevin menatapnya. "Itu bagian kontrak."
"Saya paham. Tapi saya ingin mencatat semua pengeluaran. Kalau nanti kita bercerai, tidak ada yang bisa bilang saya mengambil keuntungan."
Kevin diam agak lama.
Kebanyakan orang yang masuk ke rumah Surya akan menghitung apa yang bisa mereka ambil. Felicia justru memikirkan bukti agar tidak dituduh.
*Aku boleh pakai uangnya untuk bertahan, tapi bukan untuk jadi parasit. Hidup sudah dilempar ke sini, masa harga diri ikut dijual satu paket sama kontrak?*
Suara hati itu membuat tatapan Kevin berubah tipis.
"Lakukan sesukamu," katanya.
Felicia mengangguk puas. "Terima kasih."
Kevin berbalik hendak pergi, tetapi langkahnya tertahan saat melihat tumpukan kapas kotor di meja rias. Warnanya cokelat, merah, hitam. Seperti bekas perang kecil.
"Kenapa dulu memakai makeup seperti itu?"
Pertanyaan itu keluar lebih dulu dari yang ia rencanakan.
Felicia menegang sebentar. Lalu ia mengangkat bahu, mencoba ringan. "Kebiasaan buruk."
*Karena Linda dan Stella membuat Felicia lama percaya bahwa cantik itu dosa sosial. Karena Papa terlalu sibuk jadi orang baik untuk semua orang sampai lupa melindungi anak sendiri. Karena gadis itu takut bersinar.*
Kevin berdiri diam.
Kalimat-kalimat itu masuk ke kepalanya, satu per satu.
Ia tidak tahu bagian mana yang membuat dadanya terasa tidak nyaman. Mungkin karena ia mengerti rasanya disembunyikan. Mungkin karena ia tahu bagaimana seseorang bisa tumbuh dengan luka yang diberi nama "demi kebaikanmu."
"Mulai sekarang," katanya pelan, "pakai yang kamu mau."
Felicia mengangkat wajah.
"Di rumah ini, tidak ada Linda. Tidak ada Stella."
Ucapan itu singkat. Datar. Tapi bagi Felicia, rasanya seperti seseorang membuka jendela di kamar yang sudah lama pengap.
Ia tersenyum kecil. Bukan senyum pengantin palsu semalam. Bukan senyum sopan untuk bertahan hidup. Senyum itu muncul cepat, lembut, lalu hilang sebelum ia sadar.
"Baik, Mas Kevin."
Kevin segera memalingkan wajah.
*Lho? Telinganya merah?*
"Aku rapat," katanya cepat.
Ia keluar dari kamar dengan langkah lebih kaku dari biasanya.
Felicia menatap pintu yang tertutup, lalu tertawa pelan.
***"Love Meter naik, Host."***
"Berapa?"
***"Delapan."***
Felicia memutar mata. "Pelan banget."
Di koridor, Kevin berhenti.
Tangannya menyentuh telinga sendiri.
Panas.
Sial.
Perempuan ini benar-benar lebih berbahaya daripada yang ia kira.