NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Konglomerat: Cinta Gila yang Tak Bisa Kulepaskan

Obsesi Sang Konglomerat: Cinta Gila yang Tak Bisa Kulepaskan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Transmigrasi ke Dalam Novel / Dark Romance
Popularitas:17.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Kiara terbangun di dunia yang bukan miliknya.

Satu detik sebelumnya, dia gadis biasa yang membaca novel romansa di ponselnya. Detik berikutnya, dia terperangkap di tubuh Kiara Tanuwijaya — aktris muda yang diperlakukan bagai sampah oleh keluarganya sendiri, difitnah oleh industri, dan ditakdirkan berakhir tragis dalam cerita.

Tapi yang paling menakutkan bukan keluarga yang membencinya, bukan pula musuh yang ingin menghancurkannya.

Yang paling menakutkan adalah Rayhan Purnawan.

Dalam novel, dia adalah villain — konglomerat kejam yang menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Tapi saat menatap Kiara, matanya yang dingin meleleh. Suaranya yang tajam melunak. Tangannya yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis justru dengan lembut membelai rambutnya.

"Sayang, kamu kembali."

Kembali? Kiara baru saja tiba.

Atau... benarkah?

Di balik kelembutan Rayhan tersembunyi rahasia yang lebih gelap dari mimpi terburuknya: altar tempat dia berdoa 2352 hari, sketsa-sketsa yang tak seharusnya ada, dan sebuah obsesi yang melampaui batas dunia.

"Aku sudah menunggumu. Di dunia ini, di dunia mana pun — aku akan selalu menemukanmu."

Kiara tahu dia harus takut.

Tapi kenapa, saat dia bersembunyi di pelukan pria ini, justru rasa aman yang dia temukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 016

Yolanda Yanuar

Ciuman pertama membuat Kiara sepanjang malam tidak berani melihat cermin terlalu lama.

Setiap kali ia menyentuh bibirnya, wajah Rayhan yang menunduk di tengah suara hujan kembali muncul. Lembut. Panas. Terlalu jelas.

Akibatnya, ia terlambat tidur dan hampir terlambat ke studio keesokan pagi.

Santi mengetuk pintu kamar sambil panik, "Kak Kiara, mobil sudah menunggu!"

"Sebentar!"

Kiara buru-buru mengikat rambut, mengambil naskah Gerbang Majapahit, lalu berlari kecil menuruni tangga. Hendra dan Lina sedang sarapan. Wenny juga ada di sana, menatap ponsel dengan wajah yang mendadak berubah saat melihat Kiara.

"Kiara," panggil Wenny manis. "Kamu terlihat senang sekali pagi ini."

Kiara hampir tersandung anak tangga terakhir.

"Aku ada latihan."

"Dengan Pak Rayhan mengantar lagi?"

Nada Wenny ringan, tapi Kiara bisa mendengar duri kecil di dalamnya.

Kiara merapikan tali tas. "Dengan Santi."

Tidak sepenuhnya bohong. Santi memang ikut.

Hanya saja Rayhan sudah mengirim pesan sejak pukul enam.

Koko Rayhan: Aku di depan.

Kiara pura-pura tidak melihat senyum tipis Wenny saat ia keluar rumah.

Di mobil, Rayhan tidak menyinggung ciuman semalam.

Itu justru lebih buruk.

Ia hanya menaruh sarapan hangat di pangkuan Kiara, memeriksa botol airnya, lalu bertanya apakah ia sudah minum obat. Wajahnya sangat tenang, seolah semalam ia tidak membuat lutut Kiara hampir menyerah di rooftop restaurant.

Kiara memegang kotak makan.

"Kamu tidak mau mengatakan apa-apa?"

Rayhan menoleh. "Tentang apa?"

"Kamu tahu tentang apa."

Sudut bibirnya bergerak sedikit. "Kalau aku bahas sekarang, kamu tidak akan bisa latihan."

Wajah Kiara panas.

"Kamu terlalu percaya diri."

"Aku punya alasan."

Santi di kursi depan pura-pura batuk keras. Adi tetap menatap jalan seperti tidak mendengar apa pun.

Di studio, suasana Gerbang Majapahit lebih sibuk dari hari sebelumnya. Tim kostum mulai mengukur ulang beberapa pemain, pelatih dialog menempel jadwal latihan, dan Gunawan sudah mengomel pada seseorang karena properti keris palsu terlihat seperti mainan anak.

Kiara baru saja duduk ketika ruang latihan mendadak lebih ramai.

Beberapa kru berbisik.

"Yolanda datang?"

"Yolanda Yanuar?"

"Katanya keluarganya salah satu sponsor acara budaya."

Nama itu membuat jari Kiara berhenti di atas naskah.

Yolanda Yanuar.

Protagonis asli novel.

Dalam cerita yang ia baca, Yolanda adalah gadis yang seharusnya dicintai dunia. Sosialita cantik, lembut, tampak polos, selalu muncul di saat paling tepat untuk membuat semua orang ingin melindunginya. Tetapi di balik wajah yang bersih itu, ia adalah orang yang paling pandai membuat orang lain terlihat jahat tanpa mengotori tangannya sendiri.

Kiara mengangkat wajah.

Seorang perempuan masuk bersama perwakilan sponsor. Gaunnya sederhana warna krem, rambut panjangnya ditata lembut, senyumnya hangat seperti seseorang yang tidak pernah punya niat buruk. Ia membawa beberapa kotak dessert kecil untuk kru, membagikannya dengan sikap rendah hati.

Cantik.

Sangat cantik.

Dan sangat berbahaya.

Yolanda seolah merasakan tatapan Kiara. Matanya beralih, lalu senyumnya melebar sedikit.

Ia berjalan mendekat.

"Kamu Kiara Tanuwijaya, ya?"

Suaranya lembut.

Tidak terlalu manis sampai palsu. Justru pas. Itulah yang membuatnya lebih sulit dibaca.

Kiara berdiri. "Iya."

"Aku Yolanda Yanuar." Ia mengulurkan tangan. "Aku dengar banyak tentang kamu. Katanya kamu luar biasa saat pembacaan naskah kemarin."

Kiara menatap tangan itu sepersekian detik sebelum menjabatnya.

"Terima kasih."

Genggaman Yolanda hangat dan ringan.

"Aku senang sekali akhirnya bisa bertemu. Jujur, aku sempat khawatir kamu tidak nyaman dengan semua berita akhir-akhir ini. Kadang orang terlalu cepat menilai perempuan yang dekat dengan pria berpengaruh."

Kalimat itu terdengar seperti empati.

Tetapi Kiara merasakan Santi yang duduk di sampingnya langsung tegang.

Dekat dengan pria berpengaruh.

Yolanda baru bertemu dan sudah meletakkan duri pertama.

Kiara menarik tangannya dengan tenang. "Berita memang suka berlebihan."

"Benar." Yolanda tersenyum. "Karena itu perempuan seperti kita harus saling menjaga."

Seperti kita.

Kiara hampir ingin tertawa.

Dalam novel, kalimat semacam itu selalu menjadi awal jebakan.

Sebelum percakapan berlanjut, Rayhan masuk dari pintu samping bersama Adi. Ia seharusnya hanya mengantar Kiara lalu pergi, tetapi entah kenapa kembali setelah menerima telepon di luar.

Begitu melihatnya, mata Yolanda berubah sangat halus.

Jika Kiara tidak sedang memperhatikan, ia mungkin melewatkannya.

Yolanda melepaskan senyum paling lembutnya dan melangkah setengah ke arah Rayhan.

"Pak Rayhan."

Beberapa kru langsung menoleh.

Yolanda berbicara dengan sopan, tidak agresif, tidak memalukan. Cara yang sempurna untuk membuat siapa pun yang mengabaikannya terlihat kasar.

Rayhan berhenti.

Matanya melewati Yolanda begitu saja dan jatuh pada Kiara.

"Obatmu sudah diminum?"

Ruangan mendadak sunyi.

Kiara merasa pipinya panas. "Sudah."

"Jangan makan dessert dingin."

"Aku tahu."

"Kalau lelah, berhenti."

"Koh Rayhan, ini studio."

"Aku tahu."

Yolanda berdiri di samping mereka dengan senyum yang tidak berubah, tetapi Kiara melihat jari-jarinya menekan kotak dessert sedikit lebih kuat.

Rayhan baru seolah sadar ada orang lain.

Ia menoleh singkat. "Nona Yolanda."

Hanya itu.

Tidak ada sapaan lebih.

Tidak ada basa-basi.

Tidak ada minat.

Yolanda tertawa halus, menyelamatkan suasana dengan sangat baik. "Pak Rayhan perhatian sekali pada Kiara. Manis sekali."

Kalimat itu membuat beberapa kru tersenyum geli.

Kiara justru menangkap arah lain. Jika ia menerima, ia terlihat menikmati statusnya. Jika ia menyangkal, ia terlihat malu-malu.

Rayhan menjawab sebelum Kiara perlu bicara.

"Memang."

Satu kata.

Santi hampir tersedak air.

Yolanda berkedip.

Kiara menatap Rayhan, wajahnya panas sampai telinga.

"Kamu..."

Rayhan menunduk sedikit, suaranya hanya untuknya. "Latihan yang benar."

Setelah itu ia pergi bersama Adi, meninggalkan satu ruangan penuh bisik-bisik dan Yolanda yang masih tersenyum.

Kiara duduk kembali, pura-pura membaca naskah.

Yolanda ikut duduk di kursi kosong di depannya.

"Kalian terlihat dekat."

Kiara tidak mengangkat wajah. "Kami sedang saling mengenal."

"Hati-hati, Kiara." Suara Yolanda tetap lembut. "Pria seperti Pak Rayhan biasanya tidak mudah dimengerti. Aku cuma tidak mau kamu terluka."

Kiara akhirnya menatapnya.

"Terima kasih atas kekhawatirannya."

Yolanda tersenyum, lalu berdiri seolah tidak terjadi apa-apa.

"Semoga kita bisa berteman."

Kiara melihat punggungnya menjauh.

Di ponsel Kiara, pesan dari nomor tidak dikenal masuk beberapa menit kemudian.

Wenny: Yolanda baik sekali, ya? Dia bilang ingin mengenalmu. Jangan terlalu dingin padanya, nanti orang salah paham lagi.

Kiara menatap pesan itu lama.

Jadi mereka sudah saling menghubungi.

Dalam novel, Wenny tidak pernah menjadi lawan yang cukup cerdas sendirian. Ia selalu butuh seseorang yang lebih halus untuk mengarahkan rasa irinya. Dan Yolanda, dengan wajah polos serta kalimat-kalimat penuh empati, adalah orang yang sempurna untuk itu.

Ia mematikan layar ponsel, lalu kembali membaca naskah.

Di sisi lain ruangan, Yolanda masih membagikan dessert pada kru dengan senyum sempurna.

Tidak ada yang tahu bahwa karakter utama novel itu akhirnya masuk panggung.

Dan kali ini, Kiara tidak berniat menjadi figuran yang dikorbankan untuk membuatnya terlihat semakin suci.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!