Di usia lima puluh, Maya diceraikan karena dianggap mandul dan dijual oleh anaknya sendiri demi ambisi. Saat hidupnya hancur, ia justru mengetahui dirinya hamil dan dinikahi Raka Wijaya, CEO dingin dari keluarga terpandang. Namun pernikahan itu menyeret Maya ke pusaran warisan, rahasia kelahiran, mantan suami yang kembali, anak yang penuh penyesalan, dan wanita licik yang ingin merebut segalanya. Ketika ingatan, cinta, dan nyawanya dipertaruhkan, Maya harus memilih: tetap menjadi korban, atau merebut kembali hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 01
“Ibu cuma perlu bertemu sekali. Pak Burhan orang baik. Dia punya rumah, punya usaha, dan yang paling penting, dia bersedia bantu modal proyekku.”
Maya Lestari baru saja melepas sepatu karetnya di depan pintu ketika kalimat itu dilemparkan Dimas ke wajahnya.
Di ruang tamu kecil rumah lama mereka, kipas angin berputar pelan. Suaranya berdecit, seperti ikut lelah mendengar percakapan yang sejak tadi sudah membuat dada Maya sesak.
Di atas meja, ada map cokelat.
Dimas mendorong map itu ke arahnya.
“Ini biodatanya. Besok sore Ibu ikut aku ke restoran. Jangan bikin malu.”
Maya menatap anak laki-lakinya lama.
Anak yang dulu ia gendong sambil berjualan nasi bungkus di depan pabrik. Anak yang ia sekolahkan dengan uang hasil mengepel lantai hotel, mencuci baju tetangga, dan kerja malam di minimarket. Anak yang pernah menangis karena tak punya sepatu baru saat masuk SMP, lalu Maya diam-diam menjual gelang peninggalan ibunya.
Sekarang anak itu duduk di hadapannya dengan kemeja mahal, jam tangan mengilap, dan wajah yang lebih mirip orang asing.
“Dimas,” ucap Maya pelan, “Ibu sudah lima puluh tahun.”
“Lalu kenapa?” Dimas menyandarkan punggung. “Justru itu. Di usia Ibu sekarang, siapa lagi yang mau bertanggung jawab? Pak Burhan masih mau menerima Ibu. Harusnya Ibu bersyukur.”
Maya merasa ada sesuatu yang patah di dalam dadanya.
“Ibu tidak mencari suami.”
“Ibu juga tidak bisa terus hidup sendirian,” sahut Dimas cepat. “Orang-orang ngomong. Tetangga ngomong. Ibu kerja sampai malam, pulang sendirian, rumah ini makin tua. Kalau nanti Ibu sakit, siapa yang urus?”
“Selama ini Ibu sakit pun Ibu urus sendiri.”
Wajah Dimas mengeras.
Dari arah dapur, Vina keluar sambil membawa gelas jus. Istri Dimas itu memakai daster sutra, rambutnya dijepit asal, tapi gelang emas di tangannya tetap sengaja terlihat.
“Bu Maya, Mas Dimas ini cuma memikirkan kebaikan Ibu,” katanya dengan senyum tipis. “Pak Burhan memang sudah duda, tapi hidupnya mapan. Daripada Ibu kerja jadi cleaning service terus, lebih baik ada yang nafkahi.”
Maya menoleh kepadanya.
Vina jarang memanggilnya Ibu dengan hangat. Biasanya hanya kalau ada tamu atau kalau sedang butuh sesuatu.
“Kamu tahu siapa Pak Burhan itu?” tanya Maya.
Vina mengangkat bahu. “Pengusaha kontraktor. Kenal Papa. Orangnya tegas.”
Tegas.
Maya hampir tertawa.
Ia pernah melihat laki-laki itu dua kali di acara keluarga Vina. Perutnya besar, jalannya pincang, matanya selalu berhenti terlalu lama pada tubuh perempuan. Waktu itu ia bahkan pernah memegang lengan pembantu di rumah Bu Ratna, ibu Vina, sambil tertawa keras.
Orang seperti itu disebut tegas oleh keluarga mereka.
“Kalau begitu, kenapa bukan kamu yang menikah dengan dia?” Maya bertanya.
Wajah Vina langsung berubah.
“Ibu jangan kurang ajar.”
Dimas menghentakkan tangan ke meja. “Jaga ucapan Ibu!”
“Ibu hanya bertanya.”
“Vina istriku. Dia masih muda. Dia ibu dari anakku.” Dimas menatap Maya dengan mata dingin. “Ibu ini sudah tua. Jangan samakan diri Ibu dengan dia.”
Kipas angin terus berputar.
Maya memandang anaknya. Lama sekali.
Ia ingin marah, tapi yang keluar justru rasa lelah. Lelah yang menumpuk sejak bertahun-tahun lalu. Sejak ia mengubur suaminya, sejak ia menolak menikah lagi karena takut Dimas merasa tersisih, sejak ia menahan lapar agar anaknya bisa ikut les, sejak ia menerima hinaan keluarga Vina karena tak membawa harta saat anaknya menikah.
“Jadi menurutmu,” suara Maya bergetar, “Ibu pantas diberikan kepada laki-laki yang bahkan tidak Ibu kenal, hanya karena Ibu sudah tua?”
“Jangan dramatis.” Dimas memalingkan wajah. “Ini bukan diberikan. Ini kesempatan.”
“Kesempatan untuk siapa?”
Dimas diam.
Maya menatap map cokelat itu.
“Untuk proyekmu?”
Rahang Dimas bergerak.
Vina buru-buru menaruh gelas ke meja. “Bu, semua keluarga saling membantu. Papa sudah banyak bantu Mas Dimas. Sekarang ada peluang besar, tapi butuh modal awal. Pak Burhan bersedia masuk, asal hubungan keluarga kita dekat.”
“Hubungan keluarga?” Maya mengulang pelan.
“Kalau Ibu menikah dengan Pak Burhan, semuanya jadi lebih mudah,” jawab Vina.
Maya tiba-tiba merasa rumah itu terlalu sempit. Dinding yang dulu ia cat sendiri sebelum Dimas masuk SD, kursi kayu yang ia beli bekas dari tetangga, lemari kecil berisi foto almarhum ibunya, semua seperti menyaksikan ia sedang ditawar.
“Kalian mau menjual Ibu.”
“Astaghfirullah, Bu!” Vina menutup mulut, tapi matanya menyala marah. “Bahasanya kok kejam sekali? Kami ini anak dan menantu. Kami tidak mungkin menjual Ibu.”
Dimas berdiri.
“Kalau Ibu mau menyebutnya begitu, terserah. Tapi aku butuh uang itu.”
Maya mendongak.
“Untuk pertama kalinya kamu jujur.”
“Aku capek, Bu.” Suara Dimas meninggi. “Aku capek dianggap menantu miskin di keluarga Vina. Aku capek diremehkan Papa mertua. Aku capek kerja siang malam tapi masih dianggap numpang hidup. Satu proyek ini bisa mengubah semuanya.”
“Dan Ibu harus menjadi bayarannya?”
“Ibu sudah membesarkanku. Bukankah dari dulu Ibu bilang hidup Ibu untuk aku?”
Kalimat itu menampar lebih keras daripada bentakan.
Maya ingat dirinya sendiri, bertahun-tahun lalu, memeluk Dimas kecil yang demam dan berkata, “Selama Ibu hidup, hidup Ibu untuk kamu.”
Ia tidak pernah menyangka kalimat seorang ibu bisa dipakai anaknya sebagai tali untuk menjerat lehernya.
“Dimas,” Maya berkata pelan, “seorang ibu berkorban karena sayang. Bukan karena ingin dijadikan barang.”
Dimas mendengus. “Ibu selalu berlebihan.”
“Tidak.” Maya menarik napas. “Kali ini Ibu waras.”
Vina melipat tangan. “Kalau Bu Maya menolak, bagaimana dengan rumah ini?”
Maya menoleh cepat.
Vina tersenyum kecil.
“Mas Dimas juga punya hak sebagai anak. Rumah ini memang atas nama Ibu, tapi nanti jatuhnya juga ke Mas Dimas. Daripada dibiarkan reyot, lebih baik dijual atau diagunkan.”
Maya berdiri begitu cepat sampai lututnya hampir goyah.
“Jangan sentuh rumah ini.”
“Bu, jangan keras kepala,” kata Dimas. “Rumah ini tidak menghasilkan apa-apa.”
“Rumah ini peninggalan ibuku.”
“Nenek sudah meninggal lama.”
“Dan rasa malumu juga sudah meninggal rupanya.”
Mata Dimas membesar.
Untuk sesaat, ia seperti tidak percaya ibunya bisa bicara begitu.
Maya mengambil map cokelat itu, membukanya, lalu melihat foto Pak Burhan yang dicetak di halaman pertama. Laki-laki itu tersenyum dengan gigi kuning dan mata penuh nafsu.
Tangannya gemetar.
Ia merobek kertas itu menjadi dua.
Vina terpekik. “Bu Maya!”
Dimas maju selangkah. “Ibu gila?”
Maya melempar sobekan itu ke meja.
“Besok Ibu tidak akan datang.”
“Ibu akan datang.” Dimas menunjuk wajahnya. “Kalau tidak, jangan salahkan aku kalau rumah ini tidak lagi aman untuk Ibu tinggali.”
Maya menatap telunjuk anaknya.
Dulu jari kecil itu menggenggam jarinya ketika belajar berjalan. Sekarang jari yang sama mengancamnya.
“Keluar dari rumah Ibu,” ucap Maya.
Dimas terdiam.
“Apa?”
“Keluar.”
Vina tertawa sinis. “Mas, dengar? Ibumu mengusir anak sendiri.”
“Ibu yang mengusir anaknya,” kata Maya, “atau anaknya yang lebih dulu membuang ibunya?”
Wajah Dimas memerah.
Ia menyambar kunci mobil di meja. Vina ikut mengambil tas kecilnya. Sebelum keluar, Dimas berhenti di ambang pintu.
“Besok sore aku jemput. Ibu boleh marah sekarang. Tapi dari kecil sampai sekarang, Ibu selalu menuruti aku.”
Maya tidak menjawab.
Pintu ditutup keras.
Rumah mendadak sunyi.
Maya berdiri di tengah ruang tamu, menatap sobekan foto di meja. Tangannya masih gemetar. Tapi air matanya tidak jatuh.
Ia takut kalau sekali menangis, ia tidak akan bisa berhenti.
Di luar, suara motor tetangga lewat. Dari kejauhan terdengar azan magrib.
Maya memejamkan mata.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia tidak mendoakan Dimas agar sukses.
Ia hanya berdoa agar besok ia masih punya cukup keberanian untuk tidak dijual oleh anaknya sendiri.
jangan lama² UP nya,penasaran dengan cerita nya👍👍👍