Hamida, 25 tahun, kehilangan putra semata wayangnya, Harapan, yang meninggal pada usia delapan tahun.
Konon, tidak ada sebutan bagi orang tua yang kehilangan anaknya. Sebab duka itu begitu besar hingga tak mampu diwakili oleh satu kata pun. Bagi Hamida, kepergian Harapan meninggalkan kehampaan yang tak pernah bisa diisi kembali.
Namun, luka itu menjadi semakin dalam ketika kematian Harapan yang penuh kejanggalan justru dinyatakan sebagai kecelakaan. Kebenaran diputarbalikkan karena pelaku adalah anak dari seorang tokoh berpengaruh yang memiliki kekuasaan dan mampu membungkam banyak orang.
Di tengah tekanan, ancaman, dan berbagai upaya untuk menghentikannya, Hamida memilih untuk tidak menyerah. Dengan didampingi seorang pengacara muda idealis bernama Afandi Harahap, ia berjuang mengungkap kebenaran dan menuntut keadilan bagi putranya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Mida sedikit terkejut. Kini ia baru ingat pernah melihat wajah mereka di acara berita saya mendampingi kliennya.
Fandi melanjutkan,"Keduanya sudah puluhan tahun menangani berbagai perkara di Indonesia."
Mida memandang pasangan suami istri itu dengan takjub.
Belum selesai rasa terkejutnya, Fandi kembali berkata,."Kakak-kakak saya juga berprofesi sebagai pengacara. Mereka banyak menangani perkara di luar negeri." Fandi tersenyum kecil. "Dan kakek saya dahulu seorang hakim."
Mata Dewi membelalak.."Kalau begitu... kenapa kamu memilih datang ke kota kecil ini?"
Ayah Fandi tersenyum bangga melihat putranya. "Karena dia keras kepala." Semua orang menoleh. "Sejak lulus, Fandi menolak bekerja di kantor hukum keluarga." Ia memandang putra bungsunya. "Dia berkata ingin membangun namanya sendiri." "'Kalau berhasil, orang menghargai saya karena kemampuan saya, bukan karena nama keluarga.' Itu yang selalu dia katakan."
Fandi tersenyum malu. "Saya ingin membuktikan bahwa saya juga bisa."
Ayahnya mengangguk. "Itulah sebabnya dia memilih membuka praktik di kota sebelah."
Ruangan menjadi hening. Ayah Fandi kemudian berdiri menghadap Mida. "Bu Mida. Kami baru mengetahui apa yang sebenarnya terjadi setelah mendengar Fandi dirawat di rumah sakit." Beliau menarik napas panjang. "Mulai hari ini, Ibu tidak perlu merasa sendirian."
Mida menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Kami akan mengawal kalian." Suara beliau terdengar mantap. "Kami ingin Fandi menyelesaikan kasus pertamanya ini. Kasus ini bukan hanya penting bagi Bu Mida. Tetapi juga menjadi ujian bagi anak kami."
Air mata Mida jatuh semakin deras. "Terima kasih, Pak."
Ayah Fandi tersenyum hangat. "Luka yang dialami Fandi tidak akan membuat kami mundur. Justru sekarang, keluarga kami akan berdiri di belakangnya." Beliau kemudian menoleh kepada salah seorang pria yang ikut bersamanya. "Mulai hari ini, pastikan keselamatan Fandi dan Bu Mida."
Pria itu mengangguk hormat. "Baik, Pak."
"Atur pendampingan dan pengawalan setiap kali mereka menghadiri proses hukum atau bepergian ke tempat yang berkaitan dengan perkara ini."
"Siap."
Fandi memandang ayahnya dengan mata berkaca-kaca. "Yah..."
Ayahnya tersenyum. "Kamu sudah memilih jalanmu sendiri. Sekarang selesaikan dengan baik. Jangan menyerah hanya karena kamu dipukul."
Fandi mengangguk mantap. "InsyaAllah."
Ayahnya menggenggam tangan putra bungsunya. "Buktikan bahwa seorang pengacara dinilai bukan dari seberapa kuat pukulannya, tetapi dari keberaniannya berdiri membela keadilan."
Mida yang sejak tadi hanya diam akhirnya tersenyum untuk pertama kalinya setelah beberapa hari diliputi ketakutan. Harapan yang sempat padam perlahan menyala kembali. Ia memandang Fandi, lalu memandang kedua orang tuanya. Di dalam hati, ia berdoa, "Ya Allah... Engkau selalu menghadirkan pertolongan dengan cara yang tidak pernah kuduga."
Untuk pertama kalinya sejak serangan itu terjadi, Mida merasa tidak lagi berjalan sendirian. Kini bukan hanya Fandi yang berdiri di sisinya, tetapi juga sebuah keluarga yang siap mengawal perjuangan mereka hingga kebenaran benar-benar terungkap.
***
Sejak awal perjuangan mencari keadilan untuk Harapan, Dewi memegang satu prinsip. "Selama tidak mengganggu proses hukum dan tidak menyebarkan informasi yang belum dipastikan, masyarakat berhak tahu bagaimana perkembangan perjuangan kita."
Karena itu, setiap ada perkembangan yang telah dapat disampaikan kepada publik, Dewi menuliskannya di media sosial. Ia menceritakan bagaimana Mida harus meninggalkan gubuknya karena intimidasi. Ia menulis tentang kondisi Fandi yang menjadi korban pengeroyokan. Ia juga mengabarkan setiap perkembangan persidangan yang memang dapat diketahui publik, tanpa membocorkan bagian-bagian sidang yang bersifat tertutup atau informasi yang dilindungi.
Di setiap unggahannya, Dewi selalu menutup dengan kalimat yang sama. "Kami hanya memohon doa dan dukungan. Biarkan proses hukum berjalan berdasarkan bukti dan semoga keadilan dapat ditegakkan."
Tak disangka, unggahan-unggahan itu dibagikan ribuan kali. Banyak kreator konten, aktivis, mahasiswa, hingga tokoh masyarakat ikut menyuarakan hal yang sama.
Tak lama kemudian, sebuah tagar mulai memenuhi media sosial. #JusticeForHarapan Tagar itu terus digunakan oleh ribuan orang. Setiap hari semakin banyak unggahan yang memuat doa untuk Harapan, dukungan kepada Mida, dan ajakan agar masyarakat terus mengawal jalannya perkara. Bahkan banyak warganet mengingatkan satu sama lain untuk tidak menyebarkan fitnah atau menuduh seseorang tanpa dasar.
Mereka mengajak publik menunggu hasil persidangan sambil tetap meminta agar proses hukum berlangsung secara adil dan transparan. Melihat besarnya perhatian masyarakat, media nasional mulai menurunkan liputan lanjutan. Setiap perkembangan perkara menjadi sorotan.
Di rumah Dewi, ponsel hampir tidak pernah berhenti berbunyi. "Mi, lihat ini." Dewi menunjukkan layar teleponnya. Tagar #JusticeForHarapan kembali menjadi perbincangan hangat.
Mida membaca beberapa komentar.
"Jangan berhenti mengawal."
"Kami bersama Bu Mida."
"Semoga kebenaran segera terungkap."
Air matanya kembali menetes. "Aku tidak pernah membayangkan akan sebanyak ini orang yang peduli kepada Harapan."
Dewi menggenggam tangan Mida. "Karena orang-orang melihat ketulusanmu."
Sementara itu, keluarga besar Fandi mulai mengambil peran lebih aktif. Ayah Fandi datang menghadiri setiap agenda penting bersama tim hukumnya. Beberapa rekan seniornya membantu menelaah berkas perkara.
Kakak-kakak Fandi yang berpengalaman memberi masukan mengenai strategi pembelaan dan jalannya persidangan. Mereka tidak mengambil alih perkara. Mereka membimbing Fandi agar tetap menjadi pengacara utama dalam kasus pertamanya.
"Kamu yang memulai perjuangan ini," kata ayahnya. "Maka kamu pula yang harus menyelesaikannya."
Fandi mengangguk mantap. "InsyaAllah, Yah."
Selain itu, pengawalan terhadap Mida diperketat. Setiap kali menghadiri agenda hukum, ia tidak lagi datang sendirian. Hal itu membuat Mida merasa jauh lebih tenang. Perhatian masyarakat yang semakin besar membuat setiap perkembangan perkara berada dalam pengawasan publik.
Sidang terhadap terdakwa yang masih anak tetap berlangsung tertutup sesuai ketentuan hukum. Namun, perkembangan yang memang dapat diumumkan kepada publik disampaikan secara resmi oleh pihak berwenang setelah setiap tahapan penting selesai.
Fandi mengingatkan Dewi, "Kita harus tetap menghormati proses hukum. Jangan sampai dukungan masyarakat berubah menjadi tekanan untuk mengabaikan aturan."
Dewi mengangguk. "Aku mengerti. Yang kita minta bukan keputusan tertentu."
"Tepat," jawab Fandi. "Yang kita perjuangkan adalah agar prosesnya berjalan jujur, adil, dan tidak diintervensi."
Mida yang mendengar percakapan itu tersenyum tipis. "Itu saja yang sejak awal kuinginkan."
Di luar gedung pengadilan, masyarakat terus mengikuti perkembangan perkara dengan tertib. Tagar #JusticeForHarapan tetap menggema di berbagai platform media sosial. Di dalam ruang sidang, proses hukum terus berjalan sesuai ketentuan. Di luar ruang sidang, doa dan dukungan masyarakat tidak pernah berhenti.
Mida memandang langit sore dari halaman pengadilan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rasa takut di dalam hatinya mulai tergantikan oleh keyakinan. Perjalanan menuju keadilan memang belum berakhir. Namun kini ia tahu, perjuangan itu tidak lagi hanya dipikul oleh dirinya seorang.
Di ruang pemeriksaan, suasana begitu sunyi. Penyidik meletakkan sebuah alat perekam di atas meja sebelum memulai pemeriksaan terhadap Dapit. Anak itu terus menundukkan kepala. Tangannya gemetar. Sejak dipanggil untuk dimintai keterangan, ia hampir tidak pernah mengangkat wajah.