Chua Yulin mengira hidupnya sudah cukup buruk setelah menemukan kekasihnya berselingkuh. Lalu dia pindah ke apartemen baru dan mendapat teman sekamar seorang cowok misterius bernama Sim Zhenyu—yang pulang tengah malam berbau bensin, menerima transfer Rp 10 juta dari orang tak dikenal, dan memiliki wajah yang terlalu tampan untuk hidup biasa.
Kesimpulan Yu: dia pasti model.
Yang tidak Yu duga? Sentuhan Zhen adalah satu-satunya yang bisa meredakan kondisi langka yang dideritanya—haus sentuhan. Sementara Zhen, si clean freak yang tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya, mulai membuat pengecualian. Hanya untuknya.
Dari kesalahpahaman yang konyol hingga pengorbanan yang tak terduga, ini adalah kisah tentang dua orang yang ditakdirkan untuk saling melengkapi—karena kadang, yang kamu butuhkan bukan payung dari hujan, tapi hujan itu sendiri.
"Kamu memang ditakdirkan kekurangan hujan—kekurangan aku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18: Jadwal Jemput
"Rahasia apa?"
Yu bertanya begitu Kevin benar-benar hilang dari area Fasilkom. Lily masih memelototi arah mantan itu pergi, sementara Zhen berdiri di sisi Yu dengan wajah yang terlalu tenang.
Zhen menatapnya. "Bukan rahasia penting."
"Kalau tidak penting, kenapa wajah Kevin seperti baru lihat hantu?"
"Mungkin dia memang mudah takut."
Lily mendengus. "Dia takut sama rasa malu aja nggak, masa takut hantu."
Yu tidak tertawa. Matanya tetap pada Zhen.
"Kamu kenal dia?"
"Tahu keluarganya."
"Keluarga Kevin?"
"Jauh."
"Jauh bagaimana?"
Zhen diam sebentar, seolah sedang memilih berapa banyak kata yang boleh keluar. "Ada hubungan keluarga lama antara Sim dan Jiang. Tidak dekat."
Itu bukan jawaban yang cukup, tapi setidaknya menjelaskan kenapa Kevin mendadak kehilangan keberanian. Yu ingin bertanya lagi, tetapi wajah Zhen menutup pintu dengan cara yang sangat jelas.
Lily menyilangkan tangan. "Intinya dia minder karena lo lebih tinggi, lebih pinter, dan mungkin lebih kaya."
"Lil."
"Apa? Aku membantu menyederhanakan."
Zhen melirik Lily. "Penyederhanaanmu kasar tapi tidak sepenuhnya salah."
Lily terdiam satu detik, lalu menunjuk Zhen. "Oke, gue mulai paham kenapa orang-orang suka sama mulut jahat lo."
Yu memijat pelipis. Situasi ini terlalu aneh. Mantan membawa bunga, roommate yang mungkin pembalap model ternyata punya hubungan keluarga jauh dengan mantan, dan sahabatnya mulai menghargai teknik hinaan Zhen.
Hari itu, Zhen mengantar Yu sampai lobby apartemen meski Yu berkali-kali bilang tidak perlu. Ia tidak menggenggam tangannya. Tidak berdiri terlalu dekat. Namun setiap kali mereka melewati jalan ramai atau lift penuh, Zhen selalu bergerak setengah langkah di sisi luar, membuat orang lain tidak mudah menyenggol Yu.
Tubuh Yu menyadari itu sebelum otaknya sempat menolak.
Malamnya, saat Yu baru selesai mandi, ponselnya bergetar.
Nomor tidak dikenal.
Ada satu foto.
Yu membukanya, lalu darahnya seperti turun ke kaki.
Foto itu diambil dari belakang. Yu berjalan keluar dari Fasilkom sore tadi. Di sampingnya ada Zhen. Wajah mereka tidak terlihat jelas, tapi tas Yu, hoodie-nya, dan postur Zhen sangat mudah dikenali.
Pesan berikutnya masuk.
Cepat sekali cari pengganti.
Yu menatap layar.
Tangannya dingin.
Pesan ketiga:
Kevin cuma mau bicara baik-baik. Jangan sombong karena ada backing.
Yu hampir menjatuhkan ponsel ketika pintu kamarnya diketuk.
"Yu."
Suara Zhen.
Ia berdiri beberapa detik, berusaha menenangkan wajah, lalu membuka pintu. Zhen berada di depan kamar dengan satu kantong kertas kecil.
"Aku beli buah. Kamu mau?"
Yu membuka mulut, tapi suaranya tidak keluar.
Zhen melihat ponsel di tangannya. "Apa itu?"
"Nggak."
"Yu."
Satu kata. Tidak keras, tapi cukup membuat mata Yu panas.
Ia menyerahkan ponsel.
Zhen membaca pesan itu. Wajahnya tidak berubah, tetapi udara di sekitar mereka berubah dingin.
"Kamu dapat dari kapan?"
"Baru."
"Ada pesan sebelumnya?"
"Nomor lain. Aku blokir."
"Screenshot semua."
"Untuk apa?"
"Dokumentasi. Kalau lanjut, kita lapor kampus dan polisi."
Yu menatapnya. "Kita?"
Zhen mengangkat mata dari ponsel. "Kamu mau sendiri?"
Tidak.
Jawaban itu muncul terlalu cepat di dada Yu, tetapi ia tidak mengucapkannya.
Zhen mengembalikan ponsel. "Mulai besok, aku antar jemput."
"Zhen, kamu punya kelas, kerjaan, Sentul..."
"Aku tidak minta daftar keberatan."
"Aku bukan anak kecil."
"Aku tahu."
"Terus kenapa?"
"Karena orang dewasa juga boleh dibantu saat diganggu."
Kalimat itu membuat Yu diam.
Ada banyak cara orang membuatnya merasa lemah. Kevin membuat seolah ia berlebihan. Meilin membuat seolah ia sensitif. Bahkan dirinya sendiri sering memarahi tubuhnya karena terlalu repot. Tapi Zhen mengatakan dibantu bukan berarti kecil. Seperti itu hal paling wajar di dunia.
Zhen mengulurkan kantong kertas. "Jeruk."
Yu menerimanya. Kali ini ujung jari mereka bersentuhan.
Pendek.
Sengaja atau tidak, Yu tidak tahu.
Yang ia tahu, suara dingin di bawah kulitnya turun beberapa tingkat. Ia bernapas lebih mudah.
Zhen juga menyadari. Matanya berhenti di tangan mereka, lalu ia menarik jarinya perlahan.
"Kamu gemetar," katanya.
"Marah."
"Takut."
Yu ingin membantah. Namun setelah foto itu, setelah pesan itu, setelah seharian menjadi tontonan, ia terlalu lelah berbohong.
"Iya," bisiknya.
Zhen menatapnya lebih lama.
"Kalau begitu jangan buka pesan sendirian."
"Kamu mau aku bangunkan tiap ada nomor aneh?"
"Ya."
"Jam berapa pun?"
"Jam berapa pun."
Yu menggenggam kantong jeruk sampai kertasnya berkerut. Haus sentuhan di tubuhnya seperti duduk diam, tidak hilang sepenuhnya, tapi tidak lagi menggigit. Mungkin karena sentuhan tadi. Mungkin karena kalimat jam berapa pun.
Mungkin dua-duanya.
Esok paginya, Zhen benar-benar menunggu di ruang tengah pukul tujuh.
Ia sudah rapi dengan kemeja hitam dan tas laptop. Di meja ada roti, susu kotak, dan satu sticky note.
Makan dulu.
Yu menatap catatan itu.
"Kamu serius?"
"Aku kelihatan bercanda?"
"Tidak pernah."
"Bagus."
Mereka berangkat bersama.
Di mobil, Yu memegang jeruk yang belum sempat ia makan, memutar-mutar buah itu di telapak tangan. Zhen tidak banyak bicara. Ia hanya menyetir, mengecek spion, dan menurunkan volume musik ketika ponsel Yu bergetar.
Yu melihat layar.
Nomor tidak dikenal lagi.
Tubuhnya menegang.
Zhen menepi di area aman sebelum Yu sempat membuka pesan.
"Buka," katanya.
"Sekarang?"
"Aku di sini."
Yu menekan pesan itu.
Isinya hanya satu kalimat:
Kalau berani, jangan sembunyi di belakang Sim.
Zhen membaca dari samping.
Kali ini, ia tidak mengatakan apa-apa.
Ia hanya mengambil ponsel Yu, memotret layar dengan ponselnya sendiri untuk dokumentasi, lalu mengembalikannya.
"Mulai hari ini," katanya sambil kembali menyalakan mobil, "kamu pulang denganku."
Yu menatap sisi wajahnya.
Di bawah cahaya pagi Jakarta yang basah, kalimat itu terdengar seperti aturan baru.
Dan untuk pertama kalinya, Yu tidak ingin melanggar aturan Zhen.