Penglihatan menembus dimensi ghaib. Tidak hanya di alam nyata, dalam pandangan lain bahwa sosok Indigo ketika berada alam bawah sadar itu sukmanya bisa terlepas keluar dari badannya. Berjalan-jalan menembus ruang dan waktu dunia lain. Setiap malam dirinya di kejar kematian yang mengancam. Para Indigo yang meninggal nanti ada dua kemungkinan. Yang pertama takdir dari Yang Maha Kuasa atau yang kedua karena tidak dapat kembali ke wujud tubuhnya di alam dunia. Simak kisahnya..!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSY AL FAZZA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Tabir waktu berubah
Bekal yang terpenting dari seorang ibu yang memiliki anak indigo adalah siraman ilmu akhirat. Nasehat yang tidak pernah terputus. Didikan menghilangkan kata ada menjadi tidak ada melihat makhluk-makhluk yang mendekatinya. Besar keinginan tahuan para Indigo menanyakan kata siapa sehingga orang tuanya lebih mawas diri menjaga dan meredam emosi di jiwanya. Tangisan, rasa takut, jam tidur yang berantakan, penguatan agar berani menghadapinya.
Kebanyakan orang tua yang mendapat takdir anak Indigo terpaksa mengatakan ada hantu di bagian yang terlihat. Walau mereka berusaha menutupi, tidak jarang makhluk halus sengaja menampakkan diri bahkan menerbangkan benda-benda.
......................
“Ibu....dan kakak” Luna sedikit belum fasih berbicara tersenyum melambaikan tangan.
Mahaswari mengalihkan pandangan menunjukkan boneka berbaju merah menggunakan Topi hitam berbulu halus, bagian tengah yang tekan mengeluarkan nada suara tangisan. Kompeng kecil di letakkan ke dalam mulutnya kemudian tangisan terhenti. Mahaswari membawa ke ruangan tengah, dia menutup pintu menahan rasa khawatir alih-alih jika selanjutnya anaknya di ganggu makhluk halus.
Persiapan berkemas selesai, pergi ke kampung halaman menunggu taxi datang. Perjalanan panjang ini tanpa ada penghalang. Kemarin mereka bersama keluarga yang lain menggunakan akomodasi jalur laut. Terjebak beberapa hari di tengah lautan hingga kapal air kembali melaju.
Kemungkinan besar di kala itu mesin di hentikan makhluk halus. Makhluk aneh yang di gambar Luna sebelum keberangkatan.
Mahaswari membuka buku gambar putri kecilnya. Dia lembaran-lembaran gambar hantu berdiri, melayang di beberapa ruangan. Beberapa gambar mencengangkan mata, sosok pocong bercorat coret krayon hitam pada wajah, kain kafan putih sedikit kumal kecoklatan dan bola mata merah menghitam.
“Ayo, bu.. supir menunggu di depan.”
Ukran menggendong tas besar, di tangan kanan dan kiri ada dua koper di tambah beberapa bungkusan plastik. Kedua keponakannya juga telah bersiap tanpa di komando. Mahaswari secepatnya memakaikan jaket ke tubuh Luna.
Tiga jam perjalanan ke bandara bersambung taking off selama dua jam. Sambungan taxi satu jam ke stasiun kereta api, Luna, Andika dan Dewi menghabiskan dua kantung plastik muntahan. Mabuk darat dan udara sampai berhenti di depan stasiun. Mereka di jemput mobil sedan hitam, pria yang mirip dengan Gajah Mada membantu membawakan barang-barang ke dalam bagasi mobil.
Perjalan yang lama, Aluna terbawa ke dalam ruangan di masa depan. Tubuhnya tertidur di perpustakaan di jaga burung hantu berwujud manusia. Kelelawar putih bersiaga, keangkeran perpustakaan yang terletak kedaton mengisahkan tanda tanya keganjilan yang belum terkupas.
......................
“Alhamdulillah akhirnya sampai juga!” Mahaswari menggendong tubuh Luna lebih erat.
Pekerja membuka pintu segera mempersilahkan mereka masuk. Wanita yang sangat dia rindukan, ibu suri di masa lalu yang sangat menyayanginya. Suasana kampung halaman yang keasrian dan keindahan alam tidak lekang oleh waktu. Rumah besar bak Istana terasa sepi. Eyang putri di temani beberapa pekerja rumah tangga dan dua orang pekerja yang terpercaya bertugas di malam hari.
Patung kepala rusa yang menggantung di dinding mengingatkan benda yang sering dia lihat. Aluna di masa itu terlalu dini mengingat dan menghadapi semuanya. Ukran dan Mahaswari pergi membawa keponakan Andika mereka ke rumah orang tuanya. Dewi di bantu pekerja lain ke kamarnya. Dia tinggal bersama Eyang sejak masih balita. Luna yang di minta ikut tinggal tidak di perbolehkan mahaswari yang terlalu menyayangi anaknya .Mahaswari berbalik khawatir menanyakan sekali lagi apakah putrinya akan baik-baik saja di tinggal sebentar.
“Loh, kok belum pergi?”
“Mau ajak Luna bu..”
“Anaknya masih tidur. Kasian kecapaian di jalan, tenang ada ibu yang menjaganya..”
Mau di bilang apa lagi, Mahaswari tetap setengah hati meninggalnya. Sepanjang perjalanan tidak tenang, dia tidak mendengar berkali-kali Urkan mengajaknya mengobrol. Dia melihat jam tangan, lima belas menit berlalu. Dia berpikir bagaimana keadaan putrinya.
“Bu, rupanya lagi melamun. Ada apa? Luna masih tidur, kasian juga di angkat pas nyenyak.”
“Ya tapi yah. Ibu tidak tenang..”
Pertemuan pihak keluarga ipar, bu Tin menerima kedatangan adik kandung dan adik iparnya dengan wajah senyum ceria. Dia tidak sabar melihat Aluna, Tin meminta mereka menunggu dia bersiap ikut ke rumah eyang. Berjarak dekat, gunung sawah melintang membentang rentangan tangan menghirup udara bersih. Rumah besar di padatkan kedatangan pihak keluarga.
“kemarin anak ku mimpi buruk. Dia menjerit ketakutan posisi tidur telentang dengan mata terbuka lebar. Ayahnya lagi tugas di luar kota, aku takut sekali terlebih lagi Sigit meracau keras.”
“Kakak kenapa tidak memberitahu ibu?” tanya Mahaswari.
“Ya benar rumah kakak kan berdampingan dengan rumah ibu kak. Bi Surti dan Upe pasti membantu. Aku jadi iri kenapa mas Parman tidak bisa pindah kerja di dekat sini. Kan jadi dua puluh empat jam ketemu Dewi dan Ibu..”
Keluhan Endang di timpa candaan para keponakan yang melakukan aksi kejar-kejaran memakai baju badut. Wajah senyuman tersimpan hati yang bersedih. Eyang putri duduk di sofa sambil mengambil buku-buku baca Eyang kakung semasa hidupnya.
“Bu ayo makan bersama..” Ukran membantunya berdiri.
Makan bersama di ruang makan, lilin panjang dan alunan suasana suara musik gamelan yang di hidupkan dari Gramophone. Piringan hitam yang berisi gending-gending nada ciri khas daerah. Piringan hitam tunggal yang berbidang lebar mengkilat menambah suasana damai.
Aroma makanan menggugah selera, mendohwan adalah menu favorit kesukaan Mahaswari. Sebagai menantu dia sangat cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan. Semur ayam, sate lilit, sambal kecap manis, rebusan sayur-sayuran dan keranjang buah sebagai makanan pencuci mulut.
Selesai makan malam, para keluarga mengambil tempat masing-masing. Sambungan percakapan Tin di teruskan Endang di ruang tamu.
“Mbak, coba tanyakan sama anaknya Mahaswari. Aku dengar Aluna bisa lihat makhluk halus.”
“Benar juga ya mbak, penyakit Sigit juga tidak terdeteksi dokter padahal demamnya tadi malam cukup tinggi.”
Tin menggiring lengan Mahaswari, dia menyampaikan dengan bisikan pelan tanpa terdengar yang lainnya. Mahaswari menggelengkan kepala, tidak ada yang tau apa yang di alami dan rasakan anaknya.
Melihat makhluk halus, menanyakan makhluk apa yang mengikuti tidak sesimpel yang mereka bayangkan. Memang benar anak indigo menembus lorong waktu alam halus. Bukan berarti bebas leluasa tanpa hambatan atau rintangan. Benturan energi ghaib sering mengurangi daya tahan tubuh, setiap hari mengkonsumsi obat demam seperti makanan pokok sehari-hari.
“Maafkan saya mbak, Luna masih kecil dan penglihatannya bisa menimbulkan penyakit di dirinya sendiri. Saya mau semua yang dia punya mengalir apa adanya. Bahkan saya dan mas Ukran berencana menghilangkan indera keenamnya.”
“Loh jangan begitu, aku malah mau membawa keponakan ku melihat apa yang ada di kamar atau diri Sigit. Hanya sekali saja. Tolong lah Mahaswari.”
Penggambaran suasana dan detail dalam cerita ini sangat kuat, membuat pembaca seolah-olah ikut merasakan ketegangan dan ketakutan yang dirasakan oleh Aluna.
Saya penasaran dengan bagaimana Aluna akan menemukan solusi untuk menghadapi bencana yang akan datang, dan apakah dia akan berhasil mengubah nasibnya.
Pesan tentang pentingnya keberanian, persatuan, dan harapan dalam menghadapi tantangan hidup sangat menginspirasi.