SINYAL TERAKHIR
Sinopsis
Tahun 2487.
Persemakmuran Persatuan Manusia (PPM) telah berkembang menjadi peradaban antarbintang yang menguasai ratusan sistem bintang. Dengan bantuan jaringan gerbang antarbintang dan kecerdasan buatan AURA, manusia berhasil membangun koloni di berbagai penjuru galaksi. Meski teknologi berkembang pesat, satu pertanyaan besar belum pernah terjawab: apakah manusia benar-benar sendirian di alam semesta?
Semuanya berubah ketika jaringan observatorium PPM menangkap sebuah sinyal misterius dari Galaksi Asterion, sebuah galaksi yang tidak pernah tercatat dalam jalur eksplorasi resmi. Sinyal itu memiliki pola yang tidak mungkin dihasilkan oleh fenomena alam dan terus berubah seolah merespons sesuatu.
Untuk menyelidikinya, Dewan PPM membentuk ekspedisi rahasia menggunakan kapal eksplorasi tercanggih, ESS Horizon. Misi tersebut dipimpin oleh Kapten Idris, didampingi Wakil Kapten Kael, bersama sepuluh anggota lain yang dipilih langsung dari berbagai bidang keahlian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 – Rekaman Terakhir
Lampu di dek komando diredupkan.
Seluruh kru berkumpul menghadap layar utama.
Rina menarik napas pelan.
"Rekaman siap diputar."
Kapten Idris mengangguk.
"Mulai."
Layar berubah gelap.
Beberapa detik kemudian, gambar mulai muncul.
---
Seorang pria berseragam kapten berdiri di ruang komando sebuah kapal.
Wajahnya dipenuhi luka kecil.
Di belakangnya, beberapa awak kapal tampak berlarian.
Suara alarm terdengar tanpa henti.
> "Ini Kapten Elias... ESV Pioneer..."
Gambar sempat terganggu oleh gangguan visual.
> "Kalau ada yang menemukan rekaman ini..."
> "...jangan lanjutkan perjalanan ke Asterion."
Semua kru ESS Horizon saling berpandangan.
Rekaman berlanjut.
> "Kami melakukan kesalahan."
Alarm semakin keras.
Lampu kapal berkedip-kedip.
Seseorang berteriak dari luar layar.
> "Kapten! Mereka masuk!"
Kapten Elias menoleh ke belakang.
"Aku tahu! Tutup semua akses dek tiga!"
Tidak lama kemudian terdengar suara benturan logam.
Kapten Elias kembali menatap kamera.
> "Kalau kalian masih punya kesempatan..."
> "...putar balik."
Gambar kembali terganggu.
---
Beberapa detik setelahnya, rekaman menjadi lebih stabil.
Kamera kini menampilkan jendela ruang komando.
Di luar sana...
tidak ada planet.
Tidak ada asteroid.
Hanya ruang antarbintang.
Namun sesuatu perlahan bergerak.
Lyra mempersempit matanya.
"Itu apa?"
Tidak seorang pun menjawab.
Benda itu terlalu jauh.
Hanya tampak sebagai bayangan besar yang bergerak perlahan.
Lalu suara seseorang terdengar.
> "Sinyalnya berubah lagi!"
> "Jangan dengarkan!"
> "Matikan seluruh penerima komunikasi!"
Kapten Elias berteriak.
> "Cepat!"
Tiba-tiba...
seluruh layar dipenuhi gangguan.
Suara berdesis memenuhi ruangan.
Rekaman berhenti.
Durasi menunjukkan **47 detik**.
---
Tidak ada yang berbicara selama beberapa saat.
Darius memecah keheningan.
"'Mereka masuk' itu maksudnya siapa?"
"Tidak tahu," jawab Kael.
Leo membuka ulang data audio.
"Ada bagian yang rusak."
"Bisa diperbaiki?"
Rina menggeleng.
"Sebagian mungkin bisa."
"Butuh waktu."
---
Lyra memperbesar gambar terakhir sebelum rekaman terputus.
"Itu."
Ia menunjuk bagian sudut layar.
"Ada sesuatu."
Rina memperbesar gambar.
Resolusinya memang rendah.
Namun tampak sesosok siluet berdiri di balik pintu ruang komando.
Tinggi.
Tubuhnya menyerupai manusia.
Tetapi terlalu buram untuk dikenali.
Reza langsung bereaksi.
"Itu penyusup?"
"Belum tentu," jawab Kael.
"Bisa saja salah satu awak Pioneer."
"Tapi kenapa tidak muncul di laporan?"
Tidak ada yang memiliki jawaban.
---
Leo kembali memutar bagian audio.
Ia menutup mata sambil mendengarkan menggunakan alat analisis suara.
Beberapa menit kemudian ia membuka hasil pemrosesan.
"Saya menemukan sesuatu."
Semua mendekat.
"Di balik suara alarm..."
"...ada suara lain."
"Suara apa?"
Leo memperbesar spektrum frekuensi.
Terdengar bunyi berulang.
Sangat pelan.
Sangat teratur.
Lyra langsung mengenalinya.
"Itu..."
Kael menoleh.
"Apa?"
Lyra melihat Leo.
"Bandingkan dengan sinyal dari Asterion."
Leo segera menjalankan pencocokan.
AURA membantu analisis.
Beberapa detik kemudian hasilnya muncul.
"Tingkat kecocokan..."
"98,7 persen."
Dek komando kembali sunyi.
Artinya...
suara yang terdengar di dalam ESV Pioneer seratus lima puluh tahun lalu...
adalah sinyal yang sama dengan yang kini sedang mereka kejar.
---
Kapten Idris berjalan menuju jendela utama.
Ia memandang ruang antarbintang yang gelap.
"Jadi..."
"...Pioneer sudah menerima sinyal itu sebelum menghilang."
"Ya," jawab Leo.
"Apakah mereka sengaja mencarinya?"
Kael bertanya.
Kapten Idris tidak langsung menjawab.
"Belum tentu."
"Lalu kenapa mereka bisa menemukannya?"
Kapten Idris menoleh.
"Itulah yang harus kita cari tahu."
---
Tiba-tiba AURA mengeluarkan peringatan.
"Perhatian."
Seluruh kru langsung kembali ke pos.
"Ada apa?"
tanya Kael.
"Saya mendeteksi perubahan pada sinyal."
"Apa maksudnya?"
"Sinyal meningkat."
"Meningkat bagaimana?"
AURA menampilkan grafik di layar.
"Kekuatan sinyal bertambah 42 persen dalam dua belas menit terakhir."
Leo mengernyit.
"Itu tidak mungkin."
"Kenapa?"
"Karena kita tidak mengubah arah."
Rina menambahkan,
"Kalau sumbernya tetap dan posisi kita tidak berubah drastis, kekuatan sinyal seharusnya naik perlahan."
"Ini terlalu cepat."
Kael melihat grafik itu beberapa saat.
"Lalu kesimpulannya?"
AURA menjawab dengan tenang.
"Ada dua kemungkinan."
"Sumber sinyal mendekati ESS Horizon..."
"...atau ESS Horizon sedang didekati oleh sumber sinyal."
Tidak seorang pun mengucapkan sepatah kata.
Untuk pertama kalinya sejak misi dimulai...
mereka mulai merasa bahwa mungkin...
bukan hanya mereka yang sedang mencari sesuatu.
Mungkin...
ada sesuatu yang juga sedang mencari mereka.