NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Immortal

Kebangkitan Sang Immortal

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: BRAXX

Di Kerajaan Awan, Kaisar muda bernama Jing Yan difitnah dan dibunuh secara keji oleh Tang Long, seorang Kultivator Pedang dari Sekte Pedang Roh Biru, dan Fang Zhelan, putri Perdana Menteri yang berkhianat demi merebut takhta. Keluarga Fang lalu mengambil alih kerajaan, mencoreng nama baik Jing Yan selamanya.

Namun, kematian bukanlah akhir bagi Jing Yan. Jiwanya ditarik ke dalam Peti Mati Perunggu Kuno milik seorang Pencipta Immortal yang telah mati. Dengan menggunakan sisa kulit sang Immortal, Jing Yan bereinkarnasi ke dalam tubuh baru yang sempurna. Ia ditemani oleh dua kesadaran dalam satu makhluk kecil bernama Bintang Biru dan Bulan Merah—yang merupakan jelmaan dari peti mati tersebut.

Jing Yan mengetahui bahwa ia mewarisi kekuatan Pencipta Immortal. Untuk menjadi kuat, ia harus mengumpulkan Benih Ciptaan, yaitu fragmen kekuatan sang Immortal yang tersebar di seluruh dunia. Tujuan utamanya: membalas dendam kepada Tang Long dan Fang Zhelan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 - Lepaskan Dia!!

Di sebuah halaman yang remang-remang, beberapa lilin berkedip lemah.

BUK!

Han Xin terhempas ke tanah, kedua kakinya dipenuhi luka sayatan yang masih mengucurkan darah segar. Dua Jiwa Pedang yang berkilau menyilang tepat di depan lehernya.

"Seret dia ke sini!" Dua Kultivator Pedang bertubuh kekar mendorong Han Xin hingga berlutut di hadapan seorang pemuda berjubah jingga. Pemuda itu tak lain adalah murid kedua belas Yang Mulia Pedang—Ji Hong!

Dikelilingi senyum sinis sepuluh murid dari Puncak Pedang Pertama, halaman itu terasa lebih seperti penjara daripada tempat berlindung.

Han Xin, yang dipenuhi amarah, membentak, "Sudah berkali-kali kukatakan, tidak ada murid baru bernama Jing Yan di Paviliun Pedangku!"

"Benarkah?"

Plak!

Ji Hong menampar Han Xin begitu keras hingga bekas telapak tangan berdarah langsung tercetak di wajahnya."Sekarang bagaimana? Apa sekarang ada murid baru bernama Jing Yan di sini?”

"Walaupun kau membunuhku, jawabanku tetap sama!" Han Xin menatap Ji Hong dengan tajam. "Keberanianmu benar-benar sudah kelewatan. Ingat, Paviliun Pedang adalah cabang utama Sekte Pedang Roh Biru. Kalian tidak punya hak bertindak semena-mena di sini."

Mendengar itu, para murid di sekitarnya langsung tertawa terbahak-bahak.

"Cabang utama Sekte Pedang Roh Biru?" Seorang murid mencibir. "Maksudmu cabang utama yang hampir punah itu?"

"Kawanku, zaman sudah berubah!" Ji Hong berkata sambil tertawa, lalu mencengkeram rambut Han Xin dengan kejam. "Masih saja ingin melindunginya?"

Han Xin menggertakkan giginya tanpa menjawab.

Tatapan dingin Ji Hong kemudian beralih kepada seorang pemuda di sampingnya. "Dan Xiong! Potong salah satu tangannya. Aku ingin melihat bagaimana dia masih bisa berlatih pedang setelah itu."

Dan Xiong adalah murid baru yang hari ini menempati peringkat ketiga di Jalan Surgawi dan dipilih Ning Ziyi untuk bergabung dengan Puncak Pedang Pertama.

"Kalian tidak akan berani melakukan itu!" Wajah Han Xin langsung memucat.

"Di Paviliun Pedang kalian, orang mati saja bahkan tidak dikuburkan. Kenapa kami harus takut hanya karena memotong satu tangan?" Ji Hong tertawa licik.

Dalam keadaan terluka dan kalah jumlah, Han Xin tak mampu melepaskan diri meski telah berusaha sekuat tenaga.

Dua orang yang menahannya, Ji Tian dan Ji Chenxing, adalah kerabat Ji Hong dari dunia fana. Keduanya merupakan Kultivator di tahap akhir Alam Mata Air Naga, dengan kekuatan yang sebanding dengannya.

"Ji Hong!" Suara Han Xin dipenuhi kemarahan sekaligus keputusasaan.

Ji Hong menyeringai. "Dan Xiong!"

"Ba-baik!" Suara Dan Xiong sedikit bergetar, wajahnya tampak tegang. Bagaimanapun juga, ini adalah hari pertamanya.

"Tunjukkan kepada mereka kekejaman Puncak Pedang Pertama! Ingat, sekarang kitalah standar Sekte Pedang Roh Biru." Nada suara Ji Hong terdengar begitu dingin.

"Kalian adalah aib Sekte Pedang Roh Biru, iblis yang mengenakan kulit manusia!" Han Xin membalas dengan geram.

Mengabaikan kata-katanya, Dan Xiong menguatkan tekadnya. Sebagai murid baru Sekte Pedang Roh Biru, ia tidak berani membangkang. Terlebih lagi, bisa masuk ke lingkaran Ji Hong adalah sesuatu yang sangat penting baginya. Ini adalah ujian pertamanya.

Hum!

Kedua tangan Dan Xiong memancarkan cahaya, lalu sebuah Jiwa Pedang Merah muncul dan berubah menjadi Pedang Genggam. Tatapannya tertuju pada tangan Han Xin yang tertahan dan tak mampu bergerak. Dengan gigi terkatup rapat, ia mengangkat pedangnya.

Namun tepat pada saat yang menegangkan itu, pintu halaman yang setengah terbuka mendadak dihantam hingga terbuka lebar dengan suara keras.

Seorang pemuda berjubah putih melangkah masuk perlahan, wajahnya tampak tenang tanpa sedikit pun emosi.

"Aku sudah datang. Lepaskan dia."

Tatapan Jing Yan sekilas menyapu Han Xin, memeriksa wajah dan anggota tubuhnya. Kilatan dingin yang membekukan segera melintas di matanya.

"Berhenti!"

Begitu melihat pendatang itu, Ji Hong segera memberi isyarat kepada Dan Xiong agar menghentikan ayunan pedangnya. Ia dan rekan-rekannya saling bertukar pandang dengan senyum mengejek.

Ji Hong mengangkat bahu sambil berkata, "Lihat, katak itu akhirnya datang juga."

"Katak? Maksudmu apa?" Jing Yan mengangkat sebelah alisnya.

"Aku sedang membicarakan Jiwa Pedang Seni Menguliti ciptaanku sendiri," jawab Ji Hong sambil menyeringai mengejek, matanya menyapu Jing Yan dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Kulitmu lumayan bagus, bocah tampan. Sayang sekali isi kepalamu tidak seindah wajahmu. Pas sekali, akan kukuliti kulitmu sampai bersih."

"Menguliti?" Jing Yan terkekeh. "Yang kupunya memang cuma kulit.”

"Mengerti maksudku sekarang?" ejek Ji Hong.

"Mengerti. Sangat jelas," jawab Jing Yan.

"Kau tidak takut?" Ji Hong tampak sedikit terkejut.

"Jing Yan, cepat pergi dari sini! Mereka benar-benar kejam, mereka datang untukmu!" teriak Han Xin dengan nada putus asa.

Jing Yan kembali meliriknya. Ia tidak menyangka ikatan yang terjalin hanya karena satu kali makan bersama bisa sedalam ini.

"Kakak Senior Han, memang tidak ada orang yang mengurus tempat ini?" tanya Jing Yan.

"Ini puncak yang terpencil," jawab Han Xin dengan wajah pucat.

"Mengerti." Jing Yan mengangguk. Ia langsung memahami situasinya. Namun, ia tetap tidak bergerak.

Ji Hong yang mendengar percakapan mereka hampir tertawa terbahak-bahak. Kesabarannya sudah habis.

"Dan Xiong, bukankah kau bilang saat Ujian Jalan Surgawi kau sebenarnya yang paling kuat, hanya saja kau kurang beruntung?" Ia menunjuk ke arah Jing Yan. "Nah, sana. Bersenang-senanglah dengan katak kecil itu."

"Terima kasih, Kakak Senior Ji!" Mata Dan Xiong berbinar penuh semangat.

Ia memiliki Jiwa Pedang tingkat Meteor Atas, sedangkan Jiwa Pedang Teratai Hijau milik Jing Yan hanya berada di tingkat Meteor Rendah. Sejak pembagian hadiah, Dan Xiong memang sudah mengincar tulang iblis berusia lima ratus tahun milik Jing Yan.

Clang!

Dan Xiong menggenggam Jiwa Pedang Merahnya lalu melangkah menuju Jing Yan.

"Jing Yan," katanya sambil mencibir, "peringkat pertamamu di Ujian Jalan Surgawi tidak berarti apa-apa–"

Tiba-tiba, sosok Jing Yan menghilang menjadi bayangan putih, sementara seberkas cahaya biru melesat lurus ke depan.

"Apa-apaan ini—?” seru Dan Xiong.

Sesaat kemudian terdengar bunyi pelan. Bahkan sebelum sempat mengangkat kepalanya, cahaya biru itu sudah menembus dahinya.

Satu tusukan pedang tepat di kepala!

Pedang biru itu menembus keluar dari belakang kepalanya lalu menghantam sebuah pilar batu hingga tertancap kuat. Dengungan tajamnya menggema mengerikan. Mata Dan Xiong membelalak, ekspresi terkejut membeku di wajahnya pada detik-detik terakhir sebelum tubuhnya roboh tak bernyawa.

Dengan satu putaran cepat, Pengubur Langit kembali terbang ke tangan Jing Yan.

"Jadi, ini kemampuan terbaik peserta Jalan Surgawi?" katanya sambil melirik Ji Hong dan menggelengkan kepalanya.

Halaman itu seketika menjadi sunyi senyap. Semua orang membeku di tempat, wajah mereka dipenuhi berbagai ekspresi.

"Berani-beraninya kau membunuh murid Puncak Pedang Pertama?" kata Ji Tian yang masih menahan Han Xin, wajahnya dipenuhi ketidakpercayaan.

"Dan kau melakukannya tepat di depan kami?" tambah Ji Chenxing dengan suara penuh keterkejutan.

"Benar. Sama mudahnya seperti menyembelih ayam," jawab Jing Yan dengan santai.

"Kau!" Rasa terkejut Ji Hong segera berubah menjadi amarah yang membara.

Alasannya sederhana. Ia melihat Jiwa Pedang Jing Yan telah memancarkan lima lapisan Cahaya Pedang, yang berarti ia telah sepenuhnya menyerap tulang iblis berusia lima ratus tahun itu.

Biasanya seorang Kultivator Alam Mata Air Naga membutuhkan setidaknya lima hari untuk memurnikan harta seperti itu. Namun Jing Yan melakukannya hanya dalam waktu beberapa jam?

"Tidak mungkin... K-kau benar-benar..." Han Xin juga tercengang.

Situasi mereka sebenarnya sudah cukup buruk. Namun Jing Yan justru memperburuk keadaan dengan membunuh seseorang. Sekarang mereka benar-benar berada dalam masalah besar. Tubuh Dan Xiong yang tergeletak dengan darah terus mengalir ke tanah hanya membuat suasana menjadi semakin mencekam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!