Pernikahan mewah Rowan Vale-Knight dan Cathez hampa tanpa kehadiran buah hati.
Terobsesi pada kebebasan, Cathez terus menolak hamil hingga melontarkan tantangan gila: mengizinkan Rowan mencari wanita lain untuk melahirkan keturunannya.
Dikuasai rasa dikhianati, Rowan menerima tantangan tersebut.
Di malam yang sama, takdir mempertemukannya dengan Rossi Widmer—gadis terbuang yang nekat melompati mobil Rowan demi melarikan diri dari jebakan penjualan diri oleh ayahnya sendiri.
Terdesak ancaman bahaya dan pengaruh obat perangsang, penyatuan tak terduga terjadi di antara mereka.
Rowan yang terkesan oleh kemurnian Rossi memboyong gadis itu dalam pernikahan sah demi mendapatkan anak, tanpa menyadari rahasia besar bahwa Rossi sebenarnya adalah adik kandung Istrinya yang diasingkan sejak kecil.
Di antara keputusasaan, perlindungan tulus, dan intrik masa lalu yang membayangi, akankah benih cinta sejati tumbuh di tengah hubungan transaksi mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#7
Suara klik pada gagang pintu utama Penthouse memecah keheningan yang menyelimuti ruang tamu. Rossi tidak bergerak sedikit pun dari posisinya di atas sofa.
Matanya yang sembap hanya melirik pasrah ke arah pintu masuk, bersiap menghadapi ancaman atau paksaan baru yang mungkin dibawa oleh pria yang kini memegang kendali atas hidupnya.
Namun, pemandangan yang muncul di ambang pintu membuat kening Rossi berkerut halus.
Rowan telah kembali. Pria yang satu jam lalu mengenakan jas mahal seharga puluhan ribu dolar kini tampil jauh lebih santai.
Jas mewahnya telah berganti dengan kaus polos berwarna abu-abu gelap yang menjiplak ketat dada bidang dan bahunya yang kokoh, dipadukan dengan celana kain santai. Di kedua tangannya, pria itu membawa dua kantong belanjaan besar berisi bahan-bahan makanan segar yang masih terbungkus rapi.
Mata Rowan langsung menemukan sosok Rossi yang masih meringkuk memeluk lutut di atas sofa, menatapnya dengan pandangan campur aduk.
"Maafkan aku," kata Rowan cepat, suaranya terdengar jernih tanpa sisa-sisa dingin yang tadi pagi sempat menghiasi bibirnya. "Aku membuang waktu terlalu lama di luar. Aku lupa kau belum sarapan apa pun sejak semalam. Aku akan memasakkan sesuatu untukmu."
Rossi tetap diam, matanya mengikuti setiap pergerakan Rowan yang berjalan mantap menuju area dapur bersih bertema minimalis modern.
Pria itu meletakkan kantong belanjaan di atas meja kitchen island berbahan granit, lalu mulai mengeluarkan bahan makanan satu per satu dengan ketelitian yang mengejutkan.
Beberapa saat kemudian, dari arah sofa tempatnya berbaring, Rossi mendengar deretan suara yang sangat familiar: dentingan pisau yang memotong papan kayu secara teratur, gemericik air dari wastafel yang mencuci sayuran, serta ketukan panci besi yang tertata rapi.
Rowan tidak tampak canggung sama sekali. Gerakannya cekatan, terampil, dan menunjukkan bahwa pria ini bukanlah tipe Tuan Muda kaya raya yang membiarkan dirinya lumpuh di depan kompor.
Rasa tidak enak perlahan menyusup ke dalam dada Rossi. Tumbuh sebagai gadis desa yang terbiasa bekerja keras, melihat seorang pria kaya raya sibuk menyiapkan makanan untuk dirinya yang tidak berguna membuat nuraninya terusik. Rossi menyingkap selimutnya, menurunkan kedua kakinya ke lantai, lalu berjalan tertatih-tatih mendekati area dapur.
"Apa... apa yang bisa kubantu?" tanya Rossi pelan, berdiri tak jauh dari meja bar.
Rowan melirik sekilas tanpa menghentikan pergerakan pisaunya yang sedang mengiris daun bawang dan wortel.
"Tidak perlu," jawab Rowan tenang. "Kau duduk saja di sana. Kau tampak lelah." Pria itu diam sejenak, menyapukan pandangannya ke wajah Rossi yang masih menyembunyikan rasa perih di bawah matanya, lalu menambahi dengan nada lebih rendah, "Aku... minta maaf soal semalam. Aku tahu aku terlalu kasar padamu."
Sudut bibir Rossi berkedut. Ingatan semalam kembali menyerbunya, namun kali ini ia memaksakan diri untuk menahannya. Rossi menyandarkan punggungnya pada pinggiran meja island, menatap punggung tegap Rowan yang tertutup kaus abu-abu.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" ucap Rossi tiba-tiba.
Rowan yang sibuk memasukkan potongan sayur ke dalam mangkuk kaca mengangguk pelan. "Tanya soal apa?"
"Bagaimana..." Rossi menarik napas panjang, menatap lurus ke arah papan pemotong, "...bagaimana kalau aku tidak bisa memberimu anak?"
Gerakan tangan Rowan membeku seketika. Pisaunya mengambang beberapa senti di atas papan kayu. Suasana dapur mendadak hening selama beberapa detik, hanya menyisakan suara rebusan kaldu yang mulai mendidih di atas kompor.
Namun, Rowan tidak berbalik. Pria itu kembali menurunkan pisaunya, melanjutkan irisannya dengan ketukan yang sama teraturnya seperti sebelumnya.
"Maka kita akan terus berusaha untuk membuatnya..." sahut Rowan datar, tanpa ragu sedikit pun, "...sampai kau hamil."
"Mesum!"
Kata itu meluncur mulus dan spontan dari mulut Rossi. Matanya membelalak kaget mendengar jawaban tanpa beban yang keluar dari bibir pria beristri itu.
Rowan terkekeh pelan—sebuah tawa pendek yang hangat dan merdu, sangat berbeda dari tawa dingin yang ia keluarkan di klab malam kemarin. Pria itu memutar tubuhnya, bersedekap dada sambil menyandarkan pinggulnya pada meja dapur.
"Hey, aku pria normal," sahut Rowan dengan kilatan jenaka di matanya. "Lagipula, itu kesepakatan kita, bukan?"
Rossi mendengus keras. "Lalu bagaimana dengan istrimu? Kau ingin aku dibunuh oleh istrimu karena hamil anakmu? Hah?" Rossi tak lagi mampu menahan gejolak emosi di dadanya.
Kata-kata yang sejak tadi berseliweran di dalam kepalanya meledak begitu saja. Rasa takut akan melodrama keluarga kaya dan intrik perselingkuhan mendadak membayangi pikirannya.
Rowan menatap Rossi yang kini berdiri dengan dada naik-turun menahan kekesalan. Bukannya marah atau tersinggung oleh nada bicara gadis itu, Rowan justru mengulas senyum tipis yang sarat akan arti.
"Jangan takut menjadi dirimu sendiri," ucap Rowan pelan. "Aku tahu kau wanita yang cerewet."
"What?!" Rossi membelalakkan matanya lebih lebar. "Kau mengataiku cerewet?!"
Dengan gerakan santai, Rowan memajukan langkahnya satu tindak mendekati Rossi. Sebelum gadis itu sempat melangkah mundur, tangan kanan Rowan terangkat. Ujung jari telunjuk pria itu menyentuh lembut kulit pipi kiri Rossi—tepat di atas sebuah titik hitam kecil yang manis.
"Tahi lalatmu tidak bisa berbohong," bisik Rowan dengan nada menggoda. "Katanya, tahi lalat di tempat ini adalah tanda kalau pemiliknya adalah gadis yang cerewet."
Rossi menyibakkan tangan Rowan refleks, wajahnya memerah bukan lagi karena obat perangsang, melainkan karena rasa canggung yang luar biasa.
"Ilmuwan mana yang mengatakan tahi lalat di pipi jadi tanda cerewet?!" tukas Rossi tidak terima. "Kau membuat-buat mitos konyol hanya untuk mengejekku!"
Pria ini benar-benar tidak terduga. Rossi mengutuk dalam hati.
Beberapa jam lalu pria ini berakting seperti pembunuh berdarah dingin yang siap menyeretnya ke dalam pernikahan paksa, dan sekarang pria ini malah berakting seperti koki ramah yang suka mengejek tahi lalat orang lain.
"Lagipula..." Rossi berusaha mengembalikan fokus pembicaraan ke topik yang paling menakutkan baginya, "...bagaimana kalau istrimu melabrakku? Aku bisa dibunuhnya!"
Rowan menurunkan tangannya kembali, tatapannya berubah menjadi sangat pekat namun tetap tenang.
"Istriku setuju aku punya anak dari wanita lain," jawab Rowan santai.
Deg.
Rossi mematung di tempatnya. Kalimat itu menghantam logikanya hingga berantakan. Ia menatap Rowan dengan pandangan tak percaya, mencari-cari tanda bahwa pria di depannya ini sedang melontarkan lelucon gila lainnya.
"Apa ada istri seperti itu?" tanya Rossi lirih, suaranya hampir tak terdengar.
"Ada," sahut Rowan singkat sambil memutar tubuhnya kembali menghadap kompor, mematikan api, dan menyendokkan sup hangat yang harum ke dalam mangkuk porselen putih. "Dia istriku."
Rossi tertegun lama di tempatnya. Kalimat Rowan merambat masuk ke dalam benaknya seperti dinginnya es yang menyengat.
Istri macam apa yang mengizinkan suaminya memiliki anak dari wanita lain? batinnya heran.
Apakah pernikahan orang-orang kaya di kota besar ini memang seperti itu? Apakah ikatan suci yang selalu ia bayangkan hanya sebatas transaksi bisnis yang bisa ditukar-tambah dengan rahim wanita asing?
"Duduklah," suara Rowan memecah lamunan Rossi.
Pria itu sudah meletakkan sepinggan sup ayam hangat bernutrisi lengkap beserta setangkup roti panggang gandum yang diolesi mentega tebal di atas meja makan.
Aroma mentega gurih dan kaldu hangat langsung memenuhi indra penciuman Rossi, mendadak membangkitkan rasa lapar luar biasa yang terendam sejak semalam.
Rossi melangkah mendekat, menarik kursi kayu berdesain modern dengan gerakan pelan, lalu mendudukkan dirinya. Rasa nyeri di selangkangannya masih membakar setiap kali ia menekuk paha, membuat dahinya sedikit berkerut menahan sakit.
Rowan, yang menangkap gerakan kaku tersebut dari sudut matanya, mendesah pelan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, pria itu melangkah menuju kamar mandi utama tempat mereka berada semalam.
Beberapa saat kemudian, Rowan kembali dengan sebuah wadah salep kecil di tangannya. Ia meletakkan tube obat kecil itu di samping mangkuk sup Rossi.
"Pakai itu setelah kau selesai makan," kata Rowan dengan nada biasa, seolah-olah tindakannya bukanlah sesuatu yang berpotensi memicu kecanggungan di antara mereka. "Itu untuk meredakan rasa perih akibat... Benturan semalam."
Wajah Rossi seketika merah padam. Merah menyala hingga ke ujung telinganya. Ia buru-buru menyambar sendok dan menundukkan kepala sejajar dengan mangkuk supnya, pura-pura sangat sibuk mengaduk potongan wortel dan daging ayam yang mengepul.
"T-terima kasih," gumam Rossi sangat pelan, suaranya hampir tenggelam di dalam asap sup yang menyengat hidungnya.
Rowan mendudukkan dirinya tepat di seberang Rossi. Pria itu menyilangkan kedua lengannya di atas meja, tidak menyentuh makanan apa pun, melainkan hanya memperhatikan cara Rossi makan.
Gerakan gadis itu cepat namun tetap rapi—perpaduan antara kelaparan yang ditahan dan tata krama sederhana yang diajarkan di pedesaan.
Di balik kemeja putih kebesarannya yang longgar, tubuh Rossi yang mungil tampak sangat kontras dengan kemewahan Penthouse yang serba luas dan dingin ini.
"Siapa namamu yang sebenarnya?" tanya Rowan tiba-tiba.
Rossi menghentikan sendoknya yang mengambang di udara. Ia mendongak, menatap Rowan dengan mata jernih yang sedikit berkaca-kaca akibat uap panas sup.
"Bukankah aku sudah mengatakannya semalam? Rossi. Rossi Widmer."
"Rossi Widmer..." Rowan mengulang nama itu di dalam hatinya, mengecap setiap suku kata yang terasa asing di lidahnya.
Bagi Rowan, Rossi hanyalah seorang gadis asing nasib naas yang tak sengaja menyusup masuk ke dalam mobilnya di tengah keputusasaannya mencari jalan keluar dari keretakan rumah tangganya.
"Nama yang manis. Dan berapa umurmu sekarang?" lanjut Rowan.
"Dua puluh empat," jawab Rossi singkat. "Dan kau?"
"Dua puluh sembilan." Rowan tersenyum tipis. "Sembilan belas tahun lebih muda dari usiaku saat kau dilahirkan. Kau masih sangat muda, Rossi."
"Tapi aku bukan anak kecil!" cetus Rossi tidak terima, menghentakkan sendoknya pelan ke dasar mangkuk.
"Aku sudah cukup dewasa untuk tahu bahwa situasi yang kaubawa masuk ke dalam hidupku ini adalah sebuah kekacauan besar. Kau membawaku ke sini, meniduriku, menjanjikan pernikahan gila sore nanti, hanya karena kau bertengkar dengan istri mahalnya yang tidak mau punya anak!"
"Bukan hanya tidak mau punya anak," potong Rowan, tatapannya mendadak menajam, mengunci mata Rossi hingga gadis itu menahan napas. "Dia terang-terangan memberiku izin untuk mencari wanita lain yang bisa melahirkan darah dagingku."
Deg.
Rossi terpaku. "Apa... dia benar-benar mengizinkannya?"
Rowan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menyilangkan jari-jarinya di atas meja dengan tenang. "Ya. Dia sendiri yang menantangku. Dia bilang, daripada dia yang hamil dan merusak bentuk tubuh serta gaya hidup mewahnya, aku bebas mencari wanita lain. Dia pikir aku tidak akan berani mengambil langkah ini."
Senyum sinis kembali terukir di bibir Rowan—sebuah senyum pahit yang sarat akan rasa dingin. Rowan mengingat bagaimana Cathez meremehkannya semalam. Istrinya itu merasa terlalu percaya diri bahwa Rowan tidak akan pernah berpaling. Namun Cathez salah menilai batas kesabaran suaminya.
Dunia terasa berputar aneh bagi Rossi. Ia menatap pria kaya di depannya ini. Di satu sisi, ia adalah korban dari kejahatan ayahnya sendiri yang menjualnya pada lintah darat, dan di sisi lain, secara tidak sengaja ia melompat ke dalam pusaran dendam rumah tangga orang asing yang terpandang.
Air mata Rossi yang sejak tadi mengering kembali menetes tipis, jatuh tepat ke dalam mangkuk supnya yang masih hangat. Tawa lirih dan pahit lolos dari tenggorokannya.
"Luar biasa..." lirih Rossi dengan suara bergetar. "Ayahku menjualku pada lintah darat... dan aku malah menyerahkan diriku pada pria asing yang sedang membalas dendam pada istrinya. Kehidupan macam apa yang sedang kujalani ini?"
Rowan memperhatikan bulir air mata yang membahasi pipi Rossi. Ada denyut nyeri yang aneh menusuk dadanya saat melihat bahu mungil gadis itu gemetar menahan tangis.
Tanpa sadar, tangan Rowan terulur menyeberangi meja, menggenggam jemari Rossi yang terasa dingin dan gemetar.
"Itulah sebabnya aku berada di sini, Rossi," ucap Rowan dengan nada yang mendadak melunak, sarat akan ketegasan yang menenangkan.
"Aku tidak memintamu menjadi simpanan. Aku tidak memintamu menjadi wanita murahan terselubung. Aku menawarkan pernikahan. Pernikahan yang sah secara hukum. Kau akan mendapatkan nama besar Vale-Knight, kau akan mendapatkan perlindungan penuh dariku, dan tidak ada satu orang pun—termasuk lintah darat atau ayah berengsekmu itu—yang bisa menyentuhmu lagi."
Rossi menatap genggaman tangan Rowan yang hangat dan kokoh membungkus jemarinya.
Di tengah kehancuran dan ketakutannya akan diburu oleh para Pria kekar semalam, pria asing yang baru ditemuinya semalam ini justru menjadi satu-satunya orang yang menawarkan benteng perlindungan yang nyata.
"Tapi... pernikahan ini dibangun di atas amarahmu pada istrimu," bisik Rossi ragu.
"Pernikahan ini dibangun di atas kebutuhan kita berdua," ralat Rowan tegas. "Kau butuh kebebasan dan keamanan dari orang-orang yang mengejarmu, dan aku butuh seorang anak serta seorang istri yang benar-benar menghargai arti sebuah keluarga. Jika kau memberikanku anak itu, aku berjanji... aku tidak akan pernah menelantarkanmu."
Rossi menarik napas panjang, menghapus sisa air mata di pipinya dengan punggung tangannya yang bebas. Rasa hangat dari genggaman tangan Rowan perlahan mengalir ke dalam dadanya, mengikis sisa-sisa keraguan dan ketakutan yang menumpuk sejak kemarin malam.
"Sore nanti..." bisik Rossi pelan, matanya menatap lurus ke dalam mata Rowan. "...kau benar-benar akan membawaku meresmikan pernikahan ini?"
Rowan mengangguk pelan, menyapu ibu jarinya di atas punggung tangan Rossi dengan lembut. "Sore nanti. Jam empat sore, di kantor pendaftaran sipil. Dan setelah itu, kau resmi menjadi Nyonya Vale-Knight."
bikin semua kejahatan catzhes terbongkar
aku pasti baca thor mpe abis🥰🥰🥰