Arsy Aprilia janda muda memulai kehidupan barunya di Kota Sidney, Australia. Awal kehidupannya di Negara orang terasa baik-baik saja dengan keseharian mengurus toko bunga miliknya. Namun, siapa sangka? Berawal dengan satu buket mawar hitam mengubah kehidupannya hingga harus menikah dengan pria aneh dari masa lalunya.
Dominic Jovano Abraham, pria misterius dan memiliki kehidupan masalalu yang berkaitan dengan Arsy.
Bagaimana kisah cinta mereka?
Yuk ikutin terus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Windii Riya FinoLa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Ada yang komen Arsy harus menjadi wanita berkelas jangan mau di ajak sembarangan karena udah jadi istri orang.
Baiklah, mari kita kasih paham.
\=> Gini, Arsy jadi istri Dominic setelah membuat janji pada Jack dan sudah 2 kali berlatih bersama Jack dan Angel. Jadi, yang gak berkelas itu dimananya ya? Apalagi pernikahan Arsy dan Dominic masih dirahasiakan dan yang tersebar rumor itu pertunangan Dominic dengan Erlin bukan pernikahan Dominic dan Arsy. Apalagi janji berlatih memanah dengan Jack itu sebelum menikah dan janji harus ditepati, kan? Sampai sini, paham ya?
******************
Sebuah mobil mewah berhenti tepat di samping Arsy. "Ngapain kamu disitu?"
Arsy yang hendak pergi pun akhirnya menoleh ke seorang pria bule tampan dengan mata hazel cokelat itu menatap datar padanya. "Mau antar bekal makan siang," jawab Arsy.
Dominic menatap datar Arsy sesaat kemudian beralih menatap Evan juga hanya beberapa detik kemudian. "Bereskan security itu," ucapnya dingin kemudian menatap Arsy lagi. "Kamu, ikut saya." tegasnya kemudian masuk ke dalam mobil setelah Evan membukakan pintu.
Evan tahu jika Dominic sedang tidak baik-baik saja setelah mengetahui sesuatu. Kemudian memutari mobil membukakan pintu bagi Arsy. Sementara dirinya tidak ikut masuk mobil karena harus mengurus security ini.
Sedangkan Arsy hanya diam menurut saja. Setelah berada di dalam mobil, sesekali melirik ke arah Dominic yang diam saja dengan wajah yang menyeramkan baginya, seperti saat malam sebelum menikahinya. Apalagi tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut Dominic.
Arsy pun berpikir, apakah Dominic marah karena dirinya mendatangi ke kantor tanpa kabar lebih dahulu?
Sama seperti yang dikatakan security sebelumnya, jika ingin menemui Dominic harus melakukan janji temu lebih dahulu.
Atau, Dominic marah karena pernikahan mereka yang sedang dirahasiakan tetapi justru dirinya mendatangi Dominic?
Setelah sampai basement dan masuk ke lobby, Arsy dibuat takjub atas kemegahan tempat itu. Sangat luas, Arsy yakin anak-anak dapat bermain bola disana.
Ya, Tuhan! Ada saja pikiran Arsy ini.
"Awwh," desis Arsy ketika tak sengaja menabrak punggung Dominic karena suaminya itu menghentikan langkahnya di depan lift khusus petinggi perusahaan.
Tidak ada respon dari Dominic membuat Arsy menghembuskan nafas berat karena meyakini bahwa Dominic tetap menyembunyikan pernikahan mereka. Sampai sudah berada di lift juga tetap saling diam saja.
Setelah berada di ruang kerja Dominic yang berada pada lantai teratas. Tanpa di suruh, Arsy menyediakan bekal yang dibawanya ke atas meja meski Dominic masih tetap diam tidak bicara apapun.
"Di makan, suamiku." tawar Arsy setelah selesai menyusun makanan tersebut.
"Dari mana saja kamu?" tanya Dominic tanpa membentak tapi terdengar dingin.
Arsy menatap Dominic tetapi suaminya itu enggan menatapnya. "Aku dari toko." jawabnya jujur.
"Keasyikan ngobrol sampai lupa waktu kalau suami sedang kelaparan menunggu bekal dari istri?" tanya Dominic sindir Arsy kemudian membuang muka sembarangan.
Memang benar, setelah mengetahui Arsy sedang bicara bersama pria lain. Dominic pergi ke restoran setelah menunggu kedatangan Arsy selama satu jam. Setelah pulang dari restoran, ia melihat Arsy berada di pos security tadi.
Dominic tidak menyalahkan security karena tahu yang dilakukan pegawainya itu sesuai peraturan yang ia buat. Tidak sembarangan orang dapat langsung bertemu dengannya, hanya keluarga yang dapat seperti itu. Bahkan Erlin pun tidak dapat bertemu dengannya secara langsung.
Tapi, bukan itu masalahnya. Dominic masih sangat kesal terhadap Arsy karena menerima tamu pria dan melupakan makan siangnya.
Arsy menunduk menerima pertanyaan yang bermakna sindiran dari Dominic. Bukan melupakan, hanya saja Jack terlalu lama mengajak mereka ngobrol dan tidak enak hati untuk pergi sebelum tamu pergi lebih dulu. Apalagi akan banyak pertanyaan yang akan diterima hingga menimbulkan curiga jika ia telah menikah dan menjadi istri yang dirahasiakan.
Dengan tangan yang saling meremas, Arsy mencoba menjawab pertanyaan Dominic secara pelan-pelan agar tidak menyulut emosi. "Tidak sopan kalau pergi tapi masih ada tamu, suamiku. Lagi pula aku harus jawab apa jika di tanya tujuan datang kesini? Menemui suamiku?"
Mata Dominic melebar mendengar pertanyaan Arsy. Memang yang baru saja di katakan adalah kebenaran dan iantak bisa mengelak. Tapi… "Kenapa kamu seolah menyalahkan aku?" Kesal, bukan?
Arsy memberanikan menatap Dominic dengan menggelengkan kepala serta kedua tangan bergerak ke kanan dan ke kiri di depan dada. "Tidak. Aku tidak menyalahkanmu. Aku hanya memberitahu saja," tukas Arsy.
"Dengan mengajukan pertanyaan seolah ingin disetujui?" tebak Dominic. Ia baru tahu jika Arsy bisa membuat dirinya tak berkutik.
Arsy diam karena tebakan Dominic benar sekali.
"Siapa pria itu?" tanya Dominic dingin setelah sadar dirinya mengingat pria yang bersama Arsy. Sialnya, anak buahnya tidak dapat melihat wajah pria tersebut.
"Teman. Oh iya, aku juga punya janji besok pergi bersama dia dan Angel. Boleh, ya?" izin Arsy membuat Dominic meradang.
"Apa kamu tidak memikirkan aku? Bagaimana bisa kamu janjian dengan pria lain?" Saking kesalnya tetapi tidak ingin menampakkan di hadapan Arsy hingga memilih memutar tubuh membelakangi istrinya yang sangat menyebalkan.
"Karena aku memikirkan kamu makanya bilang, suamiku. Lagi pula kami janjian berlatih saja bukan janji seumur hidup seperti kamu menjaga Erlin."
Ucapan Arsy barusan membuat Dominic memutar badan seperti semula. "Kenapa kamu jadi menyalahkan aku?"
"Tidak sama sekali."
Helaan nafas Dominic dan tidak lagi menjawab karena tak ingin melanjutkan perdebatan. Ia juga baru mengetahui jika Arsy memiliki seorang teman pria. Ia memilih duduk di kursi kebanggaannya. Membiarkan Arsy berdiri.
Melihat Dominic duduk di kursi kerja membuat Arsy berinisiatif untuk membereskan makanan yang ia bawa sia-sia dan menyusun ke rantang bekal kembali. Ia juga berniat kembali ke toko bunga karena tak ingin mengganggu pekerjaan Dominic.
"Suruh siapa bereskan makanan?" tanya Dominic semakin kesal karena Arsy tidak peka juga.
"Loh. Bukannya kamu mau bekerja dan juga sudah makan siang? Jadi aku ingin bawa bekal ini ke toko bunga biar aku makan bersama Angel," jawab Arsy jujur dari pada terbuang sia-sia. Lagi pula dirinya belum makan siang.
Helaan nafas panjang dari Dominic kemudian bangkit kembali. Sebelum menghampiri Arsy, ia menekan tombol remote di atas meja untuk menutup tirai ruang kerjanya agar tidak ada yang melihat. Kemudian mendekati Arsy sambil membuka cadar yang menutupi wajah Arsy.
Di peluk Arsy beberapa saat untuk meredakan gejolak amarah yang sedari tadi sangat di tahannya. "Aku cemburu, aku tidak suka kamu berlama-lama bersama pria lain." ucap Dominic masih memeluk Arsy.
Arsy tersentuh atas ucapan Dominic, ia pun mengusap punggung suaminya itu memberi ketenangan. "Kamu boleh ikut besok dan aku janji, ini terakhir kalinya aku ikut berlatih memanah dengan Jack."
Ah, Dominic semakin cemburu mendengar Arsy menyebut nama pria lain. Tapi, mendengar Arsy perbolehkan dirinya ikut artinya Arsy tidak ingin menutupi apapun. "Baiklah. Aku ikut dan setelah itu kamu berlatih denganku saja, aku juga bisa memanah asal kamu tahu."
Pelukan itu terurai dan Arsy mengangguk menanggapin ucapan Dominic. "Baiklah. Aku harus segera pergi karena tidak mau mengganggu pekerjaan suamiku ini."
Dominic menggeleng kemudian duduk di sofa tepat dihadapan hidangan. "Aku akan menghabiskan makan siang ini."
"Bukannya kamu sudah makan?" tanya Arsy.
"Sudah dan aku berselera melihat masakan kamu," jawab Dominic menatap Arsy kemudian menepuk sofa agar duduk di sebelahnya dan Arsy menurut saja.
Dominic menyodorkan sepotong daging ke bibir Arsy. "Aku tahu kalau istriku yang cantik ini belum makan siang."
Senyuman Arsy mengembang. "Makasih banyak, suamiku."
artinya pernikahan mereka beruntun kan thoor.
"k kamu" ucap Dominic
apa Arsy wanita masalalu (8 tahun lalu) Dominic
semoga ja
semangat dengan karya barunya mae
jangan lupa kabari, infokan apa judulnya
biar banyak kami baca dan dukung