Kaisar Tertinggi sang Kaisar Xuan Wu penguasa 100.000 Dunia. Perang Terakhir itu menyebabkan Jiwa nya bereinkarnasi ke tubuh lemah seorang pemuda berna Lin Fan. Lin Fan pemuda dari keluarga Lin cabang. hidup keseharian nya selalu mendapat penyiksaan dari sepupu nya Lin Hao. Lin Fan dulu sudah mati yang ada sekarang adalah Lin Fan dengan jiwa Kaisar Xuan Wu. dengan pengetahuan masa lalu sebagai Kaisar dia mulai merangkak dari Bocah Sampah mejadi kultivator hebat di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tawaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 : Rahasia di Balik Rak Berdebu
Hujan malam itu berhenti tepat sebelum fajar menyingsing, meninggalkan udara pagi yang dingin dan segar. Bagi kebanyakan warga Kota Qingyun, ini adalah waktu untuk bersiap-siap bekerja atau berlatih kultivasi dasar. Namun bagi Lin Fan, ini adalah waktu untuk "mencuri".
Dengan bantuan dua pengawal bayangan dari Klan Zhao yang kini diam-diam menjaga perimeter asramanya, Lin Fan berhasil menyelinap keluar tanpa sepengetahuan anggota Klan Lin lainnya. Ia tidak menuju pasar atau tempat latihan umum, melainkan ke perpustakaan tua Klan Zhao—sebuah bangunan batu berlumut yang jarang dikunjungi karena isinya dianggap usang dan tidak berguna oleh praktisi muda yang hanya mencari teknik serangan cepat.
Zhang Wei telah menepati janjinya. Sebuah kunci besi berkarat sudah menunggu di bawah pot bunga depan pintu perpustakaan, sesuai instruksi tertulis singkat yang diterima Lin Fan semalam.
Lin Fan membuka pintu berat itu. Engselnya berderit nyaring, memecah keheningan pagi. Bau kertas lapuk dan jamur langsung menyeruak. Di dalam, rak-rak kayu tinggi menjulang hingga ke langit-langit, dipenuhi gulungan kulit binatang dan buku-buku tebal yang tertutup debu tebal. Cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah jendela menciptakan pilar-pilar cahaya di mana partikel debu menari-nari.
Bagi orang biasa, perpustakaan ini adalah tempat sampah pengetahuan. Teknik-teknik di sini dianggap cacat, terlalu lambat, atau membutuhkan bahan langka yang tidak tersedia. Tapi bagi Lin Fan, mantan Penguasa Seratus Ribu Dunia, perpustakaan seperti ini adalah tambang emas. Ia tahu bahwa banyak teknik "cacat" sebenarnya adalah versi yang disederhanakan atau salah diterjemahkan dari seni kuno tingkat tinggi.
Ia berjalan menyusuri lorong-lorong sempit, jarinya menyentuh punggung-punggung buku yang rapuh. Matanya memindai judul-judul dengan kecepatan kilat.
“Teknik Tinju Batu” – Terlalu kasar.
“Metode Pernapasan Angin” – Dasar sekali.
“Panduan Meracik Pil Pemulihan” – Menjanjikan.
Lin Fan mengambil beberapa gulungan tentang anatomi meridian manusia dan racun herbal. Pengetahuannya tentang Sutra Nafas Chaos Primordial sangat kuat secara teori, namun ia membutuhkan pemahaman praktis tentang bagaimana tubuh manusia di dunia rendah ini bereaksi terhadap energi kotor. Ia perlu memetakan ulang jalur energinya sendiri.
Tiba-tiba, telinganya yang tajam menangkap suara langkah kaki ringan di lantai atas. Seseorang ada di sana.
Lin Fan tidak panik. Ia dengan tenang menyembunyikan gulungan-gulungan pilihannya di balik jubah luarnya yang longgar, lalu berpura-pura sedang membaca sebuah buku besar tentang sejarah botani di meja dekat tangga.
Seorang pria tua dengan rambut putih acak-acakan turun dari tangga. Ia mengenakan jubah abu-abu kusam dan membawa sapu lidi. Matanya sipit, namun tatapannya tajam dan penuh kecerdasan tersembunyi. Ini adalah Paman Gu, penjaga perpustakaan yang sudah tua dan sering dianggap gila oleh anggota klan karena kebiasaannya berbicara sendiri pada buku-buku.
"Hmm," gumam Paman Gu, mendekati meja Lin Fan. Ia tidak menyapa, hanya menatap buku yang dipegang Lin Fan.
"Buku itu salah edisi. Halaman 45 sampai 50 tertukar dengan catatan belanja tukang kebun tahun lalu."
Lin Fan tersenyum tipis, menutup buku itu. "Terima kasih, Paman."
"Saya hanya mencari gambaran umum. Tampaknya sejarah tanaman obat di kota ini cukup... kacau."
Paman Gu mendengus, lalu matanya tertuju pada lipatan jubah Lin Fan yang sedikit menonjol. "Kau mau mencuri?"
"Tidak," jawab Lin Fan tenang. "Saya meminjam. Dengan izin Wakil Kepala Zhang."
Mata Paman Gu melebar sejenak, lalu ia tertawa kecil, suara parau yang terdengar seperti gesekan daun kering.
"Zhang Wei? Ular licik itu memberikan izin?"
"Menarik sekali. Biasanya ia hanya meminjamkan racun, bukan pengetahuan"
"Kau pasti menjanjikan sesuatu yang sangat berharga kan, anak muda."
Lin Fan tidak menjawab. Ia tahu bahwa membantah atau membenarkan sama-sama berbahaya dengan pria tua ini. Instingnya mengatakan bahwa Paman Gu bukan sekadar penjaga perpustakaan biasa. Ada aliran Qi yang sangat halus namun stabil mengalir di tubuh tua itu—tanda seorang ahli yang telah mencapai tahap tinggi namun memilih untuk bersembunyi.
"Pergilah," kata Paman Gu, mengibaskan tangannya.
"Sebelum aku berubah pikiran dan melaporkanmu sebagai pencuri. Dan satu saran..." Pria tua itu menatap Lin Fan dalam-dalam.
"Jangan mencoba memperbaiki meridianmu dengan paksa menggunakan api eksternal. Tubuhmu rapuh seperti kaca. Jika kau memaksanya, kau akan pecah menjadi serpihan yang tidak bisa disatukan lagi."
Lin Fan terhenti. Jantungnya berdegup kencang. Bagaimana pria tua ini tahu kondisi meridiannya? Apakah ia bisa melihat melalui tubuhnya?
"Apa maksud Paman?" tanya Lin Fan, berusaha tetap tenang.
Paman Gu hanya tersenyum misterius, lalu berbalik dan kembali menyapu lantai, seolah-olah percakapan tadi tidak pernah terjadi.
"Anggap saja nasihat orang tua yang bosan" "jadi Sekarang, pergi lah"
"Debu di sini tidak baik untuk paru-paru mudamu."
Lin Fan membungkuk hormat, lalu berjalan keluar perpustakaan dengan langkah cepat. Pikirannya berputar. Peringatan Paman Gu itu valid. Sutra Nafas Chaos Primordial memang berisiko tinggi. Ia perlu lebih berhati-hati. Mungkin ia perlu menemukan bahan penyeimbang sebelum melanjutkan kultivasi intensif.
Sore harinya, Lin Fan kembali ke gubuknya. Nyonya Li sedang duduk di depan tungku kecil, memasak bubur encer dengan sisa beras yang hampir habis. Wajahnya tampak lebih cerah hari ini, mungkin karena kabar bahwa Lin Fan "mulai pulih".
"Fan'er, kau dari mana?" tanya ibunya saat Lin Fan masuk. Matanya menyipit, memperhatikan gulungan kertas yang tersembunyi di balik baju Lin Fan.
"Dari perpustakaan kota, Bu."
"aku mau mencari referensi tentang obat-obatan," bohong Lin Fan setengah benar. Ia tidak ingin ibunya khawatir tentang keterlibatannya dengan Klan Zhao.
Nyonya Li menghela napas. "Kau selalu sibuk sekarang"
"Dulu kau hanya duduk di kamar seharian. Ibu... ibu senang melihatmu aktif, tapi jangan terlalu memaksakan diri. Kesehatanmu masih lemah."
Lin Fan duduk di samping ibunya, membantu mengaduk bubur. Aroma sederhana itu mengingatkannya pada masa-masa damai di kehidupan sebelumnya, sebelum perang besar meletus.
"Ibu," kata Lin Fan tiba-tiba.
"Jika suatu hari nanti, aku menjadi orang yang sangat berbeda... orang yang mungkin ditakuti atau dibenci banyak orang... apakah Ibu akan tetap bangga padaku?"
Nyonya Li terdiam. Sendok kayu di tangannya berhenti bergerak. Ia menatap wajah anaknya, mencari tanda-tanda kegilaan atau kesedihan mendalam. Yang ia temukan hanyalah keteguhan yang asing, sebuah kedewasaan yang seharusnya tidak dimiliki remaja lima belas tahun.
"Ibu tidak peduli apa kata orang," jawab Nyonya Li pelan, suaranya bergetar.
"Selama kau tetap menjadi anak baik yang menghormati leluhur dan tidak melukai orang tak bersalah... Ibu akan selalu mendukungmu."
"Tapi janji lah padaku, Fan'er."
"Jangan kehilangan dirimu sendiri dalam mengejar kekuatan. Kekuatan tanpa hati nurani hanyalah kutukan."
Kalimat itu menusuk hati Lin Fan lebih dalam daripada pedang mana pun. Di kehidupan sebelumnya, ia telah kehilangan banyak hal demi kekuasaan. Ia telah menjadi dingin, kalkulatif, dan jauh dari emosi manusia. Mendengar nasihat sederhana dari wanita miskin ini membuatnya sadar bahwa kali ini, ia memiliki sesuatu yang dulu tidak ia hargai: kemanusiaan.
"Aku berjanji, Bu," kata Lin Fan, suaranya tegas.
"Aku tidak akan kehilangan diriku. Aku hanya akan menemukan siapa diriku yang sebenarnya."
Malam itu, setelah ibunya tertidur, Lin Fan kembali ke tikarnya. Ia membuka gulungan tentang anatomi meridian yang ia curi (atau pinjam) dari perpustakaan. Dengan bantuan lilin kecil, ia mulai mempelajari titik-titik tekanan vital di tubuhnya.
Ia tidak akan menggunakan api eksternal seperti peringatan Paman Gu. Sebaliknya, ia akan menggunakan metode
"Akupunktur Jiwa".
Dengan konsentrasinya yang tajam, ia akan menggunakan jarum-jarum kecil dari tulang ikan yang ia runcingkan sendiri untuk membuka sumbatan meridiannya satu per satu, sambil mengalirkan Qi Chaos secara sangat perlahan.
Proses ini akan memakan waktu berminggu-minggu. Rasanya akan seperti dibedah hidup-hidup setiap malam. Tapi Lin Fan siap. Ia mencelupkan jarum tulang pertama ke dalam cairan ramuan obat murah yang ia racik sendiri sore tadi—campuran akar jahe dan getah pohon pinus untuk mengurangi rasa sakit.
Dengan tangan yang stead, ia menusukkan jarum pertama ke titik Qiuhai di bawah pusarnya.
Rasa panas menyengat menyebar seketika. Lin Fan menggigit bibirnya hingga berdarah untuk menahan teriakan. Keringat dingin membanjiri tubuhnya. Tapi di tengah rasa sakit itu, ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan selama lima belas tahun terakhir: aliran energi. Kecil, tipis, tapi nyata.
Qi akhirnya mengalir.
Di luar, angin malam berhembus kencang, menggoyangkan atap gubuk reyot itu. Di dalam, seorang Kaisar sedang bangun dari tidurnya, jarum demi jarum, tetes darah demi tetes darah.