"Bukan lo yang mutusin buat nolak gue. Gue sendiri yang mutusin apa yang bakal gue lakuin ke lo!"
Arshaka Rumi Wiraguna adalah Presiden BEM yang arogan dan urakan. Bagi Lyana, bendahara BEM yang kaku, Rumi adalah definisi "salah gaul" yang harus dihindari. Namun, takdir memaksa mereka terus bergesekan.
Saat demonstrasi besar membakar kampus, Rumi mempertaruhkan nyawa demi melindungi Lyana. Sejak hari itu, tembok formalitas "Mas" dan "Mbak" pun retak. Apalagi saat KKN memaksa mereka tinggal satu atap di pelosok desa. Tanpa birokrasi kampus, sisi posesif Rumi muncul. Lyana yang awalnya hanya ingin fokus pada beasiswa, perlahan terseret dalam obsesi sang Presiden BEM.
Di antara politik kampus dan ego yang tinggi, mampukah Lyana bertahan? Atau justru ia akan tunduk pada aturan main Arshaka Rumi Wiraguna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batas Rel dan Realita
Tiga hari pasca-Festival Seni dan Pergerakan, suasana Sekretariat BEM kembali seperti sedia kala. Tidak ada lagi tumpukan kardus air mineral yang menghalangi jalan, tidak ada lagi HT yang berdengung memekakkan telinga. Ruangan itu kembali pada kodrat asalnya: sempit, bau debu yang berpadu dengan sisa pengharum ruangan rasa lemon, dan sunyi.
Bagi Lyana, kesunyian ini seharusnya menjadi surga.
Jari-jarinya menari cepat di atas tombol kalkulator, menyalin angka-angka dari setumpuk kuitansi ke dalam buku besar. Postur tubuhnya tegak sempurna. Kemeja bergaris birunya terkancing rapi hingga pangkal leher, dan rambutnya kembali ditarik ke belakang dalam ikatan kuda yang ketat. Di atas kertas, Lyana sudah kembali menjadi sang Bendahara Umum yang tidak bisa disentuh.
Namun, di dalam kepalanya, tembok pertahanan itu sedang mengalami retak struktural yang parah.
Entah sudah keberapa kalinya Lyana menghentikan laju bolpoinnya hanya untuk menatap punggung tangan kirinya sendiri. Tangan yang tiga malam lalu digenggam erat oleh Arshaka Rumi Wiraguna di area parkir gelap.
Lyana memejamkan mata, menggigit bagian dalam pipinya keras-keras. Fokus, Lyan. Itu cuma efek adrenalin. Dia cuma takut acaranya berantakan. Ia merapalkan alasan itu berulang kali seperti mantra. Menyerah pada pesona seorang Rumi adalah bunuh diri administratif. Laki-laki itu adalah wujud nyata dari segala hal yang tidak bisa ia hitung dalam neraca kehidupannya.
Suara pintu yang didorong terbuka membuat Lyana tersentak. Ia buru-buru menunduk, pura-pura memeriksa kembali kolom debit di depannya.
Bukan Dito. Bukan Nisa. Aroma tembakau samar yang menyusup bersama embusan angin dari pintu itu sudah cukup memberi tahu Lyana siapa yang datang.
Rumi melangkah masuk tanpa suara basa-basi. Laki-laki itu memakai kaus oblong pudar berwarna abu-abu yang ditumpuk dengan jaket denim andalannya. Celana jeans-nya robek di bagian lutut, dan sepasang sepatu bot kulitnya tampak berdebu. Rumi menarik kursi di seberang meja Lyana, memutar posisinya hingga sandarannya berada di depan, lalu duduk mengangkang dan menumpukan dagu di atas lengan yang disilangkan di sandaran kursi.
"Udah balance?" tanya Rumi, suaranya serak, khas orang yang baru bangun tidur di siang bolong.
Lyana tidak mendongak. Matanya pura-pura memindai angka. "Hampir. Tinggal nunggu laporan reimburse dari divisi perlengkapan. Mas Rumi dari mana saja tiga hari ini? Dicariin Dito buat tanda tangan LPJ (Laporan Pertanggungjawaban) malah hilang."
"Tidur. Tiga hari penuh." Rumi menjawab santai. Ia mengulurkan sebelah tangan, mengetuk pelan meja kayu Lyana dengan ruas jarinya. "Tutup dulu buku besarmu, Bendahara. Ambil tas. Kita keluar."
Gerakan bolpoin Lyana terhenti. Kali ini, ia mengangkat wajah, menatap Rumi dengan kening berkerut. Matanya secara otomatis memindai raut wajah laki-laki itu, mencari jejak keanehan atau sisa-sisa malam martabak yang membingungkan itu. Tapi Rumi tampak biasa saja. Terlalu biasa.
"Keluar ke mana? LPJ ini harus masuk ke Biro Keuangan besok pagi, Mas. Kalau telat—"
"Kalau telat, aku yang ngadep Pak Seno," potong Rumi cepat, tidak memberi ruang untuk alasan. Ia berdiri, menendang pelan kaki kursi hingga kembali ke tempatnya. "Ada sisa dana donasi dari Bang Yuda yang harus dieksekusi hari ini. Bukannya kamu sendiri yang bilang semua aliran uang harus dikawal Bendahara biar nggak jadi dana gelap?"
Lyana terdiam. Logikanya langsung tertohok oleh aturannya sendiri. Memang benar, dari lima juta rupiah donasi Yuda, masih ada sisa sekitar satu setengah juta yang diplotkan untuk pos 'Pengabdian Masyarakat'.
Sambil menghela napas pasrah yang disengaja, Lyana membereskan kertas-kertasnya, memasukkannya ke dalam laci dan memutar kuncinya dua kali. Ia meraih tas selempangnya.
"Ke panti asuhan mana?" tanya Lyana sambil berdiri, merapikan lipatan kemejanya yang sebenarnya sudah rapi.
Rumi hanya tersenyum miring, sebuah lengkungan bibir yang membuat alarm di kepala Lyana kembali berbunyi. "Nanti juga kamu tahu."
Panas kota Solo jam dua siang terasa memanggang kulit saat Lyana naik ke boncengan motor custom Rumi. Ia menolak memakai helm bawaan Rumi yang kebesaran dan memilih helm Bogo miliknya sendiri. Selama perjalanan, Lyana duduk kaku. Tangannya mencengkeram erat besi belakang motor, menjaga jarak aman agar tubuhnya tidak bersentuhan dengan punggung Rumi, meski tarikan gas laki-laki itu sesekali membuatnya nyaris terdorong ke depan.
Mereka meninggalkan area kampus, membelah jalanan protokol yang padat, lalu mulai berbelok ke jalan-jalan sekunder yang makin lama makin sempit. Aspal mulus berganti menjadi jalanan berbatu yang bergelombang. Rumi mengarahkan motornya menuruni sebuah gang kecil yang letaknya tepat di bawah flyover rel kereta api kawasan Jebres.
Deru mesin motor Rumi memantul di dinding beton jembatan. Debu kering beterbangan. Lyana memicingkan mata, menahan napas saat mencium aroma apek dari tumpukan rongsokan yang menggunung di sisi kiri jalan. Kontras yang luar biasa dengan dunia kampus yang selalu bersih dan ber-AC.
Motor berhenti di sebuah pelataran tanah keras, tepat di depan sebuah bangunan semi-permanen dari tripleks dan seng bekas. Tulisan 'Sanggar Belajar Merdeka' tergores asal-asalan dengan cat semprot di dinding kayunya.
Belum sempat Rumi menurunkan standar motor, tiga orang anak kecil berbaju kumal dengan kaki telanjang berlarian keluar dari bangunan itu.
"Bang Rumi! Bang Rumi datang!" teriak mereka bersahutan.
Rumi mematikan mesin, melepas helmnya, dan turun. Laki-laki yang selalu berdebat sengit soal hukum birokrasi di kampus itu kini tertawa lepas. Ia menangkap anak laki-laki terkecil dan mengangkatnya tinggi-tinggi hingga anak itu memekik kegirangan, lalu mengacak-acak rambut dua anak lainnya.
Lyana turun dari motor dengan canggung. Ia membersihkan sedikit debu yang menempel di ujung celana kainnya. Ia merasa sangat salah kostum. Kemeja bergaris dan sepatu flatshoes datar yang ia kenakan membuatnya terlihat seperti agen asuransi nyasar di tengah permukiman padat penduduk ini.
Seorang wanita paruh baya dengan daster luntur keluar dari dalam sanggar. Wajahnya keras oleh terpaan jalanan, tapi senyumnya menyiratkan kehangatan yang tulus saat melihat Rumi.
"Mas Rumi, kok siang-siang ke sini? Bukannya kemarin baru bikin acara besar di kampusnya?" sapa wanita itu, menyalami Rumi.
"Justru karena acaranya udah kelar, Bu Ningsih. Rumi bawa titipan rezeki dari senior buat anak-anak sini." Rumi menoleh ke belakang, memberikan isyarat dagu pada Lyana. "Kenalin, Bu. Ini Lyana. Bendahara saya. Preman paling galak kalau urusan duit."
Lyana menahan diri untuk tidak memelototi Rumi. Ia maju selangkah, memaksakan senyum sopan sambil mengulurkan tangan. "Lyana, Bu."
Ibu Ningsih menjabat tangan Lyana dengan ragu, seolah takut mengotori kulit bersih gadis itu. "Aduh, Mbak Lyana cantik bener. Mas Rumi ini biasanya kalau ke sini bawa anak-anak cowok yang gondrong-gondrong itu, baru kali ini bawa perempuan."
Panas merayap ke leher Lyana, tapi sebelum ia sempat mengklarifikasi statusnya, Rumi sudah mengalihkan pembicaraan. Laki-laki itu meminta Lyana mengeluarkan amplop cokelat berisi sisa dana donasi dan menyerahkannya langsung kepada Ibu Ningsih.
Lyana mengamati bagaimana Rumi berinteraksi. Tidak ada jarak. Rumi duduk bersila di atas lantai semen yang retak-retak, memangku seorang anak balita yang sedang mengunyah kerupuk, sementara Ibu Ningsih bercerita panjang lebar tentang atap sanggar yang bocor dan uang kas RT yang menunggak. Rumi mendengarkan dengan serius. Sesekali ia menimpali, memberikan solusi yang sangat praktis, bahkan berjanji akan membawa beberapa mahasiswa teknik sipil untuk memperbaiki atap tersebut akhir pekan ini.
Setengah jam berlalu. Lyana yang sedari tadi hanya duduk kaku di kursi plastik mulai merasa sesuatu meremas dadanya.
Selama ini, di mata Lyana, Rumi adalah mahasiswa privileged yang tidak tahu susahnya hidup. Laki-laki yang menganggap enteng lembaran rupiah karena ayahnya punya segalanya. Namun di bawah kolong jembatan ini, bersama debu dan suara derak gerbong kereta api yang melintas di atas mereka, Rumi justru terlihat paling manusiawi.
"Udah capek berdiri terus?" suara Rumi memecah lamunannya.
Anak-anak tadi sudah berlarian kembali ke lapangan tanah untuk bermain bola plastik. Ibu Ningsih sedang ke warung depan untuk membelikan mereka es teh. Rumi berjalan menghampiri Lyana, menyandarkan punggungnya di tiang penyangga kanopi sanggar.
Lyana melipat lengannya di depan dada, mencoba mempertahankan dinding profesionalnya. "Berapa lama kamu ngurus tempat ini, Mas?"
"Dari maba," jawab Rumi ringan. Ia merogoh saku, mengeluarkan sebungkus rokok, namun saat melihat Lyana, ia mengurungkan niatnya dan memasukkannya kembali. "Dulu aku iseng kabur dari acara ospek fakultas, nongkrong di warung kopi deket sini. Terus ngeliat anak-anak ini diusir Satpol PP pas lagi ngamen. Ya udah, aku sama anak-anak fakultas hukum bikinin sanggar biar mereka punya tempat singgah."
Lyana menatap ujung sepatunya yang kini sudah kotor oleh debu tanah merah.
"Kenapa kamu bawa aku ke sini?" tanya Lyana pelan. Ia mengangkat wajah, menatap langsung ke manik mata Rumi. "Kamu mau nunjukin kalau aku ini cuma orang kaku yang nggak punya empati? Yang cuma peduli sama kertas dan kuitansi?"
Rumi menghela napas. Laki-laki itu memangkas jarak di antara mereka, berdiri cukup dekat hingga Lyana bisa merasakan hawa tubuhnya.
"Nggak, Lyan," suara Rumi terdengar rendah, menembus derau angin dan suara kendaraan dari jalan raya. "Aku bawa kamu ke sini supaya kamu ngerti kenapa aku sering nabrak aturan rektorat."
Rumi menunjuk ke arah jalanan dengan isyarat matanya.
"Birokrasi kampus yang selalu kamu bangga-banggakan itu terlalu lamban. Kalau aku harus nunggu proposal di-ACC, minta stempel dekanat, lalu nunggu pencairan dana rektorat yang bisa makan waktu dua bulan... anak-anak ini keburu nggak makan, Lyan. Atap mereka keburu rubuh kena hujan."
Kata-kata itu menghantam Lyana tepat di titik paling rapuh.
"Kamu pikir aku nggak paham susahnya hidup, Mas?" Lyana membalas, suaranya sedikit bergetar, menahan gejolak yang mati-matian ia sembunyikan. "Aku ini anak beasiswa. Ibuku di kampung jualan gorengan buat nutupin biaya kosku. Alasan aku gila prosedur, alasan aku pegang erat-erat aturan rektorat, itu karena cuma kertas-kertas itu pelindungku! Kalau aku bikin salah, aku ditendang. Aku nggak punya jaring pengaman sebesar nama belakangmu, Rumi."
Untuk pertama kalinya, Lyana tidak memanggil laki-laki itu dengan embel-embel 'Mas'. Nama itu meluncur begitu saja, sarat akan kemarahan yang dipicu oleh rasa rendah diri yang dipaksa keluar.
Rumi terdiam. Kilat di matanya melembut seketika. Laki-laki itu tidak mendebat. Ia memahami ketakutan Lyana. Perbedaan mereka bukan pada empati, tapi pada privilege cara mereka bertahan hidup.
Rumi mengangkat tangannya, ragu sejenak, sebelum akhirnya menyentuh puncak kepala Lyana dengan tepukan pelan, hanya dua kali, tapi sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik di kulit kepala Lyana.
"Aku tahu, Lyan," bisik Rumi parau. "Makanya aku butuh kamu. Aku butuh orang yang narik bajuku kalau aku lari terlalu jauh dari aturan. Dan BEM butuh orang kayak kamu buat memastikan uangnya nggak habis buat gagah-gagahan tok."
Lyana mematung. Jantungnya bergemuruh lebih keras daripada suara kereta api yang baru saja lewat di atas mereka. Laki-laki ini benar-benar berbahaya. Rumi tidak hanya membongkar tembok pertahanannya secara paksa, tapi ia juga menunjukkan dunia lain yang perlahan membuat Lyana merasa, mungkin, hidupnya yang serba tertata itu terlalu sempit.
Di bawah kolong jembatan yang kotor dan berdebu ini, dua dunia yang bertolak belakang itu akhirnya menemukan titik tabrakannya. Dan Lyana sadar, ia tidak bisa lagi mundur.