Sejak SMA, Amelia Hartono diam-diam mencintai Evan Cristian. Ketika takdir mempertemukan mereka kembali setelah lulus kuliah, Amelia mengira Tuhan akhirnya mengabulkan cintanya. Sebagai pewaris tunggal keluarga Hartono, Amelia yang polos dan kesepian menyerahkan seluruh kepercayaan kepada pria yang dicintainya.
Namun, cinta itu ternyata hanyalah jebakan.
Satu per satu aset perusahaan berpindah tangan. Pernikahan yang selama ini diyakininya sah ternyata palsu. Bahkan, bayi yang dikandung dan dilahirkannya dengan taruhan nyawa ternyata bukan darah dagingnya. Amelia hanyalah seorang ibu pengganti yang ditipu.
Di balik semua itu berdiri Evan Cristian dan istri sahnya, Carolin Baskara, model papan atas sekaligus putri keluarga konglomerat Baskara. Namun, saat semuanya hancur, Elang Anderson teman lamanya muncul kembali, pria yang diam-diam pernah jatuh cinta padanya kini membantunya.
"Kau boleh menangis hari ini, Amelia. Tapi besok, aku akan memastikan mereka yang menangis di hadapanmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Siang itu, suasana rumah terasa jauh berbeda.
Sejak pagi, Evan beberapa kali terlihat menghampiri Laras dengan alasan melihat Aurora atau sekadar menanyakan apakah wanita itu membutuhkan sesuatu. Perhatian yang berlebihan itu tentu tidak luput dari pandangan para pelayan.
Di dapur, beberapa pelayan mulai berbisik pelan.
"Menurutmu, hubungan Tuan sama Nona Laras biasa saja?"
"Aku juga merasa aneh. Tuan sekarang sering sekali mencari Nona Laras."
"Jangan-jangan..."
Belum sempat mereka melanjutkan dugaan masing-masing, suara langkah kaki menghentikan percakapan itu.
Evan berdiri di ambang pintu, tatapannya dingin.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?"
Seluruh pelayan langsung menundukkan kepala.
"Maaf, Tuan..."
"Kami hanya..."
"Cukup!" Suara Evan terdengar tegas.
"Aku tidak suka ada orang yang membicarakan urusan pribadiku. Mulai sekarang, fokus saja pada pekerjaan kalian. Dan satu lagi."
Evan menatap mereka satu per satu.
"Hargai setiap keputusan yang kuambil. Kalau ada yang tidak suka silakan pergi dari rumah ini."
Ruangan langsung sunyi. Tak seorang pun berani membalas.
"Maaf, Tuan."
Evan mengangguk singkat, lalu meninggalkan dapur.
Di kamar Aurora.
Laras sedang duduk di sofa sambil memangku bayi mungil itu. Aurora tertawa kecil ketika Laras menggoyangkan boneka kelinci di depan wajahnya.
"Lucunya anak Ibu..." Laras segera mengoreksi ucapannya.
"Eh ... maksudku anak Mbak."
Ia tersenyum tipis, lalu mencium lembut pipi Aurora. Tak lama kemudian terdengar ketukan di pintu.
"Laras."
"Masuk saja, Tuan."
Pintu terbuka.
Evan masuk dengan senyum yang sudah beberapa hari ini tak pernah lepas dari wajahnya. Sedangkan Laras tetap bersikap biasa.
"Tuan mencari saya?"
Evan mengangguk. "Ada yang ingin kutanyakan."
"Apa itu?"
Evan duduk di kursi yang berada tepat di hadapan Laras.
"Kalau nanti kita menikah. Kamu ingin mahar apa?"
Laras tampak terkejut. "Tuan ... Saya tidak menginginkan apa pun. Saya tidak pernah memikirkan soal itu."
Evan tersenyum. "Tidak mungkin. Setiap wanita pasti punya keinginan. Coba katakan."
Laras menggeleng pelan. "Kalau memang Tuan ingin memberi sesuatu ... Saya hanya punya satu permintaan."
"Apa?"
"Saya ingin tetap menjadi ibu pengasuh Aurora."
Evan mengernyit. "Hanya itu?"
"Iya."
"Saya ingin selalu berada di dekat Aurora. Saya sangat menyayangi bayi ini."
Evan tersenyum kecil, lalu menggelengkan kepala.
"Kenapa harus menjadi ibu pengasuh?"
Laras menatapnya bingung. "Maksud Tuan?"
Evan berkata dengan penuh keyakinan,
"Nanti setelah kita menikah ... Aku akan mengurus semua dokumen yang diperlukan. Kamu akan menjadi satu-satunya ibu Aurora. Tidak perlu lagi menjadi pengasuh. Kita akan membesarkannya bersama."
Jantung Laras berdegup keras. Namun, wajahnya tetap tenang.
"Tuan ... itu terlalu berlebihan. Saya tidak membutuhkan semua itu. Saya hanya ingin berada di sisi Aurora."
Evan tersenyum lembut. "Lalu soal mahar ... Aku sudah memikirkannya. Aku akan memberikan rumah ini kepadamu."
Laras menatap Evan beberapa detik. Rumah ini, rumah yang dulu adalah miliknya. Rumah yang ikut dirampas bersamaan dengan perusahaan, kehidupan, dan putrinya.
Di balik senyum tenangnya, hatinya dipenuhi rasa getir.
'Rumah ini memang milikku sejak awal. Sudah seharusnya kembali kepadaku. Kamu mungkin sudah lupa. Bagaimana kejamnya kamu menghancurkan hidup Amelia. Mengambil perusahaan, memalsukan pernikahan, bahkan merampas bayi yang ku lahirkan. Tapi aku ... tidak pernah melupakan semuanya.'
Lamunan Laras buyar saat mendengar tawa kecil Evan. Pria itu kini sedang menggelitik telapak kaki Aurora hingga bayi mungil itu terkikik geli.
Pemandangan itu tampak hangat. Seolah mereka adalah keluarga yang bahagia. Namun, hanya Laras yang tahu. Di balik tatapannya yang lembut dan senyumnya yang menenangkan, tersimpan kebencian yang begitu dalam. Kebencian yang selama ini ia sembunyikan dengan sangat sempurna.
Dan sebentar lagi, Evan akan merasakan bagaimana rasanya kehilangan semua yang pernah ia rebut dari seorang wanita bernama Amelia.
Di sisi lain.
Kediaman keluarga Baskara. Sebuah map berwarna cokelat dibanting keras ke atas meja. Carolin berdiri dengan napas memburu. Wajahnya memerah dipenuhi amarah, sementara kedua tangannya mengepal erat.
"Papa lihat ini!" Suara Carolin menggema memenuhi ruang keluarga.
Tuan Baskara yang sedang membaca koran mengangkat kepalanya perlahan.
"Ada apa lagi?"
Carolin menyodorkan beberapa lembar dokumen.
"Mas Evan ... Dia benar-benar mengajukan gugatan cerai! Dia sudah mengurus semua berkasnya!"
Tatapan Tuan Baskara langsung berubah tajam. Ia membaca beberapa lembar dokumen itu dengan saksama. Evan telah memulai proses perceraian secara resmi.
"Kurang ajar..." Gumamnya pelan.
Carolin menggigit bibirnya hingga hampir berdarah.
"Papa tahu apa yang paling membuatku marah? Dia ingin menikahi wanita itu! Pengasuh itu! Dia bahkan tidak menunggu proses perceraian selesai."
Air mata kemarahan mulai mengalir di pipi Carolin.
"Apa kurangnya aku? Aku yang membuat dia dikenal. Aku yang memperkenalkannya kepada keluarga Baskara. Tapi sekarang ... dia malah membuangku demi wanita kampung itu!"
Tuan Baskara meletakkan dokumen di atas meja. Wajahnya tampak dingin.
"Tenangkan dirimu."
"Bagaimana aku bisa tenang, Pa? Dia mempermalukanku! Kalau berita ini sampai keluar ... karierku juga akan ikut hancur!" Carolin mengusap air matanya dengan kasar.
Sorot matanya kini berubah dipenuhi kebencian.
"Aku tidak akan tinggal diam. Aku akan menghancurkan Evan. Dan wanita bernama Laras itu ... akan kubuat menyesal karena sudah berani merebut suamiku."
Tuan Baskara berdiri, lalu menepuk pelan bahu putrinya.
"Dengar baik-baik. Kalau Evan memilih melawan keluarga Baskara ... maka dia harus siap menanggung akibatnya."
Carolin mengangguk pelan. Namun, senyum dingin mulai terukir di sudut bibirnya.
"Papa ... kali ini aku tidak hanya ingin bercerai. Aku ingin dia kehilangan semuanya. Perusahaan, harta, nama baik. Bahkan, wanita yang sekarang dia bela mati-matian. Aku akan menghancurkan mereka sampai tidak bisa bangkit lagi."
Tanpa disadari Carolin. Di saat ia sedang menyusun rencana untuk menjatuhkan Evan. Ada seseorang yang telah lebih dulu mengambil kendali atas perusahaan yang menjadi sumber kekuatan pria itu.
aku ambil kuaci dulu Thor
mau liat keributan mereka.
panik ga,panik donk ah🤣
kalian bersekongkol untuk menipu dan merampok Amelia
habisi jangan bersisa
biar mereka merasakan neraka dunia yg dulu mereka ciptakan buat dirimu
memainkan peran begitu epic
sampai semua orang tidak ada yg Sadar 👍
Makin seru ajh nih,,
kasih tau Ama dunia ini orang jadi ibu palsu
pencitraan aja
tapi emang.. jadi keinget dulu ada artis China yg nyari ibu pengganti buat ngelahirin ank ank nya karena dia ga mau badannya berubah
hadeeeh🫣🥹🥹.
ya..pas udah lahir,ga ada sama sekali ikatan batin nya sama anknya
akhirnya ga Deket...dan kyk orang asing