Keputusan Udin menerima perintah mutasi ke gudang cabang malah menyeretnya pada kasus dan fakta masa lalu.
.........
“Kecelakaan kerja lagi,” bisik buruh di sebelahnya. “Sudah yang ketiga. Katanya... ditagih hantu kepala pabrik.”
Udin kaku. Nama Bejo Santoso, korban terbaru, pernah ia lihat semalam. Di buku log lembur Bapak, tujuh belas tahun lalu. Tepat di bawah nama Budi Hartono. Ayahnya sendiri.
..........
Satu koper tua, satu daftar nama, satu pabrik yang gak pernah bener-bener mati.
Mampukah ia membongkar busuknya lantai produksi? Atau dia bakal jadi nama keempat di daftar korban?
'UDIN JAGOAN BAPAK'
So, kisah Udin hanya fiktif karangan Author ya. Jika ada kesamaan nama, lokasi, dan situasi, itu cuma kebetulan yang kebetulan banget. Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEJAK MEMBINGUNGKAN
Siang menjelang sore, udara Jakarta lebih sesak dari biasanya. Sari dan Pak Kardi duduk di ruang resepsionis lantai 15. Wajah keduanya letih setelah perjalanan dari Tulungagung.
Di depan mereka, staf HRD bernama Mita membuka berkas di layar komputernya. "Maaf, Bapak Ibu mencari siapa?" tanya Mita sopan.
"Coki," jawab Sari. Ia menyerahkan kartu identitas yang mereka temukan. "Staf Pengendali Mutu. Kami perlu bertemu dengannya.”
Mita mengetik nama Coki dengan alis berkerut.
Beberapa menit kemudian ia menutup laptopnya lagi. "Nama Coki memang pernah tercatat di divisi Pengendali Mutu."
"Berarti masih kerja di sini?" potong Sari tak sabar.
Mita menggeleng. "Sudah tidak, Mbak. Coki termasuk dalam daftar karyawan yang di-PHK beberapa hari lalu."
"Di… PHK?" ulang Pak Kardi.
"Betul, Pak.
Sari menatap kartu ditangannya, ia belum menyerah. "Mbak, maaf," katanya cepat. "Boleh saya minta alamat terakhir Coki yang terdaftar di data perusahaan?"
Mita tersenyum simpul, langsung menggeleng. "Maaf, itu tidak bisa," jawabnya tegas.
"Kenapa? Ini penting sekali, Mbak.” desak Sari, ia mengatupkan kedua tangannya di depan wajah, sebagai simbol permohonan.
Pak Kardi ikut maju selangkah. "Mbak, kami bukan mau bikin masalah. Kami hanya perlu bicara dengannya."
Mita menghela napas, senyum ramah tetap terpasang di wajahnya. "Saya paham, Pak. Tapi perusahaan punya kebijakan. Data alamat, nomor telepon, dan informasi pribadi lain milik karyawan, atau meskipun sudah mantan karyawan, tetap masuk kategori perlindungan hak privasi."
"Jadi tidak bisa sama sekali?" tanya Sari, nadanya mulai putus asa.
"Benar, Mbak. Kecuali ada surat permintaan resmi dari kepolisian atau perintah dari atasan," kata Mita sambil menunjuk poster ‘Kebijakan Privasi Data Karyawan’ di dinding. "Saya bisa kena sanksi kalau melanggar."
Sari terdiam menunduk lemas.
Perlahan Pak Kardi menarik lengan Sari. "Sudah, Mbak. Kita tidak akan dapat apa-apa di sini."
Mereka berdua akhirnya keluar dari gedung PT Maju Mundur dengan tangan kosong dan langkah gontai.
Sari berhenti tepat di depan gerbang. Ia menatap kartu itu sekali lagi. "Perlindungan privasi... untuk orang yang semalam hampir membunuh Pak Kardi?" Ia mendengus kesal.
Pak Kardi menatap Sari, lalu menghela napas panjang. “Saya rasa masih ada jalan. Kita kembali pada Udin saja,” ucapnya.
Sari mengernyit. "Ke rumah sakit?"
"Benar," kata Pak Kardi. "Mereka kan sama-sama bekerja di kantor pusat, Mbak. Pasti Udin mengenal Coki."
"Tapi Pak..." Sari ragu. "Dia baru saja kehilangan Bapaknya. Masa kita..."
"Ya, saya tahu dia sedang berduka," potong Pak Kardi. Suaranya melembut, tapi tegas. "Hati saya juga berat, Mbak. Tapi kita tak punya pilihan lain."
Ia menatap lurus ke mata Sari. "Saya merasa semua ini berhubungan. Coki, Gudang C, Darman, bahkan Pak Anto yang selalu muncul tepat waktu. Kita harus membongkar semua kejahatan ini!” ujar Pak Kardi penuh semangat.
Sari terdiam, lalu mengangguk pelan. "Baik, Pak. Kita kembali ke rumah sakit Tulungagung.”
Mereka berdua berjalan cepat meninggalkan gedung PT Maju Mundur. Jejak Coki buntu di kantor. Tapi mungkin, jawabannya menunggu di ruang duka Udin.
........
Udara pagi berikutnya terasa berat oleh bau formalin dan asap knalpot. Sebuah ambulans hitam sudah standby di depan IGD. Petugas menutup rapat pintu belakang setelah jenasah Pak Budi masuk ke dalam peti. Proses otopsi selesai.
Udin berdiri di samping ambulans. Matanya bengkak, wajahnya kosong. Di tangannya ada map coklat berisi surat kematian dan berita acara otopsi. Ia bersiap berangkat ke Jakarta untuk memakamkan Bapaknya di kampung halaman.
Tepat saat itu, sebuah mobil tua berhenti mendadak. Sari dan Pak Kardi turun terburu-buru.
Udin menoleh dengan tatapan lelah. "Mbak Sari... Pak Kardi."
Sari berhenti dua langkah di depan Udin. Rasa bersalahnya kembali menyeruak. "Udin... aku..."
Pak Kardi cepat maju selangkah, memotong suasana canggung. Ia menunduk sedikit. "Mas Udin. Turut berduka cita. Yang tabah, ya Mas." pak Kardi menepuk pundak Udin.
Udin hanya mengangguk pelan dengan senyum tipis sebagai jawaban.
"Kita berangkat Mas?" seru sopir ambulan yang sudah siap di balik kemudi.
Udin mendongak, balas menatap sang sopir ambulan. "Tunggu sebentar Mas!"
Pak Kardi melirik ke ambulans, lalu mendekat ke sari. "Jangan beritahu Udin dulu kalau kita habis dari Jakarta," bisiknya cepat saat Udin sedang teralihkan pada sopir ambulan.
Sari menatap Pak Kardi, bingung, tapi segera mengangguk kecil, mengerti.
Lalu Pak Kardi kembali menatap Udin dengan wajah iba. "Mas, perjalanan ke Jakarta jauh. Sendirian pasti terasa berat. Biar saya ikut ya, Mas?"
Udin terdiam. Ia menatap Pak Kardi lama, seperti menimbang. Hingga akhirnya ia mengangguk pelan. "Silakan, Pak. Terima kasih."
"Terima kasih, Mas," jawab Pak Kardi tulus. Ia langsung membuka pintu depan ambulans dan duduk di samping sopir.
"Aku juga ikut," lirih Sari menekan perasaan tak enaknya. Sari langsung masuk ke bangku tengah, di belakang Udin. Pintu ambulans ditutup dan mesin pun dinyalakan.
..........
Sementara itu, di jalur lain, Anto bersandar di kursi penumpang. Kacamata hitamnya ia copot, tapi ekspresi wajahnya lebih dingin dari AC mobil mewahnya.
Anto menghela napas setelah lama berpikir, kemudian merogoh ponsel dari saku jas, menekan satu nama, menempelkan ponsel ke telinga.
"Siapkan persidangan di Jakarta," perintahnya, tanpa basa-basi setelah nada tersambung terdengar. "Sangat merepotkan jika aku harus bolak-balik Jakarta-Tulungagung hanya untuk hal sepele seperti itu!" imbuhnya tanpa memberi kesempatan lawan bicaranya mengucap salam.
Suara di seberang terdengar gugup. "Tapi TKP ada di Tulungagung, Pak. Secara hukum, kewenangannya..."
"Bodo amat, emang gue pikirin!" bentak Anto. Ia mengetuk-ngetuk kaca mobil dengan jari. "Pokoknya bagaimanapun caranya, pindahkan kasus ke pengadilan Jakarta!"
"Baik, Pak. Saya coba atur dengan pihak kejaksaan dan..."
"Tidak ada coba-coba," potong Anto. "Gunakan orang dalam kita. Bilang ini demi efisiensi, demi keamanan saksi, atau demi apapun! Yang penting sidangnya di Jakarta!" tegasnya lalu menutup telepon dengan kasar.
Mobil melaju kencang, menyalip ambulans. Anto melirik tajam, ia tahu pasti di dalam ambulans itu ada Udin, Sari, dan Pak Kardi.
Anto tersenyum menyeringai, menyembunyikan rencana lain yang lebih gelap. "Jauh dari TKP... jauh dari saksi... jauh dari bukti. Di Jakarta, aku yang pegang kendali," gumamnya merasa menang. "Aktingku cukup sempurna untuk membungkam orang-orang bodoh itu!"
Dua mobil berbeda melaju di jalur yang sama, menuju ke tujuan yang sama, kota jakarta. Tapi isinya berbeda. Satu mobil mewah diisi wajah keji seorang penguasa, sedangkan mobil lainnya berisi wajah-wajah pasrah penuh harapan.
Udin duduk di samping jenazah ayahnya, dengan tatapan kosong, dan satu tangan di dalam saku jaket. Jaket yang sama yang ia pakai sejak malam lalu. Udin menggenggam erat flashdisk di saku, ia kembali teringat ucapan terakhir pak Budi. 'Kejarlah kebenaran....'
Udin mendengus lemah, lalu menutup resleting saku jaketnya. Sebuah tekad mulai tumbuh di benaknya. "Demi ibu... demi Dina... dan untuk Bapak?" lirihnya yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri.
...****************...
Bersambung