Annisa Marwa harus pergi dari kehidupan keluarganya setelah dia tahu bahwa dua orang yang dia sayangi dan dia percaya menjalin hubungan dibelakangnya.
Disakiti oleh kedua orangtuanya, Dikecewakan oleh Kakak dan Tunangannya tak membuat Marwa mundur atas kepergian itu. Tak ada air mata tangisan yang mengiringi langkahnya dalam meninggalkan kota itu.
Hingga pertemuannya dengan Rayyan Al Ghafa Pangestu merubah hidupnya. Marwa menjadi wanita yang lebih tangguh dan kuat dalam menghadapi apapun.
••••••••
"Aku Marwa, Sesuai dengan namaku.. Aku akan jadi wanita tangguh dan kuat tanpa takut pada siapapun.. " Annisa Marwa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Barang Yang Sama + Visual
"Loh? Itu kan??
Mata Nina menyipit memastikan bahwa yang dia lihat saat itu benar-benar bukan orang salah. Keduanya tampak keluar dari toko tas, Berjalan beriringan dengan posisi yang cukup dekat.
Bahkan si pria dengan senang hati membukakan pintu untuk si wanitanya.
"Itukan tunangannya Marwa sama kakaknya? Ngapain mereka berdua?
Nina menggelengkan kepalanya, Dia tidak salah lihat. Yang dia lihat benar-benar adalah Raski dan Tania, Kakak sepupu Marwa. Ngapain mereka keluar dari toko tas? Maba barengan lagi.
Bukan hanya barengan tapi satu mobil.
Tiiinn...
Tiiin....
"Nin.. Ayo jalan, Lampunya udah ijo.." Nina terperanjat kaget, Dan benar saja lampu lalu lintas sudah menunjukkan lampu hijau dimana kendaraan mulai melaju.
Nina pun segera melajukan kendaraan roda duanya menuju cafe tempat Marwa bekerja selama dua tahun ini.
Ya, Marwa memang mulai bekerja dicafe sebagai pelayan sudah dua tahun. Sayang gadis itu bekerja hanya dengan paruh waktu saja. Gaji yang dia dapat sebagian di tabung dan sebagian dia pegang sendiri. Karena Pamannya tidak mau memberikan uang sakunya meski pria itu punya penghasilan dari toko bangunan miliknya. Padahal perolehan tiap harinya lumayan cukup besar akan tetapi Marwa tetap saja merasa kekurangan. Dia jarang diperhatikan mungkin karena memang menyusahkan.
Tak terasa motor matic milik Nina telah sampai dicafe tempat Marwa mencari uang selama ini. Gadis itu turun dengan sangat hati-hati sekali..
"Nin, Ini helm nya.. Makasih ya, Udah antar aku. Nanti kalau aku gajian aku beliin bensin deh.." Nina tersenyum seraya mengusap lengan sahabatnya itu.
"Gak usah Wa.. Aku gak keberatan kok nganterin kamu. Gak minta imbalan apa-apa juga. Gaji kamu, Kamu tabung aja.. Kamu kumpulin buat pengobatan kaki kamu nanti... " Marwa mengangguk. Tidak apa-apa Paman dan Bibinya tidak sayang padanya yang penting dia masih punya sahabat yang baik yang mengerti dirinya dalam situasi dan kondisi apapun.
"Ya udah, Aku masuk dulu ya.." Marwa hendak berbalik badan namun tangannya di tahan oleh Nina.
"Wawa..
"Ada apalagi Nin..?" Nina terdiam seolah bingung ingin menyampaikan soal dia yang melihat Raski atau tidak. Tapi jika tidak disampaikan, Nina tidak bisa menyimpan semua ini terlalu lama.
"Nin..
"Hah iya..
"Kok kamu malah bengong sih? Ada apa?
"Eum.. Itu, Tadi aku kayak lihat tunangan kamu bareng Kak Tania.. " Dahi Marwa mengernyit..
"Kamu lihat Kak Raski sama Kak Tania jalan bareng?" Nina mengangguk. Marwa tersenyum..
"Ya, Ampun Nin.. Kak Raski dan Kak Tania itu kerja satu kantor. Mereka juga udah biasa keluar bareng di suruh bos gitu.. Mereka kan emang temenan dari lama.." Nina tersenyum getir seolah sangsi dengan apa yang dijelaskan oleh Marwa. Masak temenan kayak gitu, Pikir Nina..
"Oh, Gitu ya.. Enggak Wa.. Aku tuh cuma takut aja kalau mereka...
"Udah gapapa, Aku tahu apa yang kamu rasain. Pasti kamu takut aku disakiti kan? " Nina mengangguk. Dia memang sekhawatir itu pada sahabatnya ini. Marwa adalah gadis yang baik, Dia tidak pantas untuk sakiti.
Sejak kecil Marwa sudah banyak menderita, Nina hanya tidak ingin sahabatnya tersakiti lagi dan lagi. Meski katanya Raski adalah pria yang baik, Tetap saja Nina merasa kalau ada sesuatu yang disembunyikan yang Marwa sendiri tidak tahu.
"Aku percaya kok sama mereka.. Aku yakin kalau Kak Raski itu gak mungkin macam-macam. Kak Tania juga baik banget ke aku.. Dia yang mak comblangin sama Kak Raski, Masa iya dia mau ngambil Kak Raski dari aku.. Gak mungkin kan?" Ucap Marwa dengan keyakinannya. Dia memang sangat percaya sekali dengan dua orang itu..
"Ya udah kalau gitu Wa.. Aku pamit pulang dulu ya?
"Ya udah, Kamu hati-hati..
"Iya..
Marwa pun berjalan dengan pelan masuk kedalam cafe. Nina menghela nafas panjang lalu kembali melajukan kendaraan roda duanya menuju ke arah jalan pulang.
Sementara itu, Sepasang pria dan wanita yang baru saja dilihat oleh Nina kini masuk kedalam kendaraan roda empatnya.
Wanita itu terlihat sangat bahagia sekali setelah dibelikan tas oleh sang pujaan hati.
"Gimana? Kamu suka sama tas nya?" Wanita itu mengangguk.
"Suka banget.. Udah dari lama aku kepingin tas ini.. Eh, Akhirnya kesampaian juga. Makasih ya, Sayangku.." Wanita itu bergelayut manja dilengan pria tersebut.
Pria itu hanya tersenyum, Sebelah tangannya terangkat mengusap rambut wanitanya.
"Asalkan kamu senang, Aku juga ikut senang.." Kata Pria itu. Wanita itu semakin bersikap manja bahkan dengan berani wanita tersebut mencium pipi pria tadi.
"Aku sayang kamu...
...****************...
Nina pulang kerumahnya yang langsung disambut oleh sang Bunda. Nina pulang tidak seperti biasanya, Gadis itu terlihat lesu. Entahlah, Ikatannya dengan Marwa sudah seperti sodara kandung sendiri.
"Huuuffft .. Capek.." Nina langsung duduk bersandar diatas sofa ruang tamu rumahnya. Sang Bunda tersenyum melihat putrinya yang sepertinya tengah kecapean.
"Kamu kenapa? Kok tumben ngeluh..
Nina menghela nafas panjang. Gadis itu duduk menghadap sang bunda.
"Abis nganterin Wawa?" Nina mengangguk..
"Iya Bun.. Kasihan dia..
"Iya, Kalau bukan kamu siapa lagi yang bisa dia mintai pertolongan.. " Kata Bunda Nina yang mengerti dengan kondisi Marwa. Mau minta tolong pada Tania, Marwa merasa tidak enak dengan Paman dan Bibinya.
"Bun..
"Kenapa?
"Tadi pas dilampu merah, Aku gak sengaja ngeliat Tunangan Wawa bareng sama Kak Tania Bun.. Tapi kayaknya cuma aku aja yang tahu, Bun.. Wawa gak lihat.." Nina mencoba menceritakan semua yang dia lihat. Nina juga mengatakan pada Bundanya kalau dia punya rasa curiga pada Kakak dan Tunangan Marwa itu.
"Ya udah, Kalau kamu memang punya rasa curiga.. Kamu cukup diem aja. Kamu gak perlu ikut campur.. Takutnya kalau kamu ikut campur, Justru malah menghancurkan persahabatan kalian. Kita cuma bisa berdoa saja yang terbaik...
"Ya, Bun...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ah, Akhirnya.. Selesai juga.." Marwa menarik nafas panjang. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.30, Kini dia sudah siap untuk pulang.
Diluar sana, Seorang ojol telah menunggunya dan siap mengantarkan Marwa untuk pulang.
"Sudah Neng?
"Udah bang, Ayo..." Ojol pun mulai melaju. Seperti inilah setiap hari yang dilakukan oleh Marwa. Sepulang dari kuliah, Marwa langsung mampir untuk bekerja. Kalau dia tidak bekerja, Memangnya dia mau dapat uang dari mana.
Tania memang baik, Namun Marwa tentu saja merasa tidak enak dengan Paman dan Bibinya. Yang ada dia akan disindir terus, Dihina terus, Seperti itu seterusnya.
"Neng udah nyampe.." Marwa turun dengan hati-hati. Gadis itu memberikan sejumlah uang pada Bang Ojol kemudian masuk.
Begitu memasuki rumah, Disana sudah sepi. Mungkin semua penghuni yang ada disana sudah tidur. Marwa berjalan ke arah dapur dengan menyeret satu kakinya. Gadis itu merasa haus dan hendak minum..
"Kakak.." Tania menoleh, Wanita itu tersenyum melihat sang adik yang baru saja pulang.
"Baru pulang dek.." Marwa mengangguk.
"Iya, Kak.. Ini aku mau minum, Haus.." Marwa melanjutkan langkahnya membuka lemari es dan meraih air dingin dari dalam sana.
"Kakak belum tidur..
"Lagi pengen makan Mie.." Tania duduk dikursi dan siap menyantap mie instan berkuah itu lengkap dengan telurnya.
"Owh.. Yaudah, Kalau gitu aku ke kamar dulu ya.."
"Iya.." Marwa hendak pergi, Namun langkahnya kembali berhenti ketika matanya tak sengaja melihat sesuatu melingkar dileher Kakak sepupunya itu.
"Kak..
"Iya..
"Kalung Kakak.. Kok agak mirip sama Kalung punyaku yang dikasih sama Kak Raski ya..
"Uhuk! Uhuk.."
"Kak.. Hati-hati.." Marwa meraih air putih membantu Tania meminumnya.
"Kakak gapapa?" Tania menggelengkan kepalanya dengan tingkah yang sedikit gelagapan.
"Kalung ini?" Tania menyentuh Kalung miliknya. Ia menatap Marwa dengan senyum yang dipaksakan.
"Ini, Aku beli di online..
"Beli di online?
"Ya.. Barang ini hanya imitasi.." Marwa masih terdiam, Matanya tak lepas menatap kalung yang melingkar dileher Kakak sepupunya itu. Dibilang imitasi, Marwa sedikit tidak percaya karena berlian yang menempel dikalung tersebut sangat berkilau.
Memang tidak mirip seratus persen, Namun entah kenapa Marwa merasa ada kemiripan.
"Ya sudah kak.. Kalau begitu aku masuk kamar dulu ya.." Tania mengangguk dan kemudian melanjutkan memakan mie nya.
"Sekarang Kalung.. Waktu itu tas.. Jam tangan juga.. Tidak mungkin semua ini hanya kebetulan kan?" Batin Marwa yang merasa barang milik Tania mirip dengan beberapa barang miliknya. Dan semua itu tidak mungkin hanya kebetulan bukan?
"Heh!
Marwa cukup terkejut dengan kemunculan Bibi nya secara tiba-tiba. Mata wanita itu melotot kearah Marwa yang baru saja pulang dari bekerja.
"Baru pulang kamu? Udah jam berapa ini??"
"Maaf Bi.. Akhir-akhir ini cafe memang selalu ramai. Makanya aku pulang agak malem.." Jawab Marwa, Apa yang dia katakan memang benar, Cafe akhir-akhir ini memang ramai maka dari itu dia pulang agak malam.
"Alasan aja kamu.. Bilang aja kalau kamu itu malas bangun pagi.. Ujungnya juga aku yang masak dan ngerjain semuanya.. " Ucap Dartik seperti biasanya. Ucapan pria itu memang selalu pedas sekali. Tak memikirkan perasaan Marwa sama sekali..
"Udah masuk sana! Kamu itu bikin muak aja.."
Marwa menghela nafas panjang, Kapan semua ini akan berakhir. Dia sudah lelah dimarahi terus-terusan..
•
•
•
TBC
Visual.....
👇 Rayyan Al Ghafa Pangestu 👇
👇 Annisa Marwa 👇
👇 Araski Satria 👇
👇 Tania Alinda 👇
👇 Fanina Aprilia 👇
Ini adalah visual versi Othor ya.. Kalau kalian kurang sreg atau kurang mantap bisa bayangkan sendiri-sendiri saja..🍁
Dina mana.. dina manaaa..
biar makin seru nechdrama ny 😃😃😃
gmn tuuh ,, gmn tuuuh ,,
pgen jungkir balik rasa ny aq ,, 🤸🤸🤸🤸🤸🤸🤸
aq rasa udh ijooo mukany si tania ,,
udh pulang aj ke Susan ,, dy juga istri km koq raskii ,,