Cao Shun seorang penipu uang yang terjebak dalam konspirasi yang di buat oleh warga desa. Mengakibatkan nyawanya terancam akan bahaya.
Lantas apa yang akan Cao Shan lakukan? Apakah dia akan mengikuti arus, ataukah akan melarikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Grusha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa lagi sekarang!
DaGou dan Lin ZhiZhi dengan cepat mendekat ke arah Cao Shun setelah mendengar Jendral bajak laut berbicara dengan nada keras dan tidak puas. Mereka berdua tampaknya ingin mendukung Cao Shun atau ingin tahu bagaimana Cao Shun akan menanggapi tuduhan dan kemarahan Jendral bajak laut.
DaGou menggeram pelan, menunjukkan kesetiaannya kepada Cao Shun. Lin ZhiZhi menatap Jendral bajak laut dengan ekspresi yang agak waspada, lalu menoleh ke Cao Shun menunggu apa yang akan Cao Shun katakan.
"Kau tidak bisa menyalahkan Cao Shun sepenuhnya," Lin ZhiZhi berkata dengan suara yang tenang tapi tegas. "Kita semua ada di sini dan menghadapi bahaya bersama."
Cao Shun diam sejenak, memikirkan situasi yang sedang terjadi dan bagaimana dia harus menanggapi kemarahan Jendral bajak laut. Kemudian, dia teringat dengan buah cahaya yang dia bawa sebelumnya dari dalam celah gua.
Cao Shun mengingat bahwa buah cahaya yang dia bawa itu mengandung energi yang bisa digunakan untuk memulihkan tenaga. Ini bisa sangat berguna setelah mereka melalui perjuangan keras di dalam gua melawan monster ular dan menghadapi situasi yang menegangkan.
"Buah ini bisa membantu kita memulihkan tenaga," Cao Shun berkata, memandang buah cahaya dengan harapan. "Mungkin ini bisa menjadi solusi untuk meningkatkan kekuatan kita setelah melalui perjuangan berat."
Kepala desa dan DaGou memperhatikan Cao Shun dengan rasa ingin tahu lebih lanjut tentang buah cahaya itu. Jendral bajak laut masih tampak tidak puas, tapi dia juga memperhatikan buah itu dengan minat.
***
Para prajurit bajak laut mulai mengeluh dan tidak terima ketika mereka tahu bahwa Cao Shun dan Lin ZhiZhi memiliki buah cahaya yang bisa memulihkan tenaga, tapi mereka tidak mendapatkan bagian. "Kenapa kami tidak dapat bagian?" salah satu prajurit bajak laut bertanya dengan nada keras.
Mereka merasa bahwa sebagai bagian dari kelompok bajak laut, mereka juga berhak mendapatkan manfaat dari buah cahaya itu. Jendral bajak laut memperhatikan reaksi prajuritnya dan tampaknya dia juga mempertimbangkan bagaimana distribusi buah itu harus dilakukan.
Cao Shun dan Lin ZhiZhi saling menatap, memikirkan bagaimana mereka harus menangani situasi ini. DaGou berdiri di dekat Cao Shun, seolah siap untuk mendukungnya.
Cao Shun berpikir dalam hati bahwa memberikan bagian buah cahaya kepada para bajak laut bisa berisiko. Dia khawatir bahwa jika bajak laut mendapatkan kekuatan tambahan dari buah itu, mereka bisa saja menggunakan kekuatan itu untuk melawan balik Cao Shun dan kelompoknya. Ini akan membuat situasi menjadi lebih berbahaya dan tidak menguntungkan bagi Cao Shun.
"Tidak bisa kasih mereka bagian," Cao Shun berpikir dalam hati. "Kalau mereka jadi lebih kuat, bisa jadi malah berbahaya buat kita."
Lin ZhiZhi memperhatikan ekspresi Cao Shun dan tampaknya dia memahami kekhawatiran Cao Shun. DaGou juga tetap waspada, memperhatikan reaksi para bajak laut.
Kepala desa yang ceroboh itu tidak memperhatikan lantai dengan baik saat mendekat ke arah Cao Shun. Saat dia menginjak bagian tertentu dari lantai, tiba-tiba mekanisme jebakan yang tersembunyi di lantai itu aktif. Suara keras terdengar dan tanah di sekitar mulai bergerak, menunjukkan bahwa jebakan itu dirancang untuk menjebak atau menghambat pergerakan.
Cao Shun, Lin ZhiZhi, dan DaGou langsung waspada melihat mekanisme jebakan aktif. Para bajak laut juga terkejut dan mundur ke belakang untuk menghindari bahaya dari jebakan itu.
"Jebakan!" Cao Shun berseru, memperhatikan situasi dengan cepat. "Kita harus keluar dari sini!"
Kepala desa tampaknya tidak menyadari bahaya jebakan sebelumnya dan sekarang dia terjebak dalam situasi yang tidak terduga.
Sebuah patung besar yang tampaknya telah tersembunyi di atas ruangan tiba-tiba terjatuh dan berdiri tegak di tengah-tengah area. Patung itu sangat besar dan memiliki penampilan yang menyeramkan. Yang paling mencolok adalah patung itu memiliki 6 tangan, dan masing-masing tangan memegang senjata yang berbeda-beda. Senjata-senjata itu tampak tajam dan mengancam, menambah kesan mengerikan dari patung tersebut.
Cao Shun, Lin ZhiZhi, DaGou, para bajak laut, dan kepala desa semua terkejut melihat patung besar itu berdiri di tengah-tengah mereka. Mereka tidak tahu apa yang patung itu akan lakukan atau apakah patung itu memiliki kekuatan supernatural.
Patung itu tidak bergerak, tapi kehadirannya saja sudah membuat suasana menjadi sangat tegang. Semua orang memperhatikan patung dengan waspada, tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Patung batu itu sangat besar, tingginya hampir menyentuh langit-langit ruangan. Wajah patung itu diukir dengan ekspresi yang keras dan mengancam, dengan mata yang tampak seperti menatap tajam ke segala arah. Patung itu memiliki tubuh yang kokoh dan kuat, dengan detail ukiran yang menunjukkan kekuatan dan kekuasaan.
Yang paling mencolok dari patung ini adalah ke-6 tangan yang memegang senjata berbeda. Tangan-tangan itu terentang ke berbagai arah, seolah patung itu siap untuk menyerang dari segala penjuru. Senjata-senjata yang dipegang termasuk pedang tajam, kapak besar, tombak panjang, gada berat, pisau belati, dan busur dengan panah siap tembak. Senjata-senjata itu semua tampak siap digunakan, menambah kesan mengerikan dari patung.
Patung batu itu diukir dengan detail yang rumit, menunjukkan keahlian tinggi dari pembuatnya. Batu patung itu sendiri tampak tua dan keras, dengan tekstur yang kasar namun mengesankan kekuatan yang tak terhancurkan.
Suasana di sekitar patung menjadi sangat tegang karena kehadirannya yang mengesankan dan menyeramkan. Semua orang di sekitar memperhatikan patung dengan hati-hati.
Semua orang memiliki reaksi yang serupa ketika melihat patung batu besar dengan 6 tangan yang memegang senjata itu. Mulut mereka terbuka lebar karena terkejut dan terkesan oleh penampilan patung yang sangat menyeramkan.
Dalam hati, mereka semua berkata, "Apa lagi sekarang?" Mereka tidak menyangka bahwa setelah melalui situasi sulit di gua dan menghadapi mekanisme jebakan, mereka harus menghadapi patung besar yang tampak siap untuk menyerang ini.
Mereka semua terdiam sejenak, memperhatikan patung dengan campuran rasa takut, waspada, dan bingung. Tidak ada yang tahu apa yang patung itu akan lakukan selanjutnya atau bagaimana mereka harus bereaksi terhadap kehadiran patung yang mengerikan ini.