NovelToon NovelToon
Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:4
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

Arya Pratama dikeluarkan dari sekolah. Nilai jelek, masa depan hancur, semua orang bilang dia tidak berguna. Tapi hari itu, dia menyadari sesuatu yang mengubah segalanya — bukan dia yang bodoh... seluruh dunia yang bodoh.

Apoteker tidak bisa hitung tambah-kurang. Profesor universitas menulis rumus yang salah selama ratusan tahun tanpa ada yang sadar. Juara catur dunia bisa dikalahkan dalam sepuluh langkah. Di dunia ini, pengetahuan SMA biasa adalah kekuatan tertinggi — dan Arya adalah satu-satunya orang yang memilikinya.

Dari siswa yang dibuang, dia naik menjadi legenda yang tidak pernah menunjukkan wajah aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7: Gadis yang Mencari Jenius

Kelas Inovasi tidak terdengar seperti kelas biasa sejak langkah pertama.

Pintu kayunya lebih bersih. Jendelanya besar. Di dinding tergantung papan prestasi, foto lomba, dan tulisan besar: BERPIKIR LEBIH TINGGI DARI BATAS.

Arya Pratama masuk lima menit sebelum bel. Percakapan di dalam kelas langsung turun setengah nada.

Tiga puluh pasang mata menilai dirinya.

Kemeja putihnya sudah disetrika Budi Pratama sampai rapi, tetapi sepatu lamanya tetap sepatu lama. Tasnya juga bukan tas baru. Di kelas yang hampir semua siswanya memakai jam mahal dan membawa laptop tipis, Arya tampak seperti catatan kaki yang salah masuk halaman.

Seorang anak laki-laki di barisan tengah menyeringai. Rambutnya dicat kuning terang, seragamnya dipakai agak berantakan, tetapi matanya hidup.

"Lu yang nilai seratus itu?" tanyanya tanpa basa-basi.

Beberapa siswa menahan napas. Di depan kelas belum ada guru, jadi bahasa mereka lebih bebas.

Arya menatapnya. "Arya."

"Rizky Hartono." Anak itu menunjuk dirinya dengan ibu jari. "Santai. Gue cuma penasaran. Katanya anak buangan dari SMA Budi Utama bisa bikin soal seleksi keliatan seperti PR SD."

Ada tawa kecil dari sudut kelas.

Arya duduk di bangku kosong dekat jendela. "Kalau penasaran, tanya soalnya. Jangan tanya gosipnya."

Senyum Rizky melebar. "Wah. Berani juga."

Sebelum Rizky membalas, pintu belakang terbuka pelan.

Seorang gadis masuk membawa buku catatan hitam. Rambutnya diikat sederhana. Tidak ada aksesori mencolok, tidak ada gerak yang dibuat manis. Tetapi begitu ia masuk, kelas seperti memberi ruang sendiri. Beberapa siswa menyapanya dengan suara lebih hati-hati.

"Pagi, Putri."

Gadis itu mengangguk singkat.

Putri Ayu Dewi.

Arya mengenali namanya dari daftar tempat duduk yang tertempel di papan. Ia duduk dua bangku di depannya, lalu membuka buku tanpa ikut bergosip.

Namun Arya tahu ia diperhatikan.

Bukan dengan tatapan terang-terangan seperti yang lain. Putri hanya melirik sekali dari pantulan kaca jendela. Singkat. Tenang. Tetapi mata itu tidak sekadar melihat seragam atau sepatu.

Mata itu seperti mencari retakan.

Bel berbunyi.

Pak Surya Dharma masuk, dan semua siswa langsung berdiri.

"Selamat pagi, Pak."

"Pagi. Duduk."

Pak Surya meletakkan map di meja guru. "Hari ini kita punya siswa baru. Arya Pratama. Mulai sekarang dia bagian dari Kelas Inovasi."

Seorang siswa perempuan mengangkat tangan. "Pak, benar Arya dapat nilai sempurna?"

"Benar."

Kelas langsung riuh.

Pak Surya mengetuk meja. "Diam. Nilai seleksi hanya tiket masuk. Di kelas ini, cara berpikir kalian akan dinilai. Rumor tidak ikut masuk nilai."

Rizky bersandar di kursi. "Kalau begitu tes langsung saja, Pak. Biar rumor mati cepat."

Beberapa siswa tertawa. Pak Surya menatap Rizky dengan tenang.

"Kamu selalu punya cara membuat kelas menjadi arena, Rizky."

"Supaya hidup, Pak."

"Baik." Pak Surya mengambil spidol. "Arya, maju sebentar."

Arya berdiri.

Kelas kembali sunyi.

Di papan, Pak Surya menulis soal sederhana: jika 3/5 dari sebuah angka adalah 18, berapa angka itu?

Untuk standar dunia Arya, itu soal satu langkah.

Untuk Kelas Inovasi, beberapa siswa langsung membuka buku catatan.

Pak Surya berkata, "Jangan dijawab dulu. Bapak ingin Arya menjelaskan bagaimana dia berpikir."

Arya memegang spidol. Ia bisa menyelesaikannya dengan persamaan. Ia bisa juga menjelaskan pakai gambar. Ia memilih cara paling mudah diterima.

Ia menggambar lima kotak sama besar, mengarsir tiga, lalu menulis 18 di bawah bagian yang diarsir.

"Kalau tiga bagian bernilai delapan belas, satu bagian bernilai enam. Maka lima bagian bernilai tiga puluh."

Tidak sampai tiga puluh detik.

Kelas diam.

Seorang siswa berbisik, "Kok bisa langsung dibagi tiga?"

Arya menoleh. "Karena tiga bagiannya sama besar."

Bisikan lain muncul.

"Oh... iya juga."

Rizky tertawa pelan. "Gila. Selama ini gue hafal rumusnya, nggak pernah kepikiran gambar begitu."

Pak Surya tidak tersenyum, tetapi matanya puas. "Duduk, Arya."

Arya kembali ke kursinya. Saat melewati bangku Putri, gadis itu tiba-tiba berkata pelan, cukup untuk didengar Arya saja.

"Kamu tidak menghitung. Kamu melihat struktur."

Langkah Arya berhenti sangat singkat.

Itu kalimat pertama hari ini yang tidak terdengar bodoh.

Ia menoleh. Putri tidak tersenyum. Matanya tetap tenang.

"Kamu juga melihatnya?" tanya Arya.

"Sebagian." Putri menutup buku catatannya. "Tapi kamu melihat terlalu cepat."

Rizky dari belakang ikut menyela. "Eh, kalian ngomong bahasa rahasia? Gue juga mau ikut pintar."

Putri menatap Rizky datar. "Mulai dari tidak tidur saat Pak Surya bicara."

Kelas tertawa. Rizky mengangkat kedua tangan. "Aduh, kena."

Suasana mencair, tetapi Arya justru lebih waspada. Rizky terlihat seperti anak nakal, namun responsnya cepat. Putri lebih berbahaya lagi. Di dunia yang sebagian besar orang tidak menyadari kesalahan dasar, gadis itu bisa menangkap cara berpikirnya hanya dari satu soal.

Pelajaran berlanjut. Arya mendengar, mencatat sedikit, dan lebih banyak mengamati. Kelas Inovasi memang lebih baik dari sekolah lamanya. Para siswa lebih cepat menangkap pola, guru lebih hati-hati, dan suasana kompetitif terasa jelas.

Tetapi batasnya tetap ada.

Batas yang bagi Arya terlalu rendah.

Saat istirahat, Putri tidak langsung keluar. Di meja sekitarnya, beberapa siswa mulai mendekati Arya dengan pura-pura santai.

"Arya, tadi cara gambar kotaknya bisa dipakai buat soal lain?"

"Bisa."

"Kalau empat per tujuh dari dua puluh delapan?"

"Enam belas."

Anak itu langsung menatap buku catatannya. "Belum dihitung sudah jawab?"

"Sudah dihitung. Di kepala."

Rizky tertawa. "Kalian pelan-pelan. Anak baru ini kalau ditanya terus nanti kita semua kelihatan seperti belum lulus SD."

Ada yang tersinggung, tetapi tidak ada yang berani membantah. Mereka semua sudah melihat papan tadi.

Putri memperhatikan dari dekat jendela. Ia tidak ikut bertanya. Justru karena itu Arya lebih sadar padanya. Siswa lain ingin tahu jawaban. Putri ingin tahu kenapa ia bisa menjawab.

Ketika kerumunan kecil itu bubar, Putri masih berdiri di dekat jendela, menatap halaman sekolah. Arya melewati bangkunya, tetapi gadis itu berkata tanpa menoleh.

"Aku pernah mencari orang sepertimu."

Arya berhenti. "Orang seperti apa?"

"Orang yang melihat dunia berbeda dari orang lain."

"Banyak orang merasa begitu."

"Tidak." Putri akhirnya menoleh. "Kebanyakan orang hanya ingin terlihat berbeda. Kamu justru mencoba terlihat biasa."

Rizky muncul membawa dua roti dari kantin. "Putri, kalau mau interogasi siswa baru, kasih makan dulu. Dia baru masuk sudah kelihatan seperti tersangka."

Putri mengabaikannya.

Arya menerima roti yang dilempar Rizky. "Terima kasih."

"Utang cerita," kata Rizky. "Gue mau tahu anak SMA Budi Utama bisa nyasar ke sini dengan nilai sempurna pakai ilmu hitam apa."

"Matematika."

"Lebih menakutkan."

Untuk pertama kalinya pagi itu, Arya tersenyum tipis.

Di meja depan, Putri membuka buku catatan hitamnya. Di halaman terakhir, ada tulisan kecil yang tidak dilihat siapa pun selain dirinya.

Cari tanda-tanda jenius sejati.

Di bawahnya, ia menambahkan satu nama.

Arya Pratama.

Lalu satu kalimat.

Matanya tidak sama dengan yang lain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!