Sebelum baca cerita ini, baca dulu cerita Om I Love You
Aisha Putri adalah gadis cantik bermata coklat. Putri dari pasangan dari Zevanya Putri dan Alan Putra Xaquille. Tumbuh menjadi gadis bar-bar penuh energik.
Dia tidak menyangka diusianya yang masih muda harus jatuh cinta dengan pria dewasa, pria yang pantas menjadi papanya.
Untuk mendapatkan pria tersebut dia rela menjebak Devan agar pria dewasa itu mau menikahinya. Bagaimana cara Aisha atau gadis manis yang akrab dipanggil Aish menaklukkan duda tampan bernama Devan.
Apakah benar kata pepatah, cinta tak memandang usia ?
Karya CF kembali hadir dengan kisah romantis, wkwkwk ...
Dilarang plagiat dan boomlike karya asli Author CF.
IG : Abiyu 686
FB : Abiyuatalaz
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahyaning fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 : Kecurigaan Aisha
Aisha terhenyak karena dia harus melawan sepuluh orang sekaligus. Dia tersenyum simpul, sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Sial, mereka keroyokan!" umpat Aisha dalam hati.
"Aish!" panggil seseorang.
Aisha menoleh ke sumber suara, dia terhenyak dengan sosok pria yang memanggilnya.
"Ars, tolong aku!" seru Aisha.
"Oke,"
Bugh ... Bugh ... Bugh
BRAKK ...
Perkelahian di Cafe tidak terelakkan lagi. Mereka saling tendang, saling adu jotos. Ada yang jatuh tersungkur, ada yang terkapar.
Suasana yang tadinya nyaman dan tenang, kini menjadi riuh karena adanya perkelahian.
Manager Cafe yang melihat kerusuhan itu, langsung menelfon polisi untuk mengamankan semua orang yang terlibat perkelahian.
Selang beberapa menit, mobil polisi datang. Arsy yang mendengar suara mobil polisi, langsung menarik tangan Aish untuk keluar dari kerumunan itu.
"Kau tidak mau di tangkap polisi kan?"
"Iya," Aisha mengangguk.
"Ikuti aku!"
Arsy melajukan motornya dengan kecepatan kencang, disusul motor Aisha yang melaju mengikuti dibelakangnya. Arsy memilih jalan pintas untuk menghindar dari polisi. Setelah sekiranya aman, mereka baru berhenti di bahu jalan.
"Kita istirahat di sana!" Ars menunjuk ke sebuah warung sate pinggir jalan.
"Oke," Aisha ikut berhenti.
_____
_____
"Kenapa kita berhenti di sini, Ars?"
"Gue capek. Gara-gara bantuin Lo, tenaga gue terkuras habis. Gue jadi lapar!" ujarnya.
Aisha terkekeh geli, "Lo tuh ya, bisa aja!"
"Bang, sate ayamnya satu porsi. Pake lontong. Pedes ya, Bang!" Arsy memesan satu porsi sate ayam kepada penjualnya.
"Oke,"
"Lo mau nggak?" tawar Arsy.
"Boleh, samain aja!"
"Satu porsi lagi, Bang. Sama ya!"
"Siap, Mas!" seru penjual sate ayam.
Manik Arsy beralih menatap Aisha. Mata Aisha sembab, sepertinya gadis cantik itu habis menangis. Entah apa yang membuatnya menangis.
Tidak menunggu lama, pesanan mereka datang. Satu pelayan sudah menghidangkannya di meja.
"Lo, Kenapa?" tanya Arsy disela makannya.
"Gue nggak kenapa-napa, Emang gue kenapa?"
"Biasanya Lo tuh ke cafe sama Clara. Kenapa datang sendiri? Cari masalah di cafe lagi!" sungutnya.
"Gue nggak cari masalah ya, Ars! Mereka yang cari masalah sama gue!" sewot Aisha.
"Terus kenapa jam segini Lo ada diluar?"
"Emang apa ada larangannya, cewek nggak boleh keluar rumah tengah malam!" sewot Aisha, "Ih, lama-lama Lo ngeselin!"
"Habisnya Lo nggak mau jujur sama gue," jawab Ars.
...°°°°®®®°°°°...
Singapore
Devan merebahkan tubuhnya di sofa. Hari ini dia baru datang, dan langsung menuju apartemennya.
Dev meraih ponsel yang ada di sakunya, kemudian, melihat foto yang ada di galeri ponsel, dia tersenyum sendiri.
Kamu sedang apa Aisha? Aku kangen banget.
Aku tahu kamu masih marah, tapi kalau aku sudah waktunya aku akan jujur sama kamu.
Devan segera menekan-nekan nomor telepon, dan mengirimkan pesan.
(Aisha, kamu lagi ngapain? Apakah kamu sudah tidur?)
Sebuah pesan singkat terkirim.
Devan meletakkan ponselnya di atas nakas. Kemudian dia beranjak dari tempat duduknya, langsung masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih.
Tak berselang lama, dia keluar. Devan kembali meraih ponselnya, tapi tidak ada notifikasi pesan masuk. Dia sedikit mengerutkan keningnya.
Apa Aisha masih marah denganku? Atau dia sudah tidur?
Hhhh, sebaiknya besok saja aku hubungi dia. Tubuhku sudah lelah sekali.
Devan meletakkan ponselnya, lalu mencoba memaksakan matanya untuk memejam.
____
____
Sekarang Aisha sudah berada di dalam rumah. Lebih tepatnya sudah berada di kamar. Tanpa melepaskan jaket, dia langsung rebahan di kasurnya yang empuk.
Ting ...
Suara pesan masuk dari ponselnya.
Aisha menoleh ke samping, dimana Aisha menaruh benda pipihnya. Ia bisa melihat dengan jelas notifikasi masuk pada layar ponselnya.
"Pesan dari Om Devan! Kok dia pake kode negara Singapura?" gumam Aisha.
"Apa dia sedang di Singapura? Sama siapa?" Aisha terlonjak kaget.
Aisha yakin sang suaminya sedang berada di Singapura. Tapi yang membuat dirinya merasa bodoh, Aisha bahkan tidak tahu kapan dan dengan siapa sang suami berangkat ke Singapura.
(Om dimana? Dengan siapa?)
Akhirnya Aisha mengirimkan sebuah notifikasi pesan ke ponsel suaminya. Namun lama menunggu, belum juga dapat balasan dari sang suami. Hingga akhirnya dia sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya. Ia pun terpejam dengan pulas.
...°°°°°®®®°°°°°...
Pagi harinya, Aisha bangun kesiangan. Dia membuka matanya saat jam menunjukkan pukul 8 siang.
Sadar jika memang suaminya tidak sedang disampingnya, dia beranjak dari tempat tidur, dan langsung meraih ponselnya di atas nakas.
Huft ...
"Om belum membaca pesan aku. Apa dia masih tidur?" gumam Aisha.
Aisha langsung turun ke lantai satu, ia ingin bertanya pada Pak Mun. Mungkin saja orang tua itu tau sesuatu.
"Selamat pagi, Pak Mun!" sapa Aisha melihat Pak Mun sedang menata sarapan di meja makan.
"Pagi, Nyonya!"
"Pak Mun, Apakah Pak Mun tau suamiku pergi ke Singapura?" tanya Aisha.
Pak Mun nampak mengernyit alisnya.
"Saya tidak tahu, Nyonya!" jawab Pak Mun, seketika raut muka Aisha berubah sedih.
"Kenapa, Nyonya?"
"Nggak apa-apa. Aku cuma penasaran saja, Pak Mun! Dia bilang mau keluar kota, tapi tadi malam dia mengirimkan pesan. Dia berada di luar negeri!"
"Luar negeri? Maksud, Nyonya?"
"Singapore,"
"Ehm, mungkin Tuan ada urusan di sana, Nyonya!"
"Iya, sih. Tapi dia nggak bilang apa-apa mengenai kepergiannya ke Singapura!"
"Tuan kan juga punya perusahaan di sana, Nyonya. Mungkin Perusahaan Tuan sedang ada masalah, Nyonya!"
"Yah, semoga memang seperti itu, Pak Mun," kata Aisha, "Terkadang saya heran. Ada sesuatu yang aneh dengan sikap suami saya.
"Sesuatu yang aneh?"
"Iya, Seperti ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan,"
"Anda yakin, Nyonya?"
"Pak Mun, ceritakan padaku, kenapa suamiku bercerai dengan mantan istrinya?"
"Apakah Tuan tidak pernah bercerita, Nyonya?"
"Tidak. Dia tidak cerita apapun. Yang aku tau, dia seorang duda!"
"Tuan Devan bercerai dengan Nyonya Sofia karena Nyonya Sofia sudah mengkhianati Tuan, Nyonya. Nyonya Sofia berselingkuh!" jelas Pak Mun.
"Apakah mereka sudah memiliki anak? Aku dengar mereka menikah cukup lama!"
"Tidak, Nyonya. Mereka menikah tidak dikaruniai anak,"
"Apa? Lalu siapa yang aku lihat di restoran waktu itu?"
"Maksud Nyonya?"
"Iya, kemarin aku bertemu dengan mereka di Restaurant. Dan diantara mereka ada seorang anak laki-laki. Aku rasa usianya sekitar 13-15 tahunan, Pak Mun!"
"Benarkah? Tapi selama aku bekerja di tempat ini, Tuan memang tidak memiliki anak dengan Nyonya Sofia, Nyonya!"
"Apa aku salah liat?" Pak Mun mengedikkan bahunya.
"Baiklah, Pak, terimakasih atas infonya. Saya mau mandi dan siap-siap ke kampus!"
"Baik, Nyonya. Sarapan sudah siap!"
Setelah mandi dan bersiap-siap, Aisha pun sudah siap akan pergi ke kampus. Pak Rudi, sopir pribadi suaminya sudah menunggu di depan mansion.
"Saya disuruh Tuan untuk mengantar dan menjemput Nyonya!"
"Hah, memangnya kapan suamiku menyuruh Pak Rudi?"
"Sebelum beliau pergi ke luar negeri, Nyonya,"
"Jadi Pak Rudi tau kalau suamiku ke luar negeri?"
"Iya, Nyonya. Tuan ke Singapura,"
Hah, ternyata Om memang di Singapura. Benar-benar menyebalkan, kenapa coba main rahasia-rahasiaan?
Apa dia pergi dengan Tante waktu itu?
"Ayo kita berangkat, Pak Rudy!"
"Siap, Nyonya!"
to be continued...
Terimakasih banyak yang sudah mau mampir.
Jangan lupa kasih author -nya dengan memberikan like, komentar dan Vote- nya. Biar Author tambah semangat....
Salam hangat dari Author ...
lagi" gw udah gak mood baca, pdhl baru satu bab dan itu langsung loncat bavanya..eh dptnya ini🙃
biar si devan sadar diri udah tua juga belagu