NovelToon NovelToon
Mari Bercerai, Aku Sudah Mati Rasa, Mas!

Mari Bercerai, Aku Sudah Mati Rasa, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:16k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Zahira Aulia Utami menikah dengan Galang Putra Hadian. Mereke sudah menikah selama delapan tahun dan di karuniai seorang putri cantik bernama Cantika Alya Putri Hadian, berusia enam tahun. Namun putri mereka memiliki hal yang berbeda dengan putri orang lain pada umumnya. Dia memiliki sesuatu yang spesial.

Rumah tangga mereka sebeanrnya baik-baik saja. Hanya memang satu tahun terakhir Aulia dan Galang sering bertengkar. Dan inti dari masalahnya adalah Cantika, Galang merasa malu memiliki anak yang dia pikir ga-gu. Dan itu semua karena Aulia. Dia menyalahkan Aulia sehingga membuatnya malu saat membawa mereka dalam pertemuan keluarga atau saat acara di kantor.

Semenjak itu, hubungan mereka terasa hambar, Galang seing pulang telat ke rumah.

pertengkaran terus berlanjut, apalagi keluarga Galang juga ikut campur hingga akhirnya Aulia dan Cantika melihat Galang bersama dengan seorang wanita bergandengan mesra. Hati Aulia rasanya semakin membeku. Tak ada lagi alasan untuk bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aulia 3

"Ibu bilang, kamu sengaja membiarkan Cantika berteriak-teriak histeris di tempat umum supaya semua pengunjung supermarket melihat ke arah mereka! Kamu sengaja membuat Ibu dan Ayah jadi bahan tontonan dan bisik-bisik orang karena punya cucu yang... yang cacat bicara seperti itu! Ibu sampai syok dan tensinya naik begitu pulang ke rumah!" Galang menudingkan jarinya tepat di depan wajah Aulia.

"Kamu itu kalau tidak bisa mendidik anak dengan benar, minimal jangan bawa dia ke tempat umum dan bikin malu nama baik keluargaku, Aulia!"

Plak!

Suara tamparan keras menggema di ruangan itu. Tangan Aulia gemetar hebat setelah mendaratkan telapak tangannya di pipi Galang. Air mata yang sejak siang ditahannya kini luruh, bukan karena sedih, melainkan karena amarah yang teramat sangat. Dia tak menyangka kalau Galang malah lebih membela ibu dan keluarganya di banding melindungi anaknya sendiri. Bahkan cantika adalah anaknya yang membutuhkan kasih sayang dari dia. Sosok ayah yang seharusnya bisa melindungi Cantika kecil.namun ucapan Galang benar-benar menyakitkan hati Aulia.

Galang terkesiap, memegangi pipinya yang terasa panas. Matanya membelalak tak percaya dengan yang di lakukan Aulia. Wanita yang menemaninya selama delapan tahun ini. Wanita yang selalu sabar saat dia berkata kasar dan juga mengabaikannya. Namun Aulia tetap melayani dan menyiapkan ssegala kebutuhannya walau terjadi pertengkaran di antara mereka.

"Kamu... berani menampar suamimu sendiri?!"

"Itu belum seberapa dibanding rasa sakit hati anakku tadi siang, Galang!" jerit Aulia, namun dia segera membekap mulutnya sendiri, teringat Cantika yang sedang tidur di kamar sebelah. Bahkan tak ada embel-embel Mas di sana saat menyebut nama suaminya. Dengan suara berbisik yang sarat akan racun dan rasa muak, Aulia melanjutkan.

"Ibumu keterlaluan! Keluargamu keterlaluan! Dan kamu... kamu adalah ayah paling bajingan yang pernah ada!"

"Jaga bicaramu, Aulia!"

"Kamu mau tahu kenyataannya?" Aulia maju satu langkah, menatap tepat ke dalam manik mata Galang yang meradang.

"Tadi siang, Cantika melihat kakek dan neneknya. Dia senang sekali, Mas. Dengan polosnya dia lepas dari gandenganku, berlari sambil memanggil 'Kakek, Oma' karena dia merindukan mereka! Tapi apa yang ibumu dan keluargamu lakukan? Begitu melihat Cantika, mereka membuang muka, membalikkan badan, dan mendorong troli menjauh secepat mungkin seolah-olah anak kita ini pembawa sial! Dan sikap itu sama seperti yang kamu lakukan! Apa selama ini kamu tak pernah membayangkan betapa sakitnya hati Cantika dan seberapa dalam luka yang sudah kalian buat? Cantika anakmu, bagaimanpun keadaanya! Dan kamu adalah ayahnya, darahmu mengalir dalam tubuh Cantika! Kay benar-benar tak punya hati Galang!"

Galang terdiam sekilas, ekspresi wajahnya berubah goyah untuk beberapa detik sebelum egonya kembali menguasai diri.

"Ya... ya wajar kalau Ibu menghindar! Ibu panik karena suara Cantika keras dan tidak jelas, memancing perhatian orang! Ibu hanya tidak ingin suasananya jadi canggung!"

"Wajar kamu bilang?!" Suara Aulia meninggi lagi, dadanya naik turun dengan cepat.

"Anakmu yang berusia enam tahun, yang belum mengerti jahatnya dunia, bertanya padaku sambil menangis: 'Mama, apa Kakek dan Oma pergi karena Cantika nakal?' Dia merasa bersalah atas penolakan dari darah dagingnya sendiri! Di mana hati nuranimu sebagai seorang ayah, Galang?!"

Galang memalingkan wajah, rahangnya mengeras.

"Sudahlah! Toh Ibu tidak bermaksud seperti itu. Kamu saja yang terlalu sensitif dan mendramatisir keadaan. Intinya, mulai besok-besok, kalau mau belanja, titipkan saja Cantika atau pergi sendiri. Jangan bawa dia ke tempat-tempat yang berpotensi bikin malu."

Mendengar kalimat yang keluar dari mulut suaminya, detik itu juga, sesuatu di dalam diri Aulia patah dan hancur berkeping-keping. Tak ada lagi yang tersisa dari rasa cintanya yang dulu menggebu untuk pria di hadapannya ini. Galang bukan lagi suaminya, pria ini adalah orang asing yang kejam.

Aulia mundur dua langkah. Dia menyeka air matanya dengan kasar, lalu menatap Galang dengan senyuman paling dingin yang pernah Galang lihat.

"Kamu benar-benar jahat, Galang! Apa kamu tak punya rasa cinta lagi untuk kami?" ucap Aulia lirih.

Aulia menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam gemuruh di dadanya agar suaranya tidak lagi bergetar. Dingin. Hanya ada rasa dingin dan hampa yang tersisa di matanya yang sembap.

"Aku tidak sedang mendramatisir, Galang. Aku sedang melihat kenyataan," ucap Aulia, suaranya kini begitu lirih, namun justru terdengar jauh lebih mengerikan daripada teriakannya tadi.

"Dan kenyataannya adalah... kamu dan keluargamu tidak pernah menganggap Cantika ada."

Galang mendengus, membuang muka ke arah lain sembari melipat kedua tangannya di dada.

"Terserah apa katamu. Aku lelah. Intinya aku sudah ingatkan kamu."

Aulia tidak membalas. Dia tidak menangis lagi, tidak juga mencaci maki. Tatapan matanya kosong seolah Galang hanyalah embusan angin lalu. Dengan gerakan lambat namun pasti, Aulia membalikkan badan, berjalan melewati Galang tanpa menyenggolnya sedikit pun, lalu masuk ke dalam kamar Cantika. Pintu kayu itu ditutupnya rapat-rapat, menyisakan keheningan yang mencekam di ruang tengah.

Sejak malam itu, atmosfer di dalam rumah berubah total. Rumah yang biasanya bising oleh suara Aulia yang mengurus keperluan rumah tangga, kini mendadak senyap bagai kuburan.

Aulia benar-benar berhenti bicara pada Galang. Tidak ada sapaan, tidak ada pertanyaan, bahkan tidak ada kontak mata. Jika Galang menanyakan sesuatu, Aulia hanya merespons dengan anggukan, gelengan, atau menunjuk dengan dagunya. Jika terpaksa harus menyampaikan hal penting, seperti uang bulanan yang kurang atau tagihan listrik, Aulia memilih menulisnya di secarik kertas kecil yang ditinggalkan di atas meja makan.

Aulia tetap memasak dan mencuci, namun semua dilakukan tanpa hati. Makanan tersaji di meja, pakaian Galang tersusun rapi di lemari, tetapi tak ada lagi kopi hangat yang dibuatkan khusus saat Galang pulang kerja. Aulia sengaja mengatur jadwalnya agar tidak pernah berada di ruangan yang sama dengan Galang. Ketika Galang berada di ruang tengah, Aulia akan mengunci diri di kamar bersama Cantika.

Fokus Sepenuhnya pada Cantika Seluruh dunia Aulia kini hanya berputar pada putrinya. Dia mengabaikan keberadaan Galang, namun melimpahi Cantika dengan kasih sayang yang berkali-kali lipat lebih besar. Dia melatih bicara Cantika dengan sabar, membacakan dongeng, dan memeluk bocah enam tahun itu setiap kali ingatan tentang kejadian di supermarket kembali membuat Cantika murung.

Beberapa hari berlalu Galang mulai tak nyaman, apalagi Aulia lebih memilih tidur dengan Cantika di banding dengan dirinya. Sesuatu yang tak pernah di lakukan Aulia walau dia sedang marah besar padanya.

Awalnya, ego Galang merasa menang karena Aulia tidak lagi mendebat atau menceramahinya. Namun, lama-kelamaan, diabaikan secara total seperti ini jauh lebih menyiksa daripada dimarahi. Rumahnya terasa asing, dingin, dan tidak nyaman.

Puncaknya adalah malam ini, saat Galang pulang kerja dan mendapati meja makan kosong karena Aulia dan Cantika sudah makan malam lebih awal di dalam kamar. Galang mengetuk pintu kamar Cantika dengan tidak sabar.

"Aulia! Buka pintunya! Kita perlu bicara!" seru Galang dari luar.

"Sampai kapan kamu mau bertingkah kekanak-kanakan seperti ini? Hah?! Cuma karena masalah itu kamu mendiamkan suamimu berhari-hari?!"

Pintu terbuka. Aulia berdiri di ambang pintu, menatap Galang dengan tatapan yang begitu datar, kering, dan tanpa emosi. Tak ada lagi sisa-sisa cinta atau binar hangat yang dulu selalu menyambut Galang.

"Cantika sedang tidur. Jangan berisik," bisik Aulia dingin.

"Kalau begitu keluar! Kita selesaikan ini!" tuntut Galang, rahangnya mengeras karena frustrasi.

Aulia menatap suaminya dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu tersenyum sinis.

"Tidak ada lagi yang perlu diselesaikan, Galang. Kamu mau aku tidak membawa Cantika ke tempat umum agar tidak membuatmu malu, kan? Sudah kulakukan. Sekarang, anggap saja kami berdua memang tidak pernah ada di hidupmu. Bukankah itu yang kamu dan keluargamu mau?"

1
Sari Supriyanti
up...up...uuuuupppppp.....semangat ....semngaaaaattttt...💪💪💪😍😍😍😍
ryuka
baguusss aulia... kamu kereenn.. kereeenn bangwt malaaaahh.. cantika ga butuh keluarga bapak nya sama zekali toxic banget 🔥🔥🔥🔥
Ambu Rinddiany Thea
galon mana galooon 🤣
Mundri Astuti
libas sekalian Aulia ...jangan kasih muka tu si Galang banci....tampol sekalian keluarga benalunya
Ambu Rinddiany Thea
kmh lamn posisi s aulia aya d anak2 cewe manehna ratna .. mikir ath sagenah na we .. lila lila d sleding gera tah
Heni Setiyaningsih
gimana Galang?? panik kaaannn,,,, panik dong ,masa gak panik🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Yam_zhie: jangan keras-keras kak kasihan 🙈
total 1 replies
nely_48
keberuntungan berpihak pd mu aulia,,, sok kumpul semua para benalu n pelakor vs istri sah yg terzholimi , jd tontonan tetangga n ada yg mem viralkan, tamat s galang family s pelakor
Yam_zhie: haha bener teh 🙈
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
lanjut makin seruuuiu 💪
Yam_zhie: maksih kak 🤗
total 1 replies
Ariany Sudjana
hahaha seru ini 🤣🤣😂😂 mampus kamu Galang, gimana Bu Ratna, pelacur murahan kesayangan Galang sudah muncul tuh 🤣🤣😂😂
Yam_zhie: pening Bu Ratna 🙈
total 1 replies
ryuka
terlambat kamu galang.. aulia zudah ga akan mundur.. makan itu semua kelakuan bodoh mu itu 🔥🔥🔥🔥🔥👍👍👍👍
Mundri Astuti
ohoooo tenang Galang, pelan" otw tuh yg kamu takutin di otak kamu, ga ngotak si jadi org...klo dah dtg tu karma ga kaleng" ntar
Yam_zhie: betul. apalagi yang dia dzalimi juga anaknya sendiri 😭😭
total 1 replies
Muft Smoker
jgn2 pak ghani niih yg punya perusahaan tempat si galang kerja ,🤭🤭🤭🤭🤭
nely_48
d kerutug kan sm keluarga toxic
Ilham
aku penasaran pertemuan pertama Aulia sama yang punya perusahan
Ilham
lanjut
Ambu Rinddiany Thea
ya Allah genahna d kumahakeun nya eta indung na s galang plus anak2na .. 🤔🤔
gemar baca
syuka sama ceritanya,keren Mengen banget
arniya
makin seru and gereget.....
Thewie
Pakah pak Ghani ci i o yg menyamar🤭
Muft Smoker: kyakny dy bos ny galang ,,, amsyoong deeh si galang 😂😂😂😂
total 2 replies
ryuka
jangan2 yang punya itu Pak ghani, perusahaan tempat kerja nya si galang ubur2.. duhhh jadi penasaran thoorrr 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!