NovelToon NovelToon
Takhta Berdarah Sang Don

Takhta Berdarah Sang Don

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam
Popularitas:328
Nilai: 5
Nama Author: Daneen_Nis

Raven Alvaro dikenal sebagai Don Mafia paling kejam yang tak pernah memberi ampun pada pengkhianat. Dengan tangan berlumuran darah, ia membangun kekuasaannya di atas ketakutan dan kesetiaan mutlak. Bagi Raven, belas kasihan hanyalah kelemahan yang dapat menghancurkan seorang pemimpin.

Segalanya berubah ketika Aurora Valentia tanpa sengaja masuk ke dalam dunia gelap yang selama ini tersembunyi. Pertemuan mereka memicu rangkaian rahasia, pengkhianatan, dan perang antar keluarga mafia yang telah lama menunggu untuk meledak.

Di tengah hujan peluru dan lautan darah, Raven harus memilih antara mempertahankan takhta yang telah ia rebut dengan nyawa banyak orang atau mempertaruhkan segalanya demi wanita yang perlahan mencairkan hati beku sang Don. Namun, di dunia mafia, cinta memiliki harga yang jauh lebih mahal daripada kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 - Dokter Untuk Sang Don

Aurora tidak tidur semalaman.

Setiap kali memejamkan mata, bayangan pria yang ditembak mati di gudang kembali muncul di benaknya. Wajah Raven Alvaro yang dingin dan tanpa belas kasihan terus menghantuinya.

Saat matahari mulai menyinari balkon kamarnya, suara ketukan terdengar dari pintu.

Tok... tok... tok...

"Nona Aurora," panggil seorang wanita dari luar. "Sarapan sudah disiapkan."

Aurora tidak menjawab.

Beberapa detik kemudian pintu terbuka. Seorang pelayan membawa nampan berisi roti hangat, buah-buahan, dan secangkir kopi.

"Aku tidak lapar," kata Aurora dingin.

Pelayan itu tersenyum sopan.

"Tuan Raven meminta kami memastikan Nona makan."

"Aku tidak peduli."

Pelayan hanya meletakkan makanan di atas meja sebelum keluar tanpa berkata apa-apa lagi.

Aurora menghela napas panjang.

Ia berjalan menuju balkon.

Dari sana terlihat halaman mansion yang sangat luas. Puluhan pria bersenjata sedang berlatih menembak, sementara beberapa kendaraan lapis baja keluar masuk gerbang utama.

Mustahil melarikan diri.

Aurora mengepalkan tangan.

"Aku harus mencari kesempatan."

Belum lama ia berdiri, suara ledakan kecil terdengar dari arah halaman belakang.

Disusul teriakan panik.

"Dokter! Cepat panggil dokter!"

Aurora refleks menoleh.

Beberapa pria berlari sambil mengangkat seseorang yang berlumuran darah.

Instingnya sebagai dokter langsung bekerja.

Tanpa berpikir panjang, ia membuka pintu kamar dan berlari keluar.

"Apa yang terjadi?"

Salah seorang penjaga menghadangnya.

"Kembali ke kamar!"

Aurora menatap pria yang terluka.

"Dia kehilangan banyak darah."

"Itu bukan urusanmu."

Aurora mendorong penjaga itu.

"Kalau tidak segera ditangani, dia akan mati."

Perdebatan mereka terhenti ketika suara berat terdengar dari belakang.

"Biarkan dia."

Semua orang langsung menundukkan kepala.

Raven berjalan mendekat dengan langkah tenang.

Tatapannya tertuju pada Aurora.

"Kau bisa menyelamatkannya?"

"Aku dokter."

"Itu bukan jawaban."

Aurora menatap pria yang terluka.

"Aku akan berusaha."

Raven memberi isyarat kepada anak buahnya.

"Bawa dia ke ruang medis."

Ruangan itu ternyata memiliki peralatan yang hampir selengkap rumah sakit.

Aurora langsung mengenakan sarung tangan.

"Peluru masih bersarang."

Ia memeriksa luka di bahu pria itu.

"Denyut nadinya melemah."

Beberapa anak buah Raven terlihat gelisah.

"Itu Leo, tangan kanan Tuan."

Aurora mengangkat wajah.

"Kalau begitu berhenti bicara dan bantu aku."

Mereka langsung menurut.

Aurora membersihkan luka, memberikan anestesi, lalu mulai mengeluarkan peluru dengan pinset bedah.

Ruangan menjadi sunyi.

Semua orang menahan napas.

Setelah beberapa menit yang menegangkan...

Ting...

Butiran peluru jatuh ke dalam baki logam.

Aurora segera menjahit luka itu.

"Tekan bagian ini."

Salah seorang anak buah mengikuti instruksinya.

Beberapa menit kemudian napas Leo mulai stabil.

Aurora mengembuskan napas lega.

"Dia selamat."

Suara tepuk tangan pelan terdengar.

Aurora menoleh.

Raven berdiri di ambang pintu.

"Itu pekerjaan yang bagus."

"Aku hanya menjalankan tugasku."

"Kau bahkan menolong orang yang menculikmu."

Aurora melepas sarung tangannya.

"Seorang dokter tidak memilih siapa yang pantas diselamatkan."

Kalimat itu membuat Raven terdiam beberapa saat.

Entah mengapa, jawaban sederhana itu terdengar asing baginya.

Seumur hidupnya, ia hanya mengenal satu aturan.

Musuh harus mati.

Namun wanita di depannya justru menyelamatkan orang-orang yang bahkan memperlakukannya sebagai tahanan.

Raven berjalan mendekat.

"Kau boleh meminta satu hadiah."

Aurora menatapnya tajam.

"Kalau begitu bebaskan aku."

"Tidak."

Jawaban itu keluar begitu cepat.

Aurora mendengus kesal.

"Kalau begitu jangan pernah menawarkan hadiah."

Raven menyunggingkan senyum tipis.

Senyuman yang sangat jarang terlihat.

"Selain itu."

"Aku ingin menghubungi ibuku."

Raven terdiam.

Beberapa saat kemudian ia mengangguk.

"Hanya satu panggilan. Dengan pengawasanku."

Mata Aurora sedikit berbinar.

"Benarkah?"

"Jangan membuatku mengubah keputusan."

Beberapa menit kemudian, sebuah telepon diberikan kepadanya.

Aurora segera menghubungi nomor ibunya.

Tak butuh waktu lama hingga panggilan tersambung.

"Halo? Aurora? Di mana kamu? Polisi sudah mencarimu sejak tadi malam!"

Air mata Aurora hampir jatuh.

"Bu... aku baik-baik saja."

"Kenapa suaramu seperti itu? Kau di mana?"

Aurora melirik Raven yang berdiri beberapa langkah darinya.

Tatapan pria itu begitu tajam.

Ia tahu dirinya sedang diawasi.

"Aku... sedang menangani pekerjaan di luar kota."

"Kau tidak bohong, kan?"

Aurora menggigit bibir.

"Maaf, Bu. Aku belum bisa menjelaskan."

Sebelum ibunya sempat bertanya lagi, Raven mengambil telepon itu dan memutuskan sambungan.

"Cukup."

Aurora menatapnya dengan marah.

"Kenapa kau lakukan itu?"

"Semakin sedikit orang yang tahu keberadaanmu, semakin lama kau hidup."

Belum sempat Aurora membalas, suara alarm berbunyi nyaring di seluruh mansion.

Weeeeng...

Seorang penjaga berlari masuk dengan wajah panik.

"Tuan Raven!"

"Apa?"

"Gerbang timur diserang!"

Raven langsung berubah serius.

"Berapa orang?"

"Lebih dari tiga puluh orang bersenjata."

Raven mengambil pistol dari meja.

Tatapan dinginnya kembali muncul.

"Lindungi Aurora."

"Lalu Anda?"

Raven memasukkan magasin ke dalam pistolnya.

"Aku akan menyambut tamu yang datang tanpa undangan."

Beberapa detik kemudian, suara rentetan tembakan mengguncang seluruh mansion.

Perang baru saja dimulai.

1
Sunflower_6520
Nurut ae Ra, dr pada nyawa lo melayang...
Sunflower_6520
Itu tandanya Aurora punya hati Raven... emang kayak elo? jangan kan hati, simpati aja kayaknya lo gak punya🗿
Sunflower_6520
Urusan Aurora lah, orang dia kan dokter? dimana" dokter itu tugasnya menyelamatkan, gak mungkin ada orang kritis dia biarin gitu aja
Sunflower_6520
Lama kelamaan sih Aurora bisa trauma...
Sunflower_6520
Tamu modelan apa? ini namanya penculikan 🗿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!