Demi menghindari rentenir kejam yang hampir melecehkannya, Raisa terpaksa meninggalkan kekasihnya Yudha dan memilih merantau ke Kota metropolitan.
Raisa mengikuti jejak temannya bekerja di kelab malam, tanpa diduga Raisa bertemu dengan seorang pengusaha muda angkuh dan berwatak dingin yaitu Dava. Pertemuan itu membawa mereka pada kontrak pernikahan.
Bagaimana rumah tangga Raisa dan Dava yang diawali tanpa ada cinta?
Pada siapa akhirnya cinta Raisa akan berlabuh? Dava atau Yudha?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bulan Madu?
22
Raisa tidak tahu apa maksud Fana mengumbar masa lalunya dulu dengan Dava. Tapi, satu hal yang Raisa yakini adalah Fana pasti sengaja memancing dirinya juga memanas-manasinya.
"Jadi ... kamu masa lalu suamiku?" Raisa terkikik geli, Fana semakin menajam melihatnya. "Ya, aku nggak tahu apa pun dan nggak mau tau juga. Tapi, aku jadi penasaran apa yang buat hubungan kalian berakhir sampai kamu menjadi ipar suamiku."
"Beraninya kau bicara seperti itu kepadaku!" Fana baru tahu ternyata tidak mudah mengecoh dan membuat Raisa mati gaya, yang ada justru wanita ini membalikkan keadaan.
"Loh, apa yang salah, Mbak?" tanya Raisa lagi. "Kamu memang masa lalu suamiku 'kan? Sekarang, aku adalah masa depan suamiku, jadi aku nggak perduli dan nggak akan terpengaruh dengan masa lalunya. Terutama hubungan luar dalam seperti yang Mbak bilang barusan."
Fana melirik para asisten rumah tangga yang seperti menahan tawa. Sial, Raisa secara tidak langsung sudah mempermalukan dirinya depan orang-orang itu. Ia menghentakkan kaki kembali ke ruang makan.
"Kenapa Dava bisa menikah dengan gadis kampungan seperti Raisa yang asal usulnya tidak jelas? Bahkan, tidak ada satu pun keluarga yang menghadiri pernikahan mereka," ucap Wella.
"Aku sudah cukup lama kenal sama Dava. Aku tahu kalau selera Dava itu nggak seperti perempuan kampungan itu ! "seru Karina.
"Kita harus cari tau apa yang mereka sembunyikan, bisa aja mereka menikah hanya untuk menarik perhatian perhatian kakek. Dava pasti sengaja menggagalkan niat kakek memberikan perusaahaan kepada Morgan."
Percakapan keduanya terhenti ketika kakek dan Maya mulai masuk ke ruang makan, dari jauh kakek tersenyum saat melihat Raisa bergurau dengan para pelayan, hal itu juga tidak luput dari mata Maya.
"Raisa memang sangat pantas menjadi istri Dava," ucap Maya sembari menarik kursi untuk diduduki kakek memiliki menantu adalah impianya sejak lama, bahkan Raisa menjadi menantu idamannya.
Beberapa saat kemudian Raisa bergabung di meja makan membawa nampan yang berisi masakan yang baru ia masak. Dava dan Morgan pun baru bergabung di ruang makan. Seperti biasa tidak ada yang berani bicara di ruangan ini sebeb mereka diharuskan makan dalam diam, kecuali kakek.
"Kamu mau kemana dengan pakain itu?"
Kakek mulai bicara pada Dava yang memang sudah siap dengan pakaian kantornya.
"Tentu saja ke kantor, proyek yang Dava tangani harus selesai dalam waktu dekat ini," jawab Dava
"Kamu boleh tetap memimpin perusahaan yang kamu bangun sendiri, tapi kamu tetap harus belajar bertanggung jawab untuk memimpin perusahaan kakek ."
Dava tersenyum, "Kakek tidak perlu khawatir, Dava bisa menangani keduanya di waktu bersamaan " ujar Dava dengan bangga, sebenarnya ia sedang membuat Morgan iri padanya.
Morgan hanya melirik sebal, terlebih lagi sebenarnya ia memang bukan orang yang banyak bicara , sifatnya hampir sama dengan Dava tidak banyak berbasa-basi.
"Pergilah bulan madu. Kamu kan baru menikah, ajak istrimu jalan-jalan dan buatkan senangkan dia," ujar kakek.
"Bulan madu? Apa itu ada di dalam surat perjanjian? Apa bulan madu itu seperti melakukan hubungan orang dewasa?"
Batin Raisa mulai resah membayangkan jika ia dan Dava pergi bulan madu, sudah jelas di surat perjanjian tidak tertulis secara gamblang.
Dava hanya diam dan melanjutkan makannya.
"Dava, apa perlu kakek yang pilihkan tempat yang cocok untuk kalian berbulan madu?"
"Itu tidak perlu kami tidak akan pergi dalam waktu dekat ini, " Dava menoleh dan menggengam tangan Raisa " Aku benar'kan sayang?"
Akting yang luar biasa, ia membuat kakek percaya dengan kemesraan yang ditunjukan terbukti kakek mengangguk dan tersenyum.
"Iya, Mas," jawab Raisa.
Terserah kamu mau mengatakan apa , aku tidak punya hak untuk menolak.
"Kalau begitu , untuk sementara kalian bisa menempati rumah kedua yang tidak jauh dari kantormu Dava, anggap saja kalian sedang berbulan madu!" seru kakek setelah menghabiskan makanannya.
Dava hanya diam, dan berfikir mungkin ada benarnya juga mereka keluar dari rumah ini, dengan begitu mereka tidak perlu berakting dan berpura-pura menunjukan kemesraan.
"Baiklah kami akan menempati rumah itu!"
Jawaban Dava mengejutkan Fana, ia tidak terima kalau pada akhirnya Dava akan menyentuh gadis kampungan seperti Raisa.
Untuk pertama kali Maya melepaskan Dava pergi dari rumah ini, ia bahagia karena sebentar lagi Dava dan Raisa akan memberinya cucu.
***
"Mulai hari ini kita tinggal di rumah ini, kamu tidak perlu lagi melanjutkan ektingmu," ucap Dava setelah mereka tiba di rumah kedua yang letaknya tidak jauh dari kantor.
"Akting kita, Mas!" ralat Raisa, ia langsung menutup mulut saat Dava melirik sinis padanya.
"Rumahnya besar, rumah idaman, ya?" tanya Raisa tanpa sadar, ia mengekori Dava menaiki beberapa anak tangga menuju lantai lain.
"Rumah idaman bersama mantan kekasih," cicit Raisa lagi, ia teringat ucapan Fana pagi tadi.
Klatak!!!
Koper yang semula dipegang Dava jatuh ketika pria itu melepasnya, matanya seperti mata elang membidik mangsa untuk ia telan. Raisa terperanjat kaget melihatnya.
"Baru sebentar tinggal di rumah itu, sepertinya kamu sudah besar kepala, ya?" Dava turun satu langkah di mana Raisa berdiri menghadapnya, ia menghadang Raisa hingga punggung wanita itu bersandar di pembatas.
"A-aku salah bicara ya, Mas?" Susah payah Raisa menahan ludah, lehernya terasa kerih seperti tercekik saat ini.
"Kamu mau mencampuri urusanku? Dava curiga kalau Fana sudah bicara yang bukan-bukan kepada Raisa.
"Enggak ... aku cuma asal bicara," elak Raisa. "Aku masih ingat perjanjian kita."
"Bagus kalau kamu masih ingat, jadi jangan menyusahkan!" Dava memutar tubuhnya lagi, tapi Raisa tiba-tiba menghadanng jalannya.
"Di rumah ini kita nggak tidur di satu kamar yang sama 'kan?" tanya Raisa was-was.
"Menurutmu?" Dava tersenyum jail, mulut Raisa secara tidak langsung sudah mengungkit hubungannya dengan Fana, jadi wanita keci ini harus diberi pelajaran.
lanjut kakakakk...
💖💖💖💖
Raisa beda loh mas Dava dr cewe2 yg lain 😁