NovelToon NovelToon
IBU TIRI SEWAAN

IBU TIRI SEWAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Menikahi tentara / Anak Genius
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Demi uang, Asia menerima tawaran menikah kontrak dengan Kapten Hugo, seorang tentara yang mengalami kelumpuhan parsial karena cidera tugas. Baginya pernikahan itu hanyalah jalan tercepat untuk melunasi utang seratus juta rupiah yang ditinggalkan ayahnya setelah kabur karena kalah berjudi.

Namun ia harus menjadi ibu tiri bagi putra bungsu yang super aktif dan sulit dikendalikan. Serta putri kelas 3 SMP yang membencinya karena merasa Asia telah menggantikan posisi mendiang ibunya.

Asia tak berniat menjadi istri yang baik atau ibu yang penyayang. Targetnya hanya satu: mengumpulkan uang sebanyak mungkin, lalu pergi saat kontrak pernikahan berakhir.

Hanya saja, keluar dari keluarga itu ternyata jauh lebih sulit daripada masuk ke dalamnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 29

Lantai ruang tengah rumah dinas itu sudah berubah seperti area pameran mainan. Balok kayu, mobil-mobilan, hingga robot-robotan milik Nero tergeletak berserakan di atas karpet.

Nyonya Malinda yang melintas dari arah dapur menghentikan langkahnya. Matanya menatap tajam ke arah lantai yang berantakan, lalu beralih pada Nero yang justru sibuk mewarnai kertas dengan krayon di sudut meja, sama sekali tidak memikirkan mainannya.

"Nero! Ini mainan kenapa masih berserakan begini?" tegur Nyonya Malinda dengan suara tegasnya. "Ayo dibereskan dulu! Nanti kalau terinjak atau ada yang jatuh bagaimana?"

Nero pura-pura tidak mendengar. Tangan kecilnya tetap lincah menggoreskan krayon merah di atas kertas. Suara neneknya hanya lewat begitu saja.

"Nero! Dengar Oma, tidak?" panggil Nyonya Malinda lagi, kali ini dengan nada semakin tinggi dan berdecak gemas melihat cucunya yang keras kepala. "Ayo berdiri, rapikan mainanmu!"

"Sebentar, Oma... lagi gambal," sahut Nero acuh tak acuh, tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun dari kertasnya.

Melihat Nyonya Malinda yang mulai kehabisan kesabaran dan hendak berkacak pinggang memarahi Nero, Asia yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya melangkah mendekat secara halus.

"Biar Asia saja, Oma," ujar Asia lembut, menenangkan ibu mertuanya.

Nyonya Malinda menghela napas gusar. "Anak ini makin hari makin susah diberi tahu. Biarkan saja kalau hilang mainannya!" gerutu Nyonya Malinda sebelum akhirnya melangkah pergi menuju kamarnya.

Kini tinggal Asia dan Nero di ruangan itu. Asia mendekati meja tempat Nero mewarnai.

"Nero, ayo mainannya dimasukkan ke kotak dulu, Sayang," panggil Asia pelan.

"Nanti, Tante Asia... lagi gambarl," sahut Nero dengan jawaban yang sama.

Asia membiarkannya sejenak. Namun beberapa menit berlalu, Nero justru makin larut dengan gambar barunya dan sama sekali tidak ada tanda-tanda akan bergerak.

"Nero, ini sudah panggilan berulang kali, ya," panggil Asia lagi, kali ini dengan nada yang lebih tegas namun tetap tenang. "Ayo dibereskan dulu robotnya."

Nero tetap menunjukkan sikap tidak pedulinya. Ia hanya menderu pelan sambil terus mewarnai, benar-benar mengabaikan arahan karena fokusnya sudah sepenuhnya berpindah.

Asia berlutut di samping tumpukan mainan di karpet. Ia paham betul, diulangi sepuluh kali pun Nero tidak akan peduli.

"Kalau mainan ini tidak mau dibereskan dan Nero sudah tidak mau main lagi, bagaimana kalau disingkirkan saja? Dibuang," tawar Asia santai.

Nero menyahut cepat tanpa menghentikan krayonnya, merasa mainan di karpet itu sudah tidak penting lagi baginya. "Ya sudah, buang saja."

"Beneran, ya? Nero yang bilang sendiri," tegas Asia memastikan.

"Iya, buang aja," jawab Nero acuh tak acuh.

Asia tidak memarahinya. Ia mengambil kardus besar, lalu dengan tenang memasukkan satu per satu mainan Nero yang berserakan itu ke dalamnya hingga karpet kembali bersih. Tanpa mengucap kata lagi, Asia mengangkat kardus tersebut dan membawanya berjalan keluar rumah.

Sementara itu, Nero tetap sibuk menekan krayonnya di atas kertas, benar-benar tidak peduli mainannya dibawa pergi.

***

Di depan gerbang sekolah.

"Sepertinya ibuku belum datang," kata Mita sambil memperhatikan kerumunan di luar gerbang sekolah.

"Ya. Sopir rumah juga belum datang," jawab Jenny singkat, ikut menyapu pandangan ke area penjemputan.

Mita menyapu keringat di dahinya yang mulai basah oleh teriknya matahari siang. Matanya lalu tertuju pada satu sudut di halaman sekolah yang tampak sejuk.

"Kita duduk dulu di sana, yuk," ajak Mita menunjuk pot bunga rendah berbentuk persegi. Tempat itu sangat teduh karena berada tepat di bawah naungan pohon trembesi yang rindang.

Jenny mengangguk. Mereka berjalan beriringan menuju ke tempat duduk itu.

Namun, dari arah berlawanan, tiba-tiba muncul Kevin bersama seorang temannya. Langkah kaki kedua anak laki-laki itu tampak terburu-buru, tampaknya mengincar dan mau duduk di sana juga.

"Yah... udah ada yang duduk," keluh Mita kecewa begitu melihat tempat teduh itu keburu dihampiri anak laki-laki.

Jenny menghela napas pelan, ikut pasrah melihat kesempatan berteduh di bawah pohon trembesi itu melayang.

"Eh, Mita!" panggil Deni, anak cowok yang berjalan bersama Kevin. Dia sadar lebih dulu kalau tak jauh dari mereka ada Mita dan Jenny yang berdiri menatap pot bunga tersebut.

Kevin yang tadinya hendak menepi langsung menoleh agak cepat. Cowok itu paham betul, kalau di mana ada Mita, biasanya di situ pasti ada Jenny.

"Mau duduk di sini, Mit?" tanya Deni ramah, menunjuk pinggiran pot beton yang masih cukup luas.

"Kenapa?" tanya Mita judes. Matanya menatap Deni penuh rasa curiga, siap Pasang badan karena ingatan tentang kejahilan-kejahilan cowok itu masih terekam jelas di kepalanya.

"Enggak ... Aku ..."

Belum sempat Deni menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Kevin sudah berdiri dari posisinya semula.

"Duduk aja, Mit," potong Kevin cepat, matanya melirik sekilas ke arah tempat Jenny dan Mita berdiri. "Kita bisa duduk di sana."

Kevin menunjuk pada pot bunga sejenis di sisi lain yang sudah ramai dan diisi banyak anak cowok. Tanpa banyak bicara lagi, Kevin mengibaskan tangannya mengajak Deni pindah, memberikan area teduh itu sepenuhnya untuk Mita dan Jenny.

Deni yang melihat Kevin langsung berdiri tanpa ragu, akhirnya ikut bergerak dari pinggiran pot.

"Iya, Mita. Duduk aja," timpal Deni santai. Ia bahkan mengibaskan tangan pelan ke arah area yang kosong, mempersilakan Mita dan Jenny untuk mengambil alih tempat berteduh itu sambil melempar senyum simpul yang ramah.

"Beneran?" tanya Mita ragu. Matanya menyipit menatap Deni penuh selidik. Selama ini Deni kan paling suka menjahilinya di kelas, jadi tawaran manis begini rasanya agak mencurigakan.

Deni menaikkan kedua alisnya sambil terkekeh pelan. "Iya. Kenapa enggak percaya?"

"Bukannya kamu sering gangguin aku?" tegas Mita dengan nada menuduh, sambil bersedekap dada.

Deni yang tertangkap basah hanya bisa menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Wajahnya berganti agak canggung. "Eh, tapi ini beneran, kok! Masa sama cewek pelit tempat duduk."

Mita mengamati sekali lagi raut wajah Deni, mencari tanda-tanda kalau anak cowok itu cuma pura-pura atau sedang menyiapkan kejahilan baru.

Melihat Mita yang masih ragu, Jenny memegang lengan sahabatnya itu. "Kita berdiri saja," pungkas Jenny datar, berniat mengakhiri perdebatan dan mengajak Mita mencari tempat lain.

Deni seketika menoleh penuh ke arah Jenny. Nada bicaranya mendadak serius dan sedikit panik karena itikad baik mereka malah dicurigai.

"Aku nggak mau gangguin Mita kok, Jen. Ini beneran," bela Deni cepat. Tangannya menunjuk ke arah Kevin yang langkahnya sudah makin menjauh. "Lihat tuh, Kevin aja mau pergi supaya kalian duduk!"

Jenny tahu itu. Bahkan sejak tadi, cowok itu terang-terangan memperhatikan dirinya.

_____

1
Hartati Tati
jangan baper Hugo ... kamu yg pasang tembok tinggi 🤣🤣
Hartati Tati
banyak banyak update jangan sampai lupa 🤣🤣🤣🤣
English Lesson
bagus 👍🏻👍🏻
Lina Marali
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!