Jangan lupa memberi like...
Season 2 Takdir Cinta Millaerin.
Mega dan Eki.
Mega membuat komik tentang perjalanan hidupnya, ia adalah pemain protagonisnya.
Tapi sebuah komik lain muncul dan tenyata komik itu kisah tentangnya, tapi ia malah menjadi pemain antagonisnya?
Bagaimana ini?
Reputasinya jadi tercoreng!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon To Raja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Semua orang didalam kamar Eki begitu kaget melihat Mega memasuki ruangan itu.
"Kau!" Astri yang pertama membuka mulutnya. Sungguh gadis yang tak tahu malu!
"Apa yang dilakukanya di sini?" Ucap Antariksa tak percaya dengan penglihatannya.
"Saya ingin menemui Eki." Kata Mega seraya berjalan pelan ke arah ranjang.
Astri langsung mendorong Mega "Wanita penggoda!"
Rando yang sedari tadi di belakang Mega langsung menahan gadis itu.
"Kau!! Jangan-jangan kau yang membawanya kemari hah!" Ellen merasa sangat marah pada Rando.
"Zoy?" Astri langsung melihat ke arah Zoy.
Zoy hanya mengangkat bahunya, 'Tidak ada hubungannya denganku.'
"Keluar dari sini sekarang!" Kata Astri melotot ke arah Mega.
"Sayang, jaga emosimu, kau sedang sakit dan putra kita terbaring di sini." Kata Morano mengingatkan istrinya.
"Bagaimana aku bisa tenang, gadis itu, gadis murahan itu berani-beraninya datang menemui anak kita. Usir dia sekarang!"
"Rando tolong,," ucap Morano pada Rando.
"Kalian ingin mengusirku? Kalau begitu kalian sudah siap menerima anak kesayangan kalian menderita di depan kalian!" Ucap Mega dengan suara menantang.
"Kau! Berani-beraninya kau berbicara seperti ini pada kami!" Astri merasa sangat kesal pada Mega.
"Kau mendoakan hal buruk untuk tunanganku? Beraninya kau!" Ellen langsung mengangkat tangannya untuk menampar Mega.
Untungnya Mega sudah siaga dan langsung menangkis tangan gadis itu.
"Gadis murahan! Kau hanya gadis yang di peralat orang tuamu untuk menanjak ke atas puncak, apa kau tahu fakta itu?" Ucap Mega dengan suara tegasnya.
"Kau!! Beraninya kau!" Ellen langsung menarik tangannya.
"Gadis ini! Beraninya kau menghina putriku dan keluarga kami!" Antariksa yang merupakan ayah Ellen langsung membuka mulutnya.
"Sebaiknya kau pergi dari sini! Aku tidak pernah mengijinkan wanita sepertimu memasuki kamar anakku!" Ucap Astri dengan marah.
Gadis itu sudah mempermalukan keluarganya di depan keluarga Lorenza.
"Sayangnya, aku tidak mau pergi. Sebuah pepatah mengatakan, doa dari orang luar merupakan obat paling mujarab untuk penyakit.
Sayang sekali kalian tidak menginginkannya untuk anak kalian." Kata Mega sambil tersenyum kecut.
"Kau! Kau tidak perlu menceramahi kami! Kau itu hanya wanita muda yang tak bisa menjaga kata-katamu!
Lihat sekarang, kau bahkan merendahkan dirimu dengan menjenguk pria yang merupakan tunangan gadis lain!
Sebaiknya aku berkaca dulu sebelum memberi nasihat!" Kata Astri yang sudah terbakar amarah.
"Ibu benar, sebaiknya usir saja dia. Kita tidak perlu doa dari wanita yang tidak memiliki akhlak seperti dia.
Apa lagi dia berniat merebut Eki dariku, padahal Eki sudah menyetujui pertunangan kami." Ellen kembali melihat sinis ke arah Mega.
"Cih! Menerima? Hahaha,,," Mega menganggap itu sebagai lelucon.
"Kau! Beraninya kau tertawa! Eki sendiri yang bilang, lihat saja nanti kau akan menyesal karena berani merendahkanku!"
"Baiklah, kau boleh menikah dengannya. Kalau saja dia masih bisa bertahan tanpa aku di sisinya!" Ucap Mega sambil tersenyum sinis.
"Kau! Apa jangan-jangan penyebab Eki jatuh sakit adalah kamu? Apa yang kau lakukan pada tunanganku hingga membuatnya sepeti ini? Hah!"
"Elen benar, sejak Eki membuangnya, Eki mulai sakit-sakitan. Dia pasti melakukan sesuatu pada putra kita!" Kata Astri meneteskan air matanya.
"Usir dia dari sini! Kalau perlu penjarakan dia sekarang!"
"Aku akan memanggil sekuriti." Kata Elen hendak berjalan ke luar kamar. Tapi ia berhenti ketika Eki ternyata sudah sadar.
"Sayang,," Astri langsung mendekat ke ranjang Eki.
Ellen pun kembali ke samping ranjang Eki dan melihat pria itu.
"Kau sudah sadar." Kata Ellen mengarahkan tangannya untuk mengelus wajah Eki.
"Bantu aku duduk." Kata Eki.
Morano langsung membantu Eki untuk duduk. Eki begitu kaget saat melihat gadisnya berdiri di hadapannya.
Pipi gadis itu penuh air mata. "Kemarilah," katanya pada Mega.
"Sayang, apa yang kau lakukan? Elen ada di sini." Kata Astri begitu panik.
"Kemari!" Lagi kata Eki mengulurkan tangannya pada Mega.
"Tidak! Akulah yang harusnya kau cari! Akulah tunanganmu dia ini!" Kata Elen merasa tak terima.
"Zoy, bawa semua orang keluar." Kata Eki pada Zoy.
"Sayang," Astri sekali lagi mengingatkan putranya.
"Keluar!" Teriak Eki membuat semua orang bergetar.
Mereka mengalah dan keluar dari ruangan itu. Hal itu pun disebabkan kata-kata dokter yang mengingatkan mereka agar tak mengusik emosi Eki.
"Kemari." Lagi kata Eki saya melihat Mega masih setia berdiri di posisinya.
Mega langsung menghampiri Eki dan naik ke ranjang. Gadis itu duduk menghadap Eki.
"Kau membuatku takut." Kata Mega memeluk pria itu.
"Kenapa kau di sini?"
"Kau bodoh! Kenapa kau tidak menjaga dirimu dengan baik?! Kau mau membuatku hidup sendirian menjaga anak kita?" Kata Mega yang sudah hilang sabar menghadapi pria itu.
Bukan hanya pria itu akan pergi bersama gadis lain, pria itu bahkan menginginkannya menjanda dan membuat anak mereka hidup tanpa seorang ayah.
"Ap,, apa,, apa yang kau katakan?" Tanya Eki tak percaya.
"Aku hamil! Dan ayah dari bayiku ingin pergi meninggalkan kami!" Katanya sambil terisak.
"Sayang,, kau bilang ada bayi??" Eki langsung mengarahkan tangannya ke arah perut Mega.
"Tidak! Tidak ada bayi untukmu!" Kata Mega dengan kesal.
Eki merasa sangat senang, jadi ia langsung menarik Mega ke pangkuannya. Ia tertawa keras karena perasaan bahagianya.
"Malah tertawa," gerutu Mega melihat pria itu. Ia langsung menyandarkan kepalanya di dada Eki.
Hatinya sakit, bahkan saat mendengar pria itu tertawa bahagia.
"Kumohon, kumohon jangan melakukan apa pun sesuka hatimu. Kau bukan hanya membuatku menjanda, kau bahkan akan membuatku menderita menjaga anak kita sendirian!" Isak Mega.
Eki memeluk erat Mega. Mereka sekarang memiliki seorang anak, tapi ia belum menyelesaikan urusannya.
Dinding penghalang antara hubungan mereka masih sangat tinggi.
Tapi dengan situasi sepeti ini, ia tidak mungkin membuat Mega dan anaknya menunggu terlalu lama.
"Carikan aku ponselku." Kata Eki pada Mega.
"Ponsel? Kenapa?" Tanya Mega.
"Carikan dulu." Kata Eki.
Mega langsung turun dari tempat tidur dan mencarikan pria itu ponsel.
"Ini," kata Mega memberikan ponselnya pada pria itu.
Eki langsung mencari nomor seseorang di kontaknya lalu menghubunginya.
"Halo," kata Eki.
"Halo Pak, bagaimana dengan kesepakatan kita?" Kata Eki seraya mengusap rambut Mega.
"Saya rasa kita perlu bertemu dan membahasnya lagi."
"Baiklah, kalau begitu besok, bagaimana?"
"Oh, baik pak, saya akan mengirim scedule sa,,"
Brak!!!
Mega merebut ponsel itu dan melemparkannya ke lantai.
"Kau gila!" Kau sedang sakit! Bagaimana bisa kau menemui orang itu dengan keadaan seperti ini?!" Isak Mega menatap pria itu dengan tajam.
Orang yang tadinya berada di lua kamar sudah masuk ke dalam melihat kejadian itu.
Ponsel Eki tercecer di lantasi Mega sedang memarahi Eki.
"Tidak, aku harus melakukannya, ini urusan yang mendadak," kata Eki memegang bahu Mega.
"Jangan! Jangan sentuh aku!" Ucap Mega melepaskan tangan Eki dari bahunya.
"Bisa-bisanya kamu masih memikirkan pekerjaan dalam situasi seperti ini!? Kau sama sekali tak memikirkan ku!
Kau punya orang tua, kau punya banyak orang yang mengharapkan mu sembuh!
Tapi kenapa?
Kenapa kau malah membuat dirimu semakin tersiksa?
Apa kau baru puas saat semua orang menangis karena kehilanganmu?!" Teriak Mega pada pria itu.
Eki sangat terkejut melihat Mega marah-marah, gadis itu sedang hamil, bagaimana bisa dia membiarkan Mega emosi seperti itu.
"Baiklah, baik,, aku tidak akan melakukannya." Kata Eki langsung memeluk Mega dan menepuk pelan punggung gadis itu.
"Maaf, maafkan aku, aku salah," katanya menenangkan Mega yang terisak di pelukannya.
Minta like dongss🙏🙏🙏