NovelToon NovelToon
Lima Tahun Dipenjara, Kini Seluruh Keluarga Berlutut

Lima Tahun Dipenjara, Kini Seluruh Keluarga Berlutut

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Putri asli/palsu / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:28.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vira Dusk

Lima tahun dipenjara. Enam puluh bulan tanpa satu pun kunjungan.

Keira Pratama keluar dengan kaki pincang, ginjal yang hilang, dan hati yang sudah membeku. Dia putri kandung keluarga konglomerat Pratama, tetapi sejak kecil dibuang ke panti asuhan, sementara Vanessa, anak orang lain, dimanjakan sebagai putri kesayangan.

Dulu, Vanessa mendorong seseorang dari tangga, tetapi Keira yang dipenjara. Mama-nya menghapus CCTV. Papa-nya menyuruhnya diam. Lucas, pria yang pernah dia cintai, justru menjadi orang yang mengirimnya ke balik jeruji.

Namun Keira yang kembali bukan lagi gadis penurut.

Saat rahasia mulai terbongkar, keluarga yang dulu membuangnya satu per satu hancur oleh penyesalan. Dan di saat semua orang meninggalkannya, Rayhan Hartono, pewaris Hartono Group, diam-diam berdiri di sisinya.

Kini mereka semua berlutut di bawah hujan.

Tapi bagi Keira, satu hal tetap belum terjawab: **apakah penyesalan mereka datang terlambat?**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30

Sulaman yang Dirobek

Jessica Hartono berhenti di tengah pintu ballroom.

Empat perempuan dari lingkar sosialnya masuk di belakang. Mereka memakai gaun bermerek dan perhiasan besar, tersenyum kepada tamu yang mereka kenal seolah kedatangan terlambat itu sudah direncanakan.

Rayhan berdiri di sisi Keira. "Kita bicara nanti."

Ia belum sempat menjelaskan mengapa Edmond dan Yolanda dibawa ke rumah sakit. Jessica sudah mengangkat gelas dari baki pelayan dan berjalan ke arah mereka.

"Rayhan," katanya. "Kamu tidak menyambut ibu tirimu?"

Rayhan tidak memanggilnya ibu. "Undanganmu dicabut dua tahun lalu."

"Ini ulang tahun Oma, bukan rapat perusahaanmu. Ferdinand tetap putra Oma dan aku istrinya."

Nama Ferdinand membuat Keira teringat pesan palsu yang belum ia ketahui. Ia hanya melihat kebencian Jessica berpindah dari Rayhan ke wajahnya.

Oma masih dikelilingi tamu di sisi lain aula. Musik dan percakapan menutup nada tegang di dekat pintu.

"Kamu Keira?" tanya Jessica.

"Ya."

"Kita akan bicara. Tapi bukan sekarang. Oma tidak suka adegan sebelum hidangan utama."

Jessica tersenyum tipis, lalu berjalan menuju kelompok keluarga lama seakan percakapan itu tidak penting. Empat perempuan pengikutnya menyebar di ballroom.

Rayhan memberi isyarat kepada kepala keamanan agar memperketat pintu. Pada saat yang sama, Brandon datang dari koridor servis dan berbisik bahwa ambulans Edmond sudah berangkat. Perhatian Rayhan terpecah hanya beberapa detik.

Itu cukup.

Di dekat panggung, dua staf membawa Peony Agung dari ruang penyimpanan. Oma telah meminta bagian setengah jadi itu ditampilkan selama lima belas menit agar para kurator melihat perkembangan Keira. Karya tersebut dipasang pada bingkai datar dengan penutup akrilik yang belum diturunkan karena Keira masih menjelaskan perubahan pola kelopak.

Sebelum dipindahkan, Keira dan konservator memotret kondisi kain dari delapan sudut. Setiap klip diberi nomor. Suhu serta kelembapan ruangan dicatat, dan hanya Keira atau konservator yang boleh menyentuh permukaan. Setelah sesi tanya jawab, penutup akrilik harus dipasang kembali dan karya dibawa ke ruang terkunci.

Prosedur itu seharusnya cukup untuk pameran singkat. Tidak ada yang memperhitungkan seorang anggota keluarga Hartono akan sengaja menahan penutup dan membawa masuk orang yang dilarang mendekati saksi kasus.

Nilai sementara pada pelat tertulis Rp 30 miliar.

Keira berdiri di sisi bingkai. Tiga kelopak yang ia buat selama dua minggu berada di tengah, dikelilingi bagian lama yang tidur bertahun-tahun. Ia telah memperkuat kain terbakar dengan lapisan sutra baru, tetapi satu garis sambungan masih menunggu jahitan akhir.

Seorang kurator bertanya bagaimana ia akan menyatukan warna lama dan baru.

"Aku tidak akan menyembunyikan bekas terbakar," jawab Keira. "Garis itu tetap ada, tapi bunga baru akan tumbuh melewatinya."

Tamu mencatat jawabannya.

Pintu samping panggung terbuka.

Vanessa muncul mengenakan gaun krem dan mantel tipis. Pagi itu, Jessica menggunakan pengacara serta jaminan pribadi untuk memperoleh penangguhan penahanan. Syaratnya melarang Vanessa mendekati Evelyn, bukan Keira. Nama Vanessa kemudian dimasukkan sebagai asisten pribadi Jessica, sehingga petugas pintu tidak menahan orang yang dibawa anggota keluarga Hartono.

Kepala keamanan sempat meminta konfirmasi. Jessica menggunakan kartu akses lama milik Ferdinand dan berkata seluruh tamunya berada di bawah tanggung jawab mantan kepala keluarga. Petugas menelpon Brandon, tetapi panggilan masuk ketika ia sedang mengurus ambulans Edmond dan Yolanda. Selama kurang dari dua menit tanpa jawaban, Jessica memerintahkan pintu dibuka.

Catatan masuk tetap merekam nama Vanessa dan waktu kedatangan. Kelak tidak seorang pun dapat menyebutnya tamu yang menyelinap tanpa diketahui.

Gelang elektronik terlihat sesaat di bawah ujung roknya.

"Kak Keira," panggilnya.

Keira menoleh. "Kamu seharusnya di rutan."

"Aku dibebaskan sementara. Aku datang untuk meminta maaf."

Vanessa mendekati bingkai sebelum staf sempat menutup akrilik. Senyumnya lembut, tetapi matanya tidak pernah meninggalkan garis sambungan kain.

Keira bergerak menghalangi. Kaki kirinya terlambat setengah langkah.

Vanessa meraih sisi kain.

"Jangan sentuh!"

Klip bingkai terlepas. Vanessa menarik kedua sisi pada bagian yang belum diperkuat. Sutra lama mengeluarkan bunyi pendek, lalu terbuka sepanjang garis bekas terbakar.

Peony Agung terbelah dua.

Separuh kain jatuh ke lantai. Benang merah, emas, dan hijau terurai di atas marmer. Tiga kelopak baru Keira terpisah dari batangnya.

Ballroom menjadi hening.

Keira tidak langsung bergerak. Empat jari kirinya terangkat seolah masih memegang jarum yang tidak ada. Getaran mulai dari ujung jari, naik ke pergelangan, lalu seluruh lengan.

Lima tahun di lapas, sulaman adalah satu-satunya tempat ia boleh memilih warna dan arah. Sipir bisa mengambil makanan, surat, tidur, bahkan bagian tubuhnya, tetapi selama benang masih melewati kain, ada sesuatu yang tetap mengikuti kehendaknya. Peony Agung bukan karya yang ia buat di penjara, tetapi setiap tusuk baru membawa cara bertahan yang lahir di sana.

Sekarang benang-benang itu berada di bawah sepatu para tamu.

Keira berlutut dan mengangkat potongan kain. Tidak ada tangis. Napasnya terlalu pendek untuk menghasilkan suara.

"Aku tidak sengaja," kata Vanessa dengan nada manis yang dapat didengar seluruh aula. "Kainnya memang sudah rapuh. Mungkin karya Kak Keira tidak sekuat yang semua orang kira."

Andy menerobos kerumunan. "Jangan injak benangnya! Tutup area ini!"

Ia berjongkok membantu Keira mengumpulkan potongan tanpa menarik simpul. Seorang staf mengambil kotak konservasi.

Jessica datang bersama empat temannya.

"Jadi ini perempuan itu," katanya keras.

Keira mengangkat kepala.

Jessica menunjukkan ponsel. Di layar ada foto yang dipotong: Keira keluar dari mobil hitam pada hari ia pertama kali datang ke Menteng. Sudut gambar menghilangkan Brandon dan memperlihatkan lambang Hartono. Di bawahnya ada pesan Vanessa yang mengklaim mobil tersebut milik Ferdinand.

"Gadis ini selingkuhan suamiku!"

Suara kaget menyebar di ballroom.

"Itu mobil Rayhan," kata Keira. "Aku tidak pernah bertemu Ferdinand."

Jessica tidak mendengarkan. "Kamu mendekati laki-laki tua, lalu bersembunyi di belakang anaknya. Perempuan seperti apa yang melakukan itu?"

"Perempuan di foto itu dijemput Brandon atas perintahku," kata Rayhan dari beberapa meter jauhnya.

Namun salah satu petugas keamanan memanggilnya karena ambulans meminta identitas pasien. Ketika Rayhan menoleh, Vanessa menangis keras.

"Tante Jessica, Kak Keira mengancamku agar diam. Dia juga mendorong Eve. Sekarang dia memakai Ko Rayhan untuk menutup semuanya."

"Evelyn sudah menyangkal itu," kata Andy.

Salah satu teman Jessica mendorong bahunya. Andy jatuh mengenai kaki bingkai. Kacamata merahnya terlepas dan pelipisnya membentur lantai.

Keira mencoba berdiri untuk membantunya.

Empat perempuan itu menutup jalan.

Serangan berlangsung cepat, didorong status Jessica yang membuat tamu dan petugas rumah ragu sepersekian detik terlalu lama. Satu tangan menarik sanggul Keira. Tamparan mengenai pipi kanan, lalu kiri. Tarikan lain merobek lapisan bahu gaun tulle.

Keira mengangkat lengan untuk melindungi kepala. Kaki kirinya kehilangan tumpuan. Ia jatuh di samping potongan Peony Agung.

Tidak ada perlawanan yang teratur. Tubuhnya kembali pada kebiasaan lapas: mengecil, menutup bagian vital, menunggu serangan berhenti. Ia tidak menangis dan tidak berteriak. Diam itu bukan ketabahan yang indah. Itu respons tubuh yang terlalu sering belajar bahwa suara hanya mengundang pukulan berikutnya.

Andy bangkit dengan darah tipis di pelipis dan mencoba menutup tubuh Keira. Ia didorong lagi sampai bahunya menghantam panggung.

"Berhenti!" teriak seorang tamu.

Amanda berlari dari sisi taman, tetapi dua pengawal pribadi Jessica menghalangi jalur. Brandon memanggil keamanan Hartono untuk membuka barikade.

Kevin berada di dekat meja tamu ketika melihat Keira jatuh. Ia mendorong dua orang di depannya dan mencoba berlari, tetapi bekas operasi lambung menarik begitu keras hingga tubuhnya membungkuk. Tangannya meraih sandaran kursi agar tidak ikut jatuh.

"Kei!"

Keira tidak menoleh.

Oma memukul lantai dengan tongkat kecil dan memerintahkan musik dihentikan. Suaranya biasanya bisa membungkam satu rumah, tetapi empat perempuan itu bergerak dalam kepanikan yang mereka sendiri ciptakan. Mereka tahu begitu keamanan Hartono mencapai lingkaran, kekuasaan Jessica akan berakhir.

Para tamu mulai mundur. Beberapa mengangkat ponsel, yang lain memanggil ambulans. Seorang kurator dan dua staf menutupi potongan Peony Agung dengan kain konservasi agar tidak terinjak.

Satu tamparan mengenai telinga kanan Keira. Benturan berikutnya membuat sisi kiri kepalanya membentur alas display.

Suara ballroom berubah menjadi denging tinggi.

Keira kehilangan keseimbangan dan menempelkan telapak pada lantai. Tekanan memenuhi kedua telinganya. Ia melihat Kevin meneriakkan namanya, Oma mengetukkan tongkat, dan sebuah baki logam jatuh dari tangan pelayan.

Semua gerakan itu seharusnya menghasilkan suara berbeda.

Yang sampai kepadanya hanya satu nada tipis dari dalam kepala sendiri.

Lampu masih menyala. Mulut orang-orang bergerak. Gelas jatuh di dekat meja, tetapi Keira tidak mendengar pecahannya.

Denging itu menghilang.

Yang tersisa hanya sunyi.

Ia melihat gaunnya robek di bahu dan sisi pinggang. Lapisan dalam masih menutup tubuh, tetapi tulle terlepas dan mutiara berserakan. Keira menarik potongan kain ke dada, berusaha menutupi dirinya sambil melindungi sulaman yang terbelah.

Seorang perempuan mengangkat tangan untuk tamparan terakhir.

Tangan itu tidak pernah turun.

Jari-jari panjang menangkap pergelangannya di udara.

Rayhan berdiri di belakang perempuan itu. Wajahnya tidak menunjukkan apa pun, tetapi cengkeramannya membuat kulit di sekitar pergelangan memutih.

Ia melepaskan jas hitamnya dengan tangan lain. Sulaman peony di dada bergerak sesaat sebelum seluruh jas jatuh menutupi bahu dan tubuh Keira yang pakaiannya robek.

Keira mengangkat wajah. Air mata akhirnya mengaburkan pandangannya.

"Kamu datang menyelamatkanku?"

Rayhan menariknya ke dalam pelukan, lebih erat ketika merasakan tubuhnya gemetar.

"Hm."

Keira tidak mendengar jawabannya.

Ia hanya merasakan getaran rendah itu di dada Rayhan.

Rayhan menyebut namanya sekali lagi. Keira melihat bibirnya bergerak, tetapi tidak memberi respons sampai ia merasakan tangan Rayhan di bahu. Mata Rayhan turun ke telinganya, lalu kembali ke wajahnya.

Ia memahami ada sesuatu yang lebih buruk daripada memar.

1
Intan Marliah
mewekkk banget... ceritanya disusun seepik ini.
Iba Sa Iba Daud
apa ginjal tu tuk bokapnya ato evelyn
Iba Sa Iba Daud
Kluarga bangat iblis... si kevin ni ga bs apa" klo udh depan bokapny.. bilang priksa CCTV tp bentakn bokap diam..
Iba Sa Iba Daud
sungguh orgtua yg pling kejam.. tunggu sj katmamu tua bngka
Iba Sa Iba Daud
kavin klo lo sayg kaira cari tau ksuus 5 thn llu dn sobeknya baju adk tiri manja lo tu
Rina Arie
good book
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!