SEBELUM MEMBACA NOVEL INI, ADA BAIK NYA MEMBACA KISAH ORANG TUA MEREKA DULU BIAR PAHAM. KARENA KISAH INI SALING BERKAITAN DENGAN KISAH SEBELUMNYA 🙆🏻♀️
👉🏻 LOVE MY BIG BOSS ❤️
TENTANG NOVEL INI :
Mengisahkan tentang Avkha, Seorang pewaris tunggal dari keluarga Elzel Putra Pratama yang menikahi Aryn--Seorang gadis yang sudah di kenal Avkha sejak lama, tapi gadis itu sama sekali tak tau tentang dirinya dan bahkan tak menginginkan pernikahan di antara keduanya terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 GAUN MERAH
Pagi
Pagi yang sama seperti sebelumnya. Tidak ada hal yang berbeda. Dari suasana, semuanya.
Aryn dan Riany sedang duduk menikmati sarapan. Dering dari handphone mengentikan suapan Riany. Segera wanita itu mengangkat telepon. Wajahnya terlihat sumringah kala mendapat telepon dari orang yang penting menurutnya, yang pastinya orang yang akan memberinya uang.
"Halo, Bos Julian?" Riany sangat antusias, sambil meninggalkan meja makan.
Aryn tetap melanjutkan sarapan, sesekali dia melihat ke arah Riany yang bicara sangat serius.
"Gimana jadi, Bos? Soal barangnya aku gak mungkin bohong."
"Masih p3r4w4n?" Tanya Julian yang sedikit meragukan Riany.
Riany melirik Aryn yang masih sarapan.
"Masih, pokoknya tenang saja. Nanti malem aku bawa dia ke hadapan Bos."
"Oke. Aku percaya sama kamu. Untuk DP nya aku transfer sekarang. Jangan lupa bawa dia nanti malam ke Hotel yang sudah kita janjikan."
"Siap, Bos!" Riany sangat kegirangan.
*****
Malam
Malam ini perasaan Aryn sangat tidak enak. Sedari tadi dia merasa gelisah. Apalagi saat Riany menyuruhnya berdandan secantik mungkin.
Aryn hanya memandangi gaun terbuka yang terletak di atas kasur. Gaun merah yang hanya mempunyai lengan sejari, serta bagian dada yang terbuka lebar. Aryn sendiri merasa jijik membayangkan dirinya yang memakai gaun itu.
"Aryn!!! Kenapa belum pakai gaun? Ini sudah jam berapa? Lelet banget sih geraknya!"
Riany menarik tubuh Aryn, memaksa melepaskan baju yang sedang dipakainya untuk diganti dengan gaun yang sudah dia siapkan.
"Bibi, aku gak mau pakai gaun itu!"
"Heh! Gak tau terimakasih banget sudah di belikan gaun. Bibi beli gaun ini pakai uang bukan pakai daun." Ocehan Riany yang selalu membuat pekak telinga. Segera Aryn menuruti perintah Riany karena tidak mau menjadi masalah yang lebih besar.
*
"Nah, gitu kan cantik." Puji Riany melihat Aryn mengenakan gaun merah yang di siapkan nya.
Aryn hanya diam, sangat risih karena bagian dadanya yang menampakan belahan. Dia berusaha menutupi menggunakan tangan. Ini untuk pertama kali dia berpenampilan begitu terbuka di depan umum.
Riany segera membawa Aryn pergi.
"Bibi, kita mau kemana?"
"Hotel."
"Ngapain?"
"Bertemu seseorang."
"Siapa?"
"Jangan banyak tanya!"
Aryn kembali terdiam.
"Inget ya, kamu harus bersikap baik dan nurut sama orang yang kita temuin nanti."
Perasaan Aryn semakin tidak enak. Dia merasa ada sesuatu yang akan terjadi padanya. Tapi, dia sama sekali tak menaruh curiga atas apa yang dilakukan Riany saat ini. Aryn tidak tahu, Riany sudah melakukan transaksi pada seseorang atas dirinya.
Aryn terlalu larut dalam pikiran, hingga tak sadar mereka kini sudah berada di depan pintu kamar Hotel. Pintu berwarna putih, yang terdapat angka 77 yang menempel padanya.
"Sana masuk!" Perintah Riany, sedikit mendorong pundak Aryn.
"Ada siapa di dalam sana, Bi? Bagaimana kalau yang menunggu di dalam adalah seorang laki-laki?"
"Ya emang itu. Sekarang ini adalah pekerjaanmu, Ryn. Kau harus melayani setiap orang yang Bibi siapkan untukmu."
"Astaga, Bibi! Bibi menjual ku?"
"Jangan protes, Ryn! Kita butuh uang untuk hidup."
"Tapi gak gini juga cara, Bi. Kita bisa cari uang dengan cara yang lain!"
"Berisik kamu! Gak usah sok mengajari Bibi! Awas kalau kamu berani macam-macam dengan Bibi! Bibi habisi kamu!!!"
Tiba-tiba pintu kamar Hotel terbuka. Keluarlah seorang Pria yang tidak terlalu tua. Mungkin 30 tahunan usianya. Dia adalah Julian. Orang yang telah mengadakan janji dengan Riany.
Julian menatap Riany dan Aryn bergantian.
"Kenapa ribut-ribut?"
"A--anu, maaf Bos." Riany tersenyum getir.
"Ini barang yang aku janjikan, Bos." Riany memperkenalkan Aryn.
Julian menatap Aryn dari atas hingga ke bawah. Aryn sangat merasa jijik dengan semua ini.
Julian menarik tangan Aryn masuk ke dalam kamar, sambil berbisik di telinga Riany.
"Sisanya aku transfer kalau sudah selesai."
"Siap, Bos!" Riany begitu sumringah.
Pintu kamar di tutup.
Riany pulang dengan perasaan menggebu-gebu, karena sudah membayangkan dirinya sebentar lagi akan mendapat uang yang begitu banyak.