"Derajat kita berbeda, hidup kita tidaklah sama, aku tak pantas untukmu, walau aku mencintaimu"
Pada awalnya Nisa lebih dulu mengenal Ryan, saat ia menggantikan posisi bibinya sebagai seorang baby sitter untuk menjaga Viona, gadis kecil anak dari seorang Ryan Brawster.
Semakin hari Viona mulai merasa nyaman saat berada didekat Nisa, hingga membuat Viona ingin menjadikan Nisa sebagai ibu sambungnya. Namun, ternyata keinginan itu ditentang oleh Katty yang sudah menjodohkan Ryan anaknya dengan seorang wanita yang bernama Merry.
Akankah takdir menyatukan Nisa dan Ryan?
Apa keinginan Viona bisa terwujud?
Ikuti kisah mereka yang berliku dan penuh haru dalam menuju kebahagiaan.
Terima kasih semua.
Jangan lupa vote dan like ya.
Selamat membaca!
Terima kasih ya all.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Pradita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata Benar
Selamat membaca!
Mobil yang dikendarai oleh Thomas, tepat berhenti di area parkir kendaraan. Nisa pun tampak heran dan mulai mengedarkan pandangan melihat sekelilingnya lewat kaca mobil.
"Kenapa tempat ini tidak asing untukku? Aku sepertinya pernah ke tempat ini," batin Nisa masih meneliti dengan seksama semua yang terlihat olehnya.
"Viona sayang, kita sudah sampai. Pakai topi sebelum turun dari mobil ya, karena cuaca di luar sangat terik!" titah Ryan pada putrinya.
"Yeay! Kita sudah sampai di rumah Ibu. Sebentar lagi aku akan bertemu Ibu." Viona bersorak sorai sangat bahagia.
Ryan pun turun lebih dulu sebelum Thomas membukakan pintu untuknya. Setelahnya Nisa dan Viona juga juga ikut menyusul.
"Viona, pegang tangan Ayah dan Aunty ya! Kita jalan sama-sama," titah Ryan sembari meraih tangan mungil putri kecilnya itu dan menggenggamnya dengan erat.
Viona pun mengangguk patuh. Mereka bertiga kini melangkah beriringan melalui jalan setapak yang cukup jauh menuju ke arah makam.
"Ayah, Vio mau tanya deh. Rumah Ibu kan dekat dari rumah kita, tapi kenapa Ayah baru bawa aku ke sini?" tanya Viona penasaran.
"Kamu akan tahu jawabannya nanti, sayang."
"Kalau begitu, ayo Aunty dan Ayah jalan lebih cepat lagi supaya aku bisa segera sampai di rumah Ibu." Viona mempercepat langkah kakinya karena tidak sabar ingin segera tiba di rumah ibunya yang selama ini begitu ia rindukan.
Ryan dan Nisa mengikuti langkah kaki Viona yang terus berjalan memasuki area tempat pemakaman umum.
Nisa tersentak kaget, saat melihat banyak makam yang berjajar rapih di hamparan tanah luas yang saat ini ia pijak. Kening Nisa mengerut dalam, ia tak mengerti dengan tujuan Ryan yang membawa Viona ke tempat ini.
"Tuan, kenapa kita ke sini?" tanya Nisa dengan nada berbisik, agar tak terdengar oleh Viona yang kini kelihatan sangat bahagia.
"Kamu akan tahu nanti!" jawab Ryan singkat dengan raut sendu di wajahnya.
Perasaan Nisa berubah menjadi tak tenang, ia merasa gundah saat langkah ketiganya semakin jauh berjalan sampai di tengah-tengah area pemakaman.
Viona mendongakkan kepalanya ke atas, dan menatap wajah ayahnya dengan ekspresi penuh tanda tanya.
"Ayah, dimana Ibu tinggal? Kenapa kita harus melewati kuburan? Aku takut, Ayah..." Rengek Viona sembari menarik-narik tangan Ryan, hingga genggaman tangannya terlepas dari Nisa.
Langkah Ryan terhenti di sebuah makam yang terlihat indah dengan taburan bunga segar di atasnya. Makam yang dilindungi dengan marmer mahal dan terlihat sangat terawat.
Namun, tiba-tiba saja Ryan bertekuk lutut di hadapan Viona sembari menggenggam erat pundak putrinya itu.
"Sayang, kita sudah tiba di rumah Ibu..." Lidah Ryan terasa kelu untuk langsung mengatakan yang sesungguhnya, hingga ia pun menjeda kalimatnya untuk sejenak menarik napasnya dalam-dalam.
"Di mana, Ayah? Aku tidak melihat ada rumah di sini!" Protes Viona sembari mengedarkan pandangan ke area sekeliling.
Ryan tak kuasa menahan pedih di hatinya, ia segera merengkuh tubuh mungil Viona dan memeluknya dengan sangat erat. Namun, ia berusaha kuat untuk menyembunyikan kerapuhannya di hadapan Viona.
Ryan bangkit dari posisi berlututnya sembari menggendong tubuh Viona, putri kecilnya itu terus mengajukan protes dan berulang kali bertanya dengan pertanyaan yang sama karena Ryan tak kunjung menjawabnya.
"Sayang, lihat Ayah. Ini adalah rumah Ibu, tempat peristirahatan terakhir ibumu." Ryan mencoba untuk dapat menjelaskan secara perlahan pada Viona. Ia menunjuk sebuah makam yang saat ini berada di hadapannya.
Viona melihat ke bawah dan menatap nanar ke sebuah makam, seperti yang telah ayahnya katakan sebagai tempat peristirahatan terakhir ibunya saat ini.
"Itu bukan rumah ibu, Ayah. Ayo antarkan aku untuk bertemu ibu." Viona mengguncangkan tubuhnya dalam pelukan Ryan, hingga ia turun dari gendongan sang ayah.
Viona menarik-narik tangan Ryan, agar melanjutkan langkah kakinya. "Ayah, dimana rumah ibu? Vio mau ketemu ibu. Vio mau bawa Ibu pulang dan bisa main lagi bersama Ibu."
"Kasihan Viona, ternyata benar apa yang dikatakan Tuan Ryan sewaktu di apartemen. Makam ini adalah makam Bella," gumam Nisa yang sudah tahu kebenarannya setelah membaca nama yang terukir pada batu nisan.
Bersambung✍️