Seorang wanita pekerja kantoran yang rasional bertransmigrasi ke dalam novel romansa tragis sebagai Geneviève de Montmirail, seorang putri Duke yang ditakdirkan dieksekusi karena cintanya yang gila dan obsesif kepada Duke muda, Lucien de Vaudémont.
Bertekad untuk mematahkan bendera kematiannya (death flag), Geneviève memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari kehidupan Lucien dan lingkungan istana yang beracun. Alih-alih mengejar cinta fana, ia menggunakan kecerdasannya dalam administrasi keuangan untuk memajukan wilayahnya dan membuka bisnis perhiasan yang mendobrak tren kekaisaran.
Namun, sikap dingin Geneviève justru memicu retaknya "Sihir Putih" milik Putri Mahkota Camille, sang protagonis asli novel yang tampak suci namun bermuka dua. Saat Lucien mulai mengalami kilasan ingatan yang menyiksa tentang masa lalu yang tak pernah ia ketahui, Geneviève menemukan sebuah perhiasan rahasia peninggalan tubuh aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadnote, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taktik Penyelundupan
"Turunkan barang barang itu sekarang juga, atau aku akan memerintahkan prajurit istana memotong tangan kotor kalian!"
Suara bentakan Komandan Kepala Bea Cukai Ibu Kota menggelegar membelah udara sore yang dingin. Pria berwajah angkuh itu berdiri berkacak pinggang di depan kereta kuda berlambang keluarga Montmirail. Tangan kanannya bertumpu pada gagang pedang, sementara belasan prajurit berseragam merah emas mulai merangsek maju dengan tombak terhunus.
Di dalam kereta pribadi yang terparkir tidak jauh dari sana, Odette sudah berdiri dari tempat duduknya. Tangannya merogoh ke dalam celemek, menggenggam kunci inggris besinya dengan sangat erat.
"Hamba akan keluar dan memukul kepala komandan sombong itu, Nona. Hamba tidak peduli jika harus berakhir di penjara bawah tanah. Mereka tidak berhak menyentuh kereta kita," geram Odette dengan napas memburu.
"Duduklah, Odette. Kekerasan fisik melawan prajurit istana di depan umum adalah definisi dari kebodohan," perintah Geneviève dengan nada suara yang sangat tenang. Ia merapikan sarung tangan sutranya perlahan. "Mereka memiliki dekrit resmi. Jika kau menyerang mereka, faksi kerajaan akan memiliki alasan sah untuk mengeksekusi kita malam ini juga."
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Membiarkan mereka merampas permata kita?" tanya Odette putus asa.
"Tentu saja tidak. Kita akan bermain dengan aturan mereka sendiri," jawab Geneviève. Ia membuka pintu kereta kudanya dan melangkah keluar menuju jalan berbatu.
Kehadiran putri Duke of Montmirail itu seketika menarik perhatian seluruh orang di pos pemeriksaan gerbang kota. Gaun beludru hijau zamrud yang Geneviève kenakan berkibar tertiup angin musim gugur. Langkah kakinya sangat anggun, namun memancarkan otoritas seorang bangsawan tingkat atas yang tidak bisa dibantah.
"Hentikan tindakan tidak beradab ini sekarang juga," ucap Geneviève dengan suara jernih yang memotong keributan.
Komandan Bea Cukai itu menoleh. Senyum culas seketika terukir di wajahnya. Ia melepas topinya dan memberikan sedikit bungkukan yang terlihat sangat mengejek.
"Ah, Nona Montmirail. Selamat sore," sapa sang Komandan dengan nada meremehkan. "Saya hanya menjalankan tugas negara. Kami memiliki dekrit dari Kementerian Perdagangan untuk menyita semua batu mulia yang masuk ke ibu kota hari ini."
"Menyita?" Geneviève mengangkat sebelah alisnya. Ia melangkah mendekati pria paruh baya itu tanpa rasa takut sedikit pun. "Apakah kata 'menyita' benar benar tertulis di dalam dekrit tersebut, Komandan? Karena seingat saya, hukum kekaisaran menyatakan bahwa barang milik keluarga Duke hanya bisa disita setelah ada putusan pengadilan."
Wajah sang Komandan sedikit menegang. Ia berdehem pelan. "Dekrit ini menginstruksikan pemeriksaan. Kami harus memeriksa potensi sihir terlarang di dalam batu permata dari Benua Selatan."
"Pemeriksaan bukanlah penyitaan," balas Geneviève mematikan. Ia berdiri tepat di hadapan Komandan itu, menggunakan tinggi badannya untuk memberikan intimidasi psikologis. "Jika Anda ingin memeriksa barang milik keluarga Montmirail, Anda tidak boleh membawanya ke gudang istana. Itu sama saja dengan perampokan terencana."
"Lalu bagaimana kami harus memeriksanya?" tantang sang Komandan mulai kehilangan kesabaran.
"Periksa di sini. Di depan mata saya, di depan para prajurit Anda, dan di depan seluruh rakyat ibu kota yang sedang mengantre di gerbang ini," jawab Geneviève lantang.
Suara bisik bisik mulai terdengar dari para pedagang dan rakyat biasa yang menonton kejadian itu dari pinggir jalan. Keberanian putri Duke ini benar benar membuat mereka takjub.
Komandan Bea Cukai itu menyeringai lebar. Ia merasa Geneviève baru saja menggali kuburannya sendiri. Jika batu permata itu ditemukan di dalam peti, ia memiliki hak penuh untuk menahannya atas nama keamanan istana.
"Baiklah jika itu keinginan Anda, Nona Montmirail. Prajurit! Buka semua peti di atas kereta itu sekarang juga!" perintah sang Komandan dengan penuh semangat.
Beberapa prajurit segera melompat ke atas kereta kuda pembawa barang. Mereka menggunakan linggis besi untuk mencongkel penutup kayu dari sembilan peti besar yang dikirim oleh kapten kapal Laksamana Bintang. Suara kayu berderak patah terdengar nyaring.
Odette yang berdiri di belakang Geneviève menahan napasnya. Jantung pelayan itu berdetak liar. Jika batu safir dan kecubung mentah itu terlihat, hancur sudah semua rencana mereka.
"Lihat ini, Nona," seru sang Komandan saat penutup peti pertama terbuka lebar. Ia melangkah maju dengan penuh kemenangan. "Mari kita lihat batu permata selundupan apa yang Anda..."
Kalimat pria itu terhenti seketika. Mulutnya terbuka lebar, namun tidak ada suara yang keluar.
Geneviève tersenyum tipis. Ia melirik ke dalam peti kayu tersebut. Tidak ada kilauan biru atau ungu di sana. Seluruh isi peti itu dipenuhi oleh butiran kristal berwarna putih kusam yang memancarkan aroma laut yang sangat menyengat.
"Ini... apa ini?" gagap sang Komandan kebingungan. Ia meraup segenggam butiran putih itu. Ia mendekatkannya ke hidung, lalu dengan ragu menjilat ujung jarinya. Wajahnya langsung berkerut menahan rasa asin yang luar biasa pekat.
"Garam," ucap Geneviève dengan nada polos yang sangat menyebalkan. "Itu adalah garam laut kasar dari pelabuhan pesisir timur. Keluarga kami adalah pemasok garam utama kekaisaran. Apakah Anda mencurigai garam laut ini mengandung sihir kutukan, Tuan Komandan?"
Para prajurit istana saling berpandangan dengan wajah bingung. Mereka membuka peti kedua, peti ketiga, hingga peti kesembilan. Hasilnya sama. Semuanya hanya berisi tumpukan garam laut yang sangat kasar.
Terdengar suara tawa tertahan dari kerumunan pedagang di pinggir jalan. Sang Komandan Kepala Bea Cukai baru saja mempermalukan dirinya sendiri dengan menjilat garam mentah di depan umum.
Wajah sang Komandan memerah padam karena malu dan marah. Dekrit yang ia bawa secara spesifik hanya menargetkan batu mulia. Ia tidak memiliki dasar hukum apapun untuk menyita pengiriman garam keluarga Duke.
"Tutup kembali peti peti itu," perintah sang Komandan dengan suara bergetar menahan murka. Ia menatap Geneviève dengan penuh kebencian. "Kalian boleh lewat. Tetapi ingat, Nona. Jika Anda berani menyelundupkan satu butir pun permata ke ibu kota, saya sendiri yang akan memenggal kepala Anda."
"Terima kasih atas kerja keras Anda menjaga keamanan ibu kota, Komandan," balas Geneviève sambil sedikit menundukkan kepala dengan gaya mengejek.
Ia berbalik dan berjalan kembali menuju keretanya. Odette segera mengikutinya dengan langkah tergesa gesa. Begitu pintu kabin tertutup dan kereta mereka mulai bergerak melewati gerbang kota, Odette langsung menjatuhkan dirinya ke bantalan kursi.
"Nona, tolong jelaskan pada hamba," bisik Odette dengan mata membulat. "Apakah kita baru saja membuang ratusan ribu koin emas hanya untuk membeli sembilan peti garam laut yang rasanya tidak enak?"
Geneviève tertawa pelan. Ia menyandarkan tubuhnya dan merapikan gaunnya.
"Tentu saja tidak, Odette," jawab Geneviève santai. "Sebelum kurir kita berangkat ke pesisir, aku memberikan instruksi khusus untuk kapten kapal. Aku menyuruhnya membuat ruang ganda di dasar setiap peti kayu tersebut."
Odette ternganga. "Ruang ganda?"
"Benar. Bagian bawah peti itu memiliki sekat rahasia yang diisi dengan batu safir dan kecubung mentah kita. Lalu di bagian atasnya ditutupi oleh papan kayu tipis dan ditimbun dengan garam laut yang tebal. Prajurit bodoh itu hanya melihat permukaan peti, dan ego mereka yang terluka mencegah mereka untuk membongkar tumpukan garam itu lebih dalam. Kita berhasil menyelundupkan semuanya dengan sempurna."
Mata Odette berbinar terang. Rasa kagumnya pada majikannya ini benar benar sudah mencapai puncaknya. Taktik penyelundupan klasik yang digunakan oleh bajak laut pesisir berhasil diadopsi dengan sangat brilian oleh seorang putri bangsawan.
"Anda adalah penipu paling jenius yang pernah hamba kenal, Nona," puji Odette sambil tersenyum lebar. "Sekarang kita hanya perlu menyerahkan batu batu itu kepada Tuan Fabron."
Malam itu, bengkel perak Monsieur Fabron ditutup rapat dari luar. Jendela jendelanya ditutupi kain tebal agar tidak ada cahaya yang bocor. Di dalam, mesin asah bertenaga air berputar tanpa henti. Suara decitan batu yang digesek logam memenuhi udara.
Tuan Fabron dan enam anak magangnya bekerja dengan kecepatan yang belum pernah mereka lakukan seumur hidup mereka. Bonus lima ratus koin emas yang dijanjikan Geneviève telah mengubah mereka menjadi mesin pekerja tanpa lelah. Anak magang bernama Theo terlihat sangat gelisah, karena ia tahu ia tidak memiliki kesempatan untuk melaporkan kedatangan batu permata ini kepada kontaknya di istana.
Geneviève dan Odette mengawasi proses produksi itu secara langsung. Mereka duduk di sudut ruangan, menikmati teh hangat sambil melihat mahakarya mereka perlahan terbentuk.
Batu safir mentah itu dipotong dengan presisi tingkat tinggi, memancarkan warna biru malam yang sangat elegan. Kecubung ungunya diukir menjadi tetesan air mata yang memikat. Permata permata itu kemudian dipasang ke dalam kerangka perak murni yang melilit seperti sulur bunga.
Di halaman belakang bengkel, gerobak etalase kayu mahoni pesanan Geneviève berdiri dengan megah. Kayunya dipoles sampai mengilap. Kaca kristal di bagian depannya sangat tebal dan jernih. Panel pintu bajanya tertutup rapat, menunggu untuk diisi dengan perhiasan perhiasan indah tersebut.
Dua hari berlalu bagaikan kedipan mata. Hari yang ditunggu tunggu akhirnya tiba.
Pagi itu, cuaca ibu kota Lumière sangat cerah. Matahari musim gugur bersinar hangat, memberikan suasana yang sempurna untuk peluncuran bisnis Le C'eow.
Geneviève mengenakan gaun sutra berwarna biru pucat yang sangat sederhana namun elegan. Ia dan Odette membawa gerobak etalase berjalan mereka menuju Alun Alun Kemenangan, kawasan paling strategis di pusat kota yang sering dilewati oleh para wanita bangsawan kelas atas.
Mereka memarkir gerobak itu di bawah pohon rindang. Odette mengeluarkan kunci besi yang besar dan mulai membuka kelima gembok silang pada panel pintu gerobak tersebut.
"Hamba sangat gugup, Nona," bisik Odette saat tangannya memutar kunci terakhir. "Bagaimana jika tidak ada yang mau membeli perhiasan kita? Semua bangsawan masih berpikir Anda adalah wanita yang emosinya tidak stabil."
"Mereka boleh berpikir apapun tentangku," jawab Geneviève dengan senyum penuh keyakinan. "Tetapi kaum bangsawan tidak akan pernah bisa menolak godaan dari barang eksklusif. Begitu mereka melihat keindahan estetika dongeng ini, mereka akan memperebutkannya."
Odette menarik panel kayu baja itu ke atas. Etalase kaca kristal itu akhirnya terbuka untuk dunia.
Di dalamnya, di atas bantalan beludru putih murni, terpajang dua belas potong perhiasan perak bertahtakan safir biru dan kecubung ungu. Cahaya matahari pagi memantul pada logam perak tersebut, menciptakan pendaran warna magis yang luar biasa memukau. Itu adalah pemandangan yang belum pernah ada di sejarah pasar perhiasan Kekaisaran Valerand.
Beberapa wanita bangsawan yang sedang berjalan jalan pagi mulai memperlambat langkah mereka. Mata mereka terpaku pada kilauan biru dan ungu dari balik kaca kristal tersebut. Rasa penasaran mulai menguasai mereka. Mereka mulai berbisik bisik dan melangkah mendekati gerobak Geneviève.
Rencana Geneviève berjalan dengan sangat sempurna. Perangkap eksklusivitasnya telah terbuka.
Namun, tepat pada saat seorang Countess berpakaian merah muda berniat menanyakan harga sebuah kalung, suara terompet istana yang sangat melengking memecah udara pagi.
Teng. Teng. Teng.
Suara langkah puluhan prajurit istana terdengar bergemuruh dari arah utara alun alun. Kerumunan bangsawan yang mulai berkumpul di depan gerobak Geneviève seketika menoleh ke belakang.
Tiga buah kereta kuda mewah berlapis cat putih dan emas memasuki kawasan Alun Alun Kemenangan. Kereta itu dikawal ketat oleh barisan ksatria elit berpakaian zirah perak. Di belakang kereta, para pelayan istana membawa beberapa meja kayu panjang dan kursi kursi berukir yang ditutupi kain sutra putih.
Geneviève mengernyitkan dahinya. Firasat buruk yang sangat dingin merayap menyusuri tulang belakangnya.
Seorang utusan istana yang menunggang kuda putih melangkah maju. Ia membentangkan sebuah gulungan perkamen dan berteriak dengan suara yang menggema ke seluruh alun alun.
"Perhatian kepada seluruh bangsawan dan rakyat ibu kota! Atas kebaikan hati dan kemurahan Yang Mulia Putri Mahkota Camille, istana mengadakan pesta minum teh terbuka di alun alun ini sekarang juga!"
Kerumunan orang langsung bersorak gembira. Pesta gratis dari istana adalah hal yang sangat langka. Para wanita bangsawan yang tadi berada di depan gerobak Geneviève segera berbalik dan berlari menuju tenda tenda istana yang sedang didirikan dengan cepat.
Odette membelalakkan matanya. "Apa apaan ini, Nona? Mengapa Putri Mahkota tiba tiba menggelar acara tepat di hari pembukaan kita? Pesta dansa musim gugur baru akan diadakan malam nanti."
Geneviève tidak menjawab. Matanya terus menatap tajam ke arah kereta kuda utama yang kini pintunya terbuka.
Putri Mahkota Camille melangkah turun dari kereta. Wanita itu mengenakan gaun putih bercahaya yang memamerkan kesuciannya. Senyumnya terlihat sangat lembut, namun matanya yang biru menatap langsung ke arah Geneviève dengan kilat ejekan yang luar biasa mematikan.
Para pelayan istana mulai membuka kotak kotak beludru besar di atas meja panjang.
"Sebagai bentuk rasa syukur atas kedamaian kekaisaran, Yang Mulia Putri Mahkota akan membagikan cendera mata perhiasan khusus kepada setiap wanita bangsawan yang hadir pada pagi hari ini secara cuma cuma!" teriak sang utusan istana lagi.
Sorakan kegembiraan meledak lebih keras. Para wanita bangsawan saling dorong untuk mendapatkan barisan terdepan.
Odette berjinjit, berusaha melihat barang apa yang dibagikan oleh pelayan istana tersebut. Saat mata pelayan kecil itu berhasil menangkap bentuk perhiasan itu, wajahnya seketika berubah pucat pasi.
"Nona..." suara Odette bergetar hebat. Pelayan itu menunjuk ke arah meja pembagian dengan jari gemetar.
Geneviève menyipitkan matanya. Jantungnya berdetak sangat kencang. Rasa frustrasi yang selama ini ia kendalikan kini terasa seperti lahar panas yang membakar seluruh isi perutnya.
Di atas meja panjang itu, terpajang ratusan kalung dan cincin yang dibagikan secara gratis seperti permen murah.
Desain perhiasan itu adalah sulur daun yang saling mengunci. Bentuknya sama persis dengan cetak biru yang dicuri oleh perajin magang Fabron. Persis seperti desain mahakarya yang saat ini tersimpan di dalam gerobak kaca Geneviève.
Namun, Camille tidak menggunakan perak atau batu safir. Sang Putri Mahkota menggunakan logam emas kuning campuran yang sangat mencolok, bertahtakan batu rubi merah raksasa yang terlihat sangat berat dan berlebihan. Desain maksimalis Geneviève telah dibantai, diubah menjadi barang norak yang menyilaukan mata.
Camille menoleh ke arah Geneviève. Sang Putri Mahkota tersenyum sangat manis dari kejauhan, lalu mengangkat sebuah kalung emas rubi itu tinggi tinggi untuk dipamerkan.
Strategi busuk Camille terungkap dengan sangat jelas. Sang Putri Mahkota tidak berniat menjual desain curian itu. Camille memproduksinya secara massal dengan kualitas rendah dan membagikannya secara gratis kepada semua orang.
Dengan membagikan desain itu secara cuma cuma di hari yang sama, Camille telah membunuh nilai eksklusivitas desain sulur tersebut secara instan. Siapa pun yang melihat kalung perak Geneviève di dalam etalase kini hanya akan menganggap bahwa Geneviève adalah peniru menyedihkan yang menjual versi perak dari barang gratisan istana.
Le C'eow telah dihancurkan sebelum berhasil menjual satu barang pun.