Bagi Aris dan ibunya, Tita adalah istri sempurna: kaya, penurut, dan sabar. Saat Tita divonis tak bisa memberi keturunan, mereka berlagak menerima dengan lapang dada. Padahal di belakangnya, Aris diam-diam menikah siri demi mendapatkan anak sambil terus menikmati kemewahan dari uang Tita.
Mereka pikir Tita bodoh. Padahal, Tita sudah tahu segalanya.
Tanpa air mata atau labrakan emosional, Tita tersenyum dingin. Ia mulai memutus aliran dana, merebut asetnya, dan menjebak bisnis Aris ke jurang utang.
"Kalian pikir bisa hidup mewah di atas penderitaanku? Mari kita lihat seberapa lama kalian bertahan tanpa sepeser pun uangku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skenario
Malam melarut di atas penthouse apartemen mewahku di kawasan Central Park. Pemandangan gemerlap lampu kota Jakarta membentang luas di balik dinding kaca raksasa, namun suasana di dalam ruang tamu penthouse terasa begitu tenang dan hangat.
Di atas sofa kulit berwarna krem, Papi dan Mami duduk berdampingan. Di hadapan mereka, secangkir teh chamomile hangat yang disiapkan oleh asisten pribadiku masih mengusulkan asap tipis.
Peristiwa runtuhnya bisnis Aris dan berita penangkapannya atas penipuan cek kosong tentu saja langsung menyambar telinga kedua orang tuaku. Namun, tidak ada tatapan menghakimi, kemarahan pada keputusanku atau kalimat kan Papi bilang juga apa yang keluar dari mulut mereka.
Mami mengelus lembut jemariku yang terikat di atas pangkuan. Matanya yang teduh menatapku penuh dengan rasa kasih sayang seorang ibu yang lega.
"Mami sama Papi sama sekali tidak menyalahkan kamu, Tita," ucap Mami pelan, suaranya sehalus sutra. "Justru Mami sangat bersyukur... akhirnya anak perempuan Mami satu-satunya ini sadar. Kamu selama ini terlalu tulus, terlalu baik, sampai mata hatimu dibutakan oleh cinta untuk pria yang tidak tahu diuntung itu."
Aku tersenyum tipis, merasakan kehangatan yang sudah lama tak kurasakan. "Maafkan Tita ya, Mi... Pi. Dulu Tita keras kepala. Tita pikir, dengan ketulusan Tita, Tita bisa merubah Aris dan keluarganya."
Papi menyandarkan tubuh gagahnya, menghembuskan napas panjang sembari menyilangkan kaki. Pria paruh baya yang masih tampak sangat berwibawa di usianya yang berkepala lima itu menggelengkan kepala.
"Dulu, saat kamu memutuskan menikah dengan Aris, Papi dan Mami tetap hadir di pernikahan kalian," kata Papi dengan nada suara berat yang khas. "Papi hadir sebagai wali nikahmu, Mami mendampingimu. Kami tidak pernah melepasmu begitu saja, Tita. Tapi Papi tidak bisa membohongi insting bisnis dan insting seorang ayah. Sejak hari pertama Aris dan ibunya mengetuk pintu rumah kita, Papi sudah melihat gelagat pemburu harta. Mereka hanya memanfaatkan kepolosanmu dan kekayaan keluarga kita."
Aku menunduk pelan. Ingatan tentang hari pernikahan itu berputar sekilas. Papi dan Mami memang hadir dan memberikan restu formal, namun atmosfer dingin dari pihak keluargaku sangat jelas terasa saat itu. Orang tuaku tidak menyukai Aris, tetapi mereka memilih merestui secara tersirat hanya karena melihatku yang begitu memperjuangkan Aris saat itu.
"Tapi sekarang," Papi menegakkan posisinya, pandangan matanya seketika berubah tajam dan dingin aura seorang konglomerat papan atas yang berkuasa. "Papi tidak akan tinggal diam. Biar Papi yang turun tangan menghancurkan Aris dan keluarganya sampai ke akar-akarnya. Papi akan pastikan Aris membusuk di penjara dan ibunya tidak punya tempat tinggal di negeri ini."
"Jangan, Pi," potongku cepat namun lembut, memegang lengan kemeja Papi.
Papi menoleh, menatapku dengan alis terangkat. "Kenapa, Tita? Kamu masih kasihan sama pria brengsek itu?"
"Sama sekali tidak, Pi," sahutku mantap, menyunggingkan senyuman dingin yang terukir sempurna. "Urusan Aris dan ibunya sudah Tita susun dengan sangat rapi. Tita ingin menghancurkan mereka dengan tangan Tita sendiri. Tita ingin mereka tahu, wanita yang selama ini mereka bodohi adalah orang yang melempar mereka ke dasar jurang. Kalau Papi ikut campur secara langsung, mereka akan merasa bahwa ini cuma perang antar-kekuatan besar, bukan kekalahan murni Aris dari Tita."
Papi menatap mataku lama, mencari ketakutan atau keraguan di sana. Namun yang ia temukan hanyalah ketegasan murni seorang CEO Glowinc Group. Perlahan, senyum bangga terukir di sudut bibir Papi.
"Anak Papi benar-benar sudah dewasa," gumam Papi bangga, mengacak pelan rambutku. "Baiklah. Papi serahkan sisanya padamu. Tapi kalau kamu butuh bala bantuan hukum atau koneksi tingkat atas, bilang pada Papi."
"Pasti, Pi," anggukku.
Tiba-tiba, sebuah pikiran melintas di kepalaku. Berita besar mengenai kasus penipuan Aris dan skandal perselingkuhannya sudah membanjiri portal berita nasional sejak sore tadi. mustahil jika anggota keluarga kami yang lain tidak mendengarnya.
Aku menatap Papi dengan pandangan selidik. "Pi... apakah Kak Olan sudah tahu soal berita ini?"
Keheningan singkat tercipta di ruang tamu. Mami yang tadinya tersenyum lembut, mendadak menghela napas pasrah sembari memijat pelipisnya. Papi sendiri tertawa renyah, sebuah tawa yang mengandung kewaspadaan.
"Kamu pikir kakakmu itu bisa kecolongan berita tentang adiknya?" sahut Papi santai. "Olan sudah tahu sejak jam dua siang tadi, Tita. Bahkan sebelum berita itu ramai di media digital."
Jantungku berdesir pelan. "Lalu... Kak Olan bilang apa?"
"Olan tidak banyak bicara di telepon," jawab Papi menatapku tajam. "Dia cuma bilang satu kalimat, Besok pagi Olan mendarat di Jakarta."
Deg.
Aku mendadak membisu. Tubuhku bersandar kaku di sofa.
Mas Olan Orlando Pratama kakak kandungku satu-satunya. Pria berusia tiga puluh dua tahun yang memimpin cabang bisnis investasi keluarga kami di Singapura. Jika Papi adalah sosok berwibawa yang masih bisa menahan emosi dengan logika bisnis, maka Mas Olan adalah kebalikannya. Kakakku itu sangat protektif padaku, berdarah dingin, dan tidak pernah mengenal kata ampun untuk siapa pun yang berani mengusik keluarganya.
Fakta bahwa Mas Olan besok pagi tiba di Indonesia berarti satu hal: Aku selama ini berada di bawah pengawasan ketat tim intelijen milik kakakku tanpa kusadari.
"Kak Olan benar-benar pulang besok pagi, Pi?" tanyaku memastikan, mencoba menutupi rasa cemas atas apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Iya," jawab Mami menimpalinya. "Tadi Mami sudah coba tahan Olan supaya tidak usah emosi dan biarkan proses hukum berjalan. Tapi kamu tahu sendiri bagaimana watak kakakmu kalau sudah menyangkut kamu, Tita. Waktu kamu nekat menikah dengan Aris dulu, Olan yang paling keras menolak sampai dia enggan bicara sama Aris selama resepsi."
Aku menelan ludah parau. Aku bisa membayangkan dengan sangat jelas apa yang ada di dalam kepala Mas Olan saat ini.
Aris yang kini berada di sel tahanan polisi mungkin merasa dirinya sudah aman dari jangkauan kekuasaanku karena dijaga oleh jeruji besi dan petugas kepolisian. Namun, Aris sama sekali tidak tahu bahwa jeruji besi justru akan menjadi perangkap maut baginya begitu Mas Olan menginjakkan kaki di Jakarta.
Bagi Kak Olan, sel penjara bukanlah tempat perlindungan untuk Aris. Sel penjara hanyalah sebuah ruangan tertutup di mana tidak ada tempat bagi Aris untuk berlari atau bersembunyi dari amukan tangan dingin kakakku. Dihajar hingga babak belur di dalam sel tanpa ada media yang tahu adalah hal paling kecil yang bisa dilakukan Olan dengan jaringan kekuasaannya.
"Tita..." Papi menepuk bahuku pelan, memecah lamunanku. "Biarkan Olan meluapkan emosinya besok. Bagaimanapun juga, Olan itu kakakmu. Selama ini dia menahan diri karena menghargai keputusanmu memilih Aris. Sekarang, setelah Aris terbukti memanfaatkanku dan menyakitimu, Olan punya hak untuk memberi pelajaran pada pria bangkrut itu."
Aku menghembuskan napas panjang, lalu menyunggingkan senyuman tipis.
"Tita mengerti, Pi," sahutku pelan. "Tita tidak akan melarang Kak Olan. Biar Aris tahu rasa, bahwa memeras dan mengkhianati Titania artinya membangunkan seluruh singa di keluarga ini."
Mami tersenyum lega, lalu memelukku erat. "Malam ini kamu istirahat yang cukup ya, Sayang. Besok pagi Mami sama Papi mau lihat bagaimana kamu merampas kembali rumah dan semua aset yang pernah kamu berikan untuk keluarga Aris."
"Iya, Mi. Terima kasih ya, Mami, Papi... sudah selalu ada buat Tita," ucapku tulus.
Malam itu, setelah Papi dan Mami pamit kembali ke kediaman utama mereka, aku berdiri di tepi dinding kaca penthouse, menatap kilauan lampu kota Jakarta yang tak pernah tidur.
Di balik jeruji besi dingin malam ini, Aris mungkin sedang menangis meratapi nasibnya yang kehilangan rumah, mobil, dan restoran dalam sekejap. Ia mungkin berpikir bahwa hukum adalah penderitaan tertingginya.
"Kamu salah besar, Mas Aris", batinku dengan tatapan dingin menembus kepekatan malam. Hukuman dari hukum negara bahkan belum ada apa-apanya. Besok pagi, ketika Mas Olan menginjakkan kaki di Jakarta, kamu baru akan mengerti apa arti neraka yang sesungguhnya.
Aku menyesap sisa teh hijauku, menutup tirai otomatis ruang tamu, dan melangkah masuk ke kamar tidur dengan perasaan sangat tenang. Roda takdir besok pagi akan berputar lebih cepat, dan aku sudah tidak sabar untuk menyaksikan kehancuran total dari orang-orang yang pernah menganggapku lemah.
tp bgus lh...saatnya ngejar cntamu kmbli y felix...
dlunya nabur kjhtan,skrng mnuai akibtnya....slmt jd gembel.....😛😛😛
😂😂😂 jgn sampe deh pindah ke jempol kaki ,, 😁😁😁😁
tu laa akibat dr keserakahan berkedok pengen punya anak ,, 😒😒😒😒
😱😱😱😱😱
pdahl msh byk cara lain supaya punya anak ,, bisa adopsi anak kn ,, emnk dasar pgen selingkuh aj ,, 😒😒😒😒
tp yg pling ngeri,nsibnya aris d pnjra.....scra kknya tita udh blik buat ngsih doa pljran......
udh buka aib sndri,skrng mlah msuk kandang singa......ga ykin kl pad kluar dia msih utuh.....🤣🤣🤣