NovelToon NovelToon
Sisi Gelap Timbangan (The Scale & The Shadow)

Sisi Gelap Timbangan (The Scale & The Shadow)

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Sistem
Popularitas:343
Nilai: 5
Nama Author: yrp putri

Seorang Hakim Ketua yang menjunjung tinggi keadilan harus memilih antara hukum, ayahnya, dan cinta kelamnya pada seorang buronan nomor satu yang pernah menghancurkan masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yrp putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sang Ratu yang Terjaga dan Gudang Senjata di Bawah Tanah

Langkah kaki Arjuna saat kembali menyusuri jalan setapak itu tidak lagi terdengar berat dan santai seperti seorang ayah yang baru mengambil koran pagi. Langkahnya kini senyap, cepat, dan mematikan—langkah seorang pemangsa yang habitatnya baru saja diusik.

Saat Arjuna membuka pintu belakang dan melangkah masuk ke dapur, aroma *pancake* dan sirup *maple* seketika menyapanya. Di dekat konter dapur, Aluna sedang menuangkan susu ke dalam gelas kecil untuk Aurora yang masih tertidur.

Aluna menoleh, tersenyum menyambut suaminya. Namun, senyum itu membeku di detik pertama ia melihat wajah Arjuna.

Sebagai wanita yang pernah hidup berdampingan dengan Sang Algojo, Aluna tahu persis arti dari perubahan raut wajah itu. Rahang yang mengeras kaku, mata kelam yang kehilangan seluruh kehangatannya, dan postur tubuh yang menegang layaknya busur panah yang ditarik maksimal.

"Juna...?" panggil Aluna pelan, meletakkan botol susu di atas meja. Suaranya tenang, namun insting bertahannya seketika menyala. "Ada apa?"

Arjuna tidak menjawab dengan kata-kata. Ia berjalan mendekat, lalu meletakkan gumpalan kertas perkamen dan foto yang sedari tadi ia remas ke atas meja marmer dapur.

Dengan tangan yang sedikit bergetar, Aluna meratakan foto itu. Matanya melebar saat melihat gambar putrinya di dalam bidikan lensa *sniper*. Udara di paru-paru Aluna seakan ditarik paksa keluar. Detak jantungnya memburu.

Namun, kepanikan itu hanya berlangsung selama tiga detik.

Di detik keempat, Sang Hakim Ketua mengambil alih. Ketakutan seorang ibu tergantikan oleh murka absolut yang sedingin es. Aluna membaca surat dengan segel Bratva itu, mencerna setiap kata ancaman yang tertulis di sana dengan otak analitisnya.

"Lensa *sniper* kaliber tinggi. Jarak tembak kemungkinan dari bukit pinus di seberang danau," gumam Aluna, suaranya berubah menjadi datar dan sangat tajam. Ia menatap Arjuna. "Ini diambil dua belas jam yang lalu. Artinya, mereka sudah mengintai kita sejak kemarin sore. Kenapa mereka tidak langsung menembak?"

"Karena ini Bratva faksi lama. Mereka fanatik pada tradisi," jawab Arjuna dengan suara berat dan serak. Ia berjalan menuju laci dapur, mencabut sebuah pisau taktis yang selalu ia sembunyikan di balik rak panci. "Mereka tidak mau membunuh kita dari jauh. Mereka ingin kita tahu mereka ada di sini, menyiksa kita dengan ketakutan, lalu memaksa kita keluar untuk dieksekusi dari jarak dekat."

"Kalau begitu, kita tidak akan memberi mereka kepuasan itu," desis Aluna.

Wanita itu melangkah cepat menuju panel sistem pintar di dinding dapur. Ia mengetikkan serangkaian kode sandi yang sudah tidak pernah ia sentuh selama empat tahun terakhir.

**BEEP. BEEP. BEEP.**

Seketika, seluruh tirai baja anti-peluru turun menutupi setiap jendela dan pintu kaca di rumah kayu itu. Lampu utama meredup, digantikan oleh lampu darurat berwarna merah yang menyala di sepanjang lorong. Utopia kedamaian mereka telah resmi beralih mode menjadi benteng pertahanan perang.

"Bawa Aurora ke ruang bawah tanah," perintah Arjuna, menatap istrinya dengan kilatan mematikan. "Jangan keluar sampai aku memberikan kode bersih."

Namun Aluna menggeleng tegas. Ia berbalik dan menatap suaminya dengan tatapan yang sama berbahayanya.

"Tidak. Aurora akan aman di bunker, tapi aku tidak akan bersembunyi di bawah sana sementara kau berperang sendirian di luar, Arjuna," ucap Aluna, mengunci pandangan pria itu. "Mereka mengancam putriku. Aku yang akan menjadi mata dan telingamu dari ruang kendali utama. Kita habisi mereka bersama-sama."

Arjuna menatap wanita di hadapannya. Tidak ada lagi gaun musim panas atau celemek berkebun. Di hadapannya kini berdiri Sang Ratu—ahli taktik yang dulu pernah menghancurkan sistem logistik mafianya dari dalam.

Senyum miring yang kejam terukir di bibir Arjuna. "Kau benar. Mereka salah memilih keluarga untuk diancam."

**Di Ruang Bawah Tanah Rahasia**

Rumah kayu asri itu menyimpan satu rahasia besar. Di balik rak buku ruang kerja Arjuna, terdapat sebuah *lift* tersembunyi yang membawa mereka dua puluh meter ke bawah tanah.

Ruangan itu terbuat dari beton bertulang dan dilapisi pelat baja. Di satu sisi, terdapat ranjang kecil dan perlengkapan bertahan hidup untuk Aurora. Di sisi lain, terdapat deretan monitor yang terhubung dengan puluhan kamera pengintai tersembunyi yang tersebar di seluruh hutan Wakatipu, serta sebuah lemari besi raksasa yang belum pernah dibuka sejak mereka tiba di Selandia Baru.

Aluna membaringkan Aurora yang masih terlelap lelap ke atas ranjang, menyelimutinya dengan hati-hati. Gadis kecil itu bahkan tidak menyadari bahwa neraka sedang mengintai di luar rumahnya.

Sementara itu, Arjuna berdiri di depan lemari besi raksasa. Ia memindai telapak tangan dan retinanya.

**KLIK.**

Pintu lemari besi itu terbuka, memperlihatkan mahakarya Sang Algojo: deretan senapan serbu, senapan runduk (*sniper rifle*), granat asap, rompi antipeluru, dan puluhan magasin yang tersusun rapi. Arjuna telah bersumpah untuk tidak pernah menggunakannya lagi, namun ia tidak pernah membuangnya. Ia tahu, masa lalu adalah bayangan yang tidak bisa dihindari selamanya.

Arjuna melepas kemeja flanelnya. Ia mengenakan kaus taktis hitam ketat, memasang rompi *kevlar*, dan mulai mempersenjatai dirinya. Dua pucuk pistol *Glock 19* disematkan di paha kiri dan kanannya. Sebilah pisau tempur *karambit* terselip di dadanya. Terakhir, ia mengambil senapan serbu *HK416* hitam kesayangannya.

Aluna, yang kini duduk di depan meja monitor, menyalakan sistem pelacakan termal (panas tubuh). Jari-jarinya menari cepat di atas *keyboard*.

"Sistem termal aktif," lapor Aluna tanpa menoleh, matanya terpaku pada layar. "Aku mendeteksi tiga... tidak, empat titik panas di bukit barat daya. Jaraknya sekitar 800 meter dari perimeter rumah. Mereka menyebar. Satu *sniper*, tiga *spotter* (pengintai)."

Arjuna mengokang senapannya dengan bunyi *klak-klik* yang menggema tajam di ruangan beton itu. Ia memasang alat komunikasi nirkabel (*earpiece*) di telinganya.

"Bratva selalu bergerak dalam tim beranggotakan delapan orang. Kalau ada empat di bukit, empat lagi pasti sedang bergerak mendekati gerbang utama," ucap Arjuna dingin.

Ia berjalan menghampiri Aluna, menunduk, dan mencium bibir istrinya dengan cepat namun penuh gairah mematikan.

"Pandu aku, Ratu Es. Jangan biarkan satu pun dari mereka melihat matahari terbit besok pagi," bisik Arjuna.

"Habisi mereka semua, Juna," balas Aluna, matanya memancarkan kedalaman jurang yang gelap. "Demi Aurora."

Arjuna berbalik, melangkah masuk ke dalam terowongan evakuasi yang akan membawanya menyusup ke tengah hutan, bersiap untuk membantai hantu-hantu dari Eropa dan membuktikan sekali lagi... mengapa ia dijuluki sebagai Sang Algojo.

1
Teduh Kata
semangat!
yrputri: terimakasih
total 1 replies
Teduh Kata
Hai kak, aku sudah bom like karya kamu, dan mari salin follow yah dan jangan luoa like karya aku juga. mari saling dukung💪
yrputri: hai kak, terimakasih sudah bom... sudah saya like sudah saya like balik juga ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!