Asap kelabu dari sisa pembakaran minyak mesin siber menyelinap masuk melalui celah pilar obsidian Aula Gerhana, berputar-putar menciptakan bayangan kaku di atas lantai batu yang dingin. Di luar menara istana, langit Planet Akuma sedang memuntahkan badai hujan merkuri cair yang paling pekat sepanjang satu abad sejarah klan Shinto. Ketukan logam mendidih yang menghantam atap baja terdengar konstan, menciptakan simfoni bising yang meredam detak kehidupan normal. Dengan gaya tarik bumi yang bekerja seratus kali lipat lebih ekstrem, atmosfer di dalam bilik bersalin itu terasa begitu menjepit raga, memaksa setiap hela napas yang keluar dari tenggorokan terasa berat dan membakar sistem pernapasan seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Gugurnya Sang Pelindung
Ketegangan politik di tanah Akuma makin memuncak saat Ryuken menginjak umur tujuh tahun. Malam di planet batu hitam ini tidak lagi cuma membawa badai hujan merkuri yang berisik. Hawa pengkhianatan dari orang-orang Sektor Delapan sudah terasa begitu dekat, merayap pelan di antara lorong-lorong kuil yang gelap. Tepat di sepertiga malam yang sunyi, sirene darurat di sepanjang menara istana mendadak berbunyi sangat nyaring. Suaranya yang melengking memutus keheningan malam, menyebarkan kepanikan di antara para pelayan.
Kabar buruk datang dari luar angkasa. Dinding pembatas dimensi kuno yang menjaga kedamaian dunia dikabarkan jebol. Celah besar peninggalan perang zaman purba itu menganga lebar, mengancam akan memuntahkan kembali amukan monster serigala raksasa dan pasukan monster ke alam manusia. Sebagai pemimpin tertinggi yang memegang tanggung jawab penuh, Raja Juro Shinto tidak punya pilihan lain. Beliau harus memimpin langsung armada kapal perang utama klan untuk menutup celah tersebut secepat mungkin.
Sebelum melangkah menaiki tangga besi kapal induknya, Raja Juro menyelinap diam-diam menuju ke arah gudang penyimpanan kayu yang lapuk di bagian belakang. Langkah kaki besinya yang berat terhenti tepat di ambang pintu yang rusak. Di dalam ruangan yang gelap dan dingin, Ryuken kecil sedang duduk bersila di atas lantai batu hitam yang kasar. Tubuh kurusnya dipaksa menahan himpitan berat bumi planet yang seratus kali lipat lebih ekstrem, murni mengandalkan ketebalan tekadnya sendiri. Tangan mungilnya menggenggam erat sebilah ranting kayu sepanjang satu meter yang sudah dibalut perban kain kumal penuh noda darah.
Juro merendahkan tubuh raksasanya yang setinggi dua meter di hadapan anak tertuanya. Sepasang matanya menatap dalam-dalam ke manik mata hitam legam milik Ryuken. Ada rasa wibawa pemimpin besar sekaligus penyesalan mendalam seorang ayah di balik tatapan itu. Juro meletakkan sepasang tangan besinya yang penuh kapalan di atas kedua pundak kurus Ryuken.
"Ryuken, putra mahkotaku," ucap Juro Shinto. Suaranya yang berat bergaung pelan namun langsung menembus ke dalam batin anaknya. "Jantung acak mu itu bukan kutukan seperti yang selalu diucapkan oleh para pengecut di dewan tetua. Itu adalah takdir besar yang belum bisa dipahami oleh logika teknologi Kekaisaran Vorash. Kalau suatu hari nanti langit planet ini berubah gelap dan ayah tidak pernah kembali lagi dari luar angkasa, berjanjilah satu hal... kau harus tetap menggenggam pedangmu dengan tanganmu sendiri. Jangan pernah mau menukar jiwamu demi zirah mesin palsu."
Putri Hana melangkah keluar dari balik tirai jubah hitam, air matanya menetes deras membasahi gaun sutra Solari miliknya yang kusam. "Juro... firasatku mengatakan ada rencana busuk di balik perintah keberangkatan darurat yang dikeluarkan Kaelen sore tadi," desis Hana, nadanya gemetar karena ketakutan. "Kelompok pengkhianat itu sengaja menguras seluruh pasukan pelindung kita agar kompleks kuil ini kosong tanpa penjagaan!"
Juro cuma tersenyum tenang, seulas senyum ksatria veteran yang menolak takut di hadapan maut. "Kalau dewan tetua memilih jalan pengkhianatan, maka hukum alam yang akan menghapus nama mereka dari sejarah, Hana. Jaga putra kita." Juro Shinto membalikkan tubuh kekarnya, melangkah tegas menembus kabut, meluncur lurus menuju pusat pertempuran di luar angkasa.
Tragedi yang dikhawatirkan Hana meletus tiga hari kemudian dengan sangat sadis. Sebuah siaran darurat dari luar atmosfer mendadak muncul di seluruh layar monitor kuil, menampilkan rekaman video yang bergoyang hebat penuh kepulan asap hitam. Kapal induk utama Juro Shinto dikepung secara brutal oleh puluhan kapal perang milik Kekaisaran Vorash yang ternyata sudah bekerja sama dengan faksi pengkhianat Sektor Delapan. Di saat yang sama, monster serigala raksasa menghancurkan lambung kapal induk Juro, menelan seluruh tubuh sang pemimpin besar ke dalam kegelapan hampa udara. Raja Juro telah gugur.
Mendengar berita kematian suaminya, Hana tidak diberi waktu untuk menangis. Pintu gerbang istana emas Hana mendadak dihantam jebol oleh rentetan ledakan bom yang diluncurkan oleh pasukan pemberontak bentukan Tetua Kaelen dan selir tiri, Renka. Tiga puluh pendekar elit bersenjata pedang ungu merangsek masuk dengan tawa liar yang memekikkan telinga, mengunci seluruh jalan keluar dari kamar tersebut.
"Mantan Pemimpin Besar sudah mampus!" raung Tetua Kaelen, wajah besinya berkilat merah penuh kesombongan yang kejam. "Serahkan semua pasokan kristal suci milikmu, Putri Hana! Dan biarkan anak cacat itu kami buang ke tempat pembuangan limbah!"
Hana bangkit berdiri dengan keanggunan seorang putri matahari yang menolak tunduk pada musuh. Ia mendorong tubuh Ryuken kecil ke balik tiang batu hitam tersembunyi, lalu meledakkan seluruh sisa tenaga dalam dari tubuhnya. Kobaran api merah membubung tinggi menembus langit-langit menara kuil, menciptakan badai panas yang membakar hangus sepuluh pendekar musuh dalam sekejap mata. Namun, zirah mesin milik Renka melepaskan tembakan cahaya hitam yang langsung menusuk telak dada kiri Hana, merobek jantungnya hingga ia terkapar memuntahkan darah di atas lantai batu yang dingin.
Ryuken kecil menyaksikan seluruh pembantaian berdarah yang sangat sadis itu dari balik celah tiang tersembunyi. Air matanya mengering menahan rasa sakit jiwa yang teramat dalam, melampaui batas kewajaran anak berusia tujuh tahun. Sebelum napas terakhirnya habis, Hana menatap ke arah tempat Ryuken bersembunyi dengan senyum terakhir yang menyayat hati. "Lari... Ryuken... hiduplah... tempa... tempa pedangmu..." bisik ibunya, sebelum tubuhnya meleleh menjadi debu keperakan yang hanyut ditiup angin malam.
Kematian tragis kedua orang tuanya seketika merenggut semua pelindung yang dimiliki Ryuken. Status pangeran mahkotanya hancur total, dan tubuh kecilnya dilemparkan kembali ke dalam jurang pengasingan gudang lapuk di bawah injakan kaki kejam faksi Sektor Delapan yang kini memulai masa kediktatoran baru. Sang anak buangan kini memendam bara dendam murni di dalam tulang-tulangnya, sambil mempererat cengkeraman tangan kecilnya pada gagang ranting kayu pohon Akuma di tengah malam yang membeku dingin.