Beranjak dari takhtanya sebagai penguasa berdarah di perbatasan selatan.
Lin Xiao kini melangkahkan kaki ke dalam pusaran konspirasi mematikan Kota Awan Suci, tempat di mana eksistensi Jiwa Murni berkeliaran layaknya prajurit biasa dan Empat Sekte Suci mengendalikan langit.
Di musim kedua ini, tirai misteri Makam Para Raja perlahan ditarik lebih lebar melalui sebuah ekspedisi menegangkan ke dalam reruntuhan dimensi kuno yang tidak hanya menguji batas kekuatannya untuk menembus ranah Jiwa Murni, tetapi juga menguak luka, penyesalan, serta masa lalu dari para roh kaisar yang bersemayam di dalam tubuhnya.
Ditemani oleh Xue Mingyue, raksasa setia Meng Shan, dan seorang gadis bercadar misterius yang menyimpan rahasia terdalam dari pusat benua, Lin Xiao harus menyeimbangkan ambisi penaklukannya dengan ikatan emosional yang semakin kuat, membuktikan bahwa di balik arogansi dan kekejaman seorang Kaisar Bayangan, terdapat jiwa manusiawi yang terus berjuang mendobrak takdir para dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Dari kejauhan, gerbang Kota Awan Suci terlihat dijaga dua kali lipat lebih ketat daripada saat mereka keluar tadi pagi.
"Lihatlah ke depan sana, Lin Xiao." bisik Xue Mingyue bersembunyi di balik semak-semak yang rimbun.
"Ada puluhan penjaga bersenjata lengkap yang memeriksa setiap kereta dan pengelana yang ingin masuk ke dalam kota."
"Mereka pasti sudah menerima laporan hilangnya Putri Suci dan kematian Komandan Lu." analisis gadis es itu dengan tajam.
"Kita tidak akan bisa masuk melalui gerbang utama itu tanpa dicurigai, apalagi aura darah di tubuh kita masih sangat pekat." tambah Xue Mingyue.
Lin Xiao mengintip dari balik dedaunan, matanya memindai pergerakan para penjaga gerbang tersebut dengan tenang.
"Kita memang tidak akan masuk melalui pintu depan, Xue'er." ucap Lin Xiao menempelkan telapak tangannya ke tanah.
"Kita akan menggunakan pintu belakang yang selalu terbuka untuk orang-orang seperti kita."
"Kaisar Bayangan, pinjamkan aku jubah kegelapanmu yang paling tebal." perintah Lin Xiao ke dalam ruang batinnya.
"Gunakan sesukamu, bocah, tapi ingat jangan sampai kecepatan ilusimu merobek penyamaran ini di depan ahli Jiwa Murni yang berjaga di atas tembok." balas roh Kaisar Bayangan Pemakan Bulan.
Seketika itu juga, bayangan hitam yang sangat pekat merayap keluar dari bawah kaki Lin Xiao dan menyelimuti tubuh Meng Shan serta Xue Mingyue.
Wush.
Dalam sekejap mata, tubuh mereka bertiga melebur sepenuhnya ke dalam kegelapan malam, menghilangkan setiap jejak aura dan hawa keberadaan mereka.
"Wow, ini luar biasa!" bisik Meng Shan takjub melihat tangannya sendiri yang kini terlihat transparan dan menyatu dengan bayangan.
"Tutup mulutmu dan jangan bersuara, raksasa." desis Xue Mingyue mencubit pinggang Meng Shan meskipun tidak terlalu berpengaruh pada kulit bajanya.
"Ikuti langkahku dari belakang, kita akan berjalan menempel pada dinding tembok raksasa itu dan masuk melalui celah ventilasi air." instruksi Lin Xiao.
Mereka bertiga bergerak maju layaknya hantu di tengah malam, melewati puluhan penjaga gerbang yang sedang sibuk menggeledah kereta pedagang.
Tidak ada satu pun penjaga yang menyadari bahwa pembunuh yang sedang mereka cari baru saja melangkah tepat di depan hidung mereka.
Bahkan anjing pelacak spiritual yang dibawa oleh penjaga itu hanya mengendus udara dengan bingung sebelum kembali diam.
Lin Xiao memimpin mereka menuju saluran pembuangan air raksasa di sisi timur tembok kota.
Kriet.
Lin Xiao membuka paksa teralis besi yang menutupi saluran itu menggunakan tenaga fisiknya, lalu mereka bertiga merayap masuk ke dalam kegelapan gorong-gorong.
Bau busuk air limbah dan lumpur langsung menyengat hidung mereka, membuat Xue Mingyue menutup hidungnya dengan ekspresi jijik yang luar biasa.
"Ini adalah tempat paling menjijikkan yang pernah aku masuki seumur hidupku." keluh gadis pewaris es itu menahan mual.
"Apakah kita benar-benar harus merangkak di dalam selokan ini, iblis gila?"
"Bersyukurlah kita tidak harus berenang di dalamnya, Nona Es." jawab Lin Xiao yang merangkak di depan tanpa terpengaruh oleh bau tersebut.
"Jalan tikus ini akan membawa kita langsung ke distrik kumuh di wilayah luar kota, tempat di mana hukum tidak pernah benar-benar ditegakkan."
Setelah merangkak selama setengah jam di dalam saluran yang sempit dan pengap, mereka akhirnya melihat cahaya redup dari ujung pipa pembuangan.
Lin Xiao menendang penutup pipa itu hingga terbuka dan mereka bertiga melompat keluar ke sebuah gang sempit yang sangat kotor.
Bruk.
Mereka mendarat di atas tumpukan sampah yang lembab, di kelilingi oleh bangunan-bangunan reyot yang saling berhimpitan.
"Selamat datang di distrik bawah tanah Kota Awan Suci, tempat di mana para pecundang dan buronan bersembunyi dari cahaya matahari." sambut Lin Xiao merentangkan tangannya.
Xue Mingyue segera membersihkan jubahnya menggunakan sihir es tipis untuk membekukan dan merontokkan lumpur bau yang menempel.
"Lalu apa rencana besarmu sekarang, Tuan Penguasa Selokan?" sindir Xue Mingyue menatap lingkungan yang sangat kumuh tersebut.
"Apakah kita akan tidur di atas tumpukan jerami ini selama tiga bulan ke depan?"
Lin Xiao tersenyum licik, matanya menatap sebuah kedai minuman dua lantai di ujung gang yang terdengar sangat berisik oleh teriakan orang mabuk.
"Tentu saja tidak, kita akan mencari tempat tidur yang layak dengan cara merebut markas dari preman lokal." jawab Lin Xiao melangkah maju.
"Kekuatan fisik dan kemampuan bertarung kita mungkin cukup untuk membunuh beberapa komandan elit."
"Namun untuk menghadapi Empat Sekte Suci di turnamen nanti, kita membutuhkan lebih dari sekadar otot." lanjut pemuda itu menjelaskan pemikirannya.
"Kita membutuhkan jaringan informasi, mata-mata, dan pasukan pembunuh bayaran yang rela mati demi batu spiritual."
Meng Shan menggaruk kepalanya yang botak, mencoba mencerna rencana besar dari tuannya tersebut.
"Jadi maksud Tuan Lin Xiao, kita akan merekrut orang-orang jahat di kota ini untuk menjadi bawahan kita?" tanya pemuda raksasa itu memastikan.
"Tepat sekali, Meng Shan." jawab Lin Xiao menepuk bahu raksasa tersebut.
"Kita akan membangun sebuah faksi bawah tanah yang akan menjadi mimpi buruk bagi sekte-sekte suci itu."
"Sebuah tempat di mana kematian bisa dibeli dengan harga yang tepat."
"Aku akan menyebutnya, Paviliun Malam Kematian." deklarasi sang Kaisar Bayangan dengan suara yang memancarkan ambisi gelap.
Xue Mingyue mendengus pelan, namun sudut bibirnya melengkung ke atas menyetujui rencana tersebut.
"Nama yang terlalu dramatis, tapi aku suka ide untuk memiliki pion-pion yang bisa kita korbankan di garis depan." nilai gadis es itu dengan kejam.
Mereka bertiga berjalan keluar dari gang sempit itu dan menuju kedai minuman yang bernama 'Kedai Tengkorak Retak'.
Dari luar, kedai itu terlihat sangat kotor dan tidak terawat, namun penjagaan di pintu masuknya cukup ketat.
Dua orang pria bertubuh kekar dengan tato ular hitam di leher mereka berdiri menghalangi pintu kayu yang rapuh tersebut.
"Berhenti di sana, gembel!" bentak salah satu penjaga mengangkat golok besarnya.
"Kedai ini adalah wilayah kekuasaan Geng Ular Hitam, jika kalian tidak punya batu spiritual untuk membayar uang masuk, pergi dari sini!"
Lin Xiao berhenti melangkah, menatap kedua penjaga pintu tingkat Pembentukan Dasar itu dengan pandangan kasihan.
"Meng Shan, mereka meminta bayaran untuk masuk ke dalam." ucap Lin Xiao menoleh ke arah bawahannya.
"Apakah kau memiliki sesuatu untuk diberikan kepada mereka?"
Meng Shan menyeringai lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih di tengah kegelapan malam.
"Tentu saja, Tuan, saya punya banyak pukulan gratis untuk mereka berdua!" jawab Meng Shan dengan semangat membara.
Wush.
Tanpa memberikan kesempatan bagi penjaga itu untuk bereaksi, Meng Shan melesat maju dan meninju perut penjaga pertama dengan kekuatan Inti Emas.
Brak.
Penjaga berbadan kekar itu langsung terlempar menembus pintu kayu kedai hingga hancur berkeping-keping.
"Aaaarrghh!" jerit penjaga itu memuntahkan darah sebelum akhirnya jatuh pingsan di tengah ruangan kedai yang ramai.
Penjaga kedua membelalakkan matanya ngeri melihat rekannya diterbangkan layaknya boneka jerami.
"S-serangan musuh! Ada yang menyerang markas kita!" teriak penjaga kedua itu panik sebelum Meng Shan mencekik lehernya dan melemparnya ke arah yang sama.
Bruk.
Suasana di dalam Kedai Tengkorak Retak yang awalnya dipenuhi oleh tawa orang mabuk dan suara judi mendadak menjadi hening seketika.
Puluhan anggota Geng Ular Hitam langsung berdiri dari meja mereka, mencabut berbagai macam senjata tajam dengan wajah beringas.
Lin Xiao melangkah masuk melewati pecahan pintu kayu tersebut dengan langkah yang sangat santai, seolah dia sedang memasuki rumahnya sendiri.
Xue Mingyue mengikuti di belakangnya dengan pedang es yang sudah bersinar dingin di tangan kanannya.
"Siapa bajingan yang berani mengacau di wilayah kekuasaan Geng Ular Hitam?!" raung seorang pria botak bermata satu yang turun dari tangga lantai dua.