"Di dunia kultivasi, kamu menjadi pecatur, atau berakhir sebagai bidak."
Mati akibat overwork di perusahaan gelap, Lian terlahir kembali sebagai pemetik batu spiritual kelas bawah. Di dunia baru yang dikuasai sekte-sekte pemeras, Lian bersumpah tidak akan pernah lagi diperalat.
Sumpah itu membangkitkan Sistem Sovereign Duplication—kekuatan menciptakan pasukan klon tak terbatas! Uniknya, setiap klon memiliki identitas dan bakat dewa yang berbeda. Lebih gila lagi, Lian mampu menyerap seluruh kekuatan klonnya sekaligus.
Di saat benua bergolak, faksi-faksi raksasa tak menyadari satu hal:
Jenius nomor satu Sekte Api Ilahi...
Komandan perang Kekaisaran Jiulong...
Raja informasi dari Paviliun Bayangan...
Semuanya adalah klon milik Lian!
Tanpa pernah tampil di garis depan, Lian memanipulasi para pahlawan dan menjatuhkan sekte tirani dari kegelapan. Satu jiwa mengendalikan jutaan bayangan—menaklukkan benua dari balik layar!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Omni Tales, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berlututnya Sang Putri Berdarah Dingin
Lantai batu granit aula utama masih menyisa lahar hangat bekas ancaman Zhuque saat pangeran pertama diseret pergi.
Bau hangus dan aroma ketakutan menyatu rapat di udara, membungkus puluhan pejabat kerajaan dalam keheningan mencekam.
Putri Feng Qingxue berdiri kaku di anak tangga takhta, memandangi stempel otoritas istana di genggamannya yang gemetar hebat.
Dalam semalam, seluruh pondasi politik yang dia bangun dengan susah payah hancur tanpa sisa.
Faksi militer pendukungnya lumpuh oleh manuver instan Canglong, sementara jaringan keuangannya dikunci rapat oleh Paviliun Bayangan.
"B-bagaimana bisa..." gumam Feng Qingxue lirih, nyaris kehilangan seluruh daya jiwanya.
"Bagaimana bisa kalian menghancurkan benteng kekuatanku dalam satu malam?!" serunya bergetar kencang.
Canglong melangkah mendekati anak tangga takhta, membuat armor asura miliknya berdenting nyaring di lantai batu.
"Faksi pengkhianat telah dibersihkan dari garis keturunan kerajaan, Yang Mulia Putri," ujar Canglong dingin.
"Dibersihkan?" ulang Feng Qingxue seraya menyunggingkan senyum getir yang dipaksakan.
Dia menatap Canglong dan Baihu bergantian dengan mata memerah akibat tekanan emosional yang luar biasa.
"Kalian meruntuhkan kekuatanku hanya dalam hitungan jam... lalu menyebut tindakan ini sebagai pembersihan?!" pekik Feng Qingxue tertahan.
Baihu mengibaskan kipas sutranya dengan santai, melangkah menyusuri aula dengan keanggunan yang sangat tenang.
"Paviliun Bayangan hanya menyajikan fakta rahasia yang tersembunyi, Yang Mulia," sahut Baihu halus.
"Tanpa informasi dari kami, perbatasan utara mungkin sudah dijual oleh kakakmu sebelum musim dingin tiba," lanjut Baihu tersenyum tipis.
"Setiap pejabat yang kami ringkus malam ini adalah rayap yang menggerogoti Kekaisaran Jiulong dari dalam," tambah Baihu.
Feng Qingxue mengepalkan jemarinya kencang hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri.
Tetesan darah segar merembes ke jubah indahnya, namun rasa sakit fisik itu kalah jauh dibanding kehancuran harga dirinya.
'Mereka membacaku... Mereka tahu setiap celah, dana gelap, dan faksi rahasiaku sejak awal!' jerit batin Feng Qingxue frustrasi.
Wanita yang selama ini menganggap semua orang sebagai bidak kini menyadari kebenaran pahit bahwa dirinya sendiri terjebak di sudut mati Papan Catur Kosmik.
Zhuque perlahan memadamkan kobaran Api Kuno di tubuhnya seraya melangkah maju menghampiri.
"Sekte Api Ilahi tidak berminat pada urusan takhta yang rapuh ini," cetus Zhuque dengan keangkuhan tanpa tanding.
"Namun, jika pertikaian politik ini mengganggu alokasi batu spiritual kekaisaran, kami tidak keberatan meratakan seluruh istana," tekan Zhuque dingin.
Ucapan dingin itu bagaikan palu berat yang meremukkan sisa-sisa kebanggaan sang Putri Utama.
"T-tunggu! Jangan!" cegah Feng Qingxue panik seraya melangkah turun dua anak tangga.
"Aku... aku memohon agar kalian tidak bertindak destruktif lebih jauh!" jerit Feng Qingxue terengah-engah.
Matanya menyapu aula utama, melihat para pejabat dan menteri yang kini menunduk takut tanpa ada yang berani membela dirinya.
"Aku... aku memahami posisi tawarku saat ini dengan sangat jelas," bisik Feng Qingxue lemas.
Dia menundukkan kepalanya yang biasa terangkat tegak dan angkuh di hadapan seluruh penguasa benua.
"Aku memohon aliansi abadi dari Paviliun Bayangan dan Pasukan Pengawal Kerajaan untuk menstabilkan Jiulong," pasrahnya.
Baihu menyunggingkan senyum bermuka dua saat melihat kejatuhan ego sang genius berdarah dingin.
Kalkulasi Dingin di benaknya bergerak cepat menilai setiap jengkal keuntungan dari momentum emas ini.
"Aliansi Strategis memerlukan jaminan nyata yang setara dengan nilai investasi kami, Yang Mulia," tuntut Baihu tegas.
"Kami tidak butuh janji manis atau sumpah kehormatan yang biasa dilanggar para politisi," tambah Baihu tanpa kompromi.
Feng Qingxue mengangkat tangannya yang gemetar hebat, menyodorkan Stempel Otoritas Kerajaan dari ukiran giok naga hitam.
"Bawa ini... Kendali penuh atas rute perdagangan, militer, dan pengangkatan pejabat ada di tangan kalian," rintih Feng Qingxue.
Canglong menerima stempel giok itu tanpa perubahan ekspresi sedikit pun di wajah tegasnya.
"Keputusan yang sangat bijaksana untuk kelangsungan hidup Kekaisaran Jiulong," puji Canglong kaku.
Dari balik jubah mewahnya, Baihu mengeluarkan selembar perkamen kuno bertuliskan tinta darah empyrean.
Perkamen itu melayang pelan di udara dan berhenti tepat di hadapan wajah Feng Qingxue yang lunglai.
"Tandatangani Dokumen Perjanjian Jiulong ini sekarang juga, Yang Mulia Putri," perintah Baihu halus namun amat menekan.
Feng Qingxue membaca baris demi baris pasal rahasia di dalam dokumen tersebut dengan mata terbelalak lebar.
"Ini... ini bukan dokumen aliansi biasa!" seru Feng Qingxue kaget seraya menatap Baihu tak percaya.
"Ini perjanjian penyerahan kedaulatan mutlak! Kamu berniat menjadikan Kekaisaran Jiulong sebagai wilayah vasal rahasia milik Paviliun Bayangan?!" tegurnya terputus-putus.
"Pilihan penuh ada di tanganmu saat ini, Putri Qingxue," potong Zhuque cepat dengan nada menyindir.
"Menjadi penguasa boneka yang terlindungi di atas takhta, atau menjadi debu sejarah bersama kakakmu di penjara," tambah Zhuque.
Ancaman terselubung itu meremukkan pertahanan mental terakhir milik Feng Qingxue.
Di kedalaman gua tersembunyi ratusan mil dari istana, Lian mengamati adegan tegang tersebut melalui pandangan mata klonnya.
'Siklus Eksploitasi lama telah berhasil diputus. Perhitungan Tanpa Kompromi telah selesai,' batin Lian dingin.
'Kekaisaran Jiulong resmi menjadi wilayah vasal pertama yang tunduk di bawah kendaliku dari balik bayangan,' lanjut Lian.
Melalui Sistem Sovereign Duplication, Lian mengaktifkan fitur Sinkronisasi Jiwa untuk menyalurkan perintah langsung.
'Paksa dia menandatanganinya detik ini juga. Kita butuh seluruh pasokan batu spiritual kekaisaran untuk persiapan perang,' tegas Lian.
Kembali ke Aula Utama yang tegang, Feng Qingxue menggigit bibirnya kencang hingga meneteskan darah segar.
Dengan jemari bergetar hebat, dia menggoreskan darahnya di atas permukaan perkamen sebagai bentuk sumpah jiwa mutlak.
Cahaya merah tua meledak pelan, mengikat Perjanjian Jiulong secara abadi dan tak bertepi.
"Sudah... aku sudah melakukan semua hal yang kalian inginkan..." ujar Feng Qingxue bersujud lemas di anak tangga takhta.
Arogansi Sumpah Suci dan kejayaan masa lalunya runtuh total di hadapan taktik nir-bercak milik Lian.
"Kerjasama yang sangat menyenangkan, Yang Mulia Penguasa Boneka," bisik Baihu seraya menarik kembali perkamen tersebut.
"Perlu diingat, Paviliun Bayangan selalu menjaga aset-aset berharganya dengan sangat baik," tambah Baihu tersenyum ramah.
Namun, sebelum Canglong sempat menyimpan Stempel Otoritas Kerajaan, dentuman keras mendadak bergema dari langit malam.
BUMMM!
Guncangan dahsyat menghantam seluruh Istana Kekaisaran Jiulong, membuat pilar-pilar batu raksasa retak hebat.
Tekanan mental spiritual yang sangat mengerikan turun dari langit, menekan tubuh para pejabat hingga terjerembap tak berdaya ke lantai.
Atap aula yang tersisa hancur berkeping-keping akibat terobosan aura emas yang membara dari angkasa.
Seorang pria tua berambut putih panjang dengan jubah keagungan berukirkan simbol Bintang Lima melayang turun perlahan.
Tatapan matanya penuh Arogansi Mutlak saat memandangi semua orang di dalam aula bagai memandang cacing tanah.
"Kekaisaran kecil di benua bawah yang benar-benar tidak tahu diri..." dengus pria tua itu menggetarkan jiwa.
"Siapa di antara kalian yang berani menyentuh dan mengganggu aset peternakan energi milik Leluhur Xuanyuan?!" bentaknya murka.
Feng Qingxue menengadah dengan wajah pucat pasi saat mengenali simbol sakral di jubah pria tua tersebut.
"U-utusan dari Sekte Suci Xuanyuan... Penguasa dari Alam Atas!" jerit Feng Qingxue histeris.