NovelToon NovelToon
Salah Buka Celana, Malah Dinikahi Komandan

Salah Buka Celana, Malah Dinikahi Komandan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Menikahi tentara
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Cuma niat periksa batu ginjal, si komandan dingin malah "salah dibuka celananya" oleh dokter magang sok berani.
Satu kalimat "saya tanggung jawab", dan Keisha resmi jadi istri kontrak Sang Komandan Meriam—pewaris konglomerat Prawira yang paling ditakuti.

Perjanjiannya: tidak boleh saling sentuh.
Kenyataannya: komandan berhati es itu **tak pernah tahan semalam pun**.

"Katanya kontrak, Pak?"
"Kontraknya," bisiknya sambil menariknya mendekat, "mulai malam ini kita tulis ulang."

Yang mereka kira dokter miskin, ternyata putri konglomerat Wijaya yang hilang.
Yang dikira pernikahan palsu, ternyata jerat paling manis.
**Nyonya Meriam sudah pulang—dan sang serigala tak akan melepasnya lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27

Anak Kecil Bernama Tata

"Itu bukan catatan istri," kata Arya sebelum Keisha sempat bertanya.

Petugas membuka riwayat data. Enam tahun lalu, Vanya pernah dimasukkan sebagai pendamping acara keluarga dan kontak darurat sementara ketika Arya mengikuti kegiatan panjang. Saat sistem lama dipindahkan, kolom pendamping masuk ke kategori pasangan tanpa verifikasi status hukum.

"Tidak ada nomor buku nikah, tanggal akad, atau dokumen kependudukan," jelas petugas. "Jadi ini bukan perkawinan tercatat. Saya akan membuat koreksi dengan dasar buku nikah Bapak dan Bu Keisha."

Keisha membaca layar sampai yakin. "Kenapa dia menjadi kontak darurat?"

"Saat itu kami masih berhubungan," jawab Arya. "Bunda juga sering bepergian. Setelah putus, aku meminta nomornya dihapus. Rupanya riwayat lama tetap tersimpan."

"Kamu tidak tahu data itu masih ada?"

"Tidak. Dan seharusnya aku memeriksanya lebih dulu."

Arya menandatangani permintaan koreksi. Petugas mencetak bukti perubahan dan menandai data Vanya sebagai arsip nonaktif yang tidak memiliki status pasangan.

Keisha menyimpan salinannya. Luka baru yang sempat menganga di kepalanya menutup, meski rasa tidak nyaman belum hilang sepenuhnya.

"Koreksi ini tercatat dengan waktu dan petugas yang memproses," jelas petugas. "Riwayat lama tidak dihapus, tetapi diberi keterangan sumber kesalahan agar tidak dipakai sebagai dasar hak keluarga."

Keisha menyukai jawaban itu. Menghapus jejak bisa menciptakan pertanyaan baru. Penandaan yang dapat diaudit justru membuktikan apa yang terjadi.

Arya menyerahkan salinan kedua kepadanya. "Simpan bersama dokumen kita."

"Kamu tidak keberatan aku memegangnya?"

"Itu menyangkut namamu sebagai istriku. Kamu berhak tahu."

Mereka meninggalkan loket tanpa pertengkaran, tetapi nama Vanya kini bukan lagi sekadar bayangan di ponsel. Ia sudah pernah mendapat jalan masuk ke dunia Arya, walau jalan itu telah resmi ditutup.

Keesokan harinya, ia kembali ke RS Kartika untuk menyerahkan dokumen kredensial awal dan mengikuti orientasi singkat. Ia belum memiliki kewenangan praktik mandiri di sana. Karena itu, ketika suara anak menangis terdengar dari pintu IGD anak, Keisha hanya menoleh sebagai seorang dokter yang kebetulan berada paling dekat.

Vanya berlari masuk sambil menggendong anak perempuan sekitar empat tahun. Lengan kiri anak itu dibungkus kain basah. Wajah kecilnya merah oleh tangis.

"Tolong! Tangannya kena air panas!" seru Vanya. Tatapannya langsung menemukan Keisha. "dr. Keisha, tolong Tata."

Perawat triase membawa mereka ke area tindakan. Keisha ikut setelah dokter jaga mengizinkan dirinya membantu penilaian awal di bawah tanggung jawab tim IGD.

"Kapan terjadi?" tanya Keisha sambil mengenakan sarung tangan.

"Sekitar dua puluh menit lalu di tempat kami menginap. Dia menarik cangkir teh."

"Sudah dialiri air mengalir?"

"Sudah sebentar."

Keisha membuka kain dengan hati-hati. Kulit lengan bawah kiri Tata memerah dengan beberapa lepuh kecil. Tidak melingkar penuh, tidak mengenai wajah atau telapak, dan gerak jari masih baik.

"Lukanya tampak seperti luka bakar dangkal sebagian. Tim akan membersihkan, memberi pereda nyeri sesuai berat badan, lalu menutup dengan balutan yang tidak melekat. Jangan pakai es, odol, minyak, atau memecahkan lepuh."

Dokter jaga memeriksa ulang kedalaman dan luas luka, lalu mengangguk menyetujui rencana tersebut. Semua obat dan instruksi resmi masuk atas nama tim IGD.

Perawat menimbang Tata untuk memastikan dosis pereda nyeri. Vanya diminta menandatangani persetujuan tindakan sebagai pengasuh yang membawanya. Keisha menunjukkan gambar wajah sederhana untuk membantu anak memilih tingkat nyeri, lalu meminta perawat menyediakan mainan kecil sebagai pengalih perhatian.

"Yang ini sakit sekali atau sedang?" tanya Keisha sambil menunjuk dua gambar.

Tata memilih wajah menangis paling besar.

"Baik. Berarti kita bantu supaya turun, ya. Tata boleh bilang berhenti kalau takut."

Anak itu masih bersembunyi di bahu Vanya, tetapi tangisnya mulai teratur. Keisha tidak menyentuh balutan sebelum menjelaskan setiap gerak. Ketika jari kecil Tata akhirnya mau digerakkan satu per satu, Keisha memuji tanpa berlebihan.

"Bagus. Semua jari bisa bergerak."

Vanya tidak melihat proses itu. Ia justru memeriksa koridor berkali-kali, seolah menunggu seseorang datang.

Keisha mencatat perilaku tersebut dalam hati, bukan di rekam medis. Penilaian klinis harus tetap mengenai anak, bukan kecurigaannya terhadap pengasuh.

Keisha berjongkok agar sejajar dengan Tata. "Namamu Tata, ya? Tante mau lihat jarimu. Bisa digerakkan?"

Tata memeluk leher Vanya. Matanya yang basah menatap Keisha dengan takut.

"Tante jahat," katanya lirih.

Ruangan mendadak hening.

Keisha menahan rasa tertusuk. Anak itu terlalu kecil untuk memahami perang orang dewasa.

"Tidak apa-apa kalau Tata takut," katanya lembut. "Tante tidak akan menyentuh tanpa bilang. Tata boleh pegang tangan Tante Vanya."

Vanya mengusap rambut anak itu. "Tata sedang sensitif. Sejak tahu Om Arya punya istri baru, dia sering menangis."

Keisha memusatkan perhatian pada balutan. "Luka bakar tidak ada hubungannya dengan kehidupan pribadi Mas Arya."

"Tentu ada." Mata Vanya mulai berkaca-kaca tepat saat beberapa perawat lewat. "Tata terus meminta bertemu Om Arya. Tadi dia berusaha mengambil teh karena bilang mau membuatkan minuman untuknya."

"Seorang anak empat tahun harus dijauhkan dari minuman panas, apa pun yang dia katakan."

Teguran Keisha membuat senyum Vanya membeku sesaat.

Kapten Reza muncul di pintu setelah mendengar nama Arya disebut. "Ada apa?"

"Tata terluka," jawab Vanya cepat. "Tolong panggil Mas Arya. Anak ini dekat sekali dengannya."

Reza melihat Tata, lalu Keisha, lalu Vanya. Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung membuat lelucon.

"Saya kabari Ndan bahwa ada anak yang perlu ditemui," katanya hati-hati. "Bukan soal hubungan apa pun."

Setelah pereda nyeri bekerja, tangis Tata mereda. Keisha membantu tim memasang balutan nonlekat dan memberi Vanya instruksi tanda bahaya: nyeri memburuk, kemerahan meluas, demam, bau, atau gangguan gerak harus segera diperiksa. Kontrol dijadwalkan sesuai penilaian dokter jaga.

"Terima kasih," kata Vanya, tetapi nada suaranya seperti kemenangan.

Di luar ruang tindakan, ia membungkuk dan berbisik pada Tata. Keisha hanya mendengar potongan kalimat.

"Ingat yang Tante bilang."

Tata mengangguk kecil.

Arya datang beberapa menit kemudian. Wajahnya langsung dingin saat melihat Vanya, tetapi tatapannya melunak kepada anak yang lengannya dibalut.

"Apa yang terjadi?"

"Kecelakaan teh panas," jawab Keisha lebih dulu. "Luka dangkal sebagian di lengan kiri. Sudah ditangani tim IGD dan kondisi umum baik."

Arya mengangguk. "Terima kasih."

Vanya memotong, "Tata terluka karena terus mencarimu. Setidaknya temani dia sebentar."

"Cedera anak bukan alat untuk memaksa pertemuan," kata Arya.

Beberapa orang di koridor mulai memperhatikan. Vanya mengusap air mata, lalu membawa Tata ke halaman rumah sakit agar anak itu mendapat udara.

Keisha dan Arya mengikuti karena instruksi pulang belum selesai diberikan. Reza berjalan di belakang dengan wajah penuh pertanyaan.

Di halaman, Vanya tiba-tiba menurunkan Tata dan mendorongnya pelan ke arah Arya.

Anak itu terhuyung satu langkah, lalu menangis lagi.

Vanya meninggikan suara agar semua orang mendengar.

"Tata, sini sama Papa."

Seluruh kepala menoleh.

Wajah Arya berubah gelap.

1
paijo londo
Yee si mantan datang ngeclaim kalo Arya punyanya g malu tuh muka badak padahal udah ditolak ma Arya juga🤦🤦
paijo londo
asyiiik Keisha masuk ke sangkar emasnya Arya 😍😍😍moga2;g ada perceraian
paijo londo
ya ampun pertemuan pertama yg menggelikan bikin jantung bedebar🤭🤭🤭salah diagnosis lagi🤦🤦
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!