Lin Xuan, seorang pemuda modern penyuka novel web, tiba-tiba bertransmigrasi ke Benua Langit Surgawi. Sialnya, ia terbangun dalam tubuh Ketua Sekte termuda dari "Sekte Bintang Jatuh"—sebuah sekte yang dulunya merupakan penguasa benua, namun kini hanya menyisakan dirinya dan sebuah gunung usang karena diserang oleh aliansi musuh. Di saat musuh datang untuk mengambil alih tanah sektenya, Lin Xuan membangkitkan "Sistem Pembangunan Sekte Abadi".
Mulai dari merekrut murid jenius yang dibuang klan, membangun paviliun ajaib, hingga memanggil naga penjaga, Lin Xuan memulai perjalanannya untuk mengubah sekte bobroknya menjadi kekuatan nomor satu di seluruh alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Tembok Pengalaman dan Pelajaran Berdarah
Angin bertiup membawa debu merah di perbatasan wilayah provinsi. Beberapa ratus mil dari Gunung Bintang Jatuh, terletak sebuah benteng pertambangan raksasa bernama Kota Batu Merah. Tempat ini dulunya adalah lumbung sumber daya utama bagi Sekte Serigala Darah.
Namun, setelah kehancuran ketua sekte mereka, kota ini tidak dibiarkan kosong. Sekelompok kultivator aliran hitam yang ganas, dipimpin oleh seorang buronan veteran bernama Kuang Jiao (Si Banteng Besi), telah mengambil alih tempat ini dan mendirikan Aliansi Tengkorak Merah.
Di atas bukit pasir yang menghadap ke arah kota, dua sosok remaja berdiri bersisian. Jubah abu-abu Ye Chen berkibar tertiup angin, sementara Su Yue'er memancarkan hawa dingin yang membuat pasir di bawah sepatunya membeku.
Di belakang mereka, Penatua Li Canggong sedang berbaring santai di atas batu karang besar, mendengkur pelan dengan labu arak menempel di bibirnya.
"Kota ini adalah titik pertama," ucap Ye Chen, menatap gerbang baja raksasa di bawah sana. "Guru berkata kita harus mengambil alih semua sumber daya Serigala Darah. Kita mulai dari sini."
"Jangan menghalangi jalanku, pelayan," desis Su Yue'er dingin. "Aku akan membekukan seluruh kota ini dalam sepuluh tarikan napas. Kau cukup memungut batu rohnya saja nanti."
Ye Chen mendengus keras. Kesombongan adik seperguruannya ini selalu memancing amarahnya. "Silakan coba. Tapi jangan menangis jika apiku melelehkan esmu sebelum menyentuh mereka."
Tanpa banyak bicara, keduanya melesat ke bawah bukit layaknya meteor merah dan biru. Kepercayaan diri mereka sedang berada di puncaknya. Di usia belasan tahun, mereka telah mencapai Inti Emas Tingkat 2. Di mata mereka, kultivator aliran hitam di bawah sana hanyalah sekawanan semut yang menunggu untuk diinjak.
BAM!
Gerbang baja setebal dua meter itu hancur berkeping-keping akibat tendangan api Ye Chen.
Ratusan kultivator penjaga kota langsung berhamburan keluar dengan senjata terhunus. Namun, sebelum mereka sempat menyerang, Su Yue'er mengangkat tangannya. Badai salju yang mematikan menyapu jalanan utama, membekukan puluhan kultivator tahap Pembangunan Yayasan menjadi patung es dalam sekejap.
"Siapa yang berani membuat kekacauan di wilayah Aliansi Tengkorak Merah?!"
Sebuah raungan menggelegar dari pusat kota. Sesosok pria raksasa bertelanjang dada dengan bekas luka menyilang di wajahnya melompat dari atas menara pengawas, mendarat dengan keras hingga menciptakan kawah di tanah berbatu. Dia adalah Kuang Jiao.
Aura dari Inti Emas Tingkat 5 meledak dari tubuh pria raksasa itu, membawa bau darah yang sangat pekat dan memuakkan.
Ye Chen menyipitkan matanya. Tingkat 5? Itu tiga tingkat di atasnya. Namun, dengan Seni Pedang Pelebur Bintang yang baru didapatkannya, ia tidak merasa gentar sedikit pun.
"Aku yang akan mengambil kepalanya!" seru Ye Chen. Ia melesat maju, Pedang Bintang Merah-nya menyala terang benderang.
"Matahari Pertama!" Ye Chen menebaskan pedangnya dengan kekuatan penuh, menargetkan leher Kuang Jiao.
Namun, alih-alih panik atau menghindar, Kuang Jiao hanya menyeringai buas. Ia sudah hidup dalam pertarungan hidup dan mati selama ratusan tahun. Matanya yang tajam langsung membaca kuda-kuda dan lintasan pedang Ye Chen yang, meski kuat, masih terlalu kaku dan terburu-buru.
"Bocah ingusan!"
Kuang Jiao tidak menggunakan senjata. Ia memutar tubuhnya sedikit untuk menghindari titik mematikan, membiarkan pedang Ye Chen merobek bahu kirinya. Pada saat yang sama, tangan kanannya yang dibungkus oleh Qi elemen tanah sekeras baja meninju perut Ye Chen dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
BUGH!
Sebuah kekuatan yang setara dengan hantaman gunung meletus di perut Ye Chen.
"Ukh!" Ye Chen memuntahkan darah segar, matanya melebar tak percaya. Tubuhnya terpental ke belakang layaknya layang-layang putus, menghantam dinding batu hingga retak.
Kuang Jiao merobek sisa daging di bahunya yang terbakar tanpa berkedip. Fisiknya terlalu kebal. "Inti Emas dengan energi murni? Hebat. Tapi kau berkelahi seperti anak kecil yang baru diberi mainan tajam!"
Melihat Ye Chen terluka, Su Yue'er mendengus meremehkan. "Bodoh."
Gadis berambut perak itu melangkah maju. Tangannya membentuk segel, berniat menggunakan Sutra Reinkarnasi Es Kosmik untuk menjebak Kuang Jiao. Namun, sebelum segelnya selesai, Kuang Jiao meniup sebuah peluit tulang dari lehernya.
Tiba-tiba, dari bawah tanah jalanan yang diinjak Su Yue'er, tiga kultivator aliran hitam tingkat Puncak Pembangunan Yayasan melesat keluar. Mereka tidak menyerang Su Yue'er, melainkan melemparkan puluhan jimat peledak yang memancarkan serbuk merah pekat.
BOM! BOM! BOM!
Asap merah menyelimuti Su Yue'er. Itu adalah Debu Pembakar Qi, racun khusus yang dirancang untuk mengacaukan aliran elemen es dan air.
"Uhuk!" Su Yue'er tersedak. Hawa murni di dalam Dantian-nya mendadak bergolak tak terkendali. Konsentrasinya buyar, dan pembentukan esnya hancur.
Dalam sepersekian detik kelemahannya itu, Kuang Jiao telah melesat menembus asap merah. Tinju raksasanya mengarah tepat ke kepala Su Yue'er.
TRANG!
Pedang Bintang Merah menangkis tinju tersebut di saat-saat terakhir. Ye Chen yang wajahnya pucat menahan serangan Kuang Jiao dengan seluruh kekuatannya, otot-otot lengannya nyaris robek karena kalah tenaga fisik.
"Mundur!" teriak Ye Chen pada Su Yue'er.
"Aku tidak butuh bantuanmu!" bentak Su Yue'er keras kepala, memaksakan diri mengeluarkan paku-paku es dari tanah, meski arahnya melenceng akibat racun debu.
Kuang Jiao tertawa terbahak-bahak. Ia memutar tinjunya, melepaskan energi kejut yang membuat pedang Ye Chen terlepas dari genggamannya. Pria raksasa itu kemudian menendang dada Ye Chen dan Su Yue'er secara bersamaan, menghempaskan mereka berdua berguling-guling di atas tanah berdebu.
Dua jenius monster dari Sekte Bintang Jatuh kini terluka dan terpojok, dikepung oleh ratusan kultivator ganas yang menatap mereka dengan tatapan haus darah.
"Penatua Li!" teriak Ye Chen, menatap ke arah bukit. "Bantu kami!"
Di atas bukit, Li Canggong bahkan tidak membuka matanya. Ia hanya menyesap araknya dan bersendawa keras, suaranya dikirimkan melalui telepati ke telinga mereka berdua.
«Bantu kalian? Hahaha! Kenapa? Bukankah kalian mengira kalian adalah dewa tak terkalahkan hanya karena mencapai Inti Emas dengan cepat?»
Suara lelaki tua itu dipenuhi nada mengejek yang menusuk tulang.
«Kalian pikir dunia kultivasi ini hanya tentang siapa yang ranahnya lebih tinggi atau senjatanya lebih tajam? Binatang buas di bawah sana telah memakan ratusan orang sepertimu untuk bertahan hidup. Taktik licik, medan perang, kerja sama, dan Dao Hati... kalian tidak memiliki satupun dari itu! Kalian hanyalah bayi yang memegang pedang tajam. Bertarunglah dan cari jalan keluar sendiri, atau mati di sana!»
Mendengar teguran kejam itu, wajah Ye Chen dan Su Yue'er memerah karena malu bercampur amarah. Namun, rasa sakit di tubuh mereka membuktikan bahwa kata-kata sang Penatua sepenuhnya benar.
Kultivasi mereka melesat terlalu cepat di bawah perlindungan mutlak Lin Xuan. Mereka tidak pernah benar-benar diuji oleh keputusasaan dan kelicikan dunia luar. Kekuatan murni saja tidak cukup jika mereka tidak tahu kapan, di mana, dan bagaimana cara menggunakannya dengan efektif.
Kuang Jiao mencabut golok raksasa dari punggungnya, melangkah perlahan ke arah mereka bagai dewa kematian.
"Bocah-bocah sombong dari sekte besar. Darah dan Dantian kalian akan menjadi tonik yang sangat bagus untukku," seringainya brutal.
Ye Chen memuntahkan darah dari mulutnya, memaksa tubuhnya berdiri. Ia memungut pedangnya. Untuk pertama kalinya, ia tidak memancarkan api secara membabi buta. Matanya menjadi jauh lebih tenang dan fokus.
Ia melirik ke arah Su Yue'er yang juga baru saja bangkit dengan napas terengah-engah. Gaun biru esnya kotor oleh debu dan darah.
"Adik Seperguruan," ucap Ye Chen, suaranya serak namun tidak lagi memiliki nada permusuhan. "Kita tidak bisa bertarung sendiri-sendiri. Racun debunya menyumbat auramu, tapi apiku bisa membakar racun itu di udara sebelum menyentuhmu."
Su Yue'er menggigit bibirnya keras-keras. Harga dirinya sebagai mantan Permaisuri meronta. Meminta bantuan pada seorang pelayan pemula? Namun, saat ia melihat golok Kuang Jiao yang siap menebas, sisa-sisa rasionalitasnya mengambil alih.
Jika mereka kalah di sini, mereka akan membuat Guru mereka malu.
"Jangan berpikir... aku mengakuimu," gumam Su Yue'er dingin, tangannya mulai membentuk segel kembali. "Buat jalan, lindungi sisiku, dan aku akan membekukan jantungnya dari dalam."
Mata Ye Chen berkilat. "Sesuai pesanan."
Keduanya tidak lagi menerjang maju secara buta. Saat Kuang Jiao dan pasukannya menyerbu, Ye Chen memposisikan dirinya di depan. Ia menggunakan apinya bukan untuk menyerang, melainkan menciptakan dinding pelindung yang berputar cepat, membakar semua racun dan panah tersembunyi yang dilemparkan musuh.
Di belakang dinding api itu, Su Yue'er menutup matanya, memfokuskan pikirannya. Ia menekan kesombongannya dan membiarkan esensi Sutra Reinkarnasi Es Kosmik mengalir selaras dengan kehendaknya, bukan memaksanya secara brutal.