Hidup Gavin Wijaya berubah total dalam semalam. Mantan "sultan" Jakarta yang terbiasa hidup mewah harus meninggalkan kehidupan glamor dan menjadi buruh migran (TKI) di Taiwan. Dari pesta dan kemewahan, kini yang tersisa hanyalah kerja keras di sebuah pabrik.
Di sisi lain, Tiffany Chen adalah CEO muda jenius yang dikenal dingin dan perfeksionis. Baginya hidup hanya tentang bisnis, angka, dan kesuksesan. Namun sebuah tekanan dari sang ayah memaksanya mencari jalan keluar yang tidak pernah dia bayangkan.
Sebuah pertemuan tak terduga membuat Gavin masuk ke dunia Tiffany. Dengan sebuah rahasia dan kontrak pernikahan, seorang mantan sultan yang kini menjadi TKI mendadak berubah menjadi "suami penyamaran" seorang CEO Taiwan.
Ketika pria santai dan usil harus hidup bersama wanita dingin yang lebih mirip robot pekerja, kehidupan mereka mulai berubah. Akankah pernikahan kontrak ini tetap menjadi sekadar kesepakatan, atau berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah mereka rencanakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miko J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Pertama (Kopi Hitam dan Noda Blazer)
Suasana di pabrik komponen elektronik daerah Taoyuan pagi ini mendadak berubah menjadi super sibuk. Kabar mengejutkan datang dari ruang manajemen: Bos Besar dari Kantor Pusat Taipei akan datang melakukan peninjauan mendadak. Seluruh mandor berteriak menggunakan pengeras suara, menyuruh para pekerja migran untuk merapikan area kerja mereka dan memastikan tidak ada satu pun sampah yang berserakan.
Gavin yang sedang sif pagi terpaksa ikut berlarian, menyapu sisa-sisa potongan kabel dan menyusun kotak karton besar ke sudut ruangan. Napasnya terengah-engah, dan keringat mulai membasahi kaos pabrik murah yang ia kenakan.
Tepat saat Gavin baru saja menyelesaikan tugasnya, Pak Wang, mandor pabrik paruh baya yang terkenal gampang darah tinggi, berlari menghampirinya dengan wajah panik. Matanya menatap Gavin dari atas sampai bawah.
"Gavin! Kamu, ikut saya sekarang!" perintah Pak Wang dalam bahasa Mandarin yang cepat. "Di antara semua buruh, wajahmu yang paling lumayan dan bersih. Sini, bawa nampan ini ke ruang rapat di depan koridor. Antarkan kopi hitam panas ini untuk menyambut kedatangan tamu dari Kantor Pusat Taipei. Ingat, kamu harus sopan, jangan membuat kesalahan!"
Nampan berisi tiga cangkir kopi hitam yang mengepulkan asap instan langsung berpindah ke tangan Gavin. Gavin mengerjapkan mata polos, tetapi tidak punya pilihan selain patuh. Dia melangkah menyusuri koridor pabrik dengan sangat hati-hati, memastikan cairan hitam pekat itu tidak tumpah dari cangkirnya.
Di saat yang sama, dari arah belokan koridor yang berlawanan, Tiffany Chen berjalan dengan langkah tergesa-gesa. Setelah pertengkaran hebat dengan ayahnya semalam tentang perjodohan itu, suasana hati Tiffany benar-benar buruk. Sambil melangkah kaku dengan blazer abu-abu kebanggaannya, matanya fokus membaca berkas laporan keuangan manufaktur di tangan, sama sekali tidak melihat ke depan. Di belakangnya, kepala pabrik berjalan mengekor sambil membungkuk ketakutan.
Gavin dan Tiffany sama-sama melangkah menuju sudut belokan koridor yang sama. Karena pandangan mereka sama-sama teralih, Gavin fokus melihat cangkir kopi, Tiffany fokus melihat dokumen, tabrakan itu tidak dapat dihindari.
Brakk!
"Ayaaa!" pekik Gavin panik.
Nampan di tangan Gavin miring seketika. Tiga cangkir kopi hitam panas di atasnya meluncur bebas, tumpah telak dan menyiram bagian depan blazer abu-abu kaku milik Tiffany. Cairan hitam pekat itu langsung merembes, meninggalkan noda besar yang sangat kotor.
Suasana koridor pabrik seketika menjadi senyap seperti kuburan. Kepala pabrik di belakang Tiffany membelalak horor, wajahnya pucat pasi seolah-olah baru saja melihat hantu. Dia tahu betul siapa wanita di depannya, dan buruh asing ini baru saja menghancurkan pakaian sang pewaris Chen Corp.
Tiffany membeku di tempat. Rasa panas dari kopi itu menembus kain blazernya, tetapi yang membuat wajahnya memerah padam adalah kelancangan buruh di depannya.
Gavin yang panik setengah mati langsung menaruh nampannya di lantai. Tanpa berpikir panjang, dia merogoh saku celananya, mengeluarkan selembar tisu kumal, dan mencoba mengelap dada blazer Tiffany sambil mengoceh dengan bahasa Mandarin yang berantakan dan aksen Jakarta yang kental.
"Ayaaa! Maaf, maaf, Tante! Saya tidak sengaja melihat jalan," cerocos Gavin dengan wajah memelas, tangannya bergerak panik menggosok noda kopi di baju Tiffany. "Aduh, baju Tante jadi kotor begini. Sini, Tante, biar saya bantu bersihkan. Jangan marah ya, Tante..."
Tante?!
Kalimat itu bergaung nyaring di koridor. Kepala pabrik hampir terkena serangan jantung di tempat. Tiffany Chen, wanita yang paling ditakuti di lantai empat belas distrik bisnis Xinyi, baru saja dipanggil "Tante" oleh seorang kuli pabrik miskin.
Gumpalan emosi Tiffany yang ditahannya sejak semalam akhirnya meledak. Dia menepis tangan Gavin dengan sangat kasar hingga pemuda itu terhuyung mundur. Matanya yang tajam menatap Gavin dengan pandangan membunuh yang amat dingin.
"Jauhkan tanganmu," desis Tiffany dengan suara rendah yang mencekam. Dia membalikkan badan, menatap kepala pabrik yang gemetaran, lalu berkata dengan ketus, "Urus buruh tidak sopan ini sekarang juga."
Tanpa menoleh lagi, Tiffany melangkah pergi menuju toilet dengan kemarahan yang meluap-luap, meninggalkan aroma kopi dan dendam di koridor.
Hanya dalam hitungan menit, Gavin sudah diseret masuk ke dalam ruangan Pak Wang. Pria paruh baya itu memukul meja kerjanya dengan keras sampai pulpennya melompat ke lantai.
"Kamu gila ya, Gavin?! Berani-beraninya kamu menyiram baju beliau dan memanggilnya TANTE?! Dia itu orang paling penting dari Kantor Pusat Taipei! Mulutmu itu benar-benar cari mati!" bentak Pak Wang, napasnya memburu karena darah tinggi.
Gavin yang masih mengira Tiffany hanyalah rekan bisnis paruh baya hanya berkedip polos, mencoba membela diri dengan bahasa Mandarin seadanya. "Tapi, Pak Wang, dia memang kelihatan seperti tante-tante... Bajunya abu-abu kaku seperti baju nenek saya di Jakarta. Saya kan cuma mau sopan memanggil Tante, kenapa Bapak marah sekali?"
Mendengar pembelaan super polos itu, Pak Wang memegangi dadanya, hampir terkena serangan jantung.
"Diam kamu! Untung beliau tidak menyuruhku memecatmu langsung!" bentak Pak Wang sambil menunjuk pintu keluar dengan tangan gemetar. "Tapi sebagai hukuman, gajimu bulan ini dipotong untuk biaya cuci kering blazernya! Dan mulai besok, tugasmu ditambah: kamu harus membersihkan seluruh toilet pabrik setelah sif kerjamu selesai! Sekarang keluar!"
Gavin berjalan keluar dari ruang mandor dengan langkah gontai dan wajah yang luar biasa lesu. Di sepanjang koridor pabrik, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mencoba mengingat sesuatu yang terasa mengganjal di otaknya.
"Tapi tunggu dulu..." batin Gavin, menyipitkan mata ke arah lantai. "Kayaknya aku pernah lihat wajah tante judes itu. Tapi di mana ya? Ah, sudahlah, kepalaku mau pecah memikirkannya."
Gavin mendongak menatap langit-langit koridor, lalu mengerucutkan bibirnya ke depan dengan raut wajah merengek menahan tangis yang terlihat sangat melas. Dua tangannya mengepal di udara, mengutuk takdir sialnya hari ini.
"Awas kau, Tante judes! Gara-gara kau, gajiku yang tidak seberapa ini malah kena potong! Sialan... gagal total rencana foya-foya karbohidratku minggu ini!" ratap Gavin frustrasi dalam bahasa Indonesia, air mata imajinernya mulai bercucuran deras. Dengan ekspresi menangis yang kocak, dia membayangkan warung makanan Indonesia favoritnya di kota. "Makanan enakku... tunggu aku ya... hiks, kita tunda dulu ketemunya minggu depan..."
Gavin tidak pernah tahu bahwa "tante judes" yang baru saja memotong uang makannya itu adalah wanita yang sama dengan miliarder lajang di layar ponsel retaknya.