Judul lama : Diagnosis: Falling For You
dr. Narendra Adiwijaya, Sp.B adalah putra tunggal dari keluarga konglomerat, Narendra dipersiapkan sejak kecil untuk menjadi penerus Adiwijaya Healthcare Group. Tuntutan tinggi tersebut membentuk Narendra menjadi pria kaku, dominan, dingin.
dr. Nayla Kartikasari, Sp.A adalah anak pertama dari pasangan Arga Dewantara dan Citra Kirana, memiliki seorang adik bernama Bintang. Nayla memiliki sifat yang hangat, ekspresif, namun bermental baja menjadikannya dokter yang disukai oleh anak anak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naila fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prosedur Darurat
Selasa sore di Ruang Intensif Anak (Pediatric Intensive Care Unit / PICU) biasanya berjalan dengan ritme yang terukur. Namun, tepat pukul lima sore, alur tenang itu pecah saat alarm monitor hemodinamik di kamar isolasi nomor tiga meraung keras. Nada beep bernada tinggi dan cepat memenuhi lorong, menandakan penurunan kondisi vital secara drastis.
Pasien di kamar tersebut adalah Alvaro, balita berusia tiga tahun putra dari Dharma Wijaya—konglomerat farmasi raksasa pemilik PT Wijaya Pharma sekaligus donatur utama Yayasan Adiwijaya. Alvaro baru dua hari dirawat karena infeksi saluran pernapasan ringan dan dijadwalkan pulang esok hari.
dr. Nayla Kartikasari, Sp.A yang sedang meninjau lembar grafik medis di meja perawat langsung melepas pulpennya dan berlari menembus pintu kaca otomatis PICU.
"Saturasi meluncur ke 78 persen, dr. Nayla! Tekanan darah memburuk di angka 60/40 mmHg, nadi filiformis 160 kali per menit!" seru Suster Irma, perawat senior PICU, suaranya panik sambil memegangi ambu bag.
Nayla mendekati brankar. Tubuh kecil Alvaro membiru kaku, wajah dan lehernya dipenuhi ruam kemerahan menimbul (urtikaria), dan dadanya tampak bekerja keras mencari udara—terjadi retraksi dinding dada yang berat akibat penyempitan saluran napas (bronkospasme).
"Ini bukan serangan asma biasa. Ini syok anafilaksis berat!" tegas Nayla, suara dan pandangannya seketika berubah menjadi fokus yang tajam. Ketakutan pasien dihilangkan, digantikan oleh instink klinis seorang spesialis anak yang berpengalaman. "Suster Irma, siapkan Epinephrine 1:1000 dengan dosis 0,01 mg/kgBB secara intramuskular di paha anterolateral kanan sekarang juga! Segera pasang oksigen non-rebreathing mask 10 liter per menit!"
"Baik, Dokter!"
Nayla meraba nadi karotis di leher kecil Alvaro. Terasa sangat lemah dan cepat. "Siapkan jalan napas! Ambikan endotracheal tube (ETT) ukuran 4,5 tanpa cuff. Jika intubasi gagal karena edema laring, siapkan set krikotiroidotomi darurat!"
Dengan jemari yang stabil meski diburu waktu, Nayla mengambil stetoskopnya, mendengarkan suara paru-paru Alvaro. Wheezing nyaring terdengar di seluruh lapang paru. Begitu Suster Irma menyerahkan suntikan, Nayla dengan presisi menusukkan jarum ke paha Alvaro, menyuntikkan Epinephrine untuk menghentikan penyempitan pembuluh darah dan membuka saluran napas yang tersumbat.
"Masukkan bolus cairan Ringer Laktat 20 ml/kgBB secepatnya untuk mengatasi hipotensi! Tambahkan Dexamethasone 0,5 mg/kgBB dan Difenhidramin IV untuk mencegah reaksi fase lambat!" instruksi Nayla bertubi-tubi tanpa jeda, tangannya terus bekerja melakukan bagging manual untuk memasukkan oksigen ke paru-paru Alvaro.
Satu menit... dua menit... waktu terasa berjalan begitu lambat dan mencekam.
Lampu indikator di atas monitor berkedip ganti warna. Grafik elektrokardiogram (EKG) yang semula kacau perlahan meregang. Desah napas berat Alvaro mulai melonggar, dan rona kebiruan di bibirnya perlahan berganti menjadi kemerahan.
"Saturasi merangkak naik ke 92 persen, Dokter... 95 persen! Tekanan darah stabil di 90/60 mmHg!" seru Suster Irma sambil menghembuskan napas lega yang panjang.
Nayla menyapu keringat dingin di dahinya dengan lengan jas dokternya. Ia memeriksa pupil mata Alvaro dan mendengarkan kembali detak jantungnya. "Kondisi teratasi. Pertahankan infus cairan, monitor ketat setiap lima belas menit. Cek kembali seluruh rekam medis pemberian obat tiga puluh menit terakhir. Kita harus tahu zat apa yang memicu reaksi anafilaksis sekerat ini."
Keesokan paginya, gerbang utama Rumah Sakit Medika Adiwijaya dipenuhi puluhan wartawan dan kamera televisi.
Dharma Wijaya menggelar konferensi pers darurat tepat di luar gerbang utama. Dengan membawa kuasa hukum terkenal, pria paruh baya bertubuh tambun itu berteriak dengan nada emosional di depan puluhan mikrofon
"Anak saya Alvaro masuk rumah sakit ini hanya karena batuk ringan! Namun karena kelalaian diagnosis dan malapraktik berat dari dr. Nayla Kartikasari, anak saya hampir tewas karena disuntikkan obat yang salah!" seru Dharma dengan wajah merah padam. "Kami tahu ada pembiaran dan perlindungan khusus terhadap dokter tersebut, karena dia adalah calon istri dari dr. Narendra Adiwijaya, Putra Mahkota sekaligus Direktur Operasional rumah sakit ini! Kami menuntut lisensi dokter itu dicabut permanen!"
Tuduhan itu bagaikan bom atom. Dalam hitungan jam, video konferensi pers itu viral. Tagar #MalapraktikMedikaAdiwijaya dan #NepotismeMedis memuncaki trending topic nasional.
Pukul satu siang, lorong lantai lima gedung manajemen tampak begitu tegang. Para jajaran Dewan Komisaris menggelar rapat darurat tanpa mengundang Naren. Di dalam ruang kerjanya yang berarsitektur marmer hitam, Narendra berdiri di depan jendela kaca besar, menatap ke arah kerumunan wartawan di bawah. Rahang tegasnya mengeras, dan sepasang mata elangnya berkilat dipenuhi dinginnya amarah yang amat pekat.
Pintu ruang kerja Naren terdorong terbuka. Nayla melangkah masuk. Jas dokternya masih melekat, namun wajah cantiknya pucat pasi dan jemarinya yang memegang Map Rekam Medis tampak bergetar halus.
"Naren..." panggil Nayla, suaranya serak.
Narendra berbalik dengan cepat, melangkah lebar mendekati Nayla. Tanpa mempedulikan situasi krisis di luar, tangan kekarnya langsung memeluk erat Nayla, menyalurkan kekuatan mutlaknya. "Aku sudah dengar beritanya. Kamu tidak perlu memikirkan gertakan media di luar."
"Naren, dengerin aku dulu," sela Nayla, menatap lurus mata tunangannya. "Ini bukan sekadar reaksi alergi biasa. Semalam, setelah kondisi Alvaro stabil, aku secara rahasia mengambil sisa ampul obat Ceftriaxone yang disuntikkan perawat ke Alvaro, lalu aku uji spektrometri di laboratorium luar."
Narendra mengerutkan keningnya, mendengarkan dengan fokus penuh.
"Hasilnya?"
"Isi di dalam ampul itu... bukan Ceftriaxone," bisik Nayla, membuat suasana ruangan mendadak menjadi sangat dingin. "Seseorang telah menukar isi ampul antibiotik itu dengan Compound-X—zat kontras berbasis iodin dosis tinggi yang sangat beracun jika masuk ke pembuluh darah anak-anak tanpa filtrasi. Seseorang sengaja membuat Alvaro mengalami syok agar terlihat seperti kesalahanku!"
Narendra tertegun sejenak. Matanya menyipit tajam. "Seseorang menyabotase obat di depo farmasi internal kita..."
"Bukan cuma itu, Naren," lanjut Nayla dengan napas tertahan, membeberkan plot twist yang ditemukannya semalam. "Aku mengecek nomor seri lot produksi pada ampul obat beracun yang ditukar itu. Ampul itu diproduksi dan didistribusikan langsung oleh... PT Wijaya Pharma milik Dharma Wijaya sendiri."
Narendra membeku. Sebuah konspirasi yang jauh lebih gelap dan terencana kini membentang di depan mereka.
Dharma Wijaya bukan sekadar ayah yang panik karena anaknya sakit—pria itu sengaja mengorbankan putranya sendiri dengan obat beracun produksi pabriknya, hanya untuk menjebak Nayla dan menghancurkan Adiwijaya Group dari dalam.
Narendra menunduk, memangkas jarak di antara mereka. Tangan besarnya berpindah menangkup kedua sisi wajah Nayla, memaksa perempuan itu menatap lurus ke dalam matanya yang memancarkan kilatan penuh bahaya.
"Dharma Wijaya mengorbankan anaknya sendiri demi membalas dendam bisnis padaku, dan dia menjadikan kamu tumbalnya," bisik Narendra dengan suara bariton yang berat dan sarat akan komitmen mematikan. "Dengarkan aku, Nayla. Mereka boleh mencoba merusak rumah sakit ini dengan kebohongan media. Tapi aku tidak akan pernah membiarkan satu orang pun menyentuh lisensi, integritas, dan nama baik kamu. Kita akan bongkar permainan kotor ini sampai ke akar-akarnya."
Nayla memejamkan matanya, meremas kain kemeja Narendra di bagian dada, merasakan debaran jantung tunangannya yang begitu kuat. Di tengah badai besar konspirasi raksasa ini, Nayla tahu... pertempuran panjang mereka baru saja dimulai.
Happy Reading friendss!! Jangan lupa tinggalkan jejak yeahhh