Sebuah novel fantasi mitologi Nusantara (Batak). Berikut salah satu petikannya:
"Sebelum matahari mengenal pagi, langit telah lebih dahulu mengenal doa. Di Banua Ginjang, doa tidak diucapkan melalui bibir, melainkan tumbuh menjadi bunga-bunga cahaya yang bermekaran di antara akar bintang. Setiap kelopaknya membawa harapan, dan setiap harapan akan jatuh ke dunia bawah sebagai embun kehidupan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10. Benih yang Belum Menjadi Hutan (Bagian II)
...Benih yang Tidak Pernah Bisa Bertumbuh Sendiri...
..."Benih tidak pernah bertanya seberapa besar pohon yang akan menjadi dirinya. Ia hanya percaya kepada tanah yang menerimanya, hujan yang menyiraminya, dan cahaya yang membangunkannya."...
^^^—Petuah Ompu Sada Uluan^^^
Fajar berikutnya datang dengan langkah yang begitu pelan, seolah langit sendiri enggan membangunkan keheningan yang masih beristirahat di Lembah Tiga Batu.
Kabut tipis menyelimuti rerumputan. Di setiap helai rumput bergantung embun yang memantulkan warna pelangi. Kawanan Parhudon berjalan perlahan di antara bunga-bunga liar, membiarkan tanduk kristal mereka mengusap dedaunan agar embun tidak jatuh terlalu cepat.
Di atas dahan-dahan rendah, Siboru Habutaran melintas tanpa suara. Jubah kabut mereka yang panjang menyapu kelopak bunga langit yang mulai layu. Dengan mangkuk-mangkuk bening, mereka mengumpulkan embun fajar, lalu meneteskannya ke bunga-bunga itu. Seketika kelopak yang semula terkulai kembali membuka, seolah tersenyum menyambut hari.
Tak jauh dari sana, sekumpulan Sitabeak Bintang berlari-lari kecil sambil membawa serpihan cahaya yang mereka susun menjadi bintang-bintang baru. Sesekali mereka tertawa, dan tawa mereka berubah menjadi titik-titik cahaya yang beterbangan ke langit.
Deak kembali memperhatikan semuanya. Tidak ada makhluk yang bekerja sendirian. Bahkan keindahan pagi pun ternyata merupakan hasil dari ribuan tangan yang saling melengkapi.
Ompu Sada Uluan telah menunggu di dekat tungku tiga batu. Di hadapannya terdapat sebuah baki dari kayu Hariara. Di atas baki itu terbaring tiga buah benih.
Ketiganya hampir sama besar. Namun masing-masing memancarkan warna yang berbeda. Yang pertama berwarna putih seperti embun. Yang kedua memiliki warna hijau zamrud seperti daun muda. Yang ketiga terlihat agak keemasan seperti matahari yang baru terbit.
"Putri, hari ini tidak ada pelajaran. Hanya pekerjaan." sapa Ompu Sada Uluan dengan penuh senyum.
Deak pun tersenyum membalas dan menjawab, "Aku siap bekerja, Opung."
Ompu Sada Uluan menyerahkan benih putih terlebih dahulu dan memberikan arahan kepada Deak: "Tanamlah benih ini di atas batu."
Deak melakukannya. Ia menggali sedikit lumut yang menempel di permukaan batu dan meletakkan benih itu di sana.
Waktu pun berlalu dan hari lalu berganti, namun benih itu tetap diam. Tidak retak. Tidak tumbuh.
"Apakah benihnya mati Opung?" tanya Deak.
Ompu Sada Uluan menggeleng, "Tidak." jawabnya lugas, "Ia hanya tidak memiliki tempat untuk berharap."
Lalu benih kedua diberikan dengan arahan: "Tanamlah benih ini di tanah yang subur."
Deak menanamnya di padang rumput. Namun Ompu Sada Uluan melarang siapa pun menyiramnya.
Keesokan harinya, benih itu mulai membuka.
Hari kedua, tunas kecil mulai muncul.
Hari ketiga, tunas itu terlihat menguning.
Hari keempat, ia layu.
Deak memandang dengan sedih dan bergumam, "Padahal tanahnya baik."
"Ya. Tetapi tanah yang baik... tidak berarti apa-apa tanpa air."
Kini tinggal tersisa satu benih. Benih berwarna keemasan.
Ompu Sada Uluan tidak berkata apa-apa. Beliau hanya meniup peluit kecil yang tergantung di lehernya. Tak lama kemudian, berbagai makhluk mulai berdatangan.
Parhudon membawa embun di tanduk mereka.
Siboru Rintik meneteskan air yang mereka simpan sejak dini hari.
Parsilopuk Bayang membentangkan bayangan lembut agar tanah tidak terlalu panas.
Parjaga Rambu mengepakkan sayap hitam-putih mereka di atas benih, menjaga agar cahaya matahari dan teduh silih berganti dengan seimbang.
Lalu dari langit turun Sialtong Namarhodang, rusa langit bertanduk pelangi. Dengan langkah yang nyaris tak terdengar, ia menginjak tanah di sekitar benih. Dari bekas pijakannya tumbuh lumut halus yang menjaga kelembapan bumi.
Bahkan Jonggi ikut membantu. Burung kecil itu menjatuhkan sebutir biji bunga dari paruhnya di samping benih sebagai tanaman pendamping.
Deak tersenyum haru, "Opung... Semuanya datang."
Ompu Sada Uluan mengangguk, "Karena kehidupan selalu mengundang kehidupan."
Hari-hari berlalu. Benih keemasan itu retak. Akar kecil menjulur ke dalam tanah. Tunas hijau muncul ke permukaan. Daun pertama membuka. Lalu daun kedua. Tak lama kemudian, batangnya menguat. Burung-burung mulai hinggap. Kupu-kupu kristal menari di sekelilingnya. Seekor Simarmata Aek berenang di udara, meninggalkan butiran air yang menyegarkan dedaunan.
Pohon kecil itu hidup. Bukan karena benihnya lebih hebat. Melainkan karena banyak makhluk memilih untuk merawatnya.
Deak lalu duduk di bawah sebuah pohon muda di dekat tunas itu bertumbuh. Angin menggerakkan rambutnya perlahan ketika ia berujar: "Aku mengerti sekarang Opung."
Ompu Sada Uluan tersenyum, "Coba katakan."
Deak memandang tunas pohon itu dan menjawab: "Benih tidak pernah menjadi hutan seorang diri. Ia membutuhkan banyak hal untuk dapat tumbuh, seperti tanah yang menerimanya dengan kehangatan, air yang menyegarkan dan memberi hidup, cahaya yang menguatkan dan angin yang melatihnya agar akarnya mencengkeram. Belum lagi kupu-kupu dan burung-burung yang menyebarkan bijinya, serta banyaknya tangan yang turut merawatnya."
Ompu Sada Uluan mengangguk puas dan melanjutkan berkata: "Itulah sebabnya, kesombongan selalu menjadi musim yang mematikan."
...****************...
Beliau kemudian mengajak Deak kembali ke tungku tiga batu di depan pondok sederhananya.
Api kecil terlihat menyala di atasnya, "Putri, anak cucumu kelak akan mengenal tiga harapan besar dalam kehidupan."
Beliau menatap nyala api yang menari pelan, "Mereka akan menyebutnya: Hamoraon, atau kecukupan yang dipakai untuk berbagi, bukan untuk meninggikan diri. Lalu ada Hagabeon, keturunan yang bukan sekadar banyak, tetapi saling mengasihi dan menjaga martabat keluarga. Dan yang terakhir adalah Hasangapon, kemuliaan yang lahir bukan dari kekuasaan, melainkan dari kejujuran, kebijaksanaan dan penghormatan kepada sesama."
Beliau memandang Deak dengan sorot mata yang teduh, "Banyak orang akan mengejar ketiganya. Namun terkadang mereka akan lupa, bahwa ketiganya hanyalah buah. Bukannya akar dari ketiga hal itu."
"Lalu apakah akarnya, Opung?" tanya Deak.
Ompu Sada Uluan meletakkan telapak tangannya di atas tiga batu tungku dan menjawab: "Kasih. Kasih kepada Mulajadi Nabolon. Kasih kepada sesama. Kasih kepada alam. Jika akar itu sehat, buahnya akan datang tepat pada waktunya."
...****************...
Saat matahari mulai condong ke barat, sesuatu yang ajaib terjadi.
Tunas pohon muda yang baru tumbuh itu menggugurkan satu helai daun. Daun itu melayang tertiup hembusan angin dan perlahan menuju bahu Deak.
Begitu menyentuh Ulos Cahaya, daun tersebut berubah menjadi seutas benang hijau zamrud yang menenun dirinya sendiri di antara motif akar, gunung dan pelangi.
Kini ulos itu memiliki satu corak baru: Tiga batu yang saling menopang. Di atasnya tumbuh sebuah pohon kecil.
Nai Tonun yang muncul bersama para penenun langit tersenyum sambil mengusap corak itu, ia berkata: "Ulosmu hampir selesai, Putri. Namun bukan karena tenunannya telah lengkap. Melainkan karena hatimu mulai memahami makna setiap helainya."
...****************...
Menjelang senja, Burung Erung turun dari langit. Ia memandang Deak beberapa saat sebelum berkata, "Semua guru telah menyampaikan pelajaran mereka."
"Apakah itu berarti aku telah siap?" tanya Deak.
Burung Erung tidak langsung menjawab. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Banua Tonga yang masih berupa hamparan air tanpa batas.
Di ufuk yang jauh, cahaya matahari memantul di permukaan samudra purba seperti ribuan benang emas.
"Lain kali, Putri... bukan lagi pelajaran yang akan datang kepadamu. Melainkan panggilan." jawab sang Burung Agung akhirnya.
Deak mengikuti arah pandang Burung Erung. Entah mengapa, untuk pertama kalinya, lautan yang kosong itu tidak lagi tampak sunyi di pengelihatannya.
Ia merasa sang lautan seperti seorang anak yang belum lahir, tetapi telah menunggu dalam diam.
Dan jauh di kedalaman Banua Toru, Naga Padoha membuka matanya sekali lagi. Lagi-lagi bukan dengan amarah, melainkan dengan rasa ingin tahu yang besar.
Karena ia pun mulai merasakan bahwa waktu sedang menenun peristiwa yang akan mengubah seluruh semesta.
...****************...
Horas! 🌿
Mauliate godang.. 🤎
📖 Bersambung ke Bab 11 – Panggilan dari Dunia yang Belum Bernama.
😏/CoolGuy//Casual//Shhh/
/Grin//Tongue//Facepalm//Joyful/