Menceritakan soal pemuda bernama Lucien yang dulu dikenal sebagai Ash van Astoria, pangeran keempat yang dibuang karena dianggap gagal. Tidak punya sihir, dihina keluarganya sendiri, lalu dijatuhkan ke jurang demi menjaga "harga diri" kerajaan.
Tapi bukannya mati, ia justru dipilih oleh konstelasi kuno, Ophiuchus.
Sejak saat itu, hidupnya berubah.
Lucien mendapatkan kekuatan langka, kemampuan untuk memanggil dan mewarisi kekuatan dari para rasi bintang. Namun setiap konstelasi hanya akan memberikan kekuatannya kepada orang yang mereka akui.
Ditemani Chiron dari Konstelasi Centaurus, Lucien memulai perjalanan untuk menjadi lebih kuat, menaklukkan ujian para bintang, dan membuktikan kalau "sampah" yang dibuang kerajaan… bisa bersinar paling terang.
Dan ini baru permulaan.
Karena suatu hari nanti, 88 konstelasi akan menjadi kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bantuan Asing
Bandit bertombak itu melompat mundur sambil mengatur napasnya yang mulai tidak stabil. Ekspresinya yang semula penuh ejekan kini berubah menjadi kesal.
Ia melirik ke arah Luc yang masih berdiri di bawah cahaya lima bintang Crux. Meskipun napas bocah itu masih terengah dan tubuhnya dipenuhi luka ringan, sorot matanya tetap tenang. Itulah yang membuat pria itu semakin tidak nyaman.
"Sialan..." gerutunya pelan.
Ia meludah ke tanah sebelum mengangkat tombaknya tinggi-tinggi.
"Hei!" teriaknya kepada para bandit lain. "Berhenti main-main! Kepung bocah ini!"
Luc langsung memasang ekspresi tidak percaya. "Hah?" serunya sambil melotot. "Lah? Katanya mau duel?"
Bandit itu menyeringai sinis. "Duel itu buat orang bodoh!" balasnya sambil tertawa kasar. "Kami bandit! Yang penting menang!"
Beberapa bandit yang sebelumnya menghadapi Lea langsung memisahkan diri.
Mereka berlari mengelilingi Luc. Dalam hitungan detik, Luc benar-benar terkepung.
"Oi..." keluh Luc sambil melirik ke segala arah. "Ini curang banget."
"Kau ngarep apa dari bandit?" balas bandit bertombak itu sambil menyeringai. "Bunuh dia!"
Seketika para bandit bergerak bersamaan.
Luc menggertakkan giginya. Lima bintang Crux memang membantunya mengambil keputusan terbaik. Namun menghadapi banyak lawan sekaligus tetap bukan perkara mudah.
Satu langkah salah... Dan semuanya akan berakhir.
Di sisi lain, Lea yang hendak membantu Luc mendadak dipaksa mundur.
Dua bandit pengguna belati menyerangnya dari depan, sementara seorang pemanah membatasi pergerakannya.
Lea buru-buru menarik tali Lunaria dan panah kristal melesat.
Salah satu bandit terpaksa menghindar. Namun jumlah mereka terlalu banyak.
"Luc!" teriak Lea dengan nada cemas.
"Aku lagi sibuk!" balas Luc sambil menangkis kapak yang nyaris membelah kepalanya.
Clang!
Benturan demi benturan kembali menggema. Luc memutar tubuhnya untuk menghindari tusukan tombak dari belakang.
Namun saat itu juga, seorang bandit lain muncul dari samping.
"Mati kau!"
Luc membelalakkan mata.
Sial! umpatnya dalam hati.
Tiba-tiba...
Sret!
Sebuah garis cahaya berwarna ungu gelap melintas di depan matanya.
Dalam sekejap... Tubuh para bandit yang berada di sekitar Luc membeku.
Beberapa detik kemudian...
Bruk.
Satu per satu mereka tumbang ke tanah.
Luc terdiam dalam keadaan bingung.
Bandit bertombak itu juga membeku. Ekspresi percaya dirinya menghilang. "Apa yang terjadi...?"
Suasana mendadak menjadi sunyi.
Bahkan para bandit yang sedang bertarung dengan Lea ikut menghentikan gerakan mereka.
Lea sendiri tampak terkejut. Tatapan matanya perlahan bergeser ke arah sumber serangan tadi.
Dari antara asap hitam dan kobaran api desa... Seseorang berjalan mendekat.
Langkahnya tenang, tidak tergesa-gesa. Tidak pula menunjukkan emosi.
Yang pertama kali terlihat adalah helaian kimono berwarna hitam keunguan yang berkibar tertiup angin sore.
Kain itu dihiasi motif bunga berwarna gelap dengan aksen merah keunguan yang elegan.
Rambut hitam panjangnya dikepang ke samping, menjuntai hingga melewati pinggang. Beberapa helai rambut jatuh membingkai wajahnya yang cantik namun dingin.
Telinga elf yang runcing tampak jelas di balik rambut tersebut.
Sepasang mata hijau zamrud menatap lurus ke depan.
Di tangan kanannya tergenggam sebuah katana dengan bilah berpendar ungu gelap.
Kelopak-kelopak bunga berwarna merah muda berjatuhan pelan di sekelilingnya, terbawa angin seperti bagian dari sesuatu yang tidak nyata.
Luc menelan ludah. "Elf?" gumamnya pelan.
Bandit bertombak itu mundur selangkah. "Apa-apaan..." katanya dengan suara yang sedikit bergetar. "Siapa dia...?"
Sosok elf berambut hitam itu menghentikan langkahnya di tengah medan pertempuran.
Tatapannya menyapu para bandit yang tersisa. Tidak ada amarah ataupun kebencian. Seolah-olah ia hanya sedang melihat sekelompok orang asing yang tidak penting.
Perlahan, ia mengangkat katananya. Cahaya ungu gelap kembali mengalir di sepanjang bilahnya.
Salah satu bandit menelan ludah sebelum berteriak ketakutan. "T-Tunggu! Siapa kau sebenarnya?!"
Untuk pertama kalinya, bibir gadis elf itu bergerak. Suaranya terdengar lembut. Namun dingin seperti embun sebelum fajar. "Kalian tidak perlu tahu."
Ia sedikit memiringkan bilah katananya. Kelopak-kelopak bunga kembali berputar di sekeliling tubuhnya.
Lalu tatapan mata hijau itu berpindah ke arah Luc yang masih memegang pedangnya.
Untuk sesaat... Tatapan mereka bertemu.
Luc membeku. Entah kenapa, ada tekanan aneh yang membuatnya sulit mengalihkan pandangan.
Bukan karena niat membunuh. Melainkan karena keberadaan gadis itu sendiri terasa terlalu berbeda.
Di bawah cahaya lima bintang Crux dan kobaran api desa yang terbakar, sosok elf berambut hitam itu berdiri dengan tenang di tengah para bandit yang mulai diliputi ketakutan.
Sementara Luc hanya bisa menatapnya dengan bingung.
Bandit-bandit yang tersisa langsung mundur beberapa langkah. Tatapan mereka dipenuhi kebingungan. Tidak ada seorang pun yang benar-benar melihat apa yang baru saja terjadi.
Mereka hanya melihat kilatan ungu gelap. Lalu rekan-rekan mereka tumbang ke tanah.
Bandit bertombak itu menggertakkan giginya sambil mengangkat senjatanya.
"Jangan takut!" bentaknya kepada anak buahnya, meskipun suaranya sendiri terdengar sedikit goyah. "Dia cuma satu orang!"
Gadis elf berambut hitam itu berdiri diam di tengah medan pertempuran.
Kimono hitam keunguannya berkibar pelan tertiup angin sore. Rambut hitam panjang yang dikepang ke samping menjuntai hingga pinggang, sementara kelopak-kelopak bunga berwarna merah muda berputar perlahan di sekeliling tubuhnya.
Katana berpendar ungu gelap masih berada di tangan kanannya.
Tatapan mata hijaunya tetap datar. Seolah keributan di sekitarnya tidak lebih dari gangguan kecil.
Bandit bertombak itu menunjuk ke arahnya dengan wajah penuh amarah.
"Bunuh dia!" teriaknya. "Serang bersama-sama!"
Lima orang bandit langsung bergerak.
Seorang pria bertubuh besar mengangkat kapak Vassalnya tinggi-tinggi.
Dua pengguna belati menyerbu dari sisi kiri dan kanan.
Seorang pemanah menarik tali busurnya.
Sementara bandit bertombak itu sendiri melesat lurus dari depan.
Mereka menyerang hampir bersamaan.
Luc yang melihatnya langsung membelalakkan mata. "Oi..." gumamnya pelan. "Bahaya..."
Lea ikut menahan napas.
Namun gadis elf itu tidak bergerak. Ia tetap berdiri tenang. Sampai... Ujung sandal hitamnya bergeser setengah langkah.
Sret.
Tubuhnya menghilang.
Mata Luc langsung membesar. "Hah?"
Yang terdengar hanyalah suara lembut seperti kain yang tersapu angin.
Sebuah kilatan ungu gelap melintas di antara para bandit. Begitu halus hingga sulit diikuti mata.
Sret.
Gadis itu kembali muncul beberapa meter di belakang mereka. Punggungnya menghadap para bandit. Katananya perlahan dimasukkan kembali ke dalam sarung.
Klik.
Keheningan menyelimuti medan pertempuran.
Bandit-bandit itu membeku di tempat.
"Apa..." gumam salah satu dari mereka.
Kapak di tangannya terlepas.
Bruk.
Sebuah garis tipis muncul di dadanya. Lalu... Darah menyembur.
"A-Aaaarrgghhh!!"
Satu per satu tubuh mereka roboh ke tanah. Tidak ada yang sempat bereaksi.
Bandit bertombak itu menjadi satu-satunya yang masih berdiri.
Matanya membelalak dan tubuhnya gemetar. "K-Kenapa...?"
Tangannya yang memegang tombak mulai bergetar hebat. "Apa kau monster...?" tanyanya dengan suara serak.
Gadis elf itu menoleh sedikit. Tatapan mata hijaunya masih tetap tenang. "Monster?" ulangnya pelan.
Ia menatap desa yang terbakar di belakang pria itu. Jeritan warga yang ketakutan. Rumah-rumah yang dilalap api. Lalu pandangannya kembali tertuju pada bandit tersebut.
"Kalian membantai orang-orang tak bersenjata," ujarnya dengan suara datar. "Membakar rumah mereka."
Katana itu kembali terangkat. Aura ungu gelap menyelimuti bilahnya.
"Jadi..." lanjutnya pelan, "siapa sebenarnya monster di sini?"
Bandit bertombak itu menggertakkan giginya. "T-Tutup mulutmu!" bentaknya sambil menyerbu dengan putus asa.
Ia menusukkan tombaknya lurus ke arah jantung gadis elf itu.
Namun...
Sret.
Tubuh gadis itu hanya bergeser setengah langkah. Tusukan tersebut meleset.
Mata bandit itu membelalak.
Sebelum sempat berbalik... Gadis elf itu sudah berada tepat di sampingnya. Begitu dekat hingga pria itu bisa melihat pantulan wajah ketakutannya sendiri di bilah katana.
"Sampai jumpa," ucap gadis itu pelan.
Sret.
Sebuah tebasan tunggal melintas.
Bandit bertombak itu membeku. Tombaknya terjatuh dari genggamannya. Matanya menatap kosong ke depan sebelum tubuhnya perlahan roboh ke tanah.
Bruk.
Keheningan kembali menyelimuti desa.
Asap hitam masih mengepul ke langit. Api masih membakar beberapa bangunan.
Namun para bandit... Semuanya telah tumbang.
Luc hanya bisa berdiri mematung.
Pedang di tangannya perlahan turun. "Gila," gumamnya dengan wajah kosong.
Lea yang berdiri tak jauh darinya tampak sama terkejutnya. Matanya masih terpaku pada sosok elf berambut hitam itu.
Gadis elf itu berdiri di tengah tubuh para bandit yang bergelimpangan. Kimono hitam keunguannya tetap bersih. Bahkan tidak ada setetes darah pun yang menodai bilah katananya.
Kelopak-kelopak bunga merah muda kembali berputar pelan di sekelilingnya dan menghilang. Lalu, seolah baru menyadari keberadaan Luc dan Lea, gadis itu menoleh ke arah mereka.
Tatapan mata hijaunya bertemu dengan mata Luc.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
"Apa kalian baik-baik saja?" tanyanya dengan nada tenang, seolah baru saja menyingkirkan sekelompok serangga yang mengganggu perjalanan.