NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Sang Komandan

Istri Pengganti Sang Komandan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Berbaikan / Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Dokter / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 4.8
Nama Author: Ayu Lestari

"Demi menyelamatkan ayahnya, Alya setuju menggantikan kakaknya untuk memenuhi janji pernikahan dengan Mayor Damar. Namun, pada akhirnya semua hanyalah status dan diikat surat perjanjian yang berlaku selama tiga tahun. Di samping itu, Alya dan Damar menjalani kehidupan mereka masing-masing.

Namun, dua tahun kemudian, keduanya dipertemukan kembali di medan perang. Alya sebagai dokter ditugaskan ke perbatasan NTT, tempat Damar bertugas. Kontrak yang awalnya dianggap sebagai garis aman perlahan-lahan berubah menjadi bom waktu ketika cinta mengetuk hati Mayor Damar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 06 - Darah di Jalan Pos Bawah

Alya berlari keluar aula dengan tas medis di tangan.

Beberapa ibu ikut berdiri, tapi dia menoleh cepat.

"Jangan ikut semua. Bu Niken, tolong bantu tenangkan yang lain. Bu Wati, kalau ada keluarga korban datang, arahkan ke pos kesehatan."

Bu Wati yang biasanya cerewet langsung mengangguk.

Prajurit muda yang membawa kabar sudah menyalakan motor.

"Naik, Dok!"

Alya tidak bertanya lagi. Dia duduk di belakang, satu tangan memegang tas, satu tangan berpegangan pada besi motor. Jalan pos bawah menurun tajam dan penuh kerikil. Motor melaju cepat, angin panas menghantam wajahnya.

Dari kejauhan, dia melihat kerumunan kecil.

Sebuah motor tergeletak di pinggir jalan. Seorang laki-laki muda berseragam prajurit duduk di tanah sambil memegangi lengan. Di dekatnya, seorang perempuan paruh baya terbaring dengan kain sarung penuh darah di bagian paha.

"Minggir! Beri ruang!" seru prajurit pengantar.

Alya turun sebelum motor benar-benar berhenti.

Dia berlutut di samping perempuan itu.

"Ibu, bisa dengar saya?"

Perempuan itu merintih. Wajahnya pucat, napasnya cepat. Darah masih mengalir dari luka robek dalam di paha kanan.

Alya menekan luka dengan kasa tebal.

"Siapa namanya?"

"Mama Lusia," jawab seorang pria tua dengan suara gemetar. "Dia jatuh dari motor. Motor menghindari truk."

"Sudah berapa lama?"

"Baru... baru sepuluh menit."

Terlalu banyak darah untuk sepuluh menit.

Alya menoleh ke prajurit yang terluka. "Kamu bisa jalan?"

"Bisa, Dok. Cuma lecet."

"Kalau bisa, bantu saya. Tekan di sini. Kuat. Jangan lepaskan walau dia berteriak."

Prajurit itu ragu hanya satu detik, lalu menekan kasa sesuai instruksi.

Mama Lusia menjerit.

Alya menahan pergelangan tangannya. "Ibu, dengar saya. Darahnya harus dihentikan dulu. Tarik napas. Lihat saya."

Mata perempuan itu bergerak liar.

"Saya... saya mau mati?"

"Tidak kalau Ibu mau bantu saya."

Kalimat itu membuat perempuan itu menggenggam lengan Alya.

"Saya punya anak..."

"Makanya Ibu harus bertahan."

Alya membuka tas, memasang sarung tangan baru, lalu memeriksa luka. Robekan panjang, dalam, kemungkinan mengenai pembuluh besar kecil di sekitar paha. Bukan sesuatu yang bisa ditangani tuntas di jalan.

"Butuh evakuasi sekarang. Hubungi pos, minta ambulans. Siapkan rujukan ke RSUD Atambua."

Prajurit muda langsung mengangkat radio.

Jawaban dari radio tidak membuatnya lega.

"Ambulans sedang dipakai bawa pasien demam ke lab kecamatan. Perkiraan kembali empat puluh menit."

Empat puluh menit bisa terlalu lama.

Alya melihat jalan. "Ada kendaraan lain?"

"Mobil patroli komandan di pos atas."

"Minta ke sini."

Prajurit itu menegang. "Itu kendaraan operasi, Dok."

"Pasien ini operasi juga. Operasi bertahan hidup."

Dia kembali menekan luka.

Beberapa warga mulai berbisik.

"Banyak sekali darahnya."

"Bawa ke dukun dulu?"

"Jangan, nanti makin parah."

Alya mengangkat suara tanpa melihat mereka.

"Tidak ada yang memindahkan pasien sebelum saya bilang. Jangan beri minum. Jangan oles apa pun. Kalau ada kain bersih, bawa."

Kerumunan bergerak.

Di tengah kekacauan itu, sebuah suara keras terdengar dari belakang.

"Apa yang terjadi?"

Damar datang dengan jip hijau tua. Debu naik di belakangnya. Dua prajurit turun cepat.

Alya tidak menoleh.

"Perempuan, sekitar lima puluh tahun, luka robek paha kanan, perdarahan aktif, kemungkinan syok awal. Ambulans tidak tersedia. Saya butuh kendaraan Anda untuk evakuasi."

Damar menatap darah di jalan, lalu pasien.

"Berapa tekanan darah?"

"Belum dapat alat. Klinis memburuk. Kulit dingin, nadi cepat."

"Bawa ke jip."

Salah satu prajurit mendekat.

"Tunggu. Kita imobilisasi dulu."

Alya menunjuk dua papan kayu dari warung kecil di seberang jalan. "Ambil itu. Kain panjang juga."

Damar memberi isyarat. Prajuritnya bergerak tanpa protes.

Dalam waktu singkat, mereka membuat penyangga darurat. Alya terus memberi instruksi. Suaranya tenang, tapi cepat.

Damar berdiri di sisi lain pasien, memperhatikan.

Saat Mama Lusia hampir pingsan, Alya menepuk pipinya pelan.

"Mama Lusia. Tetap dengan saya."

"Sakit..."

"Saya tahu."

"Anak saya..."

"Nanti saya suruh orang hubungi anak Ibu. Sekarang lihat saya dulu."

Mata perempuan itu kembali fokus.

Damar melihat cara Alya berbicara. Tidak manis berlebihan. Tidak panik. Tidak memberi janji kosong. Hanya menjaga pasien tetap berada di sana, satu napas demi satu napas.

Setelah pasien masuk ke belakang jip, Alya ikut naik.

Damar berdiri di pintu.

"Aku yang mengemudi."

"Bagus. Cepat tapi jangan membuatnya terpental."

Salah satu prajurit terbatuk.

Damar menatap Alya.

"Kamu memberi perintah kepadaku?"

"Saya memberi instruksi medis."

"Pegangan."

Jip melaju.

Di sepanjang jalan, Alya terus menekan luka. Darah merembes melalui kasa. Bidan Rina sudah menunggu di pos kesehatan dengan infus. Mereka berhenti hanya lima menit untuk memasang jalur cairan dan mengambil alat tambahan, lalu melanjutkan ke RSUD Atambua setelah ambulans kembali di tengah jalan dan mengambil alih.

Alya ikut sampai IGD.

Dia menyerahkan pasien ke dokter jaga dengan laporan cepat dan rapi. Setelah pintu tindakan tertutup, barulah dia sadar bajunya penuh darah.

Tangannya gemetar sedikit.

Bidan Rina berdiri di sampingnya.

"Dokter?"

"Saya baik."

"Tidak kelihatan begitu."

Alya melihat telapak tangannya. Sarung tangan sudah dilepas, tapi aroma darah seperti masih menempel.

"Dia masih hidup."

"Karena Dokter."

Alya menggeleng.

"Karena semua bergerak cepat."

Di luar IGD, Damar berbicara dengan petugas rumah sakit dan prajurit. Wajahnya masih datar, tapi matanya sesekali mencari Alya.

Saat urusan selesai, mereka kembali ke pos menjelang malam.

Jalan gelap. Hanya lampu jip yang memotong aspal.

Alya duduk di kursi penumpang depan. Tubuhnya lelah sampai tulang.

Damar tidak bicara selama hampir dua puluh menit.

Lalu dia berkata, "Kamu seharusnya menunggu pengamanan sebelum masuk ke lokasi."

Alya memejamkan mata sebentar.

"Kalau saya menunggu, dia mungkin mati."

"Kalau ada kendaraan lain menabrak atau ada ancaman di lokasi, kamu juga bisa mati."

"Tidak ada ancaman bersenjata. Itu kecelakaan lalu lintas."

"Kamu memutuskan itu dalam tiga detik?"

Alya menoleh.

"Anda ingin memarahi saya karena menyelamatkan pasien?"

Rahang Damar mengeras.

"Aku ingin kamu mengerti bahwa di sini, satu keputusan ceroboh bisa membunuhmu."

"Saya mengerti."

"Tidak. Kamu hanya terbiasa berlari ke arah orang yang berdarah."

Kalimat itu membuat Alya terdiam.

Damar menatap jalan.

"Aku melihat banyak orang seperti itu. Mereka pikir keberanian cukup. Lalu mereka mati karena lupa tempat mereka berdiri."

"Saya bukan prajurit."

"Justru itu."

Alya menahan napas.

"Kalau begitu, Komandan, beri saya peta risiko wilayah. Beri tahu jalur mana yang sering dipakai penyelundup, daerah mana yang rawan, siapa yang harus saya hubungi sebelum evakuasi. Jangan hanya menyuruh saya diam setelah pasien sudah hampir mati."

Damar menoleh cepat.

Mata mereka bertemu sebentar.

Lalu dia kembali menatap jalan.

"Besok pagi datang ke pos komando."

"Untuk dimarahi lagi?"

"Untuk briefing."

Alya terdiam.

Dia tidak menyangka Damar akan menerima usulnya.

"Baik."

Ketika mereka tiba di pos kesehatan, Bu Niken, Joko, Rina, dan beberapa ibu sudah menunggu. Wajah mereka tegang.

"Bagaimana Mama Lusia?" tanya Bu Niken.

"Masuk tindakan di RSUD. Kondisinya lebih stabil saat diserahkan," jawab Alya.

Beberapa orang mengucap syukur.

Bu Wati menatap baju Alya yang penuh darah. "Ya Allah, Dok. Banyak sekali..."

Alya baru sadar dia belum sempat berganti.

Damar turun dari jip.

"Bubarkan. Dokter Alya perlu istirahat."

Biasanya perintah Damar membuat orang tegang.

Kali ini, semua bergerak patuh dengan wajah lega.

Alya masuk ke pos untuk membersihkan diri. Saat dia hendak mengambil tas, Damar berkata dari pintu.

"Dokter Alya."

Dia menoleh.

Damar menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.

"Kerja bagus."

Dua kata.

Pendek.

Kaku.

Tapi entah kenapa, tubuh Alya yang sejak tadi kuat tiba-tiba terasa hampir runtuh.

Dia mengangguk.

"Terima kasih."

Damar pergi.

Alya berdiri di ruang pos yang kosong, memegang tas medisnya.

Dua tahun menikah, itu pertama kalinya Damar memuji pekerjaannya.

Dan dia membenci dirinya sendiri karena dua kata itu cukup membuat dadanya terasa hangat.

Di mobil menuju pos komando, Damar menyalakan radio, lalu mematikannya lagi.

Pujian itu keluar tanpa rencana. Dia bisa saja menyebutnya laporan medis baik atau koordinasi tepat. Kalimat formal lebih aman.

Tapi yang keluar justru kerja bagus.

Wajah Alya saat mendengarnya membuat Damar sadar satu hal: mungkin selama ini perempuan itu terlalu jarang mendapat kalimat sederhana darinya.

1
Sanjaria Abubakar
jual mahal Alya jangan langsung Nerima semangat Alya 💪
Sanjaria Abubakar
jadi gemes
Mun awaroh
penasaran kanjutanyya
Si Memeh
cerita nya bagus thor 👍👍👍 konflik berat, keren, mantap, tp sy ngga sanggup mikirin nya thor 🤭
Bundanyafatiyah
ceritanya bagus cuma terlalu berbelit2 banyak. pengulangan cerita...
Leni Maulani
ia ngambang
Janah Husna Ugy
q baca nya teliti bgt,meresapi,,
Nonce Yusnita
mestinya di jelaskan ..bab yang kemarin arka SDH tidur dgn ayah dan mamanya
Nonce Yusnita
bingung menyelamatkan arka nah arka bersama ayah dan ibunya
yuqana
aku maraton bacanya kak, aku syuka bgt bgt bgt novel ini, 😍😍😍😍😍
Lovely Fictions
Nadia jadi Marlina... Wiranata apa Wiratama jadi Pradipta.... Lara's dulu kakak sdh menikah skrg jd Adik
sry batlolona
lanjut ceritanya
santi robby
cie JD seru ini..
Dewi Asih
lanjut kak
Inne Ermalia Inot
membingungkan mkn k sini ceritanya
sdit bis
lucu
sdit bis
next
Faried Zhie
uwuuu
bunda fafa
tidak usah di balas .jd kakak kok egois banget si laras itu
Desifa Juni Raya
ini dh selesai pa blom
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!