NovelToon NovelToon
Rawa Dibelakang Rumah

Rawa Dibelakang Rumah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Anak Genius / Penyelamat
Popularitas:356
Nilai: 5
Nama Author: halwa diyah

Arga pendaki kota yang tersesat di hutan menemukan sebuah kampung terpencil dalam kedalaman hutan. Beberapa fakta yang dia dapatkan memunculkan sisi petualang dan sisi detektifnya.
apa yang tersembunyi di kampung tersebut?
bisakah Arga kembali pulang ke rumahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabut yang menyesatkan

Pagi di gunung selalu memiliki keajaibannya sendiri.

Arga membuka resleting tenda dan langsung disambut udara dingin yang menusuk kulit. Embusan angin pegunungan membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang masih dipenuhi embun. Di ufuk timur, matahari perlahan muncul dari balik lautan awan, menyebarkan cahaya keemasan yang membuat seluruh lereng gunung tampak berkilau. Beberapa anggota rombongan sudah bangun lebih dulu. Ada yang sedang merebus air untuk kopi, ada yang sibuk mengemasi perlengkapan, dan ada pula yang berdiri menikmati pemandangan sambil mengabadikan momen dengan kamera.

"Bangun juga akhirnya," kata Dimas sambil tertawa.

Arga menguap.

"Aku tidur nyenyak sekali."

"Bagus. Soalnya hari ini kita ke puncak."

Kalimat itu langsung membuat semangat Arga kembali penuh.

Setelah sarapan sederhana berupa roti dan mi instan hangat, rombongan mulai bergerak menuju puncak. Jalur semakin menanjak dibandingkan hari sebelumnya. Tanah berbatu dan akar pohon yang menjulur membuat mereka harus lebih berhati-hati. Namun rasa lelah seolah terbayar setiap kali mereka berhenti dan melihat pemandangan di belakang. Hamparan hutan membentang sejauh mata memandang. Gunung-gunung lain terlihat seperti pulau-pulau hijau yang mengapung di lautan awan. Arga berkali-kali mengeluarkan ponselnya untuk mengambil foto.

"Kalau begini rasanya nggak mau pulang," katanya.

"Biasanya semua pendaki bilang begitu," jawab Dimas.

Menjelang pukul sembilan pagi, mereka akhirnya tiba di puncak. Sorak kegembiraan langsung pecah. Beberapa orang berpelukan. Sebagian lainnya berfoto sambil membentangkan bendera komunitas.

Arga berdiri agak terpisah dari kerumunan.

Ia memandang dunia dari ketinggian itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Di bawah sana terbentang lembah, hutan, sungai kecil yang berkelok-kelok, dan perkampungan yang terlihat begitu kecil. Semua masalah yang biasanya memenuhi pikirannya terasa jauh. Seakan tidak ada yang penting selain langit biru dan angin yang berembus pelan.

"Ini alasan kenapa aku selalu kembali ke gunung," gumamnya.

Beberapa jam kemudian, rombongan mulai bersiap turun.

Langit masih cerah.

Cuaca terlihat bersahabat.

Tidak ada satu pun orang yang menduga bahwa keadaan akan berubah begitu cepat.

Perjalanan turun berlangsung lancar pada awalnya. Mereka melewati jalur yang sama saat naik. Suasana rombongan tetap ramai. Sesekali terdengar candaan dan tawa. Namun sekitar tengah hari, Arga mulai memperhatikan sesuatu yang aneh.

Kabut tipis muncul di sela-sela pepohonan. Awalnya tidak ada yang menganggapnya serius. Kabut di gunung adalah hal biasa. Tetapi semakin lama, kabut itu semakin tebal. Dalam waktu kurang dari tiga puluh menit, jarak pandang berkurang drastis. Pohon-pohon yang tadi terlihat jelas mulai berubah menjadi bayangan samar.

"Rapatkan barisan!" teriak Dimas dari depan.

Semua anggota menjawab serempak.

"Siap!"

Arga yang berada di bagian belakang mempercepat langkahnya. Namun jalur licin membuatnya tidak bisa bergerak terlalu cepat. Kabut terus bertambah tebal. Udara menjadi lebih dingin. Bahkan suara-suara di sekitar terdengar berbeda. Seolah semuanya teredam oleh dinding putih yang mengelilingi mereka.

Peluit Dimas terdengar dari depan.

Tuit!

Tuit!

Tuit!

Itu adalah kode agar rombongan tetap saling mengetahui posisi masing-masing. Arga membalas dengan peluit kecil yang tergantung di lehernya. Namun beberapa menit kemudian, suara peluit itu terdengar semakin jauh.

Arga mengernyit.

Ia mempercepat langkah.

Tetapi jalur yang menurun curam membuatnya harus berhati-hati.

Tiba-tiba kakinya tersangkut akar pohon.

Bruk!

Tubuhnya terjatuh.

Ransel besar di punggungnya menghantam tanah.

"Astaghfirullah..."

Ia meringis sambil bangkit.

Lututnya terasa nyeri meski tidak sampai terluka parah. Saat berdiri kembali, ia langsung melihat ke depan.

Tidak ada siapa-siapa.

Kabut putih menutupi seluruh jalur.

"Mas Dimas!"

Tidak ada jawaban.

"Teman-teman!"

Hening.

Jantung Arga mulai berdetak lebih cepat.

Ia meniup peluitnya.

Tuit!

Tuit!

Tuit!

Beberapa detik kemudian terdengar balasan. Namun suaranya sangat jauh.

Sangat samar.

Sulit ditebak berasal dari arah mana.

Arga mencoba berjalan mengikuti jalur. Tetapi setiap beberapa meter, bentuk jalan terlihat berbeda.

Semua pohon tampak sama.

Semua semak tampak sama.

Kabut membuat orientasinya perlahan menghilang.

Ia kembali meniup peluit.

Kali ini tidak ada balasan.

Hanya suara angin yang berembus di antara dedaunan. Rasa tidak nyaman mulai menjalar dalam dadanya. Ia berhenti dan mencoba menenangkan diri. Sebagai pendaki, ia tahu panik adalah musuh terbesar.

"Tenang... tenang..." Ia menarik napas panjang. Kemudian membuka aplikasi peta offline di ponselnya.

Layar menyala.

Namun sinyal GPS tidak stabil.

Posisinya tidak dapat terbaca dengan jelas. Arga mulai merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Ketidakpastian.

Untuk pertama kalinya sejak mendaki gunung, ia benar-benar tidak tahu harus ke mana.

Satu jam berlalu.

Kabut belum juga menipis.

Sebaliknya, keadaan semakin memburuk. Arga terus berjalan mengikuti jalur yang menurutnya benar. Namun semakin lama, jalan setapak yang ia lalui terlihat semakin asing.

Tanah berubah lebih sempit.

Vegetasi semakin rapat.

Dan yang paling mengkhawatirkan, ia tidak menemukan satu pun jejak anggota rombongan.

Tidak ada bekas sepatu.

Tidak ada sampah.

Tidak ada tanda pita jalur.

Tidak ada apa pun.

Keringat dingin mulai membasahi tengkuknya meski udara sangat dingin.

Ia berhenti di dekat sebuah batu besar. Jam tangannya menunjukkan pukul tiga sore. Artinya rombongan seharusnya sudah jauh turun ke bawah. Kemungkinan mereka juga sedang mencarinya. Namun bagaimana jika mereka tidak tahu ke mana ia tersesat?Bagaimana jika ia justru semakin menjauh dari jalur utama?

Pertanyaan-pertanyaan itu membuat pikirannya semakin kacau.

Arga kembali meniup peluit.

Tuit!

Tuit!

Tuit!

Tidak ada jawaban.

Hanya kesunyian.

Kesunyian yang terasa jauh lebih menakutkan daripada suara apa pun. Untuk pertama kalinya, ia mulai menyadari kemungkinan yang selama ini hanya menjadi cerita pendaki lain.

Ia tersesat.

Benar-benar tersesat. Matahari mulai bergerak turun. Cahaya di dalam hutan perlahan memudar. Kabut membuat suasana sore terasa seperti menjelang malam.

Arga menatap sekeliling.

Pepohonan tinggi menjulang tanpa ujung. Kabut putih bergerak perlahan di antara batang-batang pohon. Dan di hadapannya terbentang jalur sempit yang tidak ia kenali. Tidak ada pilihan selain terus bergerak. Jika ia berhenti sekarang, malam akan datang lebih cepat daripada yang ia kira. Dengan ransel di punggung dan jantung yang terus berdegup keras, Arga melangkah kembali ke depan. Ia belum tahu bahwa langkah itulah yang akan membawanya semakin jauh dari jalur pendakian.

Semakin jauh dari rombongannya.

Dan semakin dekat menuju sebuah kampung terpencil yang selama bertahun-tahun menyimpan rahasia mengerikan di balik kesunyian hutan dan aroma busuk dari sebuah rawa yang terlupakan.

Dan sayangnya Arga pun lupa. Lambungnya belum terisi apapun sejak siang tadi. Saat kegelapan mulai menguasai semua sisi yang terlihat olehnya, alarm itu datang. Alarm dalam dirinya sendiri yang memprotes karena lambung nya sudah lama dibiarkan kosong.

"Ah... Sshh."

Perih dan mual mulai menyerangnya.

Dengan gerakan pelan, dia tetap berusaha tenang. Diambilnya 1 butir pil di weistbag nya. Dan dengan satu tegukan air pil itu ikut masuk kedalam organ pencernaan nya.

Tanpa melanjutkan perjalanan, dia langsung memasang tenda nya dan memutuskan untuk bermalam disitu. Dia butuh pikiran yang jernih dan cahaya matahari untuk memutuskan langkah yang akan diambilnya besok.

1
Suci Fatana
ikut deg degan
halwa diyah: 😅 selamat deg deg-an kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!