Nino dan Asep harus mengungkap peristiwa pembunuhan berantai yang semua korbannya adalah wanita.
Musuh kali ini adalah seorang pembunuh yang kejam, licik, dan cerdas. Mereka berpacu dengan waktu untuk mengungkap pelaku sebelum lebih banyak korban berjatuhan.
Disclaimer:
Seluruh tokoh, tempat, dan peristiwa dalam novel ini adalah fiksi. Apabila terdapat kemiripan dengan orang, tempat, atau kejadian nyata, hal tersebut murni kebetulan.
Novel ini mengandung adegan kekerasan dan pembunuhan yang ditujukan untuk kepentingan cerita. Tidak dimaksudkan untuk mendorong atau membenarkan tindakan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Razia
Sambil menunggu Nino dan Asep menggerebek klub malam ini, Ahqam berinisiatif berkeliling mencari tahu dari makhluk astral yang berada di sini.
Di setiap sudut klub, ada saja makhluk astral yang ditemuinya. Sebagian memang menjadi penghuni tetap klub ini, sebagian lagi tertarik datang ke sini karena aroma kemaksiatan yang menguar kuat dari tempat ini.
Kening Ahqam mengernyit melihat kaumnya ada yang asyik berjoget di lantai dansa. Penampakan yang mereka gunakan pun sungguh tidak enak dipandang mata. Ada jin dengan kepala besar, tapi badannya kecil.
Ada yang tubuhnya tinggi, sementara tubuhnya tipis seperti triplek. Lalu ada jin dengan wujud wanita bogel. Namun dia memiliki rambut yang panjangnya sampai ke mata kaki, matanya besar, hidungnya menyerupai hidung babi.
Di lantai ada juga jin yang mengambil penampakan seorang wanita cantik. Dia mengenakan kostum ikan duyung, rambut panjangnya berwarna pirang dan dikepang seperti Princess Elsa.
Dia bergojet dengan menggerak-gerakkan pinggul dan bokongnya. Persis seperti suster ngesot.
Ahqam memilih mendekati pocong yang sedang asik berjoget sambil meloncat-loncat. Sesekali dia menggerakkan kepalanya dengan gaya berputar seperti gaya trio macan.
Ahqam mengenali pocong itu. Dia adalah pocong yang ditemuinya di TKP pembunuhan Nilan.
“Heh, Poci! Kamu lagi ngapain di sini?” tanya Ahqam.
“Ih kok bisa ketemu kamu lagi sih. Dunia memang sesempit daun kelor,” jawab sang pocong sambil terus meloncat-loncat.
“Kamu lagi ngapain?” tanya Ahqam lagi.
“Nggak lihat aku lagi apa? Aneh, nanya mulu. Kalau mau joget, joget aja. Nggak usah rempong.”
Ahqam memilih pergi. Dia bisa terkena tekanan darah tinggi jika berbicara lebih lama dengan pocong tadi. Jin itu kemudian mendekati wanita bertubuh bogel.
“Siapa namamu?”
“Clara,” jawab jin wanita itu.
“Kamu penunggu sini?”
“Iya, kenapa?”
“Kamu tahu siapa orang yang sering menjual obat-obatan terlarang di sini.”
“Kalau iya, kenapa? Kalau nggak, kenapa?” Clara malah balik bertanya.
Kesal dengan tingkah Clara, Ahqam menjambak rambut jin itu hingga tubuhnya terangkat.
“Aduh … sakit tahu, lepas!”
“Jawab dulu pertanyaanku!”
Rahang Ahqam mengetat, wajahnya juga mulai memerah. Kesabarannya mulai habis.
Apa yang dilakukan Ahqam sontak menarik perhatian semua makhluk astral di sana. Namun tidak ada satu pun yang berani melawannya.
Mereka tahu kalau kekuatan Ahqam jauh di atas mereka. Apalagi sebagian dari mereka adalah arwah penasaran.
“Mereka biasa transaksi di lantai tiga. Ada ruangan khusus di sana. Namanya Maruli. Coba aja ke sana, pasti dia ada di sana. Rencananya malam ini mereka akan ada transaksi besar.”
“Kamu tahu orang bernama Rian Firansyah?” tanya Ahqam tanpa melepaskan cengkeramannya di rambut Clara.
“Yang kayak gimana orangnya?”
Ahqam langsung mengubah wujudnya menjadi Rian. Kepala Clara langsung mengangguk begitu melihat penampakan Rian.
“Apa dia suka datang ke sini?”
“Nggak sering sih. Tapi pernah beberapa kali.”
“Dia pernah transaksi sama Maruli.”
Setelah berhasil mendapatkan informasi dari Clara, Ahqam langsung melepaskan cengkeramannya.
Tak ayal tubuh Clara langsung jatuh dan bokongnya mencium lantai dansa. Jin wanita itu meringis sambil mengusap bokongnya.
“Dasar nggak tahu terima kasih,” sungut Clara. Jin itu segera bangun lalu melanjutkan dansanya.
Secepat kilat Ahqam menuju lantai tiga. Pria itu segera menuju ruangan yang ada di sana. Tampak di dalam ruangan duduk seorang pria dengan ditemani seorang wanita. Di atas meja, berbagai macam obat-obatan terlarang tersusun rapi.
Ahqam segera menghilang. Dia langsung melaporkan penemuan pada Asep.
Setelah mendapat informasi, Ahqam diminta kembali ke klub. Dia diminta tetap mengawasi Maruli. Jangan sampai pria itu kabur sebelum waktu penggerebekan tiba.
Begitu kembali ke klub, Ahqam melihat sesosok Jin menggunakan penampakan pria tampan seperti aktor Korea tengah memperhatikan wanita muda yang tadi dilihat Ahqam menghubungi seseorang.
Jin itu terus memandangi wanita muda yang sedang melayani pria paruh baya minum.
“Siapa namamu?” tanya Ahqam setelah berada di dekat jin itu.
“Jung Kook.”
“Jongkok?” tanya Ahqam bingung. Kenapa namanya aneh sekali, pikir Ahqam.
“Bukan Jongkok, tapi Jung Kook. Emang kamu nggak lihat mukaku mirip Jung Kook BTS?”
“Dasar gaje,” umpat Ahqam kesal. “Kamu ngapain ngelihatin perempuan itu?”
“Aku suka saja melihatnya, namanya Riri. Dia itu sangat menyayangi ibunya. Demi pengobatan ibunya, dia rela bekerja sebagai LC di sini,” wajah Jung Kook tampak sendu saat mengatakan itu.
“Dari mana kamu tahu?”
“Aku sering mengikutinya.”
Ahqam menggelengkan kepalanya. Ternyata kaumnya bisa juga menjadi stalker saking sukanya pada manusia.
Wanita muda yang diperhatikan Jung Kook memang cantik. Sayang sekali pekerjaannya harus memuaskan hasrat pria hidung belang.
“Berapa usiamu?” tanya Ahqam lagi.
“200 tahun.”
“Ck … masih piyik. Berarti kamu belum punya kekuatan apa-apa.”
“Begitulah.”
“Percuma kamu mengikutinya. Kalau terjadi sesuatu padanya, kamu tidak akan bisa membantu.”
“Tapi aku bisa memperlihatkan wujudku dan menakutinya.”
Ahqam tak menghiraukan apa yang dikatakan Jung Kook. Perhatiannya kini tertuju pada jin lain.
Jin itu berwujud seperti Buto Ijo. Tubuhnya tinggi besar, berbulu lebat, matanya besar berwarna merah dan warna kulitnya hijau gelap.
Jin itu bukan sembarang jin, tapi jin pesugihan. Biasanya dia muncul untuk mengambil tumbalnya. Mata Ahqam mengikuti arah pandang Buto Ijo tersebut.
Dia tengah melihat seorang wanita muda yang sedang asyik berbincang sambil minum-minum dengan temannya.
Karena penasaran, Ahqam pun mendekatinya. “Apa yang kamu lakukan di sini?”
Buto Ijo itu terkejut. Untuk sejenak dia memandangi Ahqam. Tahu kalau jin di dekatnya ini berumur lebih tua darinya dan memiliki kekuatan yang jauh lebih besar darinya, membuatnya segan. Dia pun menjawab pertanyaan Ahqam dengan sopan.
“Aku sedang menunggu perempuan berbaju merah itu,” jawabnya sambil tak lepas memandanginya.
“Dia tumbal yang disiapkan untukmu?”
“Iya. Tantenya yang menumbalkannya.”
“Kamu dari gunung mana?”
“Gunung Kawi.”
Perbincangan Ahqam dengan Buto Ijo terputus ketika terjadi kericuhan. Nino, Asep dan tim anti narkoba sudah datang untuk melakukan penggerebekan.
Semua aktivitas dihentikan seketika. Musik yang tadi terdengar memekakkan telinga langsung berhenti.
“Di lantai tiga,” ujar Ahqam pada Asep.
Bersama Nino, Asep segera menuju lantai tiga. Ahqam menunjuk ruang di mana Maruli berada. Asep dan Nino mengeluarkan senjatanya dulu.
Asep menendang pintu hingga terbuka. Sementara Nino langsung menerobos masuk sambil menodongkan pistol.
“Jangan bergerak!”
Maruli yang sedang bercumbu dengan salah seorang wanita sewaannya langsung menghentikan aktivitasnya. Pria itu segera mengangkat tangannya.
“Pergi!” perintah Nino pada wanita yang bersama Maruli. Dia membenarkan dulu pakaiannya yang berantakan, baru kemudian meninggalkan ruangan.
“Saudara Maruli, Anda ditangkap atas penjualan obat-obatan terlarang.”
Asep mendekat lalu menarik kedua tangan Maruli ke belakang dan memborgolnya.
“Lepas! Apa kalian punya bukti?” berang Maruli.
“Barang-barang yang ada di atas meja adalah buktinya.”
Mulut Maruli seketika terbungkam. Pria itu pasrah saja ketika Asep membawanya keluar ruangan. Saat bersamaan tim narkoba sampai di lantai tiga. Mereka langsung mengamankan barang-barang haram milik Maruli.
Ketika Asep sampai di lantai bawah, situasi sudah lebih kondusif. Petugas sudah mengamankan semua pengunjung dan pegawai. Mereka didata, kemudian diminta menjalani tes urine di tempat.
Asep dan Nino langsung meninggalkan klub sambil membawa Maruli. Masalah di klub akan ditangani tim anti narkoba. Ahqam juga ikut pergi saat duo kancing cetet itu pergi.
Jung Kook terus memperhatikan Riri yang sedang didata petugas. Wanita itu kemudian diminta melakukan tes urine.
Tak berapa lama kemudian dia kembali. Hasil tes urine Riri menunjukkan hasil negatif. Wanita itu pun dipersilakan meninggalkan klub.
Riri berjalan keluar dari klub seorang diri. Wanita itu terus melangkah meninggalkan keriuhan di klub tempatnya bekerja menuju jalan raya. Di belakangnya Jung Kook terus mengikuti.
Jalan yang dilalui Riri cukup sepi, karena klubnya memang jauh dari jalan raya. Ketika jaraknya ke jalan raya hanya sekitar seratus meter lagi,dia berbelok ke kanan.
Tiba-tiba dari kegelapan muncul seseorang. Dia membekap wajah Riri dengan sapu tangan sambil menyeret tubuhnya memasuki gedung kosong yang ada di samping kanan jalan.
“RIRI!” teriak Jung Kook.
***
Waduh🫣
aaciieeeee.....
Ahqam cosplay jd Tom Cruise...emmhh biar Eris makin semakin...huweee /Puke//Facepalm/