Kania harus mengalami malam tergelap dalam hidupnya, ia dinodai dan kehilangan harga dirinya. Ketika kebenaran terungkap, orang-orang yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya justru menjadi hakim yang paling kejam.
Tunangannya, Haris, langsung memutuskan pertunangan mereka, menganggap Kania sudah kotor dan tak layak lagi bersanding dengannya. Bahkan ayah kandungnya sendiri membuangnya, menyebutnya telah mencoreng nama baik keluarga.
Tanpa dukungan siapa pun, Kania terhempas ke jalanan, hingga seseorang mengulurkan tangan dan membantunya untuk bangkit dari keterpurukan.
Kini, ia kembali bukan lagi sebagai wanita lemah yang diusir, melainkan sebagai sosok yang berani menantang takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19
Di ruang tengah yang hangat dan nyaman, Luna duduk bersandar santai di sofa empuk, jari-jarinya sesekali memutar-mutar ujung rambutnya. Di sebelahnya, Nyonya Melani menyesap kopi sambil menatap layar televisi dengan tenang.
"Mama sudah menyuruh orang-orang Mama untuk mengurus Bian," ucap Nyonya Melani pelan tanpa menoleh. "Sekarang kamu bisa tenang, Sayang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi."
Luna mengangguk lemah, mencoba tersenyum. Namun saat ia hendak menjawab, berita utama tiba-tiba berganti, suara penyiar terdengar serius dan tegas.
"Kabar duka datang dari jalan pegunungan pinggiran kota. Sebuah mobil diketahui kehilangan kendali, menabrak pembatas jalan, dan jatuh ke dalam jurang yang dalam. Tim penyelamat menemukan sejumlah barang pribadi di lokasi kejadian, namun hingga kini belum ditemukan jenazah pengemudinya. Berdasarkan identitas yang ditemukan, pengemudi diduga bernama Bian Pratama..."
Rasa takut yang sempat menyelimuti hati Luna perlahan berubah menjadi senyum tipis yang lega. Ia menatap layar televisi yang kini menampilkan gambar asap mengepul di dasar jurang, dan rasa bersalah yang sempat muncul seketika lenyap digantikan rasa puas. Bian sudah tidak ada. Ancaman itu sudah hilang selamanya. Tidak ada lagi yang bisa merusak pertunangannya, tidak ada lagi yang bisa mengambil apa yang sudah ia genggam erat.
"Kamu pantas mendapatkannya Bian," gumamnya pelan, matanya berkilau penuh kelegaan. "Tidak ada yang berani menggangguku lagi sekarang."
Namun tiba-tiba, dering ponsel Nyonya Melani memecah keheningan. Wanita itu meraihnya dari atas meja dengan tenang dan menekan tombol jawab, menempelkan benda pipih itu di telinganya.
"Apa maksudmu?" suaranya rendah namun penuh amarah yang tertahan setelah mendengar informasi dari seberang sana. "Gagal? Bagaimana bisa gagal?"
Dari seberang telepon terdengar suara gemetar. "Maaf, Nyonya. Saat kami hendak melaksanakan tugas, tiba-tiba beberapa kendaraan tak dikenal memotong jalan dan menghalangi laju kami. Kami terjebak macet sesaat... dan saat kami bisa melanjutkan perjalanan, jejak mobilnya sudah hilang tak berbekas. Kecelakaan itu... bukan perbuatan kami."
Nyonya Melani mencengkeram ponselnya kuat, lalu membentak kasar. "Bodoh! Kalian semua tidak berguna! Tidak bisa mengurus hal sepele!"
Ia menutup sambungan telepon dengan kasar, napasnya memburu menahan kekesalan. Namun perlahan, senyum sinis kembali terukir di bibirnya. Ia menoleh ke arah Luna yang menatapnya bingung.
"Ada apa, Ma?" tanya Luna penasaran sekaligus panik.
"Mereka gagal. Tapi biarlah," jawabnya dingin namun penuh kepuasan. "Siapa pun yang melakukannya, hasilnya tetap sama. Bian sudah tewas di jurang itu. Tidak ada lagi yang bisa mengancam kamu, Sayang."
Luna menghela napas panjang, rasa lega kembali memenuhi dadanya. Ia tak peduli siapa yang sebenarnya melakukannya. Yang penting ancaman itu sudah hilang. Sekarang tak ada satu pun hal yang kini bisa mengganggu rencananya.
-
-
-
Di dalam ruangan yang gelap dan lembap, hanya disinari satu bohlam lampu kuning yang bergoyang pelan menciptakan bayangan menakutkan di dinding batu. Bian terbaring di lantai beton yang dingin, tangannya diikat erat ke belakang punggung dengan tali tambang yang kasar. Ia terus bergerak kesana kemari, mencoba menggesekkan ikatan ke sudut tembok kasar, berusaha sekuat tenaga untuk melonggarkan simpulnya. Namun semakin ia meronta, semakin erat tali itu menekan kulitnya hingga terasa nyeri dan mati rasa. Napasnya memburu, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
"Siapa sebenarnya kalian?! Lepaskan aku!" teriaknya parau, suaranya hanya memantul kosong dari dinding ke dinding.
Tiba-tiba, suara kunci berputar terdengar dari balik pintu besi yang berat. Pintu itu terbuka perlahan, berderit panjang. Cahaya terang dari luar menyusup masuk, membuat Bian menyipitkan mata.
Di ambang pintu, berdiri sosok pria yang berdiri tegap, menaungi cahaya di belakangnya seolah bayangan yang hidup. Ia mengenakan setelan jas hitam, wajahnya dingin tanpa ekspresi, matanya setajam mata elang yang sedang menatap mangsa. Di kanan dan kirinya berdiri dua pengawal bertubuh kekar yang menunduk hormat.
Ia melangkah masuk perlahan, sepatunya menginjak lantai beton dengan suara yang berirama dan mengancam. Langkah itu seolah memiliki kekuatan untuk membekukan darah siapa pun yang mendengarnya. Ia berhenti tak jauh dari Bian, menatap pria itu dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan, seolah melihat sampah yang tak layak disentuh.
Bian tertegun, rasa takut yang jauh lebih besar dari sebelumnya menyergapnya.
"Si-siapa kamu?! Kenapa kamu menculik dan mengurungku di sini?!"
Salah satu pengawal segera melangkah maju, meletakkan kursi kayu tepat di hadapan Bian. Victor duduk perlahan, melipat satu kakinya di atas kaki yang lain, menatap Bian dengan tatapan tenang.
Bian menelan ludah susah payah, keringat dingin menetes di pelipisnya. Ia mencoba mengatur napas yang kacau, lalu melontarkan pertanyaan dengan suara gemetar penuh keputusasaan.
"Apa... apa yang kau inginkan dariku? Apakah kamu datang untuk mengambil nyawaku?"
Victor diam sejenak, lalu menjawab dengan nada datar dan dingin, "Aku tidak butuh nyawamu untuk saat ini. Nyawamu terlalu murah untuk menjadi tujuanku."
Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, sorot matanya menajam menembus ke dalam jiwa Bian. "Sebaliknya, aku datang untuk menawarkan sesuatu yang jauh lebih berharga. Kerjasama dan perlindungan mutlak."
Bian terbelalak tak percaya, "Kerjasama? Perlindungan? Apa maksudmu? Aku bahkan tidak mengenalmu, lalu kenapa aku harus percaya padamu?"
"Kamu tidak perlu mengenalku untuk tahu bahwa aku adalah satu-satunya alasan kamu masih bernapas saat ini. Dan kamu tidak akan mendapatkan pilihan lain." ucap Victor, suaranya tetap rendah namun membawa tekanan yang tak terbantahkan.
Ia menatap tajam tepat ke manik mata Bian, menekankan setiap kata dengan tegas. "Mulai detik ini, kamu adalah orangku. Apa pun yang kamu tahu, semua itu sekarang menjadi milikku. Jika kamu berani memberontak, lehermu akan aku putuskan malam ini juga."
Bian ternganga, rasa takut bercampur bingung membuatnya tak mampu berbicara. Ia tahu betul bahwa menolak sama saja dengan menandatangani surat kematiannya sendiri. Di hadapan sosok ini, ia tak punya kuasa sedikit pun.
-
-
-
Bersambung...
mungkin sakit hati karna bapak Haris masih cinta sama mama Kania yg kandung😏
sabar ya pemirsa, bentar lagi malam pesta dimulai😁
lanjut dong thor🤭🤭