NovelToon NovelToon
Nana Si Pelindung Tuan Terbuang

Nana Si Pelindung Tuan Terbuang

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Nana bukan siapa-siapa — seorang gadis yatim piatu yang tumbuh besar di jalanan Surabaya, mencuri untuk bertahan hidup. Sampai suatu hari, hidupnya berubah ketika dia masuk ke dunia keluarga Sie, salah satu dinasti konglomerat paling berkuasa di Indonesia.

Di sana, dia bertemu Steven Sie — putra ketiga yang dibuang keluarganya sendiri, dingin dan penuh misteri. Semua orang bilang dia pengkhianat. Semua orang ingin dia hancur.

Tapi Nana tahu yang sebenarnya.

Ketika Steven dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar — dihancurkan di mata publik, dinyatakan bersalah atas kejahatan yang tidak pernah dia lakukan — hanya Nana yang berdiri melawannya. Sendirian. Tanpa bukti. Tanpa dukungan. Hanya dengan keyakinan bahwa cinta sejati layak diperjuangkan sampai mati.

Perjalanannya membawanya dari ruang sidang Jakarta hingga ke lorong-lorong gelap Singapura, dari pengkhianatan keluarga hingga pengorbanan yang tak terbayangkan. Di sepanjang jalan, ada Daniel Tjang — pengusaha paling berbahaya dan paling mempesona di Jakarta — yang diam-diam mempertaruhkan segalanya untuknya.

*Satu wanita. Dua pria. Dan satu pertanyaan yang mengubah segalanya:*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27

Nana keluar dari ruang kerja karena Daniel menyuruhnya mencari udara, tetapi udara di luar tidak terasa lebih ringan.

Lorong Rumah Besar Sie panjang dan mengilap. Biasanya lantai itu memantulkan lampu gantung dengan rapi, seolah rumah ini tidak pernah retak. Hari itu, Nana mendengar retaknya dari suara bisik-bisik staf yang mendadak berhenti saat ia lewat.

"Tuan Steven benar-benar memberi jadwal?"

"Katanya ke orang Victoria Wan."

"Pantas saja Pak William marah."

Bisikan itu putus begitu Nana menoleh.

Ia tidak menegur. Ia tidak punya jawaban. Di dalam tasnya, kertas tiga pertanyaan Pak Shen seperti ikut mendengar.

Siapa yang paling ingin laporan selesai?

Siapa yang merasa bersalah meski belum tentu bersalah?

Pertanyaan itu tidak membantu ketika yang dibicarakan bukan orang mati di laporan lama, melainkan Steven yang baru saja berjalan keluar dari ruang kerja dengan senyum tipis seperti orang yang sengaja membiarkan dirinya dipukul.

"Na."

Stella muncul dari arah tangga, matanya masih merah. Ia menarik Nana ke ruang duduk kecil dekat koridor.

"Kau percaya Koko Steven?"

Pertanyaan itu datang terlalu cepat.

Nana menatap Stella. "Cici sendiri?"

Stella membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Tangannya meremas ujung selendang.

"Aku ingin percaya."

"Itu bukan jawaban."

"Aku tahu." Stella duduk, lalu menunduk. "Dulu aku juga ingin percaya Patrick hanya kecelakaan. Karena kalau bukan kecelakaan, berarti ada orang yang membiarkan kami hidup bertahun-tahun dengan jawaban palsu."

Nana duduk di sampingnya.

Stella menoleh, suaranya pecah sedikit. "Aku tidak sanggup kehilangan satu orang lagi dengan cara yang tidak kumengerti."

Nana ingin mengatakan Steven tidak akan hilang. Namun kalimat itu tidak keluar. Rumah ini punya terlalu banyak orang yang hilang tanpa benar-benar pergi: Patrick di kotak kayu Stella, Elvin di Jakarta, Albert di rumah aman, Steven di balik pintu yang ia kunci sendiri.

"Aku belum tahu harus percaya apa," kata Nana akhirnya.

Stella mengangguk pelan. Jawaban itu menyakitinya, tapi ia menerimanya.

Ponsel Nana bergetar lagi.

Daniel:

Masih bernapas?

Nana menatap layar. Stella melihat nama itu dan alisnya naik.

"Daniel?"

"Dia cuma tanya aku masih bernapas."

"Dia selalu membuat hal serius terdengar seperti lelucon."

"Mungkin itu caranya tidak ikut panik."

Stella menyandarkan kepala ke sofa. "Atau caranya membuat orang lain lupa bahwa dia juga berbahaya."

Nana tidak membantah.

Pesan kedua masuk.

Aku di gerbang depan. Bawa pertanyaanmu, bukan kesimpulanmu.

Nana berdiri.

Stella ikut berdiri. "Kau mau keluar?"

"Ke gerbang. Tidak keluar pagar."

"Aku ikut."

Mereka berjalan bersama ke halaman depan. Daniel tidak masuk rumah. Ia berdiri di luar gerbang, bersandar pada mobilnya, hanya ditemani Loki yang menunggu beberapa langkah di belakang. Daniel tidak melambai berlebihan. Untuk sekali ini, wajahnya tidak terlalu bermain-main.

"Aku tidak melewati pagar," katanya begitu Nana mendekat. "Supaya Koko Steven tidak perlu menambah dosaku hari ini."

Stella menyilangkan tangan. "Dosa Tuan Daniel sudah cukup panjang tanpa dibantu Koko Steven."

"Benar juga."

Nana berdiri di sisi dalam gerbang besi. Jeruji hitam memisahkan mereka. Rasanya aneh berbicara dengan Daniel seperti itu, seolah ia orang luar dan Nana orang rumah. Padahal beberapa minggu lalu, Nana bahkan tidak punya rumah untuk dijaga pagarnya.

"Kenapa datang?" tanya Nana.

Daniel mengeluarkan amplop tipis dari saku jas dan menyelipkannya lewat celah gerbang. "Salinan domain email yang tadi dipakai mengirim pesan ke Pak William. Bukan bukti besar. Tapi cukup untuk menunjukkan alamat itu pernah dipakai beberapa vendor kecil sebelum berpindah tangan."

Nana mengambil amplop itu. "Kau menyelidiki secepat itu?"

"Aku punya kebiasaan buruk. Kalau orang kaya berkumpul dan menyebut kata pengkhianat, aku mencari siapa yang mencetak labelnya."

Stella menatap amplop. "Apa ini membuktikan Koko Steven tidak salah?"

"Tidak." Daniel menjawab tanpa senyum. "Ini hanya membuktikan bahwa orang yang menuduhnya juga tidak bersih."

Nana memegang amplop lebih erat.

"Kau ingin aku membelanya?" tanyanya.

"Tidak. Membela orang sebelum tahu fakta itu pekerjaan keluarga." Daniel menatapnya, matanya kali ini tenang. "Aku ingin kau jangan membiarkan mereka meminjam matamu."

Kalimat itu masuk pelan.

"Mereka siapa?"

"Siapa pun. Steven juga termasuk."

Nana menatapnya.

Daniel tersenyum sedikit. "Aku tahu kau ingin aku bilang Steven pasti punya alasan mulia. Maaf, aku tidak sebaik itu. Mungkin dia benar. Mungkin dia sedang memainkan permainan yang terlalu besar. Mungkin juga dia sombong dan salah hitung. Tiga kemungkinan itu harus hidup bersama sampai bukti membunuh dua di antaranya."

Stella menghela napas. "Kau tidak membantu menenangkan."

"Aku membantu orang tetap berpikir."

"Kadang orang butuh ditenangkan."

"Betul." Daniel melihat Nana lagi. "Kalau kau butuh itu, aku bisa bilang kalimat manis. Tapi kau akan membenciku besok pagi."

Nana hampir tersenyum. Tidak banyak, tapi cukup untuk membuat dada yang sejak tadi sempit sedikit longgar.

"Apa yang harus kulakukan dengan ini?"

"Baca. Bandingkan dengan pertanyaan Pak Shen, kalau aku menebak dengan benar bahwa orang tua itu sudah memberimu pekerjaan rumah."

Nana menegang. "Kau tahu?"

"Aku tahu tipe orang seperti Pak Shen. Mereka tidak memberi jawaban. Mereka memberi pisau, lalu menyuruhmu memotong kabut sendiri."

Stella bergumam, "Kalian semua terdengar melelahkan."

Daniel tertawa pelan.

Dari pintu utama, suara langkah terdengar. Nana menoleh.

Steven berdiri di tangga depan.

Ia melihat Daniel di balik gerbang, melihat amplop di tangan Nana, lalu melihat wajah Nana. Tidak ada marah terang-terangan. Justru wajahnya terlalu datar.

"Dokumen dari siapa?" tanyanya.

Daniel mengangkat tangan. "Dari orang yang masih ingin semua orang bernapas sampai besok."

Steven menatapnya. "Kau cepat sekali muncul saat rumah orang retak."

"Retakan membuat cahaya masuk."

"Atau membuat pencuri masuk."

Nana memotong sebelum keduanya mulai. "Cukup."

Dua pria itu diam.

Stella menoleh kepadanya, sedikit terkejut.

Nana maju setengah langkah sampai tubuhnya tepat berada di antara tangga dan gerbang. Ia masih di sisi dalam pagar, tetapi untuk pertama kalinya posisi itu tidak terasa seperti dikurung. Ia memilih berdiri di sana.

Nana mengangkat amplop. "Aku akan baca. Bukan karena Daniel memberi. Bukan karena Steven melarang atau mengizinkan. Karena aku perlu tahu."

Steven menatapnya lama.

Daniel tersenyum kecil, kali ini tanpa mengejek.

Malam itu, setelah Daniel pergi dan Steven menghilang ke paviliun belakang tanpa berkata lagi, Nana membuka amplop di kamarnya. Isinya hanya tiga halaman cetakan: riwayat domain, daftar vendor kecil, dan satu catatan transaksi lama yang belum ia pahami.

Namun di sudut halaman kedua, ada satu nomor kontak yang dilingkari Daniel dengan pulpen hitam.

Nomor itu mirip dengan nomor yang pernah mengirim pesan Hasan.

Dan di sebelahnya, Daniel menulis satu kalimat:

Tanyakan kenapa nomor ini pernah tersimpan di daftar kontak lama Steven.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!