Saat Meilin Tan membuka mata, dia bukan lagi mahasiswi seni dari Surabaya.
Dia adalah tokoh jahat dalam novel "Terjerat Pesona Kota" — wanita yang ditakdirkan menghancurkan hidup Kevin Halim, pewaris konglomerat yang jenius tapi miskin.
Meilin tahu akhir cerita ini: dia akan menjual Kevin, dihukum, dan hidup sengsara. Tapi bagaimana jika dia mengubah segalanya?
Dimulai dari kos-kosan tua di pinggiran Jakarta, Meilin memilih jalan berbeda. Dia melindungi Kevin, mendukungnya, dan tanpa sadar... jatuh cinta padanya.
Tapi takdir tidak mudah diubah. Keluarga konglomerat Halim menginginkan mereka terpisah. Tiga kali mencoba menikah, tiga kali gagal. Dan ketika Meilin terpaksa melarikan diri dengan rahasia di perutnya, dia harus memilih: menyerah pada takdir novel, atau berjuang untuk cinta yang dia ciptakan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 029: Makan Dulu
Meilin melepas sandal di teras dengan gerakan paling hati-hati yang pernah dia lakukan.
Rumah Mama Zhu bersih, sederhana, dan penuh benda kecil yang terasa dipakai sungguhan. Taplak meja bermotif bunga sudah agak pudar. Di dinding ruang tamu ada jam bulat tua. Di atas rak, beberapa foto keluarga berdiri di dalam bingkai kayu.
Salah satunya membuat Meilin berhenti.
Kevin kecil, mungkin usia sepuluh tahun, berdiri dengan rambut terlalu rapi dan ekspresi terlalu serius untuk anak seusianya. Di sampingnya ada perempuan muda yang tersenyum lembut. Di sisi lain ada laki-laki tinggi dengan wajah lelah tapi mata yang mirip Kevin.
Mama Zhu melihat arah pandang Meilin, tapi tidak langsung menjelaskan.
"Cuci tangan dulu," katanya. "Makanannya sudah matang."
Kevin bergerak lebih cepat daripada biasanya. Dia mengambil piring dari lemari tanpa perlu ditunjukkan, membuka laci yang tepat untuk sendok, lalu mengangkat mangkuk sup dari dapur kecil.
Meilin menatapnya.
Di apartemen Kemang, Kevin selalu terlihat seperti orang yang menguasai ruangan. Di rumah ini, dia masih cekatan, tapi gerakannya punya ingatan. Dia tahu letak benda bukan karena menghitung, melainkan karena tubuhnya pernah pulang ke tempat ini berkali-kali.
"Jangan angkat yang panas," tegur Mama Zhu.
Kevin berhenti setengah detik.
"Mama, aku bukan anak kecil."
"Kalau pulang setahun sekali, di rumah ini tetap anak kecil."
Meilin hampir tersenyum, tapi menahannya karena mata Kevin terlihat bingung harus malu atau lega.
Di meja makan, Mama Zhu menyajikan sup ayam bening, tumis sawi bawang putih, telur kecap, dan ikan kukus dengan jahe. Tidak ada yang terlihat mewah. Semua hangat.
Kevin menarik kursi untuk Meilin.
Mama Zhu memperhatikan gerakan itu.
"Ini Meilin," kata Kevin akhirnya. Suaranya rendah, tapi jelas. "Pacarku."
Meilin langsung menunduk sedikit. "Selamat siang, Tante. Maaf datang mendadak."
Untuk sesaat, Mama Zhu hanya menatapnya.
Meilin sudah menyiapkan diri untuk pertanyaan tentang keluarga, sekolah, pekerjaan, agama, uang, atau kenapa dia berani datang bersama Kevin tanpa pemberitahuan. Tapi Mama Zhu justru mengambil mangkuk kecil dan menuangkan sup.
"Makan sup dulu, Meilin. Perjalanan jauh biasanya bikin perut kosong tapi orang tidak sadar."
Tenggorokan Meilin menghangat.
"Terima kasih, Tante."
"Kevin bilang kamu punya lambung sensitif?"
Meilin menoleh cepat ke Kevin.
Kevin mengangkat gelas air, pura-pura tidak melihat.
Mama Zhu tersenyum kecil. "Dia dari kecil begitu. Kalau khawatir, bukan bilang khawatir. Dia atur makanan."
"Mama."
"Apa? Itu benar."
Meilin menunduk ke mangkuk sup agar senyumnya tidak terlalu jelas.
Makan siang itu berjalan pelan. Mama Zhu tidak menyerbu Meilin dengan pertanyaan. Dia menanyakan hal-hal kecil dulu. Perjalanan capek atau tidak. Apakah supnya terlalu asin. Apakah Meilin bisa makan ikan. Apakah Jakarta akhir-akhir ini terlalu panas.
Lalu, saat Kevin sedang mencuci tangan sebentar ke belakang, Mama Zhu menatap Meilin dengan mata yang lebih lembut.
"Kevin jarang membawa orang pulang."
Meilin meletakkan sendoknya. "Saya tahu, Tante."
"Dia juga jarang menceritakan dirinya."
"Saya tahu itu juga."
Mama Zhu mengangguk pelan. "Kalau begitu, Tante tidak perlu banyak bertanya hari ini."
Meilin terkejut.
Mama Zhu melanjutkan, "Orang yang mau mendampingi anak seperti Kevin harus sabar. Tapi jangan terlalu sabar sampai lupa diri sendiri."
Kalimat itu sederhana, tapi tepat.
Meilin menatap perempuan di depannya. Dia tiba-tiba mengerti dari mana Kevin belajar mencintai dengan tindakan, bukan kalimat panjang.
"Saya tidak ingin jadi beban untuk dia," kata Meilin.
"Kalau dia memilihmu, dia tidak akan menganggapmu beban." Mama Zhu menaruh sepotong ikan ke piring Meilin. "Tapi kamu juga jangan menganggap dirimu hanya orang yang diselamatkan. Dari caramu menatapnya, Tante rasa kamu sudah tahu itu."
Meilin menggenggam sendoknya sampai kuku menekan kulit.
Kevin kembali tepat saat Meilin hampir menangis.
Dia melihat wajah Meilin, lalu melihat Mama Zhu.
"Mama bilang apa?"
"Menyuruh pacarmu makan ikan."
Kevin jelas tidak percaya, tapi dia duduk lagi.
Saat mereka selesai makan, Kevin menyingkirkan piring ke dapur. Dia menunduk sedikit ketika melewati jendela, dan cahaya siang menyentuh bekas luka tipis di dekat telinganya.
Gerakan Mama Zhu terhenti.
"Masih ada bekasnya," katanya pelan.
Kevin langsung menyentuh telinganya. "Sudah lama, Ma."
"Lama bukan berarti hilang."
Meilin membuka tas kecil tanpa berpikir. "Saya bawa salepnya, Tante. Biasanya dipakai malam. Kalau Kevin tidak lupa."
Kevin menatapnya seolah ingin berkata dia tidak pernah lupa, padahal mereka berdua tahu siapa yang lebih sering mengingatkan.
Mama Zhu melihat tube kecil di tangan Meilin. Sesuatu yang lembut dan nyaris pecah lewat di matanya.
"Terima kasih," katanya.
"Itu hal kecil."
"Untuk ibu, tidak ada hal kecil kalau menyangkut anaknya."
Meilin menutup tasnya pelan. Kalimat itu membuat rumah ini terasa lebih dekat, sekaligus membuat luka Kevin terasa lebih nyata.
Setelah makan, Mama Zhu membawa teh panas ke ruang tamu. Kevin duduk di ujung sofa, punggungnya lurus. Meilin duduk di sampingnya. Di antara mereka dan Mama Zhu, foto keluarga di rak seperti diam-diam mendengarkan.
Meilin akhirnya bertanya, "Itu Papa Kevin?"
Kevin tidak bergerak.
Mama Zhu mengikuti pandangannya ke foto.
"Iya. Halim Zhongkai." Suaranya tetap lembut, tapi ada garis lelah di ujungnya. "Dulu, sebelum semuanya terlalu berat, dia masih bisa tersenyum seperti itu."
Meilin melihat foto itu lagi.
Laki-laki di sana memang tersenyum tipis. Tapi sekarang setelah tahu sedikit tentang Halim, senyum itu terasa seperti sesuatu yang sedang ditahan agar tidak pecah.
"Papa masih di Jakarta?" tanya Kevin.
Pertanyaan itu membuat Mama Zhu memegang cangkirnya lebih erat.
"Kadang Jakarta. Kadang tempat lain. Dia tidak selalu bilang."
"Mama masih kontak?"
"Tidak sering." Mama Zhu menatap teh. "Minggu lalu dia menelepon."
Ruang tamu menjadi terlalu sunyi.
Kevin menatap ibunya.
"Dia bilang apa?"
Mama Zhu menarik napas pelan. "Dia tanya apakah kamu sudah pulang."
Meilin merasakan tubuh Kevin menegang di sampingnya.
"Papa tahu aku akan datang?"
"Dia tidak bilang begitu. Tapi dia tahu Opa mulai mencari kamu lagi."
Nama Opa membuat rumah hangat itu seperti mendapat angin dingin dari celah pintu.
Mama Zhu menatap Kevin lama. "Kevin, Mama tidak akan melarang kamu menghadapi mereka. Mama tahu kamu bukan anak kecil lagi."
Kevin tidak bicara.
"Tapi kalau kamu masuk ke rumah itu lagi, jangan masuk sendirian seperti Papa dulu."
Kalimat itu jatuh pelan, namun Meilin merasakan beratnya.
Kevin menunduk.
Meilin, tanpa berpikir panjang, meletakkan tangannya di atas tangan Kevin.
Mama Zhu melihat gerakan itu.
Matanya memerah lagi, tapi kali ini dia tersenyum.
"Bagus," katanya lirih. "Setidaknya kali ini, ada yang memegang tangannya sebelum pintu itu terbuka."
Ponsel Kevin bergetar di meja.
Semua orang melihatnya.
Nama Bryan muncul.
Kevin membuka pesan itu.
Bryan: Ko, jangan panik. Aku baru dengar Raymond mulai tanya-tanya soal YunMei Tech.
Di rumah yang bau tehnya masih hangat, nama baru itu masuk seperti suara gelas retak.