"Sekali saja kita melangkah melewati batas ini, Arden... semuanya tidak akan pernah sama lagi."
Alyssa tidak pernah menyangka pernikahannya akan menyeretnya ke dalam pusaran dosa yang terlarang. Sebagai istri yang berbakti, ia selalu menekan keinginan pribadinya demi menjaga kehormatan keluarga besar suaminya.
Namun, benteng pertahanan itu runtuh saat Arden—adik iparnya—kembali dari luar negeri.
Arden bukan lagi remaja tanggung yang dulu ia kenal. Pria itu telah menjelma menjadi sosok dewasa yang penuh pesona, perhatian, dan diam-diam menawarkan kehangatan yang tak pernah Alyssa dapatkan dari suaminya sendiri.
Di sisi lain, Arden tersiksa. Semakin ia mencoba menjauh, semakin ia mendambakan Alyssa—wanita yang seharusnya haram untuk ia sentuh.
Kini, keduanya terjebak dalam tarik ulur perasaan yang menyiksa. Antara kesetiaan pada keluarga, atau menyerah pada godaan gairah yang candu.
Saat batas suci itu akhirnya dilanggar, siapkah mereka membayar harga yang teramat mahal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.4 -Duri di Dalam Rumah
Arden menatap Alyssa cukup lama, matanya mengikuti gerakan tangan wanita itu yang tampak bergetar saat meletakkan gelas di meja kecil samping gazebo.
“Terima kasih, Kakak Ipar,” ucap Arden, suaranya tenang tapi penuh makna.
“Sa-sama-sama,” balas Alyssa cepat. Ia menunduk sejenak, lalu segera berlalu meninggalkan tempat itu. Napasnya terasa sesak, seakan baru saja menahan sesuatu yang tidak boleh terlihat.
Indah, yang sejak tadi memperhatikan, hanya mendengus sinis. Sorot matanya penuh ketidaksukaan saat mengikuti punggung Alyssa yang menjauh.
“Tante kelihatannya gak suka sama Kak Alyssa?” tanya Arden, mencoba menjaga nada suaranya tetap netral. Ia tahu betul setiap kata yang keluar dari mulut Indah jarang bisa dipahami dengan sederhana.
Indah pun duduk di sisinya. Bibirnya menyunggingkan senyum miring, seolah sudah menunggu momen ini.
“Ya begitu lah. Tante memang gak suka sama dia,” cetus Indah dingin. “Nikah udah hampir empat tahun, tapi belum juga punya anak.”
Arden refleks tersedak mendengar ucapan itu. Ia segera menegakkan tubuh, menelan ludah dengan getir. Belum punya anak? gumamnya dalam hati. Ia sama sekali tak menyangka masalah itu akan dijadikan bahan sindiran.
Indah melanjutkan tanpa peduli, “Tante yakin dia cuma ngincer harta Kakakmu. Kalau bukan karena Adrian, mana ada laki-laki kaya yang mau sama dia? Wong dia itu cuma anak broken home, siapa sih yang mau?” kata Indah.
Tanpa Indah sadari, tangan Arden mengepal erat mendengar nada bicara penuh kebencian itu. Arden menoleh dengan tatapan tajam. Ada sesuatu yang mengeras di dadanya. Ia tak suka—sama sekali tak suka—dengan cara Tantenya menjelekkan Alyssa begitu saja.
Arden menoleh dengan sorot mata yang menusuk, berbeda dari biasanya.
“Tante, jangan ngomong sembarangan begitu,” ucapnya tegas. “Kak Alyssa itu orang baik. Aku yakin dia nggak seperti yang Tante pikir.”
Indah menatap keponakannya dengan heran, lalu mendengus. “Kamu itu masih kecil anak kemarin sore, apa yang kamu tahu? Orang kalau sudah nikah lama dan nggak punya anak, berarti ada masalah. Dan masalah itu jelas dari pihak perempuannya.”
Arden mengepalkan tangannya di pangkuan, menahan amarah yang bergolak. Kata-kata itu bagai duri yang menusuk telinga.
“Aku nggak tahu urusan rumah tangga mereka,” katanya dengan nada rendah tapi tajam. “Tapi yang jelas, Kak Alyssa nggak pantas diperlakukan seperti itu. Dia bagian dari keluarga kita.”
Indah tercekat sejenak, tak menyangka Arden berani membantahnya. Ia menghela napas kesal, lalu berdiri. “Sudahlah, kalau kamu nggak mau dengar Tante, terserah. Nanti juga kamu lihat sendiri.”
Arden hanya terdiam, matanya mengikuti langkah Tantenya yang pergi. Hatinya bergejolak. Ia benci mendengar Alyssa dijatuhkan seperti itu. Entah mengapa, ada perasaan asing yang muncul—sebuah keinginan untuk melindungi wanita itu, meski ia tahu seharusnya tak boleh.
Sementara itu, setelah mengantar minuman, Alyssa kembali ke kamar. Perkataan Indah tadi terus terngiang di telinganya. Kata-kata “mandul”, “bermasalah”, hingga “anak broken home yang tak layak bahagia” menusuk hatinya dalam-dalam.
“Ini semua bukan kemauanku... Aku juga ingin punya anak. Aku gak minta terlahir dari orang tua yang bercerai,” isak Alyssa.
Ia mengusap sudut matanya, berusaha terlihat kuat, tapi air matanya justru mengalir semakin deras. Tubuhnya bergetar hebat. Saat ini, yang dia butuhkan hanyalah satu pelukan. Seseorang yang bisa menenangkan luka hatinya. Tapi siapa?
Suami? Alyssa tersenyum pahit dalam hati. Jangankan memelukku, tersenyum padaku saja sudah terlalu sulit untuknya.
“Aku izin ke rumah Ibu,” tulis Alyssa singkat dalam pesan yang ia kirim pada Adrian.
Seperti biasa, tak ada balasan. Dengan menghela napas panjang, ia pun bersiap.
Lima menit kemudian, Alyssa sudah rapi dengan dress hitam bermotif bunga merah. Saat keluar kamar, ia berpapasan dengan mertuanya, Maya, yang baru pulang dari kegiatan amal.
“Ma,” sapa Alyssa lembut.
“Mau ke mana?” tanya Maya sambil menaruh tasnya.
“Aku mau ke rumah Ibu. Boleh, ya?”
“Boleh, hati-hati. Sampaikan salam buat Ibumu,” jawab Maya ramah. Alyssa mengangguk pelan lalu melanjutkan langkah.
Namun, saat melewati ruang tamu, suara Indah membuat langkahnya terhenti.
“Mau ke mana kamu?” tanya Indah, tatapannya penuh selidik.
“Ke rumah Ibu,” jawab Alyssa sambil menunduk.
“Oh, kirain mau ke pengadilan,” cibir Indah, bibirnya menyunggingkan senyum mengejek.
“Tante…” lirih Alyssa, matanya basah kembali. Tak ingin berdebat, ia memilih melangkah pergi.
“Cih, dasar kampungan,” gumam Indah, penuh sinis.
Alyssa melangkah keluar rumah dengan hati yang masih sesak. Setiap ucapan Indah tadi terus terngiang di kepalanya, menusuk bagai pisau yang dinginnya menembus tulang. Tapi ia paksa bibirnya tersumringah, meski hati remuk.
Di dalam taksi yang membawanya, Alyssa menatap keluar jendela. Mencoba menikmati keindahan dunia luar, namun tak bisa. Empat puluh menit kemudian, Alyssa sudah sampai di kawasan perumahan di mana Ibunya tinggal.
Sesampainya di sana, ia disambut pelukan hangat seorang wanita paruh baya yang wajahnya penuh kasih sayang.
“Alyssa, Nak… kenapa matamu sembab begini?” tanya sang ibu, khawatir.
Alyssa berusaha menahan tangis, namun akhirnya luluh juga di dekapan itu.
“Bu… aku capek. Semua orang selalu salah menilainya. Aku juga mau punya anak, aku bukan perempuan yang hanya mengincar harta…”
Sang ibu mengelus rambut putrinya lembut, memberikan ketenangan yang tidak pernah ia dapatkan di rumah suaminya. Ia tahu permasalahan pernikahan Alyssa dengan Adrian.
"Sudah, ada Ibu di sini. Kamu boleh pulang jika lelah," kata Tania.
Alyssa menangis lebih deras. Pelukan ibunya adalah rumah, tempat semua luka menemukan ruang untuk sembuh. Walau dia tahu mertuanya baik, tapi tidak ada yang seperti sang Ibu. Sesaat ia lupa pada dunia yang kejam, lupa pada tatapan merendahkan, lupa pada suami yang bahkan tak pernah memberi senyuman.
Di pelukan ibunya, Alyssa hanya ingin jadi anak kecil yang manja, yang tidak perlu memikirkan luka hati karena sebuah pernikahan.
Sementara itu ...
Adrian menatap pesan Alyssa di layar ponselnya, tapi jempolnya enggan bergerak. Satu tarikan napas panjang lolos dari bibirnya. Kursinya ia putar, menatap hamparan kota yang disinari terik siang.
Hampir empat tahun, dan pernikahan ini tetap terasa asing. Sedingin tembok, setandus gurun. Adrian menutup mata sejenak—berusaha, tapi gagal. Sebab hatinya sudah penuh oleh satu nama yang tak pernah hilang: Hanum.
Dan hari itu, untuk pertama kalinya, Adrian mulai berpikir... mungkinkah kebahagiaan sejatinya memang bukan bersama Alyssa?
“Mungkin… aku harus berhenti membohongi diriku sendiri. Aku harus jujur pada keluarga."
udah'lh Al., lepasin aja., laki² seperti itu tidak pantas d'tunggu
Aku muak sama Kamuuuu...!!!
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣